"Sebagaimana laut tidak bisa menjelaskan rasa asin kepada gunung, kita pun tidak bisa memaksa orang memahami pelajaran yang belum mereka temui"
-vice versa

❣ Chile in a Photography ❣
No title available
art blog(derogatory)

if i look back, i am lost

roma★
Sade Olutola
tumblr dot com
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
wallacepolsom
NASA
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Show & Tell
Stranger Things
One Nice Bug Per Day
I'd rather be in outer space 🛸
Jules of Nature
macklin celebrini has autism
trying on a metaphor
Fai_Ryy

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Philippines

seen from United States

seen from United States

seen from Bangladesh
seen from Spain

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Egypt
seen from United States
seen from Thailand

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
@zafiraninna
"Sebagaimana laut tidak bisa menjelaskan rasa asin kepada gunung, kita pun tidak bisa memaksa orang memahami pelajaran yang belum mereka temui"
-vice versa
Luka Batin yang Ditunggangi Setan
Aku pernah baca quote dari Carl Jung yang bagus banget. Katanya, "masalah-masalah terbesar dalam hidup pada dasarnya tidak dapat dipecahkan dan hanya dapat diatasi melalui tingkat kesadaran yang baru."
Analogi garam dan segelas air bisa mewakili konteks ini, which is kalau kita masukkan segenggam garam ke dalam segelas air, rasanya bakal sangat asin. Tapi kalau garam yang sama dimasukkan ke dalam danau, rasanya hampir nggak kerasa. Artinya emang nggak semua masalah benar-benar diselesaikan (di analogi itu, garamnya nggak berkurang), tapi kita yang bertumbuh melewatinya sehingga kita lebih besar dari masalah itu dan akhirnya masalah itu nggak matter dan mendesak lagi.
Masalahnya, nggak semua orang punya kesediaan, kesiapan, dan daya untuk meluaskan diri atau diluaskan oleh Allah. Sehingga masalahnya terkesan itu lagi itu lagi, nggak kelar-kelar.
Aku nggak sedang mengecilkan luka batin atau masalah yang dialami tiap-tiap manusia ya, karena aku tau setiap orang mengalami takarannya masing-masing yang unik dan khas, sehingga tempo batinnya pun bakalan beda-beda. Nah dalam proses itu, kalau seseorang emang bener-bener gak mau menyerahkan diri dan bergantung ke Allah, setan bisa masuk sebagai oportunis yang memperbesar, memelintir, dan mengarahkan luka.
Kita bisa liat kenyataannya bahwa banyak sekali yang memilih tak bertuhan melalui jalur emosional dan kemudian melogikakan pilihannya/kemungkarannya. Atau memilih jalur-jalur haram seperti:
karena duka fatherless, jadi alasan untuk melampiaskan ke lawan jenis melalui pacaran/zina
karena dendam/iri/dengki, melakukan ritual ilmu hitam untuk menjatuhkan orang lain
karena ujian kemiskinan, jadi bersekutu dengan iblis untuk jadi kaya, atau melakukan kriminalitas
Aku nggak bermaksud menyinggung siapapun. Ini pure hikmah yang aku peroleh dari sebulan lebih menyimak penelusuran di channel youtube Kisah Tanah Jawa. Harus kuakui, pikiranku baru terbuka bahwa manusia bisa sejahat itu demi nafs ammarahnya. Dan gak expect pelakunya sebanyak itu di dunia ini. Dan nggak ada akhir yang baik dari orang yang wafat dalam keadaan menjadi budak nafsunya.
At the end, setan nggak pernah membiarkan kita mendapatkan manfaat dari Al-Qur'an, dari sholat kita, dari silaturahmi kita, dan dari hal-hal baik yang kita lakukan. Makanya kemudian, sebuah kalimat dari Ust. Faizar (praktisi ruqyah) cukup membuatku termenung.
"Milikilah kesadaran uluhiyah. Kesadaran terstruktur bahwa kita cuma hamba dari Allah saja. Kita hanya tunduk pada Allah saja."
—lalu kulanjutkan, "Bukan hamba penyakit, hamba obat, hamba dari masalah, hamba kepribadian, hamba pandangan manusia, hamba trauma, maupun hamba anxiety, dan lainnya."
