he wasn't even looking at me and he found me
untitled
Xuebing Du

Love Begins
Sade Olutola
h

roma★

Discoholic 🪩
One Nice Bug Per Day

oozey mess
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

if i look back, i am lost
RMH
Lint Roller? I Barely Know Her
Stranger Things
Cosmic Funnies
NASA

Andulka

Product Placement
wallacepolsom
seen from France
seen from Kenya
seen from Tunisia
seen from Canada

seen from Tanzania
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from T1

seen from United States
@lofiebachtiar
Kenangan
Sepertinya gue musti mengurangi kebiasaan "naruh orang di lagu" karena sekarang tiap gue denger lagu tersebut yang muncul adalah kenangannya, baik atau buruk.
Tentu ini kenangan yang mostly berhubungan dengan cinta #tsah
Tapi ga sedikit juga lagu-lagu yang mengingatkan gue akan keluarga. Bokap gue misalnya.
Pan kapan gue bikin list nya seru kali yak.
Welcome February!
Let's start the journey!
"In order to succeed your desire to succeed must greater than your fear of failure"
Minggu, 6 Oktober 2024
Hari dimana perubahan itu diformulasikan
Hari dimana semuanya dicanangkan
Hari dimana engkel mendadak sakit, perut terasa kram, lutut tiba-tiba nyeri.
2 minggu sebelumnya, jam di tangan tiba-tiba bergetar menandakan detak jantung diatas normal, terlalu tinggi. Padahal saat itu sedang duduk di taksi menuju rumah. Kaget dan takut langsung menyerang. Apalagi pada dasarnya emang orang yang suka overthinking, kepikiran dah hal-hal aneh.
I have a family, a daughter and a wife. Both are lovely and adorable. I want to be there for them, I need to be there for them. Plus I need to look good when an asshole out there wanna try to date my little girl *suddenly remember reggie in bad boys series*
Well the point is, I wanna start this journey and document it here. Karena tumblr adalah safe space, hehe.
Here is the condition for today: 112,9 Kg
FUCKIN' HELL, WHAT HAVE I BECOME. SHIT!
Well without further a due, let's pray for this journey. I call it, "menemukan lopret". Stay tune fellas!!
Minggu, 6 Oktober 2024
-Kamar Bawah-
wow, soooo many things happened since the last time i wrote on this tumblr. many. things.
di postingan terakhir, kami baru aja pulang honeymoon. baru selesai mengkonsolidasi rencana dan mimpi kami dalam hidup berumahtangga. salah satunya, kami berencana mau tetep berdua aja dulu untuk beberapa taun ke depan. sambil mempersiapkan berbagai macam hal yang diperlukan untuk menyambut anggota baru di keluarga kami. financially, mentally, anything.
2 bulan setelah pulang honeymoon, we figured out that we were going to be a parents. reaksi pertama kami tentu panik, takut, dan bingung. kami baru aja selesai membahas rencana dan mimpi kami, tiba-tiba kami dikaruniai baby. bersyukur, tapi juga takut. takut kami tidak bisa menjadi orangtua yang baik karena belum siap sama sekali. takut mimpi dan rencana kami akan berantakan. bingung karena kami belum menyiapkan apapun.
tapi seiring berjalannya waktu, kami perlahan mulai tenang. kami banyak mencari tau dan akhirnya sedikit demi sedikit mengerti apa yang harus kami lakukan. perlahan kami juga menyadari bahwa mimpi dan rencana kami tidak harus berantakan, kami hanya perlu menyesuaikan. menambahkan anak kami sebagai bagian dari rencana dan mimpi kami.
Allah memang selalu tau apa yang terbaik untuk hambaNya. Allah tau sudah saatnya kami step up the game. hadirnya anggota baru di tengah ketidaksiapan kami, menuntut kami untuk segera berbenah. kami 'dipaksa' untuk terus maju, karena hanya itu satu-satunya jalan.
having this baby is not something that we regret. kami belum sepenuhnya siap, tapi it's a never ending learning journey.
hari ini, tepat 7 taun kami bersama, 'kami' sudah tidak lagi berarti kami berdua, 'kami' adalah Lofie, Zunita, dan Luna.
this 7 years full of ups and downs is the only roller coaster that we're enjoy to ride
malang, 22 November 2021
-ditulis sambil ngantuk ngelonin Luna
Kami adalah Lofie, Zunita dan Luna. Three of us against the world!
‘we were married in the time of corona’
Emang bener sih ya kata alm bokap gue dulu, kalo lo pengen sesuatu lo batin aja hal tersebut batin terus sampe kejadian. True sih, beneran bisa kejadian lho. In my case, it is my marriage.
Per bulan ini, pandemi Covid-19 sudah satu setengah tahun menghantam Indonesia dan seluruh dunia. Bagi sebagian besar orang, pandemi ini membawa dampak sangat negatif ke kehidupan mereka tak terkecuali ke kehidupan gue, tp harus diakui gue bersyukur bisa tetap bekerja normal (dari rumah tentunya) dan menjalani hidup di tengah kondisi pandemi yang serba menghimpit ini.
Kondisi menghimpit yang dialami seluruh lapisan masyarakat ini juga berpengaruh kuat terhadap rencana gue dan zunita untuk menikah di tahun 2020. Sebelumnya, perlu gue ceritakan bahwa rencana menikah tahun 2020 ini sudah kita rencanakan sejak tahun-tahun sebelumnya, kami juga sudah berjanji sama keluarga dan bokap gue (yang keburu meninggal duluan) untuk menikah di tahun 2020. Jadi ya 2020 memang harus jadi nikahnya gitu.
Awal gue dan zunita memutuskan untuk menikah, tidak dimulai dengan gue melamar. Hal ini juga sering jadi protes becandaan zunita dengan sok ngambek. "Kamu kenapa sih ga ngelamar yang romantis gitu kayak di film" yang kemudian akan selalu gue bales dengan "Eh, kuda nil, lo mau gue berlutut, bawa cincin, depan umum, trus bilang 'will you marry me?' Ppfftt".
Can you imagine me, doing THAT? Yeah you wish zunita! Not gonna happen!
