Ke-tertarik-an, and how to manage it?
Pada dasarnya manusia punya hormon-hormon tertentu. Tahukan kenapa kalau kamu ketemu “si doi” rasanya deg-degan? Yap, hewan itu kalau sedang birahi (pinjam istilah kelas Pemuliaan Hewan) tanpa fafifu “naik” ke lawan jenisnya. Langsung nyeruduk, ga pake pedekate, PDKT. Nah Allah ini Maha Sempurna, menciptakan manusia dg paket lengkap (yaitu rasa) deg-degan supaya tidak langsung nyeruduk ke orang yang disukainya, ga langsung nyeruduk ke orang yang dia merasa ada ketertarikan. Mekanisme deg-degan hadir di saat dirimu ingin langsung nyeruduk tapi akalmu menghalangimu untuk melakukan hal yg memalukan tersebut. Jadi it’s normal kalau kamu deg-degan dihadapan si doi.
Pernah tahu siklus mentruasi(?) moody, sensian dst. Atau nek kamu laki-laki pernah nandain siklus mimpi basah mu deh, pernah gak? Kenapa coba Allah “iseng” menjadikan mekanisme-mekanisme tersebut ada? Itu sebagai ujian buat manusia ditengah hormon dan segala ketidak-stabilan situasi, apakah kamu tetap menjadi hamba Allah secara konsisten atau sebaliknya. Jika malaikat ditakdirkan lurus-lurus saja, maka jangan pernah iri. Mereka memang terlahir tanpa rollercoaster perubahan hormon dst. Jadi ya wajar aja, eh sabar aja sama proses yg Allah kasih.
Kalau kata ustadz Yusuf Qaradhawi, manusia itu jasadnya tercipta dari tanah yang hina, namun ditiupkan ruh dari langit yang bersifat agung, ketika bisa menghandle ruh dia akan mulia, ketika dia tunduk dg “sifat tanah” “kebinatangan” maka dia akan semakin terhina. Oiya, tahukan kenapa disebut-sebut tercipta dari tanah(?) Iyaps rantai makanan terendah itu berasal dari tanah, jadi ketika kamu masih menjadi padi-padi di sawah, atau rumput-rumput yang akan dimakan binatang ternak atau plankton-plankton di laut, lalu ayah dan ibumu makan dan masuk ke tulang sulbi kemudian ayah dan ibumu bertemu, dan jadilah kamu sesuatu yang hina berasal dari tanah. Setelah menjadi mudghah (segumpal daging, pinjam istilah di hadits Bukhori Muslim yang ke-4 dari hadits ‘Arbain) lalu Allah tiupkan ruh lewat malaikat.
Bagaimanapun kita butuh sadar akan tujuan diciptakannya kita (manusia). Untuk beribadah kepada Allah (Qs.Adz Dzariyat: 56) dan untuk memakmurkan bumi (Qs.Al Baqarah:30).
Ketertarikan adalah hal yang wajar, ketika kamu suka sama lawan jenismu itu juga hal yang wajar. Merupakan hukum alam (red:sunnatullah) yang ga bisa dihindari. Kelemahan manusia yg butuh ada orang lain yang meneruskan mimpinya, kelemahan manusia yang harus ada yang meneruskan hidupnya (ga pernah lihat mahkluk hidup gak mati kan? Mau setua apapun, dia bakal mati), beda sama Allah yang ga butuh penggantinya karena Dia kekal. Dan kelemahan-kelemahan lainnya manusia sehingga tercipta mekanisme reproduksi dst dst hatta cabangnya ada rasa tertarik sama lawan jenis dan ditumbuhkan rasa kasih sayang.
Ketertarikan sama lawan jenis itu wajar kok, tapi butuh dikontrol. Islam itu sistem yang hadir untuk melengkapi bagian rumpang dari diri manusia yang belum lengkap. Coba aja kalau Allah berhenti sampai nyiptain rasa kasih sayang doang, ga disertai paket lengkap “aturan” islam (atau jalan hidup) islam, mungkin semua orang akan sembarangan menebarkan “kasih sayang” wkwk ke yang mahrom maupun yang bukan mahrom. Yang halal, maupun haram.
