Kabar Bapak
Karya : Zahra Haliza
"Ibuuu bapak masih belum pulang ya? Padahal sudah menuju Minggu."
Tanya Adi sambil melahap semangkuk bubur ayam dengan kerupuk yang sudah basah bercampur kuah bubur tersebut.
"Belum sayang, sebentar lagi bapak akan pulang ketika menjelang awal bulan ya nak?"
Mendengar penjelasan ibu Adi pun kembali bersemangat untuk menyantap sarapannya dikala embun pagi masih menemani dan juga mentari pagi yang baru menyapa satu persatu insan yang ada di alam semesta.
Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari dan minggu demi minggu pun berlalu. Entah sadar atau tidak, awal bulan baru telah tiba. Namun anehnya, Adi tidak menanyakan kabar bapaknya hingga petang hari padahal anak laki-laki itu sangat merindukan bapak tempo hari.
Ibu Kirana sedikit merasa keheranan mengapa anaknya tidak bawel lagi untuk menanyakan kabar bapaknya yang sedang bekerja mengudara di melewati langit khatulistiwa.
"Nak, mari turun dari kasurmu, makan malam sudah siap sayang"
Kirana menepuk punggung Adi yang terbalut selimut dengan lembut, ia mengira kalau Adi sedang tertidur lelap. Karena memang seharian ini putranya sibuk untuk membantu pamannya di kebun kopi.
"Kenapa ibu berbohong padaku.. Kenapa ibu.. Ibu.. Kenapa?"
Suara serak Adi yang terdengar meracau dibalik selimut. Kirana yang mendengarnya menaikkan satu alisnya sambil merasa keheranan.
"Kenapa ka—" "IBU KENAPA MENYEMBUNYIKAN YANG SEBENARNYA SELAMA INI!"
Teriak Adi yang masih terselimuti selimut. Setelahnya terdengar suara terseguk - seguk, langsung dengan cepat ia mengibaskan dan menarik selimut Adi. Terlihat ia sedang menangis kejar sambil memeluk foto kedua orang yang sangat ia sayangi. Bapak dan ibunya. Sedari siang ia terus saja meringkuk sambil memeluk erat frame foto kedua orangtuanya itu, sambil mengingat masa - masa indah yang mereka habiskan bertiga. Terasa sesak, ia ingin berteriak dan merobek hatinya, sangat pilu untuk dilupakan namun terasa sesak jika terus menerus diingat juga.
Semakin waktu berjalan, semakin keras rintihan pemuda tersebut, sambil dengan terseguk - seguk ia terus merintih dengan kerasnya mengabaikan sekitarnya yang seakan akan ia berada diruang hampa yang kosong dan hanya ada ranjang yang menjadi tempat ia merebahkan badannya saat ini.
"Huahua.. Kenapa aku bodo sekali, kenapa ibu selalu hadir dihadapanku, kenapa hanya ibu? Kenapa bapak tidak hadir juga dihadapanku? Kenapa i- ibu yang hadir semakin membuatku sesak."
Kehadiran ibunya itu membuatnya menyadari bahwa Ia hanyalah ilusi semata. Adi, sosok yang sangat merindukan kedua orangtuanya yang telah meninggal setahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat yang hampir merenggut nyawa ketiganya.
Namun Tuhan berkehendak lain, Ia masih membiarkan Adi untuk hidup dan menjadi orang yang kuat. Pamannya yang mendengar Adi kembali terisak di balik pintu ikut merasa hatinya hancur. Ternyata anak itu belum bisa merelakan kepergian orangtuanya. Adi masih merindukan sosok bapak dan ibu disekelilingnya.
"Tuhan.. Mengapa Engkau tak merenggut jiwaku juga? Aku rindu bapak dan ibu, aku ingin berkumpul bersama mereka"
Sang wira tersebut melirih dengan laun sambil memejamkan matanya hingga jiwanya tertidur lelap.