Di situ posisinya Ust. Faizar sedang menangani kasus perempuan yang sedang dilemahkan setan karena penyakit hati orang lain kepadanya, sekaligus perempuan itu sendiri punya luka batin yang tak terselesaikan yang menjadi kendaraan setan untuk melemahkannya.
Karena emang nggak bisa disangkal, luka batin yang ditunggangi setan bisa bikin manusia learned helplessness (merasa nggak punya kontrol atas dirinya, sampai akhirnya bahkan berhenti mencoba). Mirip dengan siapa ya kalo udah berputus asa dari rahmat Allah? Yes, iblis (balasa).
Dalam hal ini, aku juga jadi mendalamkan makna bahwa ketika orang-orang menyuruh sholat tuh sebenernya outcome-nya bukan auto sembuh. Kalo buatku sendiri akhirnya sholat tuh sebagai pembuktian bahwa aku bukan hamba dari apa-apa yang melemahkanku. Aku hamba dari hanya Allah, dari sumber Haula wa Quwwata. Aku hanya tunduk pada Allah. Aku merdeka. Dan aku nggak mengizinkan masalah atau luka mendistorsi cara pandangku terhadap Allah dan takdir.
Di surat Al-Hajj (22) : 53 juga dijelaskan bahwa :
"Dia (Allah) hendak menjadikan apa yang dilontarkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan hatinya keras. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam perselisihan yang jauh (dari kebenaran)."
Rajin-rajinlah beresin hati, bersihin hati, dan luasin hati. Biasakan diri untuk memaafkan dan merelakan sesuatu yang bukan haknya. Jangan kasih bensin bagi hasad dengan gibah, tahassus, dan tajassus. Kadang-kadang penyakit hati emang seimplisit itu, sehalus itu, sesamar yang kata hadis mah, seperti semut hitam, berjalan di atas batu hitam, pada malam hari.
Terakhir, untuk siapapun yang punya pengalaman traumatis, mudah-mudahan Allah berikan daya untuk berikhtiar, agar bersedia memproses dirinya serta bersedia diperjalankan Allah menapaki jalan menuju pulih.
Aku juga mengutip apa yang Mas Amai (KTJ) ucapkan saat meruqyah 'pasiennya', "minta rasa cinta yang banyak sama Allah." Jujur nangis pas dengernya 😭😭😭. Beliau tahu betul problem orang-orang yang mudah dipengaruhi setan tuh salah satunya karena hati yang kosong dari meminta rasa cinta ke Allah. Hati yang ketika merasa tak berdaya, tidak meminta kekuatan dari Sang Sumber. Hati yang ketika dijahati dan dikecewakan dunia, tidak kembali kepada Sang Penyayang. Hati yang nggak mau dipeluk, disayang, dan dirahmati Allah.
Dua tulisan ke belakang emang masih refleksi tentang hal-hal begini, karena jujur sebagai lulusan S1 saintek yang lintas jurusan ke magister psikologi, mekanisme jiwa manusia tuh nggak kayak alam semesta yang konstan mengikuti rumus-rumus fisika. Jadi sisi reflektifnya datang dari case atau pendekatan yang berbeda juga. Mudah-mudahan bisa diambil baiknya. Last of the last, minta pertolongan dengan sabar dan sholat gais. Dunia makin gak baik-baik aja.
— Giza, masih refleksi tentang iman, sholat, dan dirinya
In my lowest days, sometimes i thank Allah for protecting people from me🤍
"Alhamdulillah they survived" echoes
Privilege
Some privileges are not loud.
They are written as days without hunger,
as learning without fear of the bill,
as work without constant scolding.
They are written as evening calls to Mom,
as younger brothers who feels like older ones,
as a warm home,
as a first job right after graduation,
as not living in survival mode (financially, emotionally, or else),
as meeting someone truly your vibes,
and quietly—as calamity.
Trust (iman)
a word full of feeling. a story rich of peak. a history out of memory. a begining of teary paragraphs, written by Him, corrected by none, beautifully scratch. a sense of calamity, a fragrance of dignity. a promise of love from The Merciful one.
Some love stories feel like they were written in quiet moments, not for the spotlight.
the river does not stop to ask what it is; it just flows.
"Aku cuma berusaha ada buat yang butuh aku"
kata aku tergantung, tergantung subjek targetnya
Syukwis: Konstribusi Kembali
