------------ (KIS) ----------- 🌿🌱🌿🌱🌿🌱🌿🌱🌿🌱 💖💖💖 Nasehat-nasehat berharga Imam Syafi’i Tentunya setelah mendengar sekelumit tentang Imam kita yang satu ini, ingin sekali rasanya kita mendengar petuah-petuah beliau yang amat berharga.... karenanya, simak dan amalkan baik-baik nasehat-nasehat beliau berikut; عَنِ الرَّبِيْعِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ: أَشَدُّ الْأَعْمَالِ ثَلاَثَةٌ: الْجُوْدُ مِنْ قِلَّةٍ وَالْوَرَعُ فِي خَلْوَةٍ وَكَلِمَةُ الْحَقِّ عِنْدَ مَنْ يُرْجَى وَيُخَافُ. Dari Rabie’ bin Sulaiman -murid Imam Syafi’i,- katanya: Aku mendengar Asy Syafi’i mengatakan: “Amalan paling berat ada tiga: suka memberi ketika terjepit, bersikap wara’ tatkala sendirian, dan menyampaikan al haq di depan orang yang diharapkan sekaligus ditakuti” (Shifatus Shofwah, 1/234). وَعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ: لَوَدِدْتُ أَنَّ الْخَلْقَ يَتَعَلَّمُوْنَ مِنِّي وَلاَ يُنْسَبُ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْءٌ, وَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ النَّافِلَةِ. Rabie’ juga meriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, katanya: “Aku ingin seandainya orang-orang menimba ilmu dariku, tanpa menisbatkan ilmu tadi kepadaku sedikitpun”. Beliau juga mengatakan: “Menuntut ilmu itu lebih afdhal dari shalat nafilah (sunnah)” (Shifatus Shofwah, 1/234). عَنْ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنَ بْنِِ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ: طاَلِبُ الْعِلْمِ يَحْتَاجُ إِلىَ ثَلاَثٍ إِحْدَاهَا حُسْنُ ذَاتِ الْيَدِ وَالثَّانِيَةُ طُوْلُ عُمْرٍ وَالثَّالِثَةُ يَكُوْنُ لَهُ ذَكاَءٌ. Dari Ahmad bin Abdirrahman bin Wahab, katanya: Aku mendengar Asy Syafi’i berkata: “Seorang penuntut ilmu membutuhkan tiga hal, pertama: bekal (uang) yang cukup, kedua: usia yang panjang, ketiga: sedikit kecerdasan” (Shifatus Shofwah, 1/234). Dari Yunus bin Abdil A’la, katanya: Asy Syafi’i pernah berkata kepadaku: “Hai Yunus, kalau kau mendengar ada sesuatu yang tak kau sukai dari sahabatmu, maka jangan sampai kau segera memusuhinya dan memutus persahabatanmu; hingga kau menjadi orang yang keyakinannya goyah karena keragu-raguan. Akan tetapi temuilah dia, dan katakan kepadanya: “Aku mendengar bahwa kamu melakukan ini dan itu…” dan jangan sekali-kali kau sebut nama orang yang mengabarkannya kepadamu. Kalau ia mengingkarinya, katakan kepadanya: “Bagiku, kau lebih baik dan lebih kupercaya”, dan jangan berkata lebih dari itu. Namun jika ia mengakui dan menurutmu ia punya alasan untuk itu, maka terimalah darinya. Namun jika kau tak mendapatkan alasan baginya, maka tanyakan: “Apa yang kau maksud dengan ini semua?”