Anyhow, gue ga berlutut gitu tapi gue dan keluarga gue akhirnya dateng ke rumah zunita ketemu orang tuanya. Awalnya sih niatnya cuma pengen saling kenalan gitu, secara selama ini ga pernah ketemu dan kenalan sampe bokap gue ga ada. Akhirnya ketemu lah tuh kan gue sama adik dan nyokap sambung gue ketemu keluarganya zunita. Sembari 'melamar' secara resmi gitulah intinya ya dan karena keluarga zunita juga udah tau niatan dan janji kami ke alm bokap gue. Lamaran itu terjadi di akhir tahun 2019 dan disepakati bahwa akad nikah dan resepsi akan dilaksanakan pada Bulan Juni 2020, satu hari setelah hari ulang tahun zunita (emang sengaja banget kayaknya nih si kuda nil ngepas2in).
Lanjutlah ke persiapan menikah. Fyi, sejak awal pacaran sampe ke persiapan menikah ini, gue dan zunita sering banget mengucap:
‘pengen deh kalo pas nikah di KUA aja, akad nikah doang gitu lah, males resepsi, eh tapi ga mungkin yak haha’.
Kami mengucap begitu sering banget, ya kadang becanda, kadang serius, kadang berdoa, gitu2lah. Karena ya kita yakin, orang tua kami tidak akan setuju nikah tanpa resepsi, secara kita berdua sama-sama anak pertama pasti pengen dirayakan dong mereka. Ya kita memaklumi saja lah ya.
Sampai tiba-tiba, Pandemi Covid-19 menerpa dunia dan seisinya.
Awalnya kami sempat panik, wah alamat diundur nih nikahan, tapi setelah melihat dan menganalisa kondisi, kami coba komunikasikan ke keluarga bahwa pandemi seperti ini tidak akan jelas kapan berakhirnya jadi menunda pernikahan tidak akan menyelesaikan masalah, malah menumpuk masalah. Untungnya pihak keluarga kami sangat mengerti dengan kondisi ini dan memutuskan untuk akad nikah aja dulu, resepsinya nyusul.
Dalam hati kami mulai melihat peluang 'hmm sepertinya ini peluang untuk tidak mengadakan resepsi pernikahan'. Tentu kami tidak frontal menyampaikan hal itu ke keluarga kami, bisa goncang dunia persilatan kisanak! Kami mulai menyusun rencana "operasi peniadaan resepsi pernikahan" huehehehehheeh ga deng canda...
Akhirnya disepakati akad nikah di tengah pandemi akan dilaksanakan 27 Juni 2020, sehari setelah ulang tahun zunita. Sa ae emang kuda nil milih tanggal -,-
Akad nikah hanya dihadiri oleh keluarga inti kami dan teman serta tetangga dekat. Tidak ramai karena memang kondisi pandemi sedang mayan gawat. Kami bersyukur akad nikah berjalan lancar dan khidmat. Lebih bersyukur lagi karena acaranya benar2 sederhana namun khusyuk. Karena memang itulah yang dicari, khusyuk dan khidmat. A6 10an (if you know, you know) wkwk. Acara dimulai pukul 7 dan benar2 selesai pukul 10. Selesai acarapun lebih seru karena keluarga kami bisa berbincang dan ngobrol saling mengenal. Hey, seperti ini kan harusnya sebuah pernikahan? Bukan ajang pamer kan harusnya?
Anyway, selama ngobrol-ngobrol itu keluarga memang masih ngomongin soal resepsi tapi kami merasa bahwa suasana pernikahan kami yang begitu khusyuk, intim dan khidmat itu tampaknya sedikit banyak mengubah pemikiran keluarga kami, ditambah omongan 'racun' dari gue dan zunita huehehehhe. At the end of the day, pembicaraan resepsi itu sudah mulai menguap. Lebih tepatnya menggantung tanpa kejelasan hehehe. Sehari setelah pernikahan, kami balik ke Jakarta. Ya benar, langsung! Yah ini sih bisa dibilang sekaligus menghindari pertanyaan soal resepsi huehehe.
Pada akhirnya dengan mempertimbangkan kondisi pandemi, rasa syukur atas khidmat nya pernikahan kami serta setelah kami sampaikan bahwa mengadakan resepsi lebih banyak mudharatnya, keluarga kami setuju untuk tidak mengadakan resepsi. Akhirnya, akhirnya impian kami terwujud. Menikah tanpa resepsi. Omongan yang sering kami ucapkan itu, Terwujud! Alhamdulillah!
Hari ini, saat tulisan ini selesai, tepat setahun pernikahan kami, setahun menikah, tujuh tahun pacaran. Wow bisa juga gue ya hahah. Setahun pernikahan juga berarti ulang tahun zunita juga ulang tahun yang ke... ke.. keberapa ya lupa. Pokoknya ultah lah hahaha. Sekarang kami pun sedang bersiap untuk bertiga supaya bisa bikin wah bertiga nih versi keluarga (if you know, you know) hehehe. Doakeun ya!! 🙏
Supaya lebih romantis tulisan ini, gue insert juga foto terbaik kami selama bertahun-tahun kami bersama.
Selamat ulang tahun istriku! Doa baik selalu untukmu 🥰
-Selesai ditulis saat menunggu antrian vaksin di Grogol-
Copy Paste tapi Penting, Tentang Uang
TIPS MENGATUR UANG:
1. Beli barang untuk diri sendiri. Beli barang karena elo hepi, bukan karena mau impress orang lain.
2. Waktu adalah teman terbaik untuk investasi. Semakin lama elo berinvestasi, semakin besar hasil akhirnya.
3. Uang keluar harus lebih sedikit dari uang masuk. Vice versa.
4. Tidak hutang dan tidak mau dihutangin. Setiap kali ada orang mau hutang, tanya ke orang itu: "gimana kalau elu kasih gua suatu value (misalnya: kerja) buat gua, biar gua bisa bayar elu. Jadi gaada hutang2an. Jikalau hutang, gunakanlah untuk aset yang bisa bertumbuh. Kalau bisa hindari hutang. Hindari juga hutang melalui kartu kredit.
5. Bayar sesuatu itu cash, walaupun bayarnya 100% setiap bulan. Pakai cash, karena lebih sakit untuk pakai uang dalam bentuk cash.
6. Fokus ke penghasilan. Gaji itu beda dengan penghasilan. Yang benar adalah bagaimana elo menambah penghasilan elo. Paling gampang dengan membuka revenue stram yang berbeda dengan keahlian elo yang ada. Telusuri lagi keahlian elo.
7. Pelajari instrumen investasi dengan tujuan finansial elo. Investasi pakai instrumen dengan resiko rendah, misalnya untuk: beli hp. Investasi pakai instrumen seperti saham, misalnya untuk: dana pensiun. Googling ttg saham kalau gangerti. Reksadana paling mudah btw.
