nasihat berharga dari syaikh shalih sindi.
kadang kita lupa, memiliki âemasâ yang harus benar-benar dijaga. bahkan lebih berharga dari semua perhiasan dimuka bumi ini. yaitu keimanan kita.

No title available

JVL

Discoholic đȘ©

â
d e v o n

if i look back, i am lost
noise dept.
Game of Thrones Daily

Janaina Medeiros
tumblr dot com
Show & Tell

shark vs the universe

Andulka

â
taylor price
h

No title available

Kiana Khansmith
DEAR READER

pixel skylines

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from Greece

seen from Malaysia

seen from Sweden
seen from Sweden

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@abiebalie
nasihat berharga dari syaikh shalih sindi.
kadang kita lupa, memiliki âemasâ yang harus benar-benar dijaga. bahkan lebih berharga dari semua perhiasan dimuka bumi ini. yaitu keimanan kita.
Travelling Again?
Melihat ke belakang membuat saya tertawa. Jalan-jalan sampai ke Turki, Moroko, dan belantara Eropa⊠itu buat apa sih?
Refreshing? Saya rasa saya tidak setertekan atau sebosan itu sehingga harus merogoh isi rekening tabungan untuk pelesir beberapa hari ke negara yang belum pernah saya kunjungi.
Saya sendiri (dulu) bukan orang yang punya âbucket listâ. Mungkin saya akan diketawain karena pernah tinggal dan belajar di kota Manchester tapi tidak pernah nonton pertandingan siaran langsung. Atau mengaku Gooners tapi tidak pernah nonton âderby North Londonâ, padahal kuliah di Inggris.
Kemudian, beberapa akan bertanya, pernah ke Turki kok tapi tidak sekalian ke Cappadocia? Setelah dikenang-kenang, saya ke Istambul karena ikut teman. Saya juga bukan pembaca sejarah Islam (Ottoman) yang baik. Jadi, 4 hari di sana ya lebih kayak go show saja.
Ke Moroko di bulan puasa dan di tengah masa pengerjaan eksperimen tesis itu buat apaaa? Kualitas ibadah Ramadhan menurun, progress proyek tertunda satu minggu. Keseluruhan rencana eksperimen akhirnya tidak selesai dengan baik. What a wasteful decision.
Terakhir, tur ke 4 negara di Eropa yang saya jalani sepertinya juga tidak ada urgensinya. Saya tidak pernah bermimpi ke sana. Saya hanya membuat-buat alasan: Ah mumpung di sini, sekalian sowan ke tempat teman-teman pas kuliah S-1 dulu. Toh, kalau saya tidak ke sana saya tidak begitu ambil pikir.
Bagaimanapun, yang berlalu ya sudah. Uangnya sudah terpakai. Semoga dinilai ibadah karena selama perjalanan saya menyambung silaturahmi, tidak mengorbankan ibadah mahdhah, dan tidak berjalan dengan congkak di atas permukaan bumi.
Sayapun menikmati pengalaman baru dan perkenalan baru dengan teman perjalanan saya, budaya baru, pemandangan, dan karakter manusia umumnya. Saya juga menikmati bagaimana sejarah dan perang trlah membentuk dunia dengan segala batas dan keunikannya. Saya juga senang merasa punya bahan bila bertemu dengan orang dari negara yang pernah saya kunjungi.
Ya, mungkin keinginan saya ke suatu tempat tidak sepenting itu. Saya tidak perlu ikut-ikutan 'pernah ke negara ini, kota ituâ. Saya tidak perlu membuat orang kagum tentang cakupan eksplorasi saya. Saya tidak seharusnya membuat alasan-alasan sepele untuk mengeluarkan uang untuk pelesir ke mancanegara. Tapi, di saat yang sama, saya harus bersyukur bahwa saya pernah melewati itu semua. Cuma sedikit perlu bijaksana soal duit dan waktu saja.
Ciao!
DKI Jakarta Bukan Urusan Kita
Selamat bagi para penyimak dan komentator (di kantin kampus, di warung makan, di musholla kantor, di media sosial, dsb.) terkait pemilihan gubernur DKI Jakarta. Tugas kalian sudah selesai! Saatnya masuk kembali mengurusi diri sendiri.
Begitu banyak keringat mengucur, urat mengeras, dan waktu terbuang untuk pemilihan gubernur DKI Jakarta. Sudah cukup. Lebih baik kita kembalikan fokus kepada hal yang lebih esensialâurusan kita.
Sudahkah adik-adik kita mendapatkan perhatian yang lebih. Sebagian dari mereka lupa membaca Al Qur'an dan masih bolong sholat wajibnya, tidak punya teman cerita terkait masalah di sekolah dan kemudian mendapat saran yang salah dari orang lain, merasa kesepian lalu mencari pelampiasan dengan games online bahkan pornografi. Ini urusan kita.
Sudahkah orang tua kita kita temani di ruang keluarga? Sebagian mereka sudah tidak di usia produktif sehingga cukup kesepian karena tidak ada yang mengunjungi, ada yang berkhayal mengecat ulang pagar rumah yang sudah mengelupas tapi tidak cukup uangnya, sebagiannya tidur dengan album foto masa kanak-kanak putra-putrinya di pelukan. Mereka rindu. Ini urusan kita.
