The Lost Plane
Ada suatu pemukiman yang katanya akan dibangun menjadi bandara. Pemimpin di pemukiman tersebut membeli sebuah pesawat dan mendatangkan pilotnya, dengan asumsi bandara akan terbangun selama 6 bulan. Kenyataannya, si pemimpin tetap mempertahankan kendaraan-kendaraan darat yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, atas dasar kecintaannya terhadap kendaraan-kendaraan butut tersebut. Beberapa bulan berlalu, bandara yang rencananya akan dibangun malah molor. Penduduk di pemukiman tersebut merasa risih, karena pesawat memakan tempat dan mengganggu arus jalan yang selama ini mereka nyaman gunakan. Kabar-kabar soal pesawat yang mengganggu aktivitas lama mereka sampai ke telinga si pemimpin pemukiman. 6 bulan berlalu, si pemimpin mendatangi si pilot dan pesawat dengan tujuan mengutarakan apa yang telah diaspirasikan penduduk. Tetapi yang diutarakan si pemimpin adalah situasi pemukiman yang minim dana untuk membangun bandara agar pesawat bisa dengan leluasa terbang, sehingga si pemimpin harus menjual pesawatnya. Pesawat pun terjual, masyarakat pemukiman sangat senang karena mereka bisa kembali berkendara dengan leluasa dan melakukan aktivitas lama nya yang selama ini mereka sudah lama tidak lakukan. Si pemimpin tersenyum melihat rakyatnya tersenyum. Bandara yang sudah terbangun sedikit, digunakan sebagai jalan kendaraan yang ada. Angan-angan si pemimpin yang ingin terbang jauh melihat dunia yang sudah diisi dengan kendaraan-kendaraan cepat, canggih dan air-based dikubur atas dasar kecintaannya terhadap kendaraan-kendaraan tua yang memang dia lihai kendarai. Si pilot dan pesawatnya sudah berada di tempat yang tepat, di bandara yang sudah terbangun. Dia melihat dari jauh, baru akan memulai take-off. Dia merasa lega karena akhirnya bisa terbang kembali dan diberi tempat yang layak dan luas untuk lepas landas bersama pesawat-pesawat lain.