8. Banyak penghasilan bukan berarti banyak pengeluaran. Jangan kaget dengan uang yang banyak, hindari pemikiran semacam: uang bisa dicari lagi. Karena penghasilan naik, maka kemungkinan investasi juga lebih banyak. Dibandingkan foya-foya, miliki lah mindset investasi tersebut.
9. Punya budget. Min 10%, gunain penghasilan elo untuk investasi. Alokasikan untuk investasi. Normal 10%-20%, di satu cerita Raditya Dika: 70% untuk invest.
10. Beli lah pengalaman. Karena rasa hepi yang didapat lebih berbeda ketimbang elo beli benda. Misal: ajak makan keluarga.
11. Beli barang, pikirkan cost per use nya. Jumlah biaya setiap kali elo menggunakan barang itu. Misal: mau beli ban pinggang mewah, daripada beli ban pinggang seharga 10jt yang umurnya hanya 1-2 tahun, lebih baik beli ban pinggang seharga 10jt yang umurnya panjang. Beli yang mewah-mewah bagus sekalian.
12. Usahakan kalau belanja, sendirian. Karena kalau sama teman, bisa dihasut.
13. Bayar pajak dan donasi. Kalau elo punya uang banyak, elo juga harus bayar pajak. Jalani saja kewajiban elo sebagai warga negara. Donasi: melalui memberi sesuatu ke orang lain, elo akan dapat kebahagiaan yang lain, ketimbang barang/pengalaman.
14. Hubungan dengan uang adalah hubungan kebiasaan. Semua ino harus elo biasakan. Perlu komitmen dan fokus. Hindari kalau stress dikit, belanja. Yang penting adalah bagaimana caranya elo bisa memaintainnya. Misalnya: stress, dimaintain dengan meditasi atau ngobrol dengan teman.
15. Temukan pasangan yang perilakunya terhadap uang sehat. Jangan sampai sikap elo yang sudah sehat tentang uang, tiba-tiba saat mau nikah, uang nya pas-pas an. Komunikasikan sikap uang elo kepada pasangan elo dari zaman pacaran, atau komunikasikan dengan baik. Saling komunikasikan. Sampai benar-benar saling tahu sikap masing-masing terhadap uang. Agar rumah tangga yang elo jalani nanti lancar, terhindar dari konflik. Karena biasanya persoalan uang bisa menjadi sumber konflik yang lumayan besar.
-Raditya Dika
Tulisan : Manajemen Keuangan Keluarga
Menarik memang soal perduitan ini dimana aku juga sangatlah faqir ilmu soal ini. Ya semakin banyak nyari tahu, semakin sadar bahwa ternyata selama ini aku amatlah bodoh. Rajin baca tapi sering lupa. Masih harus banyak belajar. Lagi lagi dan lagi. Oh, Begitulah hidup. Tidak akan pernah berhenti belajar.
Jadi, tadi setelah ikut SCK-Kamil Pascasarjana ITB tentang Manajemen Keuangan Keluarga oleh Ust. Rendy, beliau menyampaikan 5 buah poin inti materi yang aku rangkum sebagai berikut :
1. Kita mengerti konsep hidup seorang Muslim.
a. Memaknai Ilmu : belum paham soal Riba, halal, haram? Oke berarti dikit-dikit harus mulai berlajar kesana. Soal zakat juga. Jangan mentang-mentang selama ini gaji / harta yang dimiliki gak pernah sampai ke nishab dan haul-nya Zakat penghasilan ataupun zakat harta lalu jadinya gak pernah nyari tahu soal itu (itu aku sih wkwkw)
b. Pemahaman soal adab hidup seorang Muslim : Apa itu arti bermewah-mewahan, Apa itu mubazir? Apa gunanya punya harta banyak dan mampu dibelanjakan namun tidak produktif. Misalnya hanya jadi sepatu dan baju yang pada akhirnya terpendam di kamar. Lalu yang misalnya suka hobi jajan kesana kemari,makan ini dan itu, jalan ke sana sini, mungkin bisa mempertimbangkan kembali, jangan-jangan hal tersebut mubadzir. Spirit menggerakkan ekonomi kecil, oke sih, butuh hiburan, oke sih. Tapi jangan sampai mubazir.
Rumah tangga jadi high cost karena gaya hidup . Jadi perencanaan keuangan harus melingkupi pemahaman soal dengan adab hidup seorang muslim. ^^
2. Tidak Menyatunya Harta Suami dan Istri.
Seharusnya harta suami dan istri terpisah, begitu kata beliau. Yang kupahami tentu bukan maksud beliau suami dan istri selalu hitung-hitungan soal hartanya masing-masing. Tapi soal pengelolaan dan jelasnya kepemilikan. Sebagaimana zakat pun selalu atas nama satu orang, maka harta yang dizakatkannya pun jelas kepemilikannya. Zakat atas nama siapa yang telah mencapai nishab dan haul?
Perlu jelas harta yang dimiliki, lalu jika ada harta sesuatu yang atas nama pribadi, tercatat dengan baik. Kalau ada kasus : suami kerja, istri tidak bekerja, hidup bagaimana? : maka harta suami >> sebagiannya dinafkahi kepada istri, kemudian istri menjadi manajer keuangan. Jika ingin memberikan pemberian, bisa diakadkan. Mana yang untuk nafkah, mana hadiah untuk istri.
Oiya ada satu hal yang bikin aku ngeuh. yaitu soal kalimat ini : “Harta istri-harta istri, harta suami- harta istri, kalimat ini kurang betul. Kalimat yang betul pada bagian ini adalah : harta istri, harta istri, harta suami harta suami. Tapi pada harta suami ada hak nafkah untuk istri dan keluarga.. “
3. Kesepakatan
Jika istri tidak bekerja, punya tanggungan , bagaimana? Jika jika istri masih kuliah bagaimana? Banyak hal yang nanti pada akhirnya suami dan istri harus banyak bersepakat. Teori keuangan manapun diaplikasikan tanpa kesepakatan suami istri, akan tetap kacau.
4.Pemasukan
Waduduh. Udah pernah dapet nih dari SPN tapi kayaknya lupa. wkwkw.
