Siap Pensiun sebagai Pahlawan
“Mas!!”
pekik seorang gadis dari kedai kopi modern di seberang jalan sembari melambai - lambai. Betty nama gadis itu. Dengan berbusana dress berwarna kuning polkadot dan kulit sawo matang, ia memandang kearah seorang lelaki paruh baya yang berlarian ke arahnya. Sambil terbata bata lelaki itu tiba di meja Betty dan kemudian mereka duduk.
“Jadi apa yang bisa aku bantu mas?” tanya Betty.
Lelaki itu tampak sedikit tersentak, tapi seketika langsung tersenyum halus dan mengucap sapa.
“Baik kok mas.” imbuh Betty.
Lelaki itu terlihat sedikit jengkel meski masih terlihat paras bahagia di wajahnya. Seketika raut wajahnya langsung menjadi begitu serius. Lelaki itu menceritakan keluh kesahnya mengenai keuangan rumah tangganya yang akan datang nanti. Ia menceritakan diumurnya yang sudah dipenghujung 40 tahun itu, berapa banyak lagi tanggungan dia yang masih harus dinafkahi hingga setidaknya bisa pensiun dengan tenang.
Wajah cemas tergambarkan dengan jelas di muka lelaki itu. Suasana pun menjadi sedikit suram.
“Jangan khawatir mas, apa gunanya ada aku sekarang disini?” Perlahan suasana lapangan pun membaik, keduanya kembali terfokus.
“Jadi intinya itu mas khawatirkan bagaimana mas bisa pensiun dengan lega nantikan?”
Lelaki itu mengangguk.
“Sini mas, biar aku bantu kasih solusi. Buat apa punya adik yang pintar dan cantik kalau ga bisa bantu kakaknya sendiri? Ya kan?” goda Betty.
Mereka berdua pun tertawa lepas.
Betty berdiri dan menuju ke kasir. “Boleh pinjam pena dan kertasnya, ga kak?”
Kembali dengan pena dan kertas, Betty kemudian menuliskan dua kata di kertas itu.
SAHAM dan REKSADANA
“Apa yang mas tau dari kata kata ini?” tanya Betty.
Dengan raut muka tidak menyenangkan dan penuh keraguan lelaki itu menjawab. Terlihat beberapa kalimat terucap dari mulut lelaki itu.
“Ya itu benar mas. Saham itu media investasi yang cukup populer. Di usia mas sekarang, terlalu berbahaya karena ada resiko kehilangan apa lagi kalau itu untuk masa tua nanti. Jadi kita coret ya ini.”
“Nah sekarang Reksadana. Ini juga media investasi, bedanya dengan dana mas ada yang pakai untuk mendapatkan uang. Sebenarnya salah satu dari produk Reksadana ini ada yang cocok sama mas. Tapi akan aku jelaskan nanti deh bersama dengan menu utamanya.” Kedip Betty.
DEPOSITO
Lelaki itu sekarang tampak semangat, seakan dia mengerti sekali produk ini. Dia mencoba menjelaskan semampunya dengan cukup panjang lebar.
“Hahahaha. Deposito itu sepopuler itu ya memang. Memang bunga yang ditawarkan dan kenyamanan yang dijanjikan cukup menarik ya mas. Jangan – jangan tabungan mas sekarang semua ada di deposito yah?”
Mereka pun kembali tertawa lepas. Seakan lelaki itu menghindari jawaban tersebut.
“Tapi sayang sekali mas, aku juga harus coret yang satu ini.”
Lelaki itu pun kaget seakan penuh tanya dipikirannya.
Betty pun langsung menulis satu kata lagi untuk menghapus rasa heran dari lelaki itu.
SBN
“Mungkin ini yang sebenarnya mas cari.”
Lelaki itu terlihat seperti tidak mengerti apa apa.