Sudahkah kita melihat di sekitar kita? Petani yang kesulitan menjual gabahnya dengan harga yang sesuai, nelayan yang hidupnya begitu-begitu saja sedangkan harga barang pokok dan pengeluaran untuk pendidikan terus naik, pedagang yang merasakan daya beli masyarakat menurun, dan seterusnya. Ini kasus riil. Sepertinya pemerintah mengayakan yang kaya dan membiarkan yang miskin memikirkan dirinya sendiri. Ini urusan kita.
Lihat saja penanaman modal terus dialirkan untuk investasi infrastruktur yang sebagian besarnya dinikmati kelas menengah dan atas. Perjanjian-perjanjian bisnis dibuat tanpa melibatkan kepentingan rakyat kecil. Perusahaan dunia diundang ke Tanah Air untuk memakai tanah Indonesia, menggunakan sumber daya alam Indonesia, sedangkan warga harus menjual tanah-tanah mereka, kehilangan pekerjaan mereka, dan menerima limbah dari segala kemajuan industri milik swasta. Prediksi saya, indeks Gini akan naik tentunya. Semua demi pertumbuhan ekonomi (pemodal). Dan ini juga urusan kita.
Sekarang warga Indonesia harus melihat lingkungannya, dan lingkungan kampung halamannya. Bertanyalah pada tukang ojek, pegangan kelontong, petani, nelayan, pedagang di pasar, dan sebagainya. Buktikan perkataan saya :)
Masa Jokowi ini, banyak orang terdidik kelimpungan mencari kerja, yang sudah ada kerja sibuk mengamati lini masa dan mengomentarinya. Sedangkan dapur-dapur masyarakat semakin jarang mengepul dan ekonomi morat-marit di akar rumput. Pendapatan negara masih sedikit yang menyentuh masyarakat langsung. Pajak belum membantu disparitas ekonomi per kapita.
DKI Jakarta bukan lagi urusan kita (warga non-DKI). Urusan kita adalah mengawal sisa waktu Jokowi dan masa jabatan para gubernur, wali kota, dan bupati di daerah kita. Angkat kepala dari layar gadget kita dan simak bagaimana pembangunan dan pelayanan umum di daerah kita. Biarkan DKI Jakarta mengurus dirinya sendiri!
Oke?
Setuju kak
[Transit]
ketika pesawat sedang melakukan perjalanan jauh, maka ia akan berhenti di bandara terdekat untuk melakukan pengisian bahan bakar. para penumpang dipersilahkan untuk menanti penerbangan berikutnya diruang tunggu. biasanya para calon penumpang akan memilih tempat tunggu yang nyaman untuk menenti penerbangan berikutnya. eh, sebelumnya abis turun pesawat lapor dulu kalo lagi transit... nah, sembari sang burung baja minum avtur hingga full tank para penumpang akan menanti di ruang tunggu, baik ruang tunggu biasa ataupun yang fi ai pi (VIP). sambil menunggu pesawat, memang nikmat jika energi dan karbohidrat diisi terlebih dahulu. apalagi jika perjalanan pulang memakan waktu yang tak sebentar. pulang memang lebih berat dan lelah. namun kerinduan untuk pulang pasti akan dinanti dan dihitung. kampung kita sebagai ummat islam adalah di tanah haram, dan kampung hakiki kita di akhirat kelak adalah jannah...amien kembali lagi ke transit. kita memilih ruang tunggu VIP (lounge) agar lebih nyaman dan lebih mempersiapkan diri untuk trip berikutnya yang akan memakan waktu panjang. segala macem makanan ada disini. nggak hanya makanan aja, maceman kopi dari yang item ampe putih pun ada tersedia. so, ini semua untuk kenyamanan para penumpang. tak hanya itu, kamar mandinya aja bersih kering, semua fasilitas akan terasa nyaman. amir safar menyarankan untuk menikmati secukupnya agar kita tak lelah saat perjalanan berikutnya. namanya juga transit, durasi waktunya paling sekitar 1 sampai 6 jam aja. setelah itu kitapun akan melanjutkan perjalanan ke kampung. pesawat, transit, bandara, lounge, dan amir safar. semua terpaut dalam untaian rona kehidupan. guys, pernah denger hadits yang ibnu umar nggak? hadits yang menyatakan bahwa kita di dunia ini ibarat orang yang sedang dalam perjalanan. nah kalo kita sadar lagi nunggu di lounge dengan kenikmatan fasilitasnya itu cuma sebentar, maka seperti itu juga kehidupan didunia ini. semua yang ada di dunia tampak indah dan nikmat. namun hanya sebentar kita berada di dalamnya. tugas kita hanya mengisi kebutuhan secukupnya agar bisa sampai ke kampung dengan sehat. ala kulli hal, nikmat hidup di dunia itu terbatas. terbatas oleh waktu dan tempat. tak seperti kenikmatan di akhirat yang unlimited. --------------- HIA, 08061436 tengah malam mencicipi "mac" oryx bie
Jangan ada jeda
Ketika telah selesai pada satu pekerjaan atau amal kebaikan, segeralah cari pekerjaan atau amal kebaikan lain. Jangan biarkan ada waktu kosong sedikitpun, karena di sanalah celah bagi syaithan dengan segala rupa godaannya menyusup di hati dan pikiran kita.
Jangan biarkan syaithan untuk masuk dalam sekecil apapun jeda amal kita. Waktu kosong adalah sia-sia, dan mudah sekali bagi syaithan untuk masuk mengisinya, mulai dari angan hingga perbuatan dengan sesuatu yang menjadi dosa.
Amal shalih tanpa henti, selesai satu amal menuju amal lainnyaâŠ