. Kalau ia menyebutkan alasan yang bisa diterima, maka terimalah. Namun bila alasan tersebut tak bisa kau terima, dan kau merasa tak ada solusi lain, maka anggaplah ini satu dosa darinya, kemudian terserah kamu; kamu bisa membalas dosanya dengan balasan setimpal, atau kau maafkan dia dan ini lebih dekat kepada ketakwaan serta lebih mulia. Allah berfirman: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema'afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah (Asy Syura: 40). Kalau ternyata nafsumu mendorongmu untuk membalas, maka renungkan kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan untukmu, lalu gugurkan satu dari padanya sebagai balasan atas dosanya… tapi jangan sekali-kali kau kurangi kebaikan-kebaikan lainnya hanya karena dosa yang satu ini, karena itulah kezhaliman yang sesungguhnya. Hai Yunus, jika kau memiliki sahabat dekat maka peganglah erat-erat. Karena mencari sahabat amatlah susah sedang memutuskan persahabatan itu mudah” (Shifatus Shofwah, 1/234) يَا يُونُس اَلْاِنْقِبَاضُ عَنِ النَّاسِ مُكْسِبَةٌ لِلْعَدَاوَةِ وَالْاِنْبِسَاطُ إِلَيْهِمْ مُجْلِبَةٌ لِقُرَناَءِ السُّوْءِ فَكُنْ بَيْنَ الْمُنْقَبِضِ وَالْمُنْبَسِطِ. “Hai Yunus, enggan bergaul dengan manusia akan menimbulkan permusuhan; sedang terlalu bebas bergaul dengan mereka akan mengundang teman-teman jahat. Maka jadilah orang yang berada diantara keduanya” (Shifatus Shofwah, 1/234). يَا رَبِيْعُ رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ فَالْزَمْهُ فَإِنَّهُ لاَ سَبِيْلَ إِلىَ رِضَاهُمْ وَاعْلَمْ أَنَّهُ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ جَلَّ فِي عُيُوْنِ النَّاسِ وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحَدِيْثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ وَمَنْ تَعَلَّمَ النَّحْوَ هِيْبَ وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزِلَ رَأْيُهُ وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ وَمِلاَكُ ذَلِكَ كُلِّهِ التَّقْوَى. “Hai Rabie’, keridhaan manusia ialah tujuan yang takkan tercapai, maka perhatikan saja apa yang baik untukmu dan tekunilah itu, karena kau takkan mendapat jalan untuk meraih keridhaan semua orang. Ketahuilah, barangsiapa belajar Al Qur’an akan mulia di mata orang. Barangsiapa belajar hadits akan kuat hujjahnya … siapa belajar nahwu akan disegani… siapa belajar bahasa Arab akan lembut perangainya… siapa belajar berhitung akan baik pendapatnya… siapa belajar fiqih akan mulia kedudukannya… siapa yang tidak menjaga diri tak akan bermanfaat ilmunya, dan kunci dari itu semua adalah takwa” (Shifatus Shofwah, 1/235) Karamah Imam Asy Syafi’i Sebagai seorang Imam panutan, tidak heran jika beliau memiliki karamah. Salah satunya terjadi di zaman Khalifah Harun Ar Rasyid yang terkenal gampang naik pitam. Konon diisukan bahwa Imam Syafi’i terlibat dalam gerakan kaum ‘Alawiyyin yang ingin merongrong kekuasaan daulah ‘Abbasiyah. Ketika berita itu terdengar oleh Harun Ar Rasyid, segera ia perintahkan ajudannya (Fadhal bin Musa) untuk membawa Asy Syafi’i kehadapannya. Fadhel bercerita bahwa ketika ia berada bersama amirul mukminin (Harun), ia melihat pedang-pedang yang berkelebatan dan berbagai macam penyiksaan... “Hai Fadhal… di mana orang Hijaz itu (maksudnya Asy Syafi’i)?” tanya Harun sambil marah. “Ia ada di sini…”, jawabku. “Bawa kemari kalau begitu…”, perintahnya. “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun !! celakalah ia kalau begitu” kataku