2022. tahun yang up and down nya ekstrim banget.
tahun ini dibuka dengan zunita memutuskan resign dari kantor, full jadi IRT, supaya fokus ngurus luna. well, keputusan resign nya dari akhir 2021 sih, tapi akhir januari 2022 zunita last day menjadi working mom. bukan keputusan yang mudah untuk dibuat. ada hal-hal yang harus dikorbankan. jadi harus lebih berhemat, ada beberapa pos pengeluaran yang harus ditekan. tapi keputusan itu kami ambil sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa sayang kami ke luna.
hidup cuma berdua di perantauan membuat kami nggak punya banyak pilihan cara untuk merawat luna. ART? kami masih numpang tinggal di apartemen, terlalu beresiko kalau luna dititip cuma berdua sama ART di apartemen. nggak keliatan tetangga, akses ke mana-mana lumayan repot karena harus lewat lift, area apartemennya yang nggak terlalu luas, dan batasan-batasan lainnya. daycare? sudah pernah kami coba selama 1 bulan terakhir zunita bekerja. sebenernya kami cukup suka sih opsi luna dititip di daycare. alhamdulillah kami menemukan daycare yang cukup oke. tapi biaya daycare yang cukup mahal membuat kami agak berpikir ulang. menitipkan luna di rumah saudara? hahahaha prinsip kami adalah "kami nggak suka ngerepotin, tapi kami juga nggak suka direpotin". opsi ini bahkan tidak pernah terlintas di pikiran kami.
di pertengahan 2022, kami akhirnya memulai petualangan kami untuk mencari rumah. yap, kami akan pindah dari apartemen ke rumah tapak. sebenarnya tinggal di apartemen cukup nyaman. fasilitas yang lengkap dan akses ke mana-mana cukup mudah dan dekat. tapi menurut pertimbangan kami, luna butuh lingkungan tempat tinggal yang lebih mendukung tumbuh kembangnya. dia butuh area rumah yang lebih luas untuk dia eksplor, butuh area outdoor yang lebih kids friendly, butuh teman bermain yang seumuran, butuh kamar yang terpisah dari orangtuanya, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. berdasarkan hal itulah kami mencari rumah yang sekiranya akan memenuhi kebutuhan kami.
mencari rumah tinggal di jakarta (jabodetabek sih lebih tepatnya), ternyata sama sekali tidak mudah. ada yang rumahnya kami suka, tapi aksesnya sulit. ada yang aksesnya terjangkau, tapi bangunan dan lingkungannya kurang oke. ada yang akses, bangunan, dan lingkungannya kami suka, tapi overbudget. rumah pertama yang masuk dalam opsi kami ada di daerah ciputat. lingkungan oke, ada di dalam area perumahan, harga masih sesuai dengan kantong kami, meskipun secara bangunan masih perlu renovasi, tapi overall kami cukup suka. problemnya ada di owner yang entah kenapa sulit sekali untuk diajak bertransaksi. rumah kedua yang masuk ke radar kami juga ternyata menyimpan drama. kami suka lingkungannya, harga masih masuk budget, bangunannya cukup oke meskipun butuh sedikit penambahan, tapi tiba-tiba kami keduluan orang lain. rumah yang sudah dijual dari 3 atau 4 tahun yang lalu, tiba-tiba laku di hari yang sama oleh 2 orang. akhirnya kami memilih mundur dan mencari rumah lain. kami sempat hampir menyerah dan memilih rumah lain yang sebenarnya overbudget. tapi kami mencoba untuk mencari opsi lain lagi. memang Allah adalah sebaik-baiknya perencana. drama-drama yang kami hadapi itulah yang akhirnya membawa kami menemukan rumah ini. rumah yang secara lingkungan oke, harga sesuai budget, fasilitas di sekitar perumahan banyak dan lengkap, akses lofie ke kantor juga ternyata cukup mudah dan banyak opsi, bangunan rumah cukup baik, hanya perlu perbaikan minor, pokoknya paket lengkap rumah impian kami. rumah yang sesuai dengan ekspektasi kami. akhirnya kami mulai proses transaksi rumah ini and here we are, kami officially jadi warga tangerang hahaha
kami pikir setelah kami pindah ke rumah baru, kami akan lebih settle. ternyata the biggest drama di tahun ini baru muncul. proses pindah rumah ini cukup menguras energi kami. lahir dan batin. selama 1 bulan penuh kami harus bolak-balik apartemen-rumah setiap weekend karena kami harus mempersiapkan rumah ini sebelum kami pindah. saat rumah kami sudah siap dan akhirnya kami pindah ke rumah ini, ternyata energi kami masih harus tersedot habis untuk proses adaptasi. yap, ternyata proses ini jauh lebih draining. lofie harus beradaptasi untuk berangkat dan pulang bekerja dari tangerang ke jakarta. zunita harus beradaptasi mengurus rumah dan mengurus luna di tempat baru. bodohnya kami, kami lupa bahwa luna juga butuh adaptasi. kesibukan kami mengurus keperluan rumah baru membuat kami lupa untuk ngobrol sama luna, untuk menjelaskan ke luna bahwa kita harus pindah ke rumah, kita akan ada di lingkungan baru, kita akan punya kebiasaan baru, kami lupa menyampaikan itu ke luna. kekagetan dan kebingungan luna mungkin tidak secara gamblang dia sampaikan. dia tetap jadi anak yang ceria, penurut, anak baik kesayangan papa mamanya. tapi tiba-tiba di hari sabtu tanggal 3 desember jam 3 sore, luna kejang sampai membiru. sejujurnya, ini part yang paling berat untuk diceritakan. sampai detik ini aku masih ketakutan untuk mengingat lagi detail kejadian di sore itu. sore di mana kami seharusnya bahagia karena keesokan harinya kami akan menonton show komoidoumenoi setelah 2 tahun tertunda. sore itu jadi sore paling mencekam bagi kami.
alhamdulillah Allah menempatkan kami di rumah yang tidak jauh dari rumah sakit. kami bawa luna ke rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan. singkat cerita, luna ternyata terkena infeksi jamur di pencernaannya. 5 hari 4 malam luna dirawat di rumah sakit, dan selama itu kami tidak berhenti menangis, menyesal, dan berandai-andai. andai kami lebih peka dengan kondisi luna. andai kami lebih berhati-hati. dan entah berapa ratus pengandaian lain yang kami pikirkan.
hari ini, di hari tulisan ini dibuat, alhamdulillah luna sudah kembali sehat, sudah kembali menjadi anak yang ceria dan menggemaskan. semoga selalu begitu. aamiin.
2023 kami membawa harapan-harapan baru. harapan untuk hidup yang lebih baik. wish us luck!