Jangan berhenti, agar kita senantiasa dinilai dalam amal kebaikan
âSiapa yang tidak menyibukkan dirinya dengan kebaikan, maka akan disibukkan dengan keburukanâ (Umar bin Khattab)
semoga kita diberi kekuatan Allah untuk melakukannya
[ Kumis, Umar dan Maliki]
Beberapa hari yang lalu, ustadz kami ustadz Musthafa As-Sudany bercerita tentang Umar bin Khattab. Beliau guru kami dalam bidang ta'bir, seperti biasa sebelum masuk ke materi beliau membawakan muqaddimah dari materi tersebut. "Umar adalah khalifah yang adil. Beliau keliling kota tiap malam untuk mengetahui keadaan atau permasalahan rakyatnya. Kita mungkin pernah mendengar kisah wanita yang menanak batu untuk mengelabuhi anaknya yang kelaparan. Atau kisah penjual susu dan anaknya yang shalihah (kelak dari rahik wanita inilah lahir sosok umarnya bani umayyah), dan masih banyak lagi." "Banyak ayat al-quran yang sesuai dengan pernyataan umar. Umar disegani dan ditakuti oleh kawan maupun lawan. Suatu hari umar pernah memanggil seorang wanita hamil untuk menghadap kepadanya, namun saking ketakutannya wanita tersebut dipanggil ia sampe keguguran. Ali pun memerintahkan umar untuk membayar diyat kepada wanita tersebut." "Pernah suatu Umar di pasar, beliau dimintai tolong oleh seorang wanita tua untuk membawakan barang belanjaannya. Umar memenuhi permintaan tersebut. Ketika di jalan, para penduduk menyapa, "Assalamualaikum ya amiiral mu'miniin...". Wanita tersebut heran dan baru menyadari bahwa yang membantunya adalah seorang khalifah. Ada perbedaan model kepemimpinan Umar dan Abu Bakar. Abu Bakar kita kenal lembut, tegas dan keinginan yang kuat. Namun dalam menyerahkan amanah beliau menyerahkan sepenuhnya kepada pengemban amanah untuk berlaku sesuai ijtihad masing-masing. Adapun Umar, maka ia mengharuskan seluruh tindakan pengemban amanah atas izin dari umar. Umar jika marah tandanya adalah beliau sedang memintal kumisnya. Para shabat jika melihat gerak gerik umar seperti ini, mereka sudah paham. Bilal pun pernah berkata, "Kami paling tahu tentang sosok Umar. Beliau memang tegas namun luluh dengan bacaan al-quran." Suatu ketika umar pernah mendengar bacaan qur'an surah ath-thur. Beliau menggigil dan pigsan ketika mendengar ayat azab hingga sakit selama beberapa hari. Dikisahkan pula bahwa umar baru hafal surah albaqarah setelah 8tahun. (Lamanya menghafal karena faktor usia dan tadabburnya). Lantas bagimana dengan kita saat mendengarkan alquran? Mengenai sifat marah umar yang memintal kumis, madzhab maliki berpendapat bahwa membiarkan kumis termasuk sunnah. Ini dilihat pula bahwa para sahabat dan penduduk madinah tak mengingkari perbuatan umar. Dalam madzhab malikiy juga ada kaedah bahwasanya perbuatan ahlul madinah adalah hujjah. ------------------------------------------------- Itu sebahagian kisah yang kudengar dari ust musthafa dan yang kucatatat. Intinya, kita menghargai perbedaan pendapat. Walau kita telah mengetahui bahwa yang rajih adalah memendekkan kumis bukan memanjangkannya secara berlebihan ataupun menggundulinya. Namun kita tetap menghargai perbedaan masalah fiqh dan berlapang dada. Mengetahui perbedaan bukan untuk saling mencela tapi untuk menghargai dan memperbaiki sikap. Tentu selama hal tersebut masih dalam koridor yang dibolehkan untuk berbeda dan pendalilan yang diakui. Menulis tentang khalifah umar takkan ada abisnya... Umar sosok yang ditakuti ketika masih hidup dan mati. Syaithan pun takut kepadanya. Bahkan orang syiahpun masih mencelanya walau Umar telah wafat. _________________ Malam sabtu hening Wira, 27022015 MAD AlBalie
ada apa? suatu hal yang mungkin terbesit dalam semua diri. secara fitrah semua tentu menginginkaan yang terbaik buat dirinya. tetapi terkadang sebuah kesalahan yang luput membuatnya bimbang melangkah. seolah ada batu yang mengganjal menahan dirinya? ada apa? ketika hasrat ingin bertemu dengan orang yang tak jumpa memuncak. ketika hati berdebar tak sabar ingin bersua dengannya. namun ada saja hal yang menghalangi. rasanya ingin memalingkan, tapi tak kuasa menahan. hingga akhirnya lenyap dalam papasan belaka. seolah tak disekenariokan tapi mengapa tak bersua ketika menemuinya? ada apa? semangat tekad dan perubahan telah disusun. jadwal perencanaan diatur sedemikian rupa. jam selalu diberi alarm pengingat. kalenderpun tak luput menjadi coretan petanda. namun apa jua berbuah hasil. seolah hanya aliran hari yang mengalir dialirannya. tak deras tapi menghanyutkan. seruan hati kecil yang teriak seolah tak terdengar, mengapa? "semua itukan hanya besitan belaka. jangan kau hiraukan pula besitan tak gunamu itu. biarlah kesalahan berhenti pada maaf