lirih. Sungguh aku sedih bukan kepalang karena kecintaanku pada Asy Syafi’i. Aku amat kagum dengan kefasihan bahasanya, kepandaiannya dan kecemerlangan akalnya. Kudatangi rumahnya dan kuperintahkan seseorang untuk mengetuk pintunya… namun ia berdehem sebagai isyarat bahwa dirinya sedang shalat. Usai shalat beliau membukakan pintu. Lalu kataku: “Penuhilah panggilan amirul mukminin…” “Baiklah…”, katanya. Kemudian ia memperbaharui wudhunya, lalu mengenakan pakaian dan pergi bersamaku. Sesampaiku di istana Harun, didorong rasa iba kepada Asy Syafi’I, aku berkata: “Tunggulah sejenak, aku akan memintakan izin untukmu…” Aku pun masuk menemui amirul mukminin… ternyata ia masih terlihat marah seperti sebelumnya. Kemudian tanyanya: “Hai Fadhal, mana orang Hijaz itu…?” “Ia sedang menuju kemari…”, jawabku. Kemudian aku menjemput Asy Syafi’i dan mengajaknya masuk. Ketika melalui ruangan pertama, kulihat ia menggerak-gerakkan kedua bibirnya mengucapkan sesuatu… demikian pula ketika melalui ruangan kedua, ia komat-kamit lagi mengucapkan sesuatu. Hingga sesampainya kita di hadapan Harun Ar Rasyid, sontak amirul mukminin berdiri menghampirinya, lalu duduk dihadapannya sambil meminta ma’af. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Harun bahkan mengecup kening Asy Syafi’i sambil tersenyum dan mengatakan: “Mengapa kau tak mengunjungiku… bukankah engkau ada di sini?” sementara itu para pengawal Harun memperhatikan dengan seksama, kiranya siksa apa yang akan ditimpakan kepada Asy Syafi’i… namun Harun justeru asyik bercengkerama dengannya hingga akhirnya mengizinkan dia untuk kembali… “Hai Fadhal… berikan pundi uang seribu dinar ini kepadanya” perintah Harun. Maka kubawa pundi uang tersebut sembari mengantar Asy Syafi’i kembali. Ketika kami melewati ruangan pertama, kutanyakan kepadanya: “Kutanya engkau dengan nama Allah yang mengubah kemurkaan Harun jadi keridhaan bagimu… tolong kabarkan padaku apa yang tadi kau ucapkan di depan amirul mukminin hingga ia ridha…?” “Hai Fadhal…” katanya. “Labbaika, wahai orang yang mulia lagi berilmu…” jawabku. “Dengar dan hafalkanlah apa yang akan kuucapkan…” pesannya. “Allah berfirman: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).(Aali ‘Imran: 18). Lalu beliau mengucapkan doa berikut: اَللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُ بِنُوْرِ قُدْسِكَ، وَبِبَرَكَةِ طَهَارَتِكَ، وَبِعَظَمَةِ جَلاَلِكَ، مِنْ كُلِّ عَاهَةٍ وَآفَةٍ، وَطاَرِقِ الْجِنِّ وَالإِنْسِ، إِلاَّ طاَرِقاً يَطْرُقُ بِخَيْرٍ مِنْكَ يَا رَحْمَانُ. اَللَّهُمَّ بِكَ مَلاَذِي قَبْلَ أَنْ أَلٌوذَ. وَبِكَ غِيَاثِي قَبْلَ أَنْ أَغُوْثَ, يَا مَنْ ذَلَّتْ لَهُ رِقَابُ الْفَرَاعِنَةِ، وَخَضَعَتْ لَهُ مَغَالِيْظُ الْجَبَابِرَةِ، ذِكْرُكَ شِعَارِي وَثَنَاؤُكَ دِثاَرِي، أَناَ فِي سُرَادِقاَتِ حِفْظِكَ، وَقِنِي وَأَغْنِنِي بِخَيْرٍ مِنْكَ يَا رَحْمَان ُ “Ya Allah, aku berlindung dengan cahaya kekudusan-Mu, berkah kesucian-Mu, dan keagungan-Mu dari setiap musibah dan malapetaka… Aku berlindung kepada-Mu dari Jin dan Manusia yang datang di malam hari, kecuali