Ya, soal pemasukan disini Ust Rendy menyampaikan 3 macam
Active income, pekerjaan yang fix (primer)
pemasukan dari aktualisasi diri (sekunder)
Pemasukan dr aset yang dimiliki
5. Pengeluaran
Hadist keberkahan dari kebun yang dihujani, terkisah terdapat sebuah kebun yang hanya kebun itulah yang diawani dan dituruni hujan (menunjukkan adanya keberkahan dari kebun tersebut. Maka ternyata kelebihannya ada pada pengelolaanya. Didalamnya terdapat konsep 1/3 dalam pengelolaan harta (kamu boleh banget baca artikel ini, tulisan oleh Pak Muhaimin Iqbal untuk lebih lengkapnya)
Penjelasan ini ngena banget karena paling related. Bagaimana seharusnya uang dibelanjakan?
Biasakan hidup dari 1/3 penghasilan
1/3 untuk digunakan demi keperluan sendiri / keluarga inti
1/3nya diberikan kepada yang membutuhkan atau shadaqah ( shadaqah juga bisa ke keluarga dekat atau bisa juga ke lembaga- lembaga penyalur infaq dan lembaga sosial sosial)
1/3nya digunakan untuk menjadi di modal. (contohnya adalah ilmu/ pelatihan / sesuatu yang bisa diinvestasikan)
*** Sebenarnya yang saya tuliskan disini hanya secuil dari apa yang disampaikan beliaudi voice note selama 40 menit. kalau mau voicenotenya bisa download aja di sini.
Semoga bermanfaat :) Semoga memberi insight ~
Memilih (2)
“I guess it comes down to a simple choice, really. Get busy living or get busy dying” -Andy Dufresne-
Plot twist. That’s what happen in my life now. In the end, as a human we have to choose to get busy living or get busy dying and I choose to get busy living!
Setelah beberapa bulan lalu mengalami pergeseran makna hidup yang disebabkan banyaknya permasalahan keluarga yang harus gue hadapi yang membuat gue pulang ke Sidoarjo. Kali ini keputusan besar kembali harus diambil.
Setelah dua bulan gue pulang ke rumah dan menyelesaikan satu persatu permasalahan di rumah, saat ini gue diambang untuk kembali bekerja di Jakarta. Keputusan ini diambil setelah berbicara puluhan jam dengan keluarga gue. Gue balik ke Jakarta bersama nenek gue yang akhirnya gue putuskan untuk gue bawa tinggal di Jakarta sedangkan nyokap tiri dan adik-adik gue tetap di Sidoarjo. Setidaknya inilah keputusan yang paling tepat untuk dilakukan dalam kondisi ini.
Memasuki 2020, saatnya untuk berjuang lebih keras dari sebelumnya. It’s time to hustle! Banyak hal yang harus dilakukan. Saatnya melupakan tahun penuh kenangan buruk di tahun 2019.
Bismillah...
-Jakarta, 01 Januari 2020-
C'est la vie
Arthur Fleck
Don't be busy, just be productive
Tulisan dibelakang Deddy Corbuzier dalam salah satu videonya
Memilih
“Hal paling berat yang ada dalam kehidupan manusia itu kekuatan untuk memilh” - Agus Gurniwa-
Kutipan di atas dicetuskan oleh tokoh fiksi bernama Agus Gurniwa yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman dalam film Jomblo (2006). Film yang mengingatkan kita bahwa Hanung “pernah keren”. Film yang jauh lebih bagus dibanding film remake Jomblo yang disutradarai oleh orang yang sama namun kualitasnya buruk sekali. Too bad mas Hanung.
Kutipan Agus diatas tampaknya sangat menggambarkan apa yang sedang gue hadapi saat ini. Memilih. Sungguh memilih itu tidak mudah. Well, perlu diluruskan, milihnya doang sih gampang ya tapi konsekuensi atas pilihan itulah yang membuat memilih itu sungguh berat.
Sejak tanggal 21 Agustus 2019 ini, bertepatan dengan ulang tahun almarhum papa. Gue semacam mengalami pergeseran makna hidup. Gue bahkan merasa bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri gue. Semacam ada serangan psikologis yang entah datang dari siapa atau dari apa. Gue juga tidak mengerti kenapa gue merasakan hal ini. Apa gue depresi? depresi ringan? Is that even exist depresi ringan? entahlah yang jelas gue seolah kena pukulan telak di perut. Gue bahkan beberapa hari ga enak buat makan padahal dalam kondisi normal gue makannya banyak. Banget.
Jujur gue bingung, apa yang salah dengan gue, apa karena baru masuk ke kantor baru? Gagal beradaptasi? Kerjaan baru? Ga bisa melakukan hobi? Banyak tuntutan dari berbagai pihak dalam hidup? Apa?
Sampai pada akhirnya ada sesuatu yang seolah menyadarkan gue. Lagi-lagi sesuatu ini ga bisa gue jelaskan, sama seperti “serangan” yang tadi gue ceritakan. Sesuatu ini seolah memberi gue jawaban bahwa untuk menyembuhkan serangan itu gue harus pulang balik ke Porong.
Itukah jawabannya?
Akhirnya gue diskusi lah sama orang-orang penting dalam hidup gue. Zunita, Nyokap tiri gue, dan adek gue. Mereka lah yang selama ini menjadi “support system” gue.
Gue berdiskusi panjang lebar dengan mereka, dari sini gue baru tau bahwa Nyokap tiri gue sebenarnya sangat membutuhkan keberadaan gue di Porong. Semenjak almarhum papa meninggal Januari kemarin, ditambah adik gue yang paling kecil juga meninggal Mei kemarin. Nyokap tiri gue benar-benar ga bisa dan ga kuat untuk menjalani semua sendiri. Apalagi di rumah masih ada nenek gue yang masih harus dirawat. Disini juga gue baru tau kalau selama ini keluarga gue di Porong sangat membutuhkan gue untuk balik ke Porong. Mereka berdoa supaya gue diluluhkan hatinya agar mau untuk balik tinggal di Porong lagi. So that’s it. Mungkin doa-doa itu lah yang mungkin memberikan “serangan” seperti yang gue jelaskan diatas.
Setelah berdiskusi selama berhari-hari dengan mereka, menimbang baik buruknya, menimbang konsekuensi yang harus dihadapi untuk sebuah keputusan yang harus diambil. Memilih, memilih, memilih...
Sesungguhnya gue juga ga tau apakah ini benar-benar jawaban atas serangan tadi. Namun, hati gue udah mantap memutuskan. Gue bakal balik ke Porong, for good. Mungkin memang dalam urusan duniawi (Gaji, kemudahan hidup, dll) bekerja di Surabaya atau Malang memang akan sangat berbeda dengan bekerja di Jakarta. Berbeda dalam artian yang lebih tidak menyenangkan ya (lebih rendah lah gaji dll nya). Tapi, kalau hidup hanya mengejar uang, uang dan uang mau jadi apa kita di akhirat nanti? Setelah kehilangan banyak sekali orang-orang yang gue sayangi, sekarang gue merasa “dikembalikan” ke cita-cita gue yang lama.