dan penyesalan. toh yang Maha Pengampun akan memaafkan mu jika kau mau. Janganlah putus asa! gerak terjang kita masih panjang gan!" oh pujaan... "hatimu masih terhalang noktah. hati beningmu ternodai oleh noktah hitam yang kau buat. andai kau cinta pada pujaan hati, niscaya kau menyapanya. jangan palingkan wajahmu walau sebentar! tataplah, mungkin waktu singkat dapat mengobati kerinduan kalian. sapalah! mungkin ia akan bersua. jangan kau tipu dirimu! karena hati tak bisa kau bohongi. mulut bisa kau buat bohong namun tubuhmu tak kuasa dikompromikan." oh muda... "pagimu jangan kau siakan! jangan pula tiru pola tak baik kaummu. tetua telah beri kalian segenap petuah hidup. jangan pula kita ulangi. jangan pula kita berada di barisan para perencana yang hanya berakhir dengan ahlul wacana. kesalahan orang beriman takkan terulang di lobang yang sama. selalu ambil ibroh dari kesalahan bukan berbuat selalu kesalahan agar dapat ibroh. satu obat perjuangan yang luhur yaitu niat yang tulus. niat yang tulus mengandung visi hidup yang jelas. jangan kau lupa! Kenapa kita mesti putus asa? bukankah Allah telah menjanjikan kemudahan setelah kesusahan? semua telah diatur olehNya sesuai dengan kadar yang kita mampu. kenapa kau selalu berkata lebay terhadap seorang yang mencintaimu secara fana? jika kau melihat pujaan didunia sahaja sudah bahagia, lalu bagaimana jika melihat Sang Pujaan Haqiqi kita sepanjang hayat Allah dan Rasulnya secara langsung? sungguh tak ada lagi kebahagiaan tertinggi setelah melihat Wajah Rabbul 'Aalamin. ketika kita mencintai sesuatu, pasti kita akan bersiap semaksimal mungkin untuk bertemu dengannya. apapun pasti akan kita korbankan untuk menggapai cinta tersebut. itulah hebatnya sebuah cinta. cinta mampu membuat orang yang lemah menjadi kuat. cinta ibarat sihir yang melejit diantara hati. cinta mampu membuat orang yang kikir menjadi dermawan seketika. aduhai indahnya dan luar binasa.... hening... tak ada jawaban, dimana gerangan? disana! ketika bertemu...
Udah lah gak usah ikut-ikutan ngerayain acara yg gak jelas asalnya. Ente muslim kan?. Terlepas dari banyaknya sejarah "iedul hubb" itu sendiri, baik yg nganggep bahwa asalnya ini adalah sejarah perjuangan cinta2an pemuda dan pemudi yg patut dirayai maupun pendapat sejarah dari sebagian umat islam bahwasannya di hari itu islam dilecehkan pun dihinakan, Islam ini udah sempurna bro sis, gak perlu tambahan ritual gaje kebegituan. Buka deh quran surat al maidah ayat 3. Istidlalnya pake ayat ini aja, hafal dong ayat inimah. Sungguh islam adalah agama yg paling Perfect. Segala tetek bengek kehidupan udah tersurat dan tersiratkan dalam quran dan sunnah, tentu dengan paham orang2 terdahulu yg shoheh. Bukan seenak hawa nafsu dan jidat ente. Tapi sayangnya, islam yang sempurna ini, yang ngajarin dari A sampe Z segala aspek kehidupan hanya direalisasikan dan diamalkan sedikit saja oleh umatnya. Seakan islam hanya ada di masjid ketika umatnya shalat jumat. Seakan islam hanya ada beberapa menit saja dalam rangkain acara walimah pernikahan yang panjang. Seakan islam hanya hadir dan hidup saat datang bulan ramadhan saja dan Seakan umatnya hanya disuruh alim ketika ramadhan saja. Seakan.. Padahal islam kan ngajarin kalo sholat lima waktu itu wajib dan sunnah rowatib itu rumah di surga ganjarannya?. Padahalkan pacaran sebelum nikah dan ikhtilath itu haram?. Padahalkan shaum sunnah itu bermacam dan besar pahalanya?. Padahalkan... Coba dipikir lagi deh, masih mau ngerayain dan ngucapin hari-hari spesial cem orang kufar yg gak jelas asal usulnya?. Ajaran agama sendiri yg sempurna dan penuh hikmah aja masih banyak yg ditinggalin dan terlalaikan, yekali mau ikut2an ngucapin dan ngerayain acara mereka? Mikir. Hari raya dalam islam yg patut dirayakan itu cuma dua, iedul fithri dan iedul adha. Selebihnya? Saddan lidz dzariiah elu gak usah ikut-ikutan. Pesan terakhir buat anak jaman-an, hati-hati ngucapin selamat pada moment-momen atau hari-hari tertentu, bisabisa aqidahnya gak selamet. A'aananaa Allahu ala dzrikrihi wa syukrihi wa husni ibaadatihi (sedikit faedah yg nyangkut dari khutbah jumat mudir albinaa) By:amir.nrhqq
Amanah