yang datang membawa kebaikan dari-Mu Ya Rahman… Ya Allah, Engkaulah tempat bernaungku sebelum memohon naungan, dan Engkaulah tempat berlindungku sebelum memohon perlindungan… Wahai Dzat yang menundukkan para Fir’aun, dan menaklukkan para Tiran… berdzikir kepada-Mu adalah syi’arku, dan menyanjung-Mu adalah ditsarku… Aku berada dalam pagar perlindungan-Mu, lindungilah aku… dan cukupilah aku dengan kebaikan-Mu Ya Rahman…” Seketika itu kutulis do’a Asy Syafi’i pada ikat pinggangku. Memang Harun adalah tipe orang yang tempramental, ia sering kali marah kepadaku. Tiap kali nampak olehku bahwa ia akan marah, serta-merta kubaca do’a tadi dihadapannya hingga ia ridha kembali… Sungguh, ini merupakan sebagian dari berkah Asy Syafi’i yang kurasakan” kata Fadhal mengakhiri ceritanya. Ketabahan & kepasrahan Imam Syafi’i menjelang wafat Diriwayatkan dari Isma’il bin Yahya Al Muzany -murid dekat Asy Syafi’i,- ka tanya: Aku menjenguk Asy Syafi’i ketika beliau sakit menjelang ajalnya. Kukatakan padanya: “Bagaimana keadaan Anda pagi ini?” “Pagi ini aku akan meninggalkan dunia, berpisah dengan kawan-kawan, dan menenggak cawan kematian… aku akan berjumpa dengan segala kejahatanku, dan menghadap Allah Sang Pencipta. Aku tak tahu kemana ruhku akan melayang; akankah ke Jannah hingga kuucapkan selamat, ataukah ke Neraka hingga kuucapkan belasungkawa?” jawabnya lirih. Sesaat kemudian… beliau menangis sambil melantunkan bait-bait berikut: وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي... جَعَلْتُ الرَّجَا مِنِّي لِعَفْوِكَ سُلَّمَا Ketika hatiku mengeras dan jalanku menyempit kujadikan harapan akan maghfirah-Mu sebagai tangga تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ... بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا Dosaku yang terasa besar ketika kubanding, dengan maaf-Mu Rabbi, jadilah tak seberapa وَمَازِلْتَ ذَا عَفْوٍ عَنِ الذَّنْبِ لَمْ تَزَلْ... تَجُوْدُ وَتَعْفُو مِنَّةً وَتَكَرُّمَا Engkau selalu pemaaf akan dosa dan senantiasa bermurah hati sebagai anugerah dan karunia فَإِنْ تَنْتَقِمْ مِنِّي فَلَسْتُ بِآيِسٍ... وَلَوْ دَخَلَتْ نَفُسِي بِجُرْمِي جَهَنَّمَا Kalau Kau siksa diriku ku takkan putus asa meski karena dosaku ku harus masuk Neraka وَلَوْلاَكَ لَمْ يُغْوِ بِإِبْلِيْسَ عَابِدٌ... فَكَيْفَ وَقَدْ أَغْوَى صَفِيَّكَ آدَمَا Kalau bukan karena-Mu Iblis takkan sesatkan manusia namun bagaiman kalau Adam pun telah disesatkannya وَإِنيِّ لَآتِي الذَّنْبَ أَعْرِفُ قَدْرَهُ... وَأَعْلَمُ أَنَّ اللهَ يَعْفُوْ تَرَحُّمَا Aku memang berdosa namun kutahu berapa kadarnya dan kutahu bahwa Allah memaafkan dengan rahmat-Nya Imam Syafi’i wafat pada hari Kamis di penghujung bulan Rajab tahun 204 Hijriah, dalam usia lima puluh empat tahun, semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya dalam Jannatul Firdaus. Bersambung........ ( Sumber buku Ibunda Para Ulama & Mujahid ) 📚📔📒📓📙📘📗📕📚📚📚 📚 WA KIS ( Kajian Islam Syameela ) 📱 Join us at : • SYAMEELA : Deliver The Truth Of • 082123021521 • 081225507005 • 081316000619 جزاك الله خيرا بارك الله فيك