Hidup sederhana, tenang, bisa beribadah untuk memperbaiki fluktuasi iman ini, dan menjalani hidup tanpa harus terbebani target pencapaian yang ditetapkan oleh manusia.
Ada sebuah artikel menarik di Terminal Mojok disini. Artikel ini kebetulan ditulis oleh orang Kantor Pelayanan Pajak. Mungkin untuk menambahkan konteks pada tulisan ini bisa cek artikel yang memiliki “same energy” seperti cerita gue ini.
C’est la vie
Komen Film: JOKER
This movie is so dark and brought anxious to many people out there. This movie is not about superhero or anti-superhero. There's no glowing and expensive CGI used, no battle scene with some fancy martial arts, no fancy costume. No. This is about how Joker became Joker.
Many people felt anxious after watching this movie, maybe because they share the same pain as Arthur Fleck here. Maybe because this movie represent all their feelings. One of my favourite scene is the interview scene. Those scene were like the monumental scene like some sort of announcement like, "Ladies and gentlemen, i present to you, The Joker".
Kudos for this movie is they arise mental health awareness among us, something that very serious problem yet very little attention regarding that kind of thing. Well, i am just warned you. Watch this movie with your own discretion and please don't bring your child to watch this movie. After all...
C'est la vie
============================================================
Kayaknya ga usah banyak review dah soal film ini, tonton aja. Buat gue pribadi ini filmnya Joaquin Phoenix, pemeran lain di film ini mah tempelan doang. Sebagus itu akting Mr. Phoenix yang pertama kali gue kenal lewat HER.
By the way, banyak kok hal-hal yang bisa kita pelajari di film ini, ya asal ga keburu depresi aja nontonnya. haha. 8/10 untuk Joker.
-Ditulis di WTC 3 diselesaikan di Cipete Selatan, 10 Oktober 2019-
Komen Film: Dua Garis Biru
Tulisan ini ditujukan untuk mereka-mereka yang mau boikot film ini hanya dengan menonton trailernya. BACA!
Setelah cukup lama tertunda sampai bahkan hype film ini sudah hilang, akhirnya gue bisa ngasih komen untuk film ini. Ga perlu peringatan spoiler, karena emang pasti udah pada nonton.
“FILM ZINA! MEMPROMOSIKAN ZINA DIKALANGAN REMAJA! BOIKOT!”
Itulah stereotype yang mengiringi kemunculan film dua garis biru ini, film ini mengangkat tema yang tidak biasa yaitu mengenai sex education. Suatu hal yang amat sangat tabu di negara kita tercinta ini. Bahkan sempat ada petisi online yang mengajak masyarakat untuk memboikot film ini. Apalagi di lini masa twitter pada ngeshare chat dan DM mereka dengan temannya yang mendukung untuk memboikot film ini. Gue pribadi cuma bisa bilang, INI ORANG INDONESIA EMANG PADA DASARNYA GOBLOK YA!
Mohon maaf pemirsa, kalau inget-inget perkara itu gue jadi muntab lagi. haha.
Oke mari kita masuk ke pembahasan film ini. Film ini membahas mengenai hubungan antara Dara (Zara JKT48) dengan Bima (Angga Yunanda) anak SMA yang menjalin kasih. Sayangnya, jalinan kasih itu kebablasan sehingga mengakibatkan Dara hamil di luar nikah. Inilah yang menjadi bahasan utama di film ini.
Menurut gue scene pembuka di film ini sangat cerdas, sedikit nostalgia untuk gue yang sudah lama meninggalkan bangku SMA. Jadi, di scene ini guru mereka lagi ngabsen nilai hasil ujian gitu, si Dara dapet nilai 100 sedangkan si Bima dapet nilai 40 dan diketawain temen-temen sekelasnya, tapi terus dibelain sama Dara yang bilang ga masalah dapet 40 yang penting jujur dan ga nyontek. See? unyu banget kan scene nya, ya lucu ya cheesy tapi justru menurut gue scene ini amat penting dan merupakan muqaddimah yang sempurna karena menggambarkan bagaimana jalan pikiran kedua tokoh utama kita dan bagaimana mereka mencari solusi dalam menghadapi permasalahan hidup mereka kedepannya.
Film ini bener-bener ngajak kita sebagai penonton untuk larut dalam cerita, karena pada dasarnya permasalahan seperti ini amat sangat relatable dengan hidup kita, film ini bahkan tidak menampilkan scene ciuman antara Dara dengan Bima. Ga ada sama sekali. So, f**k y’all people yang mau boikot film ini.
Ada satu adegan sakral yang ada di film ini yaitu “scene uks” dimana Dara dan Bima yang semula mau menyembunyikan soal kehamilan Dara akhirnya ketahuan oleh seisi sekolah dan juga orang tua mereka, scene ini diambil dengan teknik one take, kalau ga salah sama seperti one take nya film catatan akhir sekolah. Rumornya, mereka melakukan scene uks itu tanpa ada pengulangan, one take, one time langsung bungkus. Buat gue itu gila!
Scene uks ini menjadi salah satu scene paling mengaduk emosi, kita bakal relate dan bisa membayangkan kalau diri kita yang ada di posisi itu. Kita bisa bayangin gimana perasaan orang tua Dara, orang tua Bima, Bima dan Dara sendiri, bahkan kita bisa menempatkan diri kita sebagai pihak sekolah yang terpaksa mengeluarkan Dara dari sekolah. Pasangan Dwi Sasono - Lulu Tobing yang berperan sebagai orang tua Dara dan Arswendy Bening Swara - Cut Mini yang berperan sebagai orang tua Bima sangat piawai memainkan emosi di scene ini. Scene ini ditutup dengan sangat spektakuler dimana Cut Mini, ibu dari Bima yang dari awal scene tidak banyak berbicara dan hanya menangis tiba-tiba menampar Bima dengan sangat keras. Gue sampe “Anjir!”
Setelah scene uks yang sakral itu, Gina S Noer kembali mencekoki kita dengan scene yang tidak kalah keren, scene dimana Dara yang dilarang untuk pulang kerumah oleh orang tuanya, terpaksa harus menginap di rumah Bima. Perjalanan Dara ke rumah Bima ini bagus banget, tanpa dialog, tanpa banyak kata kita bakal merasakan betapa perbedaan “kasta” antara Dara dan Bima sangat terasa di scene ini. Perjalanan melewati jembatan, keluar masuk gang sempit, melewati pasangan suami-istri yang sedang bertengkar seolah memberikan pesan tersembunyi bagi Dara dan Bima bahwa kehidupan pernikahan tidak bisa hanya bermodalkan cinta! (eh maap jadi emosi..)