Sebenarnya dalam mengemban amanah itu akan terasa ringan jika dibarengi keikhlasan. Ikhlas dalam bertindak. Ikhlas dalam mengambil keputusan, Dan juga ikhlas dengan tujuan yang akan dicapai. Pengemban amanah juga tak perlu orang yang hebat banget. Cukup dengan kehadirannya bersama partner dalam tiap persoalan sudah akan menguatkan satu sama lainnya. Kinerjanya akan semakin efektif, jika di setiap kali pertemuan saling menularkan energi positif. Berbagi pengalaman, saling menyapa, ataupun menasehati satu sama lainnya akan menambah power dalam organisasi tersebut. Minimal menegur jika ada ketidakberesan dalam kendaraan yang dikemudikan. Jika tak mampu, minimal menyapa sang penumpang yang ada bersamanya. Jika tak mampu juga, jangan sampai hanya menggangu penumpang lainnya. Keluar sejenak lebih baik daripada mendzalimi orang sekitarya. Namun ini bukanlah solusi terbaik. Ini hanya akan menambah penyakit pada diri anda. Lebih baik anda berada dikerumunan oranv shaleh sembari terus memperbaiki diri agar bisa seperti mereka. Jikalau merasa tak nyaman berada dalam satu zona, mungkin kau ada keterikatan dengan zona lain. Atau ada energi yang tak ditemukan? Perhatikan lagi, kak. Mungkin bukan saatnya berjalan mundur. Bukan juga dengan bergerak stagnan. Saat menerima banyak amanah, itu artinya anda dinilai mampu untuk menggampunya. Luruskan lagi kak Ikhlas Kami siap membantu. __________ Belakang makam kekasih
One day you will ask me which is more important? My life or yours? I will say mine and you will walk away not knowing that you are my life
~ Kahlil Gibran
Rasa
"Bukan kita yang ceroboh akan datangnya musibah itu. Mungkin disebabkan dirimu yang memang lupa." ia membentak sejenak, sembari menelan pil pahit yang dihadapinya. Semua memang ada rasa. Makanan tanpa rasa, hambar. Air tanpa gula, tawar. Rumah tanpa tilawah, hamoa. Dan hidup tanpa cobaan, stagnan.
BARENGIN ORANG PINTER
Kau bertanya apa yang saya pikirkan? Segan itulah  yang mendominasi otak. Memiliki kesempatan untuk memobilisasi, menyediakan persiapan rihlah orang orang hebat, berilmu, dengan wawasan yang teramat luas. Saya rasa dengan kemampuan yang kumiliki saat ini sangat tidak memadai. Rasa takut menyergap, namun lebih menakutkan lagi jika lari dari tanggung jawab.
***
Dan ternyata tidak sesusah itu. Apa yang kita pikirkan, semunya masih dalam ruang lingkup, kayaknya, sepertinya, mungkin, dan padanan kata yang lain. Belum tentu terwujud, terkadang itu hanya ekstase dari rasa pesimis kita sendiri. Ketika sudah dijalankan? Terlihat jalan lapang yang berisikan berbagai kemudahan, dengan orang-orang baik yang siap siaga untuk membantu. Â Jangan takut untuk melangkah. Terus melaju.
***
Kita merasa lemah, saya lebih tepatnya. Itu wajar, karena ada yang Maha Perkasa. Kita merasa miskin ilmu, wajar, ada yang Maha Mengetahui. Tapi jangan malu untuk bergaul engan orang-orang yang berilmu. Usahakan kita dapat membersamainya, duduk bareng satu majelis, mendapatkan manfaat yang mereka punya. Diskusi hangat. Karunia terbesar yang dapat kita reguk.
***
Malam itu kesempatan datang, untuk bisa berdiskusi dengan dua orang yang sangat haus akan ilmu. Diskusi yang sangat membekas, dengan banyak kosa kata yang agak membingungkan. Tanpa mengurangi kesyahduan diskusi yang berjalan, eaaa. Terasa sekali nikmat bertemu orang-orang pintar. Begitu kentara siapa yang selalu berfikir di setiap aktifitasnya. Terlihat sekali orang-orang yang suka menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Memberikan sebuah perenungan, âGue harus berjuang lebih giat, gigih, dan cerdas.
***
âBang apa yang bikin lo tetep semangat, dan haus akan ilmu? Mbikin bara apinya tetap membara sampai sekarang.â Gatel juga untuk bertanya. Berharap mendapat jawan yang menginspirasi. Ea.
Alisnya terangkat, mencoba mencerna kalimat barusan, âOh itu, apa yang bikin gue maish bergairah untuk menuntut ilmu? Jadi gini. Gue punya sodara yang lahir dalam keadaan harus berjuang untuk h hidup. Yang qodarullah, meninggal di usia yang relatif masih muda. Ketika itu gue berpikir, kakak gue, untuk hidup saja berjuangnya dengan segenap tenaga. Mati-matian. Bagaimana dengan gue yang dilahirkan dnegan kondisi yang lebih baik? Kerasa kufur nikmat ga sih? Hingga akhirnya semenjak itu gue berazam, bertekad untuk memaksimalkan nikmat yang Allah berikan kepada gue. Nikmat kesehatan, akal, dan kesempatan. Ya dengan memberikan yang terbaik di segala hal. Maksudnya mengusahakan memberikan yang terbaik. Begitu juga dalam mencari ilmu. Gue akan mengusahakan mempersembahkan usaha terbaik gue dalam memperoleh ilmu. Terutama ilmu agama.â Tersenyum. Sudah paripurna jawabannya.
***
Banyak hal baru yang bakal kita dapat dengan duduk bersama orang-orang berilmu. Seperti saat itu. Saya hanya terdiam mencerna. Mengangguk-angguk, tersenyum. Sambil mencoba berpikir. Sudah berapa banyak nikmat yang saya dustakan?
***
Pertanyaan tidak berhenti. Saya harus mendapat ilmu lagi.
âBang sejujurnya banyak banget hal yang ingin gue lakukan, tapi ya sampe sekarang kagak terealisasikan, kepentok sama rasa malas.â