Ustadz Nouman Ali Khan pernah bilang, redaksinya saya lupa sih, tapi kurang lebih gini bunyinya, jangan sembarang bilang falling in love, it’s not love, it’s just an hormonal. Islam tidak melarang untuk memiliki rasa ketertarikan dengan lawan jenis, dan rasa tertarik itu fitrah/lazim. Yang diatur dalam islam adalah larangan menyatakannya ketika tidak siap untuk bertanggung jawab atas pernyataan yang telah disampaikan. Bahasa sederhananya: kalau kamu belum siap membawa dia ke syurga lewat pernikahan, jangan pernah katakan cinta, itu hanya qodarullah hormonmu ketemu duluan sama hormonnya dia.
“kalau kamu belum siap membawa dia ke syurga lewat pernikahan, jangan pernah katakan cinta, itu hanya qodarullah hormonmu ketemu duluan sama hormonnya dia”
Nah bagaimana memanage rasa ketertarikan sama lawan jenis ketika belum siap buat bertanggung jawab? Here we go...
Jangan merasa bersalah, apalagi berdosa, suka sama orang adalah hal normal. Miliaran manusia ngerasain rasa suka, tapi beberapa diantaranya mengalami abnormalitas suka sesama jenis. Say thanks to Allah, dapat anugerah bisa mencintai (menyukai/ tertarik dengan) seseorang, entah karena fisiknya perilakunya, akhlaknya dst nya deh. Pokoknya di"Alhamdulillah"in ajaaja dulu guys.
Belajar memanage diri untuk tidak sembarang menyatakan rasa suka ke ybs kalau belum siap mempertanggungjawabkan pernyataan suka tsb. Jangan sampai yg kamu sukai tahu kalau kamu suka dia, yha pakai konsepnya secret admirer gitulah. Soalnya, pahit-pahitnya kalau ketahuan terus nantinya di masa depan gak fiks bareng dia ada banyak peluang setan untuk bilang “andai aku berjodoh sama dia, pasti hidupku…” “andai dia yang jadi istri/suamiku pasti hidupku..” dan bisikan setan dengan “andai-andai” dan “pasti-pasti” yang lainnya.
Pernah dengar konsepan semacam ini gak? cara meraih sukses adl dg tidak berfokus pada tujuan, tapi fokus pada proses. Pernahlah ya. Nah, fokusmu bukan bgmn caranya menghilangkan rasa suka sama si doi, mustahil berhasil, percaya deh. Tapi kamu kudu mindahin fokus ke gimana caranya dirimu jadi lebih baik ketika selesai mengalami “badai” virus merah jambu ini. “Jadi lebih baik"nya ada macam-macam, bisa lebih fokus mengejar prestasi, fokus belajar, fokus memperbaiki kepribadian dst dst, pokoknya proses diri.
Oiya ada hal penting, tapi sering salah, yaitu NIAT. Niatmu berubah jadi lebih baik, bukan buat kamu dapetin si doi. Si doi yg kamu kagumi karena dirinya, kecerdasannya atau pribadinya atau akhlaknya, atau malah biar si doi berubah jadi lebih baik, berharap si doi ikutan berproses jadi lebih baik juga. Toh dia bukan power ranger yg bisa tiba-tiba berubah. Niatmu diluruskan, hanya untuk Allah, (terdengar normatif?). Begini rasionalisasinya, saat kamu udah berubah jadi lebih baik, kamu akan mencintai dirimu sendiri, kemudian percayalah kamu ga butuh siapapun kecuali Allah dan ridhonya. Kemudian kamu akan memaksimalkan diri untuk berbuat sesuai Adz Dzariyat dan Al Baqarah barusan di paragraf atas. Hasil akhirnya, sendiri ataupun berdua dengan pasangan yg halal, ga masalah. Soalnya di dunia ini yang tersisa tinggal interaksi diri dengan Allah, bagaimanapun atau apapun bentuk stimulusnya direspon ibadah ke Allah semata.
Wallahu a'lam..
-Regards
Yunita Sakinatur
3.31 AM
Antara Jakarta (Jog)jakarta, 27 November 2017
ditulis di tengah dinginnya ac kereta malam. tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri dan adik-adik saya di kammi ugm juga adik-adik saya di lini da'awiy, siyasi, ilmi, sya'bi, dan lini-lini lain :)