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إلى اللَّهْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat.”
*Mas Suwarno (ketua YPM salman ITB)* ?
Pesan saya untuk teman2 yang teknik maupun non teknik 1. *NIAT* - jenjang apapun karir yang kita jalani atau ingin kita kejar nanti, niatkanlah untuk menjadi khalifatullah fil ardh, niatkan sebagai ibadah 2. *BERSUNGGUH SUNGGUH* - lakukan yang terbaik, berikan manfaat dan pengaruh baik, biasanya impact itu akan terasa kalau kita tangannya di atas bukan di bawah, kalau kita mumpuni, kalau kita minimal jago, bisa, bukan merepotkan. insyaAllah jika adek adek bersungguh sungguh, proses ini akan berakhir khusnul khotimah, walau prosesnya panjang atau pahit, akan ada kebaikan yang Allah simpankan untuk temen temen, percayai itu dulu. Asah gergaji temen2, jadilah orang yang pintar, paham,dan diperlukan, menjadi tempat bertanya, innal mahdi illal lahdi 3. *WARISKAN ILMU* - mengajarlah. tidak harus dosen, ketika temen2 kerja di lapangan, dan temen2 membagikan ilmu teemn2 ke junior atau partner, insyaAllah akan menjadi amal jariyah untuk temen2 4. *JAGA HARGA DIRI INTEGRITAS* usahakan dan nomor satukan integritas. integritas ini tidak otomatis, perlu diniatkan dan disengajakan dan diniatkan, karena akan ada bnyak sekali godaan di dunia luar sana yang menggoyang integritas temen temen. apalagi sebagai temen2 teknik pasti sudah biasa mendengar istilah tender dan berbagai bumbunya, saya pernah temen2 menolak beberapa permintaan, saya katakan tidak, saya dimaraahi habis habisan. untuk memegang integritas memang berat temen temen yang kita perjuangkan adalah harga diri dan value kita 5. *BERLOMBALAH* - berlombalah jadi yang terbaik, fastabiqul khairat - berlombalah untuk kebaikan, lakukan apapun tujuannya ingin memberi dampak terbaik, kita niatkan juga untuk orang tua kita
Jangan lupa untuk menikah karena itu penting, rasulullah membanggakan umatnya karena banyak, dan menikah adalah salah satu ikhtiar utama kita membentuk peradaban, didiklah anak anak menjadi kader pemimpin masa depan yang diharapkan
Terimakasiii wassalamualaikum✨️
Back to ldr w/ salman era🙏😊
LMD
Yang Allah kirim untuk menguatkan di 2021 (207, membentuk idealis)
Allah kirim lagi untuk menyadarkan di 2025 (236, berdamai realistis)
Alasan kita bergerak kemarin (dan selanjutnya juga), sebagaimana yang disampaikan elemdeh
Bukan karena manusia, bukan baiknya bukan buruknya bukan lurusnya bukan manis balasannya bukan pula pujiannya
Memahami makna karena Allah aja seluluhlantah ini ya
Yang dimulai karena Allah, tidak boleh berhenti karena manusia?
Hey kita pun manusia, kita pun antagonis di kisah orang lain, kita pun flawfull (?) Hehe
Segala bentur yang terjadi kurun 1 tahun ke belakang, cukup unik
Bahkan kalau boleh jujur, aneh, terlalu unik
Tapi barangkali ini cara Allah mendidik dan mengatur ulang arah hidup hambaNya, barangkali ini memang diperlukan
Valuenya masih sama, tapi wadah dan arahnya sudah beda
Valuenya masih sama, tapi hei kita udah masuk dunia beneran dewasa
Kerja kerja kerja🤭
Mendewasakan Jiwa
"Hakikatnya jiwa manusia seperti anak bayi, ia amat menyenangi hal-hal yang mengenakan. Maka perlu latihan untuk membuatnya menjadi dewasa"
Setidaknya ada tiga hal yang membuat jiwa menjadi dewasa; Ingat mati, pemahaman tentang ujian, juga keyakinan kembali kepadaNya
Mengingat mati, sungguh membuat jiwa menjadi dewasa. Akhirnya membuat jiwa menjadi sadar, bahwa hidupnya tidak abadi di dunia. Maka, apa yang kemudian dilakukan dalam keseharian adalah untuk mempersiapkan kematian. Tidak sedetik pun ada kesiaan, bahkan sifat buruk yang dimiliki pun perlahan menghilang. Yang terpikir bagaimana caranya mati dengan keadaan terbaik
