Segala Hal Tentang Orangtua
Jadi orangtua itu, hal yang sulit. Sepertinya, seliatnya, kayaknya. Soalnya diri ini belum jadi orangtua. Jadi bertanya tanya, jika diri ini jadi orang tua, mau jadi orangtua yang seperti apa ya? Mau jadi orang tua yang seperti influencer mana ya? Atau, mau jadi orang tua yang seperti orang tua kita sendiri? Kadang bingung.
Hal itu kadang membuat kita flashback mengenai orang tua kita sendiri. Gimana kalo mereka lagi marah, kadang kita ngerasa orang tua kita ngga adil, kadang kita ngerasa orang tua kita ga sayang. Sadar ngga sih, kadang, atau bahkan sering, kita merasa orang tua kita menyebalkan dan ngga seperti orang tua teman teman kita?
Izinkan aku bercerita. Dulu, aku selalu menganggap orang tuaku menyebalkan. Yeah, khas anak muda. Merasa orang tua terlalu mengekang, terlalu pelit, terlalu pilih kasih dsb. Masa masa itu, terutama masa SMA sampai kuliah awal awal. Rasanya, suudzon terus sama orang tua.
Sekarang aku sudah sedikit "dewasa" alias sudah hampir tua. Jadi sering melihat dari sisi lain. Sisi dimana aku menilai orangtuaku sebagai orangtua cerewet, nyebelin dll sudah berlalu. Entah kenapa, saat ini, penilaianku berbeda terhadap orang tuaku.
Sekarang aku sudah menjadi dokter. Tau kan ya, kalau dokter umum, sering kerja sistem shift. Shift pagi dari jam 7 hingga jam 2 siang, shift siang jam 2 siang hingga jam 9 malam, shift malam jam 9 malam hingga jam 7 besoknya. Dan RS tempatku kerja, berjarak 1 jam dari rumahku.
Nah disinilah aku jadi melihat sisi lain orang tuaku. Setiap aku selesai shift siang, aku akan sampai rumah jam 10 malam. Rumahku berada tepat dipinggir jalan raya, sehingga jam segitu, jalan didepan rumahku sepi dan cukup gelap. Ketika aku shift siang, papaku akan selalu, literally selalu menunggu di teras didepan rumah, hanya biar aku tidak membuka gerbang sendiri. Katanya, khawatir kalau anaknya turun dari mobil malam malam untuk buka gerbang.
Dan yang bikin aku terharu adalah, aku dan papaku aslinya ngga sedekat itu. Papaku orangnya pendiam, aku sering menjulukinya "manusia es batu" soalnya dingin, dan datar. Dalam keseharian nya, papa itu orangnya irit bicara, tatapannya mengintimidasi dan jarang berekspresi. Dalam ingatanku, dari dulu aku sering sebal sama papa. Namun, entah kenapa, diperlakukan seperti sekarang ini, membuatky terharu. Meskipun, papa menyambutku pulang juga dengan muka datar sih... đ Tipikal, ya mau gimana lagi.
Belum lagi dimasa aku meniti karir dan mencari jalan untuk masa depanku, jujur, papa bahkan berjuang lebih keras dari siapapun, bahkan dari aku sendiri yang hanya terima jadi
Lalu, setiap aku shift malam, mama dan papaku selalu mengantarkanku berangkat, dan menunggu hingga mobilku menghilang dari pandangan mereka. Lalu mereka akan menunggu satu jam, hingga menghubungiku hanya untuk memastikan aku sudah sampai di tempat kerjaku. Lucunya, pernah waktu itu shift malam pertama kali, disaat aku agak kurang sehat, mama dan papa sudah heboh masalah aku berangkat kerja, dan hampir saja menghubungi supir kantor untuk mengantarkanku. Untung ngga jadi haha
Kalau dipikir pikir, mama dan papa selalu menganggapku sebagai anak kecil yang harus selalu dilindungi, meski dengan cara yang berbeda. Mama dengan cerewetnya yang super duper, yang dulu selalu kuanggap sebagai cerewet menyebalkan, dan papa dengan wajah datarnya yang dulu kuanggap menyebalkan juga namun ternyata dibalik itu, ada kekhawatiran besar terhadap anak sulungnya ini.
Kupikir, orang tuaku cukup menjadi figur orang tua yang ingin kutiru di hari tuaku, mungkin dengan beberapa versi yang semoga, menjadi lebih baik â€ïž