Sebenernya, film ini mengingatkan gue dengan film lawas berjudul Juno. Film Hollywood yang dibintangi oleh Ellen Page dan Michael Cera. Premis film ini hampir sama dengan Juno. Namun Juno yang karena memang film Amerika yang memiliki budaya berbeda dengan Indonesia, jatuhnya malah lebih ke film komedi dibanding membahas konsekuensi kehamilan si tokoh utamanya. Tapi yah buat yang udah nonton Juno pasti paham lah maksud gue. Buat yang belum nonton buruan dah nonton. Haha.
Balik lagi ke Dua Garis Biru,
Ending film ini pun tidak happy ending, dimana Dara dan Bima menjalani hidup bersama, bahagia, sehat sentosa. SAMA SEKALI TIDAK YA BAPAK-BAPAK IBU-IBU. Endingnya pun sangat miris, Dara harus diangkat rahimnya karena memang usia nya yang masih rentan untuk menjalani kehamilan. Sungguh film ini mengaduk emosi kita sebagai penonton. Sehingga pesan di film ini sangatlah jelas, tidak ada yang namanya happy ending dengan hamil diluar nikah. Jadi adek-adek jangan lakukan ya.
Mengutip kata-kata Koh Ernest, semua film indonesia itu bisa laris kalo relatable nya tinggi ke penonton. Begitu juga sebaliknya, film sebagus apapun kalo ga relate ke penonton nya bakal sulit untuk bisa bersaing. Nah film ini memiliki dua elemen itu sekaligus, film ini bagus dan relate ke penonton. Itulah yang membuat film ini sungguh sangat layak ditonton. Gue bahkan membayangkan bahwa ini adalah film yang wajib dipertontonkan oleh seluruh guru SMP-SMA yang ada di Indonesia untuk pendidikan seks yang lebih baik.
Hilangkanlah anggapan seks itu tabu, ga boleh dibicarakan atau didiskusikan. Itu anggapan kuno, justru karena stigma itu banyak anak-anak yang mencari sumber lain soal seks, yang justru malah salah kaprah. Justru pendidikan seks itu diberikan sejak awal. Jangan malulah ngomongin seks justru jelaskan dengan baik dan benar.
Jadi, tolong untuk yang kemaren mau boikot film ini tolong banget, OTAKNYA DIPAKE jangan dijadiin pajangan aja!
Secara keseluruhan gue kasih 9/10 untuk film ini. Nilai yang pas untuk film penting dalam perkembangan generasi muda. Tolong ditonton ya adek-adek.
- Jakarta, 9 Agustus 2019 -
Komen Film: Parasite
SPOILER ALERT!
UDAH GUE PERINGATKAN YA!
Review ini dibuat dengan perasaan yang campur aduk. Gila sih ini film!
Pertama-tama perlu gue jelaskan dulu bahwa gue adalah orang yang paling anti dengan Korea-Koreaan. Kebencian ini lebih disebabkan karena fans KPOP di Indonesia yang menjijikkan, freak dan ga masuk akal banget kelakuannya. Pun juga dengan cewek gue Zunita, yah dia sih ga sampe benci kayak gue cuma (untungnya) ga suka KPOP juga, biasa aja gitulah.
Nah karena latar belakang itu lah, film ini sebenarnya ga masuk radar kami untuk ditonton sih. Tau bakal tayang di Indonesia aja enggak, apalagi ngerencanain nonton kan. Namun, berkat berbagai akun reviewer film yang di follow oleh Zunita pada bilang kalo ini adalah film yang wajib tonton yang bahkan Joko Anwar aja sampe nge tweet soal film ini, jadilah kami memutuskan untuk nonton ini di Hari Minggu Malam, menjelang Hari Senin. Sebuah keputusan yang nantinya akan kami sesali. Kami menonton film ini tanpa tahu apa-apa, kami ga nonton trailernya atau mencari informasi apapun terkait film ini, genre film nya aja bahkan kami gatau. Jadi bisa dibayangkan lah ya perasaan kami ini.
Film ini dibuka dengan biasa, sangat biasa malah. Dibagian awal film malah gue sempet bingung apa sebenarnya yang mau disampaikan oleh film ini. Jadi film ini mengisahkan tentang satu keluarga miskin gitu, ya ga miskin banget sih, bisa dibilang menengah kebawah lah, tinggal di semacam bangunan semi-basement yang masuk ke gang sempit gitu. Satu keluarga ini terdiri Ayah, Ibu, Anak Laki-laki dan Anak Perempuan. Mereka terlihat ga ada masalah satu sama lain, tampak kompak-kompak aja tetap bisa makan bisa minum bir. Nah makanya gue bingung kan, konflik yang ingin dibangun di film ini apaa?
Tapi akhirnya, benang merah cerita itu muncul saat si Anak lelaki keluarga itu diterima kerja jadi guru les di rumah keluarga kaya yang anggota keluarganya juga sama seperti keluarga miskin tadi ada ayah, ibu, anak laki dan anak perempuan. Bedanya anak-anaknya ini masih pada kecil, yang laki SD kayaknya dan yang perempuan SMA. Disini gue mulai bisa menyimpulkan, jadi ada dua keluarga yang menjadi pusaran cerita film ini. Keluarga Miskin dan Keluarga kaya. Oke gue mulai bisa membaca konflik cerita ini.
Gue pikir ini bakal kayak drama korea yang sedih nangis gitu, tentang keluarga miskin yang disiksa oleh keluarga kaya, tapi pikiran polos gue itu kayak dihempaskan jauh sama film ini. Departemen naskah dan penyutradaraan film ini gila bener sih. Gue bener-bener dibikin melek sejak saat itu, alur cerita yang ga ketebak bikin gue sempat pusing sendiri.
Jadi ternyata yang jadi inti cerita dari film ini adalah Keluarga yang miskin ini menjadi semacam Parasit yang menipu habis-habisan si keluarga kaya ini. Mereka menyingkirkan supir dan pembantu si keluarga kaya ini untuk kemudian digantikan oleh bapak dan ibu si keluarga miskin ini. Sehingga satu keluarga miskin ini masuk dan bekerja di rumah si keluarga kaya, kalau cuma sampe situ mungkin ga akan masalah ya, toh gitu doang. Tapi MEREKA PURA-PURA GA SALING KENAL BUAT BISA MASUK DAN BEKERJA DISITU. Jadi ya bisa disebut scam atau penipuan.