Pemahaman tentang ujian berkaitan dengan dua hal; sabar dan syukur. Saat diuji dengan kesusahan maka bersabar, saat diuji dengan kesenangan maka bersyukur. Ya, hanya dua pilihan itu. Maka, jiwa harus paham bahwa apa yang terjadi di dunia sejatinya hanyalah ujian, dan itu yang akhirnya membuatnya menjadi dewasa
Terakhir, bahwa semuanya akan kembali kepadaNya, berarti bahwa semua aktifitas di dunia akan dimintai pertanggungjawaban, maka jiwa akan menuntut raga untuk selalu produktif, dan itulah sedewasa-dewasanya jiwa. Saat manusia dipenuhi oleh pikiran amal prioritas
Cek di surat al Anbiya ayat 35
Kok bisa ya aku dulu gitu?
/di luar nalar/
June, July, August, September Bajo, Jogja, Solo, Temanggung, Bandung
Grateful for all the lessons, truly 🌿
Erasing childish side - part @#$: "To think someone understand you and is on your side, to believe they will not judge your process, to think they value you objectively not by label, to allow them steering you unconsciously, to call them freely when they arrive like they were always yours"
Tahukah kamu apa yang paling dikhawatirkan untuk mereka yang sedang menunggu?
Bukan lamanya waktu yang membuat hati rapuh, bukan pula panjangnya penantian yang melelahkan jiwa. Yang paling dikhawatirkan adalah ketika penantian itu mengikis keyakinan, saat hati mulai bertanya, “Apakah janji itu benar akan datang?”
Menunggu sesungguhnya adalah madrasah kesabaran. Di dalamnya, iman diuji: apakah kamu masih teguh percaya pada Rabb yang tidak pernah alpa menepati janji-Nya? apakah kamu tetap menjaga doamu agar tetap hangat, walau hari-hari terasa dingin tanpa jawaban?
Yang paling ditakutkan bukanlah keterlambatan, melainkan hati yang menyerah di tengah jalan, jiwa yang letih lalu memilih meninggalkan doa, padahal pintu itu sudah hampir terbuka. Maka, jagalah hatimu ketika menunggu. Rawatlah keyakinanmu dengan dzikir, basuhlah resahmu dengan istighfar, dan peliharalah harapanmu dengan shalawat.
Karena di balik sabar yang terus terjaga, ada hadiah yang sedang dipersiapkan. Dan di balik doa yang tak henti dipanjatkan, ada janji Allah yang tidak akan pernah dikhianati.
@jndmmsyhd
"Semoga Allah menggantikan untuk kita dengan sesuatu yang lebih baik darinya" (Al-Qalam: 32)
Singkat, tapi bikin nangis..
Coba hilangkan penyesalanmu dengan membaca ayat ini pelan-pelan.
Atas setiap kesempatan yang hilang, pekerjaan yang terlepas, kekasih yang berhenti menggenggam tanganmu di tengah jalan, atau setiap sahabat yang wajahnya dulu kamu anggap indah namun kini berpaling dingin.
Karena takdir Allah, semuanya baik. Baik yang membuatmu tersenyum, maupun yang membuatmu menangis.
Tidak ada kehilangan yang terjadi kecuali untuk mengeluarkanmu dari luka yang lebih dalam. Jika kamu memahami hikmah-Nya, bersyukurlah. Jika belum mengerti hikmah-Nya, bersabarlah.
Sesungguhnya, segala keputusan Allah adalah kebaikan, entah ia datang dalam bentuk yang lembut, atau dalam rupa yang melukai.
Maka, tenangkan hatimu. Setiap kali sesuatu pergi, katakanlah dengan lembut:
عَسَىٰ رَبُّنَاۤ أَن یُبۡدِلَنَا خَیۡرࣰا مِّنۡهَاۤ...
"Semoga Allah memberikan ganti kepada kita dengan pada apa yang lebih baik daripada yang ini..."
Ada seseorang, yang tenang dan penuh prasangka baik begitu maksimal, saat ia ditanyai soal pekerjaannya.
"What do you think if we don't hire you?"
"It's okay. Thats means Allah will put someone better than me for this place, and put me somewhere better than this place"
Ikhtiarnya maksimal, dan tawakkalnya lebih maksimal. Gapapa, insyaallah semuanya akan baik-baik saja :')
@jndmmsyhd
Namanya Juga Anak Kecil: Anak-anak yang Mulai Kehilangan Adabnya.
Waktu itu, aku dan bestie sedang ngobrol. Tiba-tiba, aku mencium bau kurang sedap.