âBaru sampe tahap ingin sih, kagak dilakukanâ serta merta dia menjawab. âLo kudu tau him, malas itu bukan sebuah sifat ataupun keadaan. Malas itu adalah sebuah tindakan. Pilihan. Jadi tidak relevan kalo lo bilang, âGue lagi malasâ. . Malas gerak, dan malas ngapa-ngapain. Itu salah, yang benar lo memilih untuk malas. Lo memilih untuk tidak bergerak. Lo memilih untuk tidak produktif. Karena di dalam hidup kita, semuanya hanya masalah memilih. Lo memilih sukses atau gagal? Itu pilihan. Ketika lo memilih sukses, maka jalan yang  lo ambil bakal mendaki, dipenuhi rintangan, dan berbagai masalah yang melelahkan. Tapi hadiahnya teramat indah. begitu juga ketika lo memilih gagal, jalan yang lo hadapi bakal mudah, sangat mudah, karena jalan menuju kesana memang melenakan. Tidak ada kesusahan(sekarang), hanya ada senang-senang, foya-foya, dan segala hal remeh lainya. Yang nantinya berujung pada kesengsaraan. Ingat, tanda seorang sudah menapaki fase kedewasaan  adalah ketika ia mampu menunda kepuasaan.â
***
Oke cukup. Agaknya point-point diatas sudah lumayan bikin artikel ini berbobot wkwkkw. Semoga. Heuheuehu. Ingat, hidup hanya masalah pilihan. Memilih maju atau mundur. Aku milih koe, koe milih liyane. wkkwkwk
Pengingat dari Dea Tantyo
Berapa banyak yang membesar di kampus, tapi mengecil di masyarakat. Menjadi jagoan di kampus, menjadi sandera di masyarakat. Kampus itu tempat berlatih, masyarakat medan tempurnya. Jangan terbalik. Anda aktivis BEM? BPM? UKM? Pecinta Alam? Tanyakan pada dirimu: Jadi apa di masyarakat?
Ukuran kontribusi tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Tapi bisa jadi hal sederhana dan mendasar. Anda aktif di ROHIS? Senior di lembaga da'wah kampus? Tanyakanlah : Seberapa kenal dengan para jama'ah di mushola/masjid RT/RW?
Anda sekretaris BEM/BPM, Aktivis organisasi atau jagoan bikin event di kampus. Coba ingat-ingat : Pernahkah membuat proposal untuk acara RT/RW?
Punya follower di twitter? Yes. Bagaimana follower di masyarakat? , Banyak kenalan di kampus? Yes. Bagaimana dengan para tetangga ?
Jadi karyawan di perusahaan besar ? Jadi manager ? Senior manager ? Kalau di masyarakat jadi apa?
Bagus saat memimpin rapat? Baik saat berargumen? Jago presentasi? Yes. Tapi apa pernah mimipin rapat RT/RW.
Mari berjanji untuk lebih mengenal para tetangga. Lebih aktif di masyarakat. Lebih akrab. Lebih dekat dengan orang orang di sekitar kita.
Berjanjilah, jika kau adalah aktivis mahasiswa/karyawan perusahaan besar. Yang hanya pulang sebulan sekali atau pulang selalu larut malam. Jadikanlah keberadaanmu di rumah adalah cahaya bagi masyarakat. Sesampainya kau di rumah, keluarlah. Berbaurlah. Kunjungi keramaian. Tegur sapalah. Bertanyalah. Bergabunglah. Turut serta.
Kehadiran kita yang sesaat bisa jadi berharga bagi tetangga dan masyarakat. Kesertaanmu yang sebentar bisa jadi penuh makna bagi mereka.
Orang-orang besar, dimanapun tetap berperan besar. Orang-orang kecil, berperan hanya sewaktu-waktu. Orang luar biasa, turut serta, mengambil peran dan berkontribusi dalam situasi dan kondisi luar biasa.
Pengangguran yang sibuk dan peduli dengan tetangga lebih baik daripada trainer, motivator, penulis, jagoan twitter yg sibuk dengan diri sendiri.
Jangan salah, aktivis karang taruna lebih disayangi tetangga dibanding aktivis kampus.
Lulusan SD yang aktif di kegiatan masyarakatnya, lebih berarti dari lulusan sarjana yang hanya sibuk ikutan kompetisi karya tulis.
Mari, masih tersisa banyak waktu untuk KEMBALI PULANG ke masyarakat, ke rumah mu yang sesungguhnya. Saat kau melakukan itu, saat itu kita memahami makna dasar kepemimpinan. Semua bermula dari sini, dari titik terkecil.
makasi kak ben, ini renungan bersama untuk saling evaluasi diri
Re-blog : Pernikahan yang Akrab
Tulisan ini adalah karya Bapak Zaim Uchrowi yang saya temukan di blog beliau pagi ini. Bagi saya tulisan ini cukup membuat pagi saya âbangunâ dan tersadar: mengapa tak menjadi yang sederhana saja?
Zaim Uchrowi
Republika, 17 Maret 2007
Baru-baru ini saya menghadiri pernikahan seorang kerabat. Pesta pernikahan itu biasa saja. Bukan di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya megah. Sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di rumah. Cukuplah tenda terpasang di halaman serta jalan buntu di depannya. Sebuah tenda biasa, dan bukan tenda paling megah, Makanan ditempatkan di meja sederhana bertaplak putih di garasi rumah itu. Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri.
Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan. Sekali lagi, tak tampak hal luar biasa dari acara perbnikahan itu. Tetapi, saya merasa sangat nyaman berada di sana. Ada suasana yang jarang saya peroleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara tersebut. Saya merasa, suasana pernikahan itu sangat akrab.
