Sejak dalam kandungan, ibu membawa anaknya bersamanya selama 9 bulan. Kemanapun, kapanpun, dimanapun, tidak pernah tertinggal. Waktu berjalan saat anaknya mulai bisa berjalan. Berlari kemana saja. Ingin bebas. Namun ibu tak pernah lepas mengawasinya. Takut anaknya jatuh dan terluka, takut anaknya menangis. Ibu selalu bersamanya.
Kemudian mulailah seorang anak mengenal teman-temannya. Pergi pagi, pulang sore. Seolah belum cukup, sang anak terus bermain, sampai sang ibu memanggil dan menjemputnya. Lalu, waktu terus berputar. Sang anak mulai duduk di bangku TK. Jam 08.00 sampai 12.00. Sang anak bermain dengan ceria dengan guru dan teman-temannya. Berharap seolah akan berlangsung selamanya. Dan ibu menunggu. Menunggu jam bekerja lebih cepat dari biasanya. Menunjukkan jam 12. Setelah itu, ibu berharap agar waktu dapat tertahan agar waktu bersama sang anak dapat dihabiskan lebih lama.
Sang anak pun menamatkan TK nya. Dia masuk SD, jam 08.00 - 14.00. Ibu menunggu sang anak pulang. Sepi. Sang anak terus melangkah ke tingkat lebih tinggi. Mulai mengenal teman se-gank. Mulai pulang sore. Putar-putar keliling mall, nongkrong bersama teman-teman. Dan ibu kembali menunggu. "Dimanakah anakku?". Disaat yag sama, sang anak malah berpikir betapa mengasyikkannya bermain bersama teman-temanku.
Waktu terus bergerak. Si anak melangkah menuju masa SMA. Seolah tidak dapat ditolak, dia mulai merasakan cinta pada lawan jenis. Dia mulai mempercantik penampilannya. Dia simpan foto-foto pacarnya di dompet bagian depan. Dia habiskan waktu di pusat-pusat perbelanjaan untuk tampil cantik dihadapan teman-temannya. Ah, betapa lebih banyak dia mengingat wajah pasangannya dibanding ibunya sendiri. Sepi.
Dan luluslah dia dari SMA. Masuk kuliah. Pergi keluar kota. "Ingin belajar di tempat favorit", katanya. Si ibu melepas dengan sedih. "Semua ini demi anakku", kata ibu. Satu bulan, dua bulan sampai satu tahun kemudian, sang anak baru kembali menemui ibu. Begitulah yang terjadi sampai 4 tahun kemudian. Penantian ibu akhirnya terbayar saat kelulusan. Sang anak berfoto bersama, saat wisuda. Senyum terkembang di sudut-sudut bibir yang penuh kerutan. "Ah, anakku sudah besar", kata ibu.
Belum lama sang ibu merasakan berkumpul kembali dengan sang anak, sang anak kembali berpamitan. "Bu, saya ingin kerja di luar sana, agar bisa membahagiakan ibu". Si anak pun pergi bekerja ke tempat nan jauh. Berharap ibu senang dengan kemandiriannya. Dan dari kejauhan, ibu berbisik, "Kehadiranmulah yang membuat ibu senang, nak".
Si anak telah sukses dari perantauan. Dia pulang membawa harta yang banyak. Ibu senang. Bahagia. Namun tak disadari ibu, sepasang mata memandang ibu dari sisinya. Inilah calon pengantinnya. Dari negeri seberang. Datang meminta ijin untuk meminang anaknya. Dan demi melihat wajah merona anaknya, sang ibu berbertutur mengiyakan. "Semua demi anakku".
Dan saat itulah. Di hari yang cerah. Dimana rumah dihiasi dan pengantin didandani, sang ibu mencuri-curi pandang. "Alangkah cantiknya engkau nak". Dan saat itu dia segera sadar, bahwa sang anak tidak lagi menjadi miliknya seutuhnya. Hati itu telah terbagi dengan seseorang yang telah menanti di pelaminan. Si anak tertawa bahagia dan ibu menangis dalam senyumnya. "Semua demi anakku".
Seminggu kemudian, sang anak kembali meminta ijin. "Ibu, aku harus pergi. Pergi mengarungi lautan rumah tangga bersama seseorang yang aku cintai. Si ibu tersenyum dan mengangguk. Mengiyakan. Dan sang anak pun pergi. Sepi. Sepi seorang ibu...
Dan, hari itu, saya kembali merasakan sepi seorang ibu. Di airport gerbang internasional, seorang ibu kembali dihadapkan dengan sepi. Sepi karena ditinggal anaknya yang akan berangkat. Menuju Palestina, Gaza. Tanpa sang anak tau, sang ibu mengusap air matanya. Tanpa terasa, mata saya basah. Sungguh, tidak kuat melihat adegan ini. Kembali mereka-reka apa yang dipikirkan si ibu, "Apakah anak saya pulang dengan selamat? Ini Palestina nak, dimana medan Jihad bergelora. Dimana para syuhada-syuhada berguguran... Apakah Ibu akan kembali menemui senyum itu?". Sepi. Sepi seorang ibu.
Tiba-tiba, ingatan ini berjalan sangat cepat kebelakang. Bagai kecepatan cahaya menuju suatu tempat. Terminal bus. Awal saya berangkat menuju Jakarta. Disana, ibu begitu tegar mengantar saya. Demi pendidikan. Sampai akhir, saya lihat ibu tersenyum. Dan, saat bersamaan, saya deg-deg an, "Bagaimanakah rupa kota Jakarta yang tidak pernah saya temui?". Andai dapat berhenti lebih lama, mungkinkah saya dapat melihat sepotong adegan dimana ibu mengusap matanya?
Dan betapa jahatnya selama ini. Fragmen-fragmen adegan terbayang. Waktu-waktu kedewasaan berjalan dan menghasilkan satu hal. Menjauh. Berusaha mandiri. Melepaskan ketergantungan. Padahal bukan inilah inti dari masalahnya. Sejauh mencoba untuk berbakti, namun lagi-lagi harus pergi. Padahal disetiap detik, seseorang berkata, "Apa yang dilakukan anakku sekarang?"
Ibu, jika berjuta-juta kali aku mengatakan cinta padamu, bermilyar-milyar cinta yang kau berikan langsung kepadaku...
Aku mengatakan cinta, namun kau memberi cinta
Saat aku memberi satu cinta, kau beri beratus-ratus cinta
bagaimana bisa aku membalas, walaupun hanya satu cinta darimu?