"Ihh kamu kentut ya?" tanyaku pada anaknya (usianya 3 tahun) yang tiba-tiba aja menempel ke belakangku. Si anak cuman nyengir. Terus cengengesan gitu. Aku segera menyingkir dan mengibas-ngibaskan tangan untuk mengusir bau tak sedap itu. Raut wajah ibunya berubah. Suaranya menjadi datar. "Sini kamu!" Panggilnya ke si anak. Anaknya bergeming, dia tak lagi cengengesan. "SINI CEPAT!" suara ibunya meninggi. Karena si anak tidak mau juga beranjak, ibunya langsung menarik tangan anaknya kemudian menyuruhnya masuk ke dalam kamarku. "Berdiri di situ. Jangan keluar-keluar!" Perintahnya ke si anak. Anaknya mulai menangis tapi tak dihiraukan oleh ibunya. Tadi pas tau si anak sengaja nempel ke belakangku karena mau kentut, aku sempat mau ketawa. Tapi langsung dilarang sama ibunya. "Jangan ketawa. Kalau kamu ketawa dia jadi nganggep kita membenarkan sikap gak sopannya itu." "Oh iya bener juga," batinku.
Di cerita yang lain waktu itu aku sedang bercandain anak perempuan. Usianya sekitar 5 tahun. Tiba-tiba aja dia begini ke aku "🖕🖕🖕". Aku shock kan, terus aku nanya sambil pura-pura galak. "Eh siapa yang ngajarin kamu gitu??"
Ibunya muncul. Terus menjawab dengan suara judes, "siapa yang ngajarin siapa yang ngajarin, namanya juga anak kecil!" Aku membeku. Terus jadi diam. Selepas itu aku gak pernah lagi mau bercandain anaknya.
Betapa banyak kita lihat anak-anak kecil dengan akhlak dan adab yang buruk, hanya karena orang tuanya terbiasa menggampangkan perbuatan buruk anaknya dengan dalih, "namanya juga masih kecil."
Padahal justru karena masih kecil, merekalah yang paling membutuhkan arahan dan bimbingan dari orang dewasa untuk belajar mana yang baik dan mana yang tidak pantas. Masa kanak-kanak adalah waktu terbaik untuk menanamkan akhlak, adab, dan karakter, karena pada tahap itu mereka belum mengenal batas benar dan salah.
Sayangnya, banyak orang tua memilih abai. Ketika anak bicara kasar, dibiarkan. Saat anak berbuat salah, dianggap sepele. Bahkan sering kali menganggap perbuatan jelek anaknya sebagai hiburan. Allahu Akbar.
Mereka beranggapan, “Nanti juga besar bakal berubah sendiri.” Lalu, saat anak sudah tumbuh dengan perilaku buruk, lingkungan dan orang lain yang disalahkan. Ujung-ujungnya berkata, “Kami tidak pernah mengajari kamu begitu!” — padahal pertanyaannya, pernahkah mereka benar-benar mengajarkan yang baik?
Please deh, kalau emang belum bisa jadi contoh yang baik utk anak-anak tidak usah kerajinan berkembang biak.
"ambil opsi yang membuatmu tenang"
Endless education?
Beberapa relung Allah ciptakan untuk kita menghabiskan aneka jenis rasa sakit, tidak lain sebagai sarana mendidik. Pendidikan yang harus "tuntas". Pendidikan yang harus "selesai".
Kita boleh jadi sangat mencintai masa-masa koas, atau barangkali lebih mencintai masa-masa S1. Tapi apakah kita akan ada di relung itu terus?
Seharusnya tidak, kita harus segera lulus. Berpindah ke tempat yang baru.
Dengan orang orang baru pula(?) Belum tentu juga, bisa jadi beberapa orang yang sama bertahan dalam waktu yang cukup lama, salah satunya untuk selamanya
Kita boleh jadi sangat menyayangi seseorang, sesetempat, sesesirkel. Atas setiap memori manisnya, setiap pelajaran baiknya. Juga atas setiap luka yang kadang berulang kita buka. Hanya karena rindu akan rasanya.
Tapi Allah lebih tau mana yang baik untukmu sekarang dan mana yang baik untukmu selamanya.
Terlepas dari garis kisah Allah yang senantiasa membuat setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya
Di fase transisi ini tidak sedikit aku bertanya
"Pendidikan" apa yang kelak sedia kita pilih jalani selamanya? Di jalan apa? Dengan siapa? kapan dan dimana? Endlessly
Apakah dengan memilih yang tidak terasa menyakitkan? Atau bagaimana?
Barangkali bukan melabuhkan diri pada yang paling tidak sakit, namun pada yang sakitnya paling kita ridhoi. Seharga dengan manisnya yang paling kita ridhoi pula.
Barangkali moving on dimulai dengan merasa cukup, cukup untuk kisahnya, terimakasih sisi sakitnya, kan ku kenang bagian manisnya, terimakasih sudah mengubahku sedemikian rupa.
Amidst all the chaos, grateful for the last 12 months.