Masalah besar di film ini tidak berhenti sampai disitu, ternyata pembantu sebelumnya yang disingkirkan oleh keluarga ini, juga menyimpan rahasia besar. DIA MENYEMBUNYIKAN SUAMINYA DI BUNKER BAWAH RUMAH INI. DISEMBUNYIKAN SELAMA 4 TAHUN UNTUK MENGHINDARI DEBT COLLECTOR! 4 TAHUN SEMBUNYI. Latar yang digunakan untuk menggambarkan rumah dan basement serta bunker nya pun ngasih efek tersendiri buat gue, serem dan makin serem liat ada orang yang tinggal selama 4 tahun di tempat itu tanpa diketahui pemilik rumah. I Mean…
Gila deh, gue yang nonton tanpa ekspektasi apapun bener-bener dibuat amaze sama alur dan plot di film ini. Jadi konflik yang dibangun di film ini berlapis dan bertingkat, ga ada cast yang ga penting, semua memiliki peran masing-masing yang dibutuhkan untuk membantu konflik dan jalan ceritanya. Ending di film ini pun bisa dibilang bangsat, tiba-tiba film ini berubah menjadi film dengan genre Gore, ada pembunuhan dan berbagai plot yang ga gue prediksi bakal ada di film ini. Film yang dari awal sampe pertengahan film kayak drama keluarga biasa tiba-tiba berubah gore, darah dimana-mana, pembunuhan udah kayak film SAW. Seisi bioskop yang awalnya haha hihi, ketawa seru ngelihat keluarga miskin ngerjain pembantu dan supir keluarga kaya, seketika hening dan kaget karena ada adegan gore yang gila. Poin plus lagi, pembawaan film ini mulus banget plot per plot nya gue kayak ngeliat kisah nyata aja gitu, kita dituntun untuk ketawa, kaget, deg-deg an, sampe ngeri dengan film ini. Sekali lagi gue memberikan pujian untuk penulisan naskah dan penyutradaraan film ini. Layak untuk diikuti dari scene awal sampai scene akhir. Film ini membuktikan bahwa penceritaan yang kuat bisa menjadikan sebuah film bener-bener bagus. Tanpa perlu CGI, tanpa perlu lokasi shooting mewah yang aneh. Well done Korea!
Masih inget ga diawal tulisan ini gue bilang kalo sebuah kesalahan nonton film ini di Hari Minggu malam menjelang Senin? Nah ini alasannya: Meminjam istilah Zunita tentang after taste film. film ini tuh ngasih after taste yang beda banget. Apa itu happy ending? apa itu sad ending? Buat gue film ini bisa disimpulkan dengan satu kata: DEPRESIF. Tidak menambah semangat ngantor di Hari Senin. Gue bahkan mempertanyakan kenapa gue nonton film ini sih…
Buat yang baca tulisan ini pasti bakal bingung sih, gue aja bingung gimana ngasih review dan menceritakan ulang ni film. Saran gue mending lu buruan nonton deh, dan rasakan gimana efek film ini ke kalian. Gue ga mau depresif sendiran. Nyiahahahaha..
Secara keseluruhan gue kasih nilai 8,5 / 10 untuk Parasite. Terima kasih sudah memberikan gue pengalaman berbeda dalam menonton film.
- Jakarta, 25 Juni 2019 -
Beda Penumpang MRT dan KRL
Hari ini gue meeting di tempat klien dari pagi sampe sore. Klien gue ini berkantor di Bekasi tepatnya di Bulak kapal. Waktu berangkat sih gue naik taksi pake voucher taksi dari kantor. Hohoho. Tapi pas balik gue iseng naik KRL lanjut MRT. Ide ini tercetus karena voucher yang gue ambil dari kantor cuma dua, satu buat gue berangkat nah satu lagi gue berikan (dengan amat terpaksa) kepada asmen tim gue yang mau langsung balik ke rumah nya di Depok. Yasudahlah ya...
Alhasil gue memutuskan untuk naik KRL dari stasiun Bekasi turun di Stasiun Manggarai, terus lanjut dari Manggarai ke Stasiun Sudirman, terus dari Stasiun Sudirman jalan kaki ke Stasiun MRT Dukuh Atas, terus naik MRT deh sampe Stasiun Cipete Raya.
Ribet ya, tapi berkat perjalanan ini gue jd bisa membandingkan penumpang KRL dan MRT. Bedanya adalah kalo penumpang KRL itu berusaha mendapatkan tempat duduk kalo penumpang MRT segan untuk mendapatkan tempat duduk.
Jadi, tadi KRL Bekasi - Manggarai itu sepi, ya jam segitu emang sepi sih kan lawan arus orang kerja jadi hampir semua orang dapet tempat duduk, ada satu ibu-ibu dan mbak-mbak yang maksa banget duduk di celah sempit yang tersisa untuk duduk. Ya masih cukup sih, tapi kan maksa. Haha.
Nah, begitu pindah ke MRT, gue melihat pola kejadian yang sama, bedanya celah yang ada masih cukup lebar untuk dua orang mbak-mbak tapi orang-orang malah milih untuk berdiri aja gitu. Sambil ngobrol sambil main handphone. Kenapa ya, pada gengsi kalo maksain duduk gitu? Lebih memilih berdiri?
Gue sih mengambil kesimpulan karena MRT ini masih dianggap wah di Indonesia, apalagi rute nya cuma Lebak Bulus - Bundaran HI doang. Jadi, prestige yang dirasakan oleh penumpang KRL sama MRT itu beda gitu kali ya? haha.
- Cipete Selatan, 19 Juni 2019 -
Komen Film: Single Part 2
SPOILER ALERT!
UDAH GUE PERINGATIN YA!
Film kesekian dari seorang Raditya Dika yang masih berkutat seputar kejombloan. Tema yang menurut gue udah basi.
Dengan premis yang sama seperti film pertamanya, Raditya Dika seolah tidak mau beranjak dari zona nyaman. Hampir seluruh film yang disutradarai atau dibintangi oleh Radit yang dibahas ya soal Jomblo, mulai dari Cinta Brontosaurus, Marmut Merah Jambu, Koala Kumal, Cinta Dalam Kardus sampai Single part 1 dan 2. Paling cuma Target dan Hangout film Radit yang bertema non jomblo.