“Sini mas, aku jelaskan dulu ya. SBN atau Surat Berharga Negara itu adalah surat yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai anggaran negara dengan imbal hasil. Imbal hasil yang diberikan umumnya lebih baik daripada deposito bank. Dengan imbal balik ini aku rasa cocok dengan kebutuhan mas. Karena dilindungi oleh undang- undang, seandainya terjadi kondisi ekonomi sulit sekalipun uangnya akan tetap kembali tanpa ada khawatir gagal bayar. Ga mungkin jugakan kalau negara sampai gagal bayar warganya.”
“Surat Berharga Negara ini adalah bentuk kontribusi langsung kita sebagai warga negara untuk membantu mendorong pertumbuhan negara. Setiap dana yang masuk akan dikelolah dengan hati-hati dan dipastikan untuk kegiatan pendanaan APBN, salah satunya mendukung peningkatan sumber daya manusia di Indonesia. Kalau bahasa kerennya itu, jadi pahlawan ekonominya Indonesia karena sudah berjasa membantu agar Indonesia terus berkembang.”
Meski ragu, lelaki ini terlihat berusaha untuk mencoba mengerti apa yang dimaksud oleh Betty.
“Begini deh mas. Kalau ada uang sebenarnya bisakan dipakai buat pinjamkan ke mas Agus yang mau ekspansi lahan dengan imbalan? Uang yang mas kasih akan dipakai secara produktif oleh mas Agus untuk memperkuat keuangannya usahanya. Tidak berbeda dengan ketika dipinjamkan ke negara, uang itu akan dipakai untuk kegiatan produktif negara.”
Sepertinya lelaki itu sudah mulai mengerti, dan mulai melontarkan sejumlah pertanyaan.
“Tenang, mas pasti sudah penasaran ya bagaimana caranya untuk investasi dengan SBN ini. Aku jelaskan dulu kalau SBN ini ada yang namanya SUN atau Surat Utang Negara, dan SBSN atau lebih dikenal sebagai Surat Berharga Syariah Negara. Sekarang pilih dulu dari prisip investasi yang sesuai dengan tipe mas. Perlu diingat, SBN ini bersifat mengengah panjang. Jadi setiap pembeliannya akan memakan waktu 3 hingga 20 tahun hingga pengembalian totalnya. Maka dari itu durasi investasi juga harus dipertimbangkan sebelum membeli SBN ini.”
“Kalau mas sudah tentukan semua. Lalu tinggal hubungi deh, mitra distribusi yang jadi preferensi mas. Hampir semua bank merupakan mitra distribusi dari produk ini. Selain itu fintech juga ada yang ambil bagian sebagai mitra distribusi dari SBN ini. Atau ada satu cara lagi buat kakak yang tidak mau repot memilih produk, bisa dipercayakan lewat Reksadana Pendapatan Tetap.”
“Nah kebetulan sekarang aku yang mengurus dibagian pembelian surat hutang yang akan datang di bank aku kerja, jadi bisa langsung aku yang uruskan juga kok kak. Jadi kak mau investasi berapa?” kata Betty dengan suara menggoda.
Tawapun tak tertahan di meja itu. Lelaki itu tertawa terpingkal-pingkal. Siapa sangka kalau ketika dia perlu bantuan bantuan, malah ditawarkan produk oleh adiknya sendiri.
“Ya kan, kak? Kapan lagi bisa kita saling bantu. Aku bantu masalah uang kakak, kakak bantu kerjaanku di kantor, sekaligus juga bantu negara. Jadi pahlawan dihatiku dan pahlawan bagi pembangunan Indonesiakan. Ujung-ujungnya kembali ke kita lagi juga kok.”
Lelaki itu terlihat setuju dan mengangguk. Sepertinya keresahan dihatinya pun perlahan hilang, mereka pun melanjutkan obrolan ditemani secangkir kopi panas.
Sadarkah kamu, lelaki itu sebenarnya adalah kamu yang sedang saya ajari mengenari SBN melalui postingan blog ini? Lalu, kapan giliranmu berkontribusi buat negara?
FIN