Pembawa acara dengan sangat ringan menyapa, bahkan berseloroh, pada tamu-tamunya. Hal itu wajar karena memang ia mengenalnya persis. Antarkawan juga bisa saling dorong untuk menyanyi, atau memainkan musik. Para tamu juga saling sapa, hingga berbincang akrab. Pengantin juga tak harus terus-menerus berdiri tegak di tempatnya dengan terus-menerus memasang senyum anggun, menunggu diberi ucapan selamat. Sesekali, mereka seperti âmenjemput bolaâ, berjalan (kadang bersama, kadang sendiri-sendiri) mendatangi tamu, bertukar kata secara ringan.
Suasana pernikahan demikian sungguh berbeda dengan pesta pernikahan yang kini lazim. Tapi, suasana itu justru mampu mengingatkan: apa makna pesta pernikahan? Kita acap merancang pesta pernikahan seagung dan semegah mungkin. Alasan kita, itu hari yang benar-benar istimewa. Lalu, kita merancang segalanya agar sempurna. Mulai dari bentuk undangan, atribut kenang-kenangan, seragam pakaian, tempat pelaminan, makanan, hiburan, dan sejuta pernak-pernik lainya.
Begitu banyak yang harus diurus, dan begitu banyak yang ingin mengurus agar benar-benar sempurna. Hasilnya, seringkali pesta pernikahan justru menjadi ajang ketegangan keluarga. Alih-alih melahirkan suasana yang hangat, pesta pernikahan banyak yang kemudian menjadi sekadar formalitas. Pesta pernikahan kita acap bergeser fungsi dari acara bersyukur dan memohon doa menjadi ajang pamer gengsi dan atribut diri. Banyak tamu hadir dengan perasaan terpaksa. Tak enak tidak datang karena sudah diundang. Jika demikian, doa restu apa yang dapat kita harapkan?
Kesederhanaan dalam pernikahan hari itu menyeret saya pada pertanyaan yang dalam. Apa ya sulitnya berpikir dan bersikap sederhana seperti itu? Jangan-jangan kerumitan kita dalam menggelar pesta perkawinan adalah refleksi dari kerumitan cara berpikir dan bersikap secara menyeluruh. Kita lebih mementingkan atribut ketimbang makna. Kita memenangkan formalitas dibanding otentitas dan spontanitas. Kita mengedepankan gengsi ketimbang esensi. Pantas jika bangsa kita masih jauh dari efektif. Banyak program pembangunan kita buat, anggarannya pun dahsyat, dan kita menganggapnya hebat, namun kenyataannya kondisi rakyat masih jalan di tempat.
Banyak kerja ilmiah kita lakukan, namun dunia ilmu masih saja di âsitu-situâ. Banyak dakwah dan ceramah dilakukan, tapi maksiat âtermasuk korupsiâ masih saja ramai berjalan. Semua itu tampaknya berpangkal pada kita yang tidak lagi mampu berpikir dan bersikap sederhana. Akibatnya kita makin terkendalikan atribut, dan terjauhkan dari makna. Itu yang makin mengasingkan kita (termasuk sebagai bangsa) dari kehidupan yang berkah. Pernikahan sederhana yang akrab di siang itu mengingatkan saya pada kesalahan besar kita selama ini.
Setelah badai disertasi sudah tidak terlalu mengganggu, saya ingin cerita tentang persiapan teknis pernikahan saya yang hanya membutuhkan waktu 2.5 bulan saja. Hahaha.
Special thanks to adek @valinakhiarinnisa yang jadi korlap acara, pengisi acara, sekaligus menjadi sosok yang paling tenang saat masa persiapan pernikahan saya. saya berhutang budi padamu, dek. ^^
Ramadhan #30 : Baru Dimulai
Tulisan ini adalah tulisan penutup dari rangkaian 30 hari menulis selama bulan ramadhan 1437H ini. Terima kasih untuk teman-teman semua yang telah membaca, membagikan, dan mengapresiasi tulisan-tulisan ramadhan selama ini. Teman-teman bisa membaca tulisan-tulisan ramadhan 3 tahun ke belakang melalui tautan berikut, klik di sini.
Ramadhan adalah zona aman, zona dimana kita mau berbuat baik, banyak temannya. Kita mau getol baca quran, tidak dibilang sok alim. Kita mau rajin ke mesjid, tidak di cie-cie. Dibulan ini, semua orang tiba-tiba terkondisikan untuk demikian. Dan rasanya, tantangan untuk berbuat baik selama ramadhan ini tidak lebih berat dibandingkan sebelah bulan yang lain.
Bulan-bulan dimana puasa senin-kamis sering tergoda oleh segarnya es buah jam 12 siang. Ketika hendak mengkhatamkan Al Quran sebagaimana ramadhan, disibukkan oleh banyak pekerjaan. Kajian-kajian semakin berkurang jumlahnya atau bahkan tidak lagi ada, terutama kajian sore menjelang berbuka, kajian selepas isya, dan kajian bada subuh.
Salah satu ciri keberhasilan kita di ramadhan akan tercermin dalam aktivitas kita selama sebelas bulan ke depan. Bila kita bersedih karena ramadhan telah pergi, apakah kita memang hanya memupuk pahala di bulan suci? Lantas di bulan yang lain, kita tidak lebih giat dalam menjalani aktivitas ibadah. Tentu akan muncul banyak alasan.