Film ini masih membahas mengenai Ebi (Raditya Dika) yang galau karena hampir 30 tahun hidup tapi belum pernah pacaran walaupun sebenernya Ebi ini lagi deket sama cewek bernama Angel (Annisa Rawles). Kisah Ebi dan Angel ini sudah ada di Single part 1 yang kemudian dilanjutkan di film kedua ini. Konflik yang ingin dibangun oleh Raditya Dika di film ini adalah si Ebi ini cupu dan ga berani nembak Angel, padahal Angel nya juga suka sama Ebi. Tapi karena takut, ya akhirnya ga jadian. Sebuah konflik yang menurut gue udah cukup usang dibawakan oleh Raditya Dika.
Jomblo - cupu - penakut - bego. Merupakan formula andalan Radit dalam menggambarkan si Ebi ini. Untuk yang mengikuti karya Radit pasti tau deh formula itu juga pernah digunakan untuk karakter Miko, selain itu Radit juga menggunakan formula itu untuk menggambarkan dirinya sendiri di filmnya yang lain. Jadi gue pribadi sudah bosan dengan formula ini.
Maksud gue, di film Single 1 kan kita udah disodorin nih Ebi karakternya gitu, jomblo-cupu-penakut-bego. Ya masa di film kedua ini masih kayak begitu lagi, ga ada perubahan apa kek gitu. Kalo di Single 1 Ebi sang jomblo-cupu-penakut-bego yang mencari cara dapetin perhatian Angel, di Single 2 ini Ebi masih menjadi jomblo-cupu-penakut-bego tapi lagi cari cara untuk nembak Angel. Sungguh sebuah lompatan konflik yang spektakuler.
Konflik yang dialami Ebi - Angel ini juga dibumbui berbagai kesalahpahaman dan cerita yang berlarut2. Gue kasih review singkatnya, jadi konflik besarnya adalah Ebi ga bisa atau ga berani nembak Angel, kelamaan buat nembak sehingga berakibat Angel ditembak orang lain. Pas Angel nanya ke Ebi “Gimana menurut kamu, terima ga?” eh si Ebi nya sok pahlawan dong! “kalo dia baik, terima aja” WTF! Dude, gue tau lu jomblo - cupu - penakut - bego. Tapi ga gini juga kali!. Long story short, berbagai kesalahpahaman muncul setelah itu yang bikin konflik ini makin memuakkan untuk dilanjutkan.
Selain konflik Ebi - Angel, kita juga disodori konflik antara Ebi dan keluarganya, lebih tepatnya Ibu dan Adiknya. Di film ini diceritakan bahwa Ebi “dilangkahi” adiknya yang sudah lebih dulu menikah dan punya anak. Hal ini juga yang membuat Ebi semakin tertekan untuk segera pacaran dan menikah. Si adik yang bernama Alfa (Frederik Alexander) berusaha membantu Ebi untuk segera menjalin hubungan dengan Angel. Hubungan kakak adik Ini yang mau gue soroti sih, hubungan Ebi dan Alfa sebagai kakak adik kaku banget, kayak orang baru kenal. Dialog antara mereka pun kayak ga natural, ditambah akting Frederik Alexander yang kaku, jadilah hubungan kakak adik ini makin kaku. Adegan main Playstation terutama tuh ganggu banget. Serius dah, lebih kayak guru dan murid.
Sama seperti di Single 1, di Single 2 ini Ebi ditemani dua orang pelengkap, gue sebut pelengkap karena tidak ada plot yang membantu jalannya cerita dari dua orang pelengkap ini, ada Ridwan Remin sebagai Nardi dan Yoga Arizona sebagai Johan. Akting keduanya sih ya ga jelek tapi ya ga bagus banget juga, tidak membantu jalannya cerita selain hanya di sisi komedi nya saja.
Ngomong-ngomong soal komedi, Radit tampak kewalahan menyuntikkan efek komedi di film ini. Gue hanya ketawa di beberapa bagian doang, salah satunya di bagian acapella yang bolehlah dikatakan lucu. Banyak scene komedi yang malah jatuhnya cringe dan dipaksakan lucunya. Jadinya ya.. ga lucu.
Sebenernya masih ada hal lain yang mengganggu dan jadi poin minus dari gue untuk film ini, tapi mari kita lewati hal itu dan masuk ke poin plus nya.
Poin plus pertama dari film ini adalah, ceweknya cakep - cakep buset dah. Pujian harus diberikan untuk departemen make up dan wardrobe di film ini. Annisa Rawles di film ini cakep banget dan baju yang dipake cocok semua, ga ada yang jelek. Emang dasarnya udah cakep kali yak, pake baju apa aja ya pantes. Selain Annisa, ada Mentari Novel sebagai Alika yang ga kalah cakep. Bahkan yang jadi istrinya Johan aja cakep di film ini (itu istrinya Yoga Arizona beneran ya? atau bukan? entahlah ya.. pokoknya cakep lah). Jangan-jangan Radit emang mau fokus di aktor ceweknya? hmm...
Poin plus kedua adalah pengambilan gambar di Bali yang keren banget. Suasana Bali cukup terasa kental di film ini. Mulai dari pemandangan alamnya, rumah bali, suasana liburan di Bali. Sungguh menyejukkan mata. Yah setidaknya bagi gue mengobati keinginan liburan ke Bali :(
Oiya satu hal baru di film ini dilakukan oleh Radit.
Di film ini, Raditya Dika ciuman! Ciuman bibir! Gue gatau sih itu beneran Radit atau di cut pake bibir orang lain (secara kan beliau habis meniqa) tapi setidaknya ini hal baru sih menurut gue. Terakhir seinget gue ada adegan Radit ciuman itu di film Kambing Jantan yang bareng Herfiza, adegannya mereka hujan - hujanan nonton konser terus ciuman, itu pun ciumannya ditutupin jaket. Jadi, gue memberikan pujian khusus untuk hal itu, Radit berani mengeluarkan adegan ciuman di filmnya. Yah setidaknya ada hal baru lah dari Raditya Dika gitu.
Hal yang membuat gue takut adalah ending film ini tidak menyatukan Ebi dan Angel yang mana merupaka konflik utamanya. Apakah ini artinya akan ada Single part 3? Waduh...
Well, kalo memang ada Single part 3, ya ekspektasi gue ada perubahan signifikan lah baik dari segi penulisan naskah dan pengembangan karakternya. Gue berharap banyak dari Bang Radit.
Secara keseluruhan film ini 4/10.
- Jakarta, 18 Juni 2019 -