Ramadhan adalan zona nyaman. Zona dimana orang-orang yang mengaku islam merasakan keislamannya. Ketika mau berbuat baik, semua orang mempermudah. Ketika mau mencari ilmu, semua tempat menjadi terbuka. Rasanya, ramadhan memang benar menjadi oase di tengah keringnya keislaman di negeri ini.
Dan sebenarnya kita baru memulai perjalanan. Sebelas bulan yang penuh dengan tantangan. Dimana niat-niat baik akan kembali banyak bertemu tantangan, dimana majelis ilmu kembali sepi dari kehadiran. Dimana shaf subuh kembali hanya menjadi sebaris, shaf isya paling cuma dua baris. Dimana dzuhur dan ashar kembali sepi. Dimana maghrib yang tadinya ramai kembali menjadi lengang dan jalanan kembali riuh.
Tantangan kita adalah bagaimana menghidupkan âramadhanâ itu di sebelas bulan berikutnya. Dan kita baru akan memulainya, esok. Esok ketika hari raya. Hari kemenangan yang seringkali justru menjadi titik kekalahan kita. Kita memulai perjuangan sebelas bulan dengan langkah yang keliru. Ketika jamaah subuh kembali sepi, ketika isya sibuk bepergian, ketika perut-perut kekenyangan, ketika segala sesuatu yang selama ini kita perjuangkan kalah oleh hawa nafsu.
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan siang dan malam. Semoga kita senantiasa terjaga dalam ketakwaan meski hari telah berganti. Perjuangan kita, baru dimulai.
©Kurniawan Gunadi
jangan sampai kita menjadi kalah di momentum kemenangan. esok dan sebelas bulan kedepan, momentum perbaikan diri.
Potret Islam di Maroko (dari Mata Saya) Bagian 1
Menginjakkan kaki di Benua Afrika tidak pernah ada dalam bucket list saya. Apalagi di bulan puasa. Sifat buruk saya yaitu impulsif, lantas mengantarkan saya ikut pelesir ke Kerajaan Maroko bersama tiga orang teman lainnya sesama mahasiswa Indonesia di University of Manchester. Kesana tidak perlu urus-urus visa guys!
The cheapest flight from Manchester to Marrakech, Marroco, was on June 9th.
Tanggal tiket pergi dan pulang tinggal mengikuti teman yang punya ide gila ini Bapak MBSÂ dan MZR yang sudah duluan membeli tiket. Pas sekali berangkat H+2 ujian terakhir di Manchester. Rute perjalanan belum ditentukan saat membeli tiket, yang jelas berangkat Manchester-Marrakech dan pulang Fes-London lalu Manchester.Â
Pertama kali kaki menginjak Benua Afrika adalah di kota Marrakech. Kami sampai Bandara Marrakech Menara sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Ide awalnya adalah menginap di bandara, tapi karena bandara ini âbandara matiâ di malam hari, kami memilih naik bus Alsa, semacam Damri-nya Marrakech, menuju pusat kota.
Sampai di pusat kota, kami mencari makan karena baru makan takjil di pesawat tadi. Karena tidak berani bertaruh dengan mencoba-coba kuliner lokal di saat lapar yang tak tertahankan, kami memilih KFC! Ternyata sama seperti di Inggris, KFC di sana tidak ada nasinya, haha.
Di KFC, Ayamnya lebih terasa bumbunya dan lebih crispy, serta mbak pelayannya cakep. #eh Sofia namanya. #dilanjutin Saat bekerja dia berpakaian seragam, kaos polo berlogo dan haircap seperti koki. Terus pas kami makan, Sofia melintasi meja kami dengan mengenakan mengenakan kerudung dan djlebaba, baju kurung khas Maroko, menuju pintu keluar dan lalu hilang di keramaian. Sepertinya, baru ganti shift. Notice aja bro doi lewat xD
Sehabis makan, kami masih sempat merasakan hiruk-pikuk warga yang baru pulang menunaikan sholat tarawih di Masjid Khoutubia (kiri adalah menara masjid). Tua muda, anak-anak dan lansia, laki-laki dan perempuan, semua datang meramaikan jamaâah. Sehabis sholatpun masih banyak yang mengobrol dan quality time bersama handai taulan di taman di seberang masjid. Ternyata di sana, seperti di Indonesia, banyak muslimah yang ikut sholat tarawih ke masjid. Hmmm, besok kami harus tarawih di Masjid itu!
Beginilah suasana Jama Elfnaa menjelang adzan Maghrib berkumandang. Kota ini sangat ramah turis. Di bulan Ramadhan, toko makanan tetap buka untuk melayani turis dari mancanegara. Yang unik, kami sering dikira orang Jepang karena sering disapa âSayonaraâ dan âKonichiwaâ bahkan di malam hari, haha.
Setelah seharian mutarin Marrakech (Palais Badii, Palais Bahia, dan Medresa Ben Youssef), kami berbuka dengan jus jeruk (âashir al burtaqol) dan jus semangka (âashir al batikh). Dehidrasi bro! Suhu di siang hari sekitar 45 derajat. Karena oversupply jeruk di negara ini, es perasan jeruk dapat kami banderol dengan 4 dirham, sekitar 5000 rupiah saja. Padahal belinya di pusat keramaian loh, yang biasanya sedikit lebih mahal dari pada penjual di dalam pasar.
Kami lalu mecari kuliner lokal karena sudah meniatkan menjamak sholat maghrib. Satu menu sekitar 30-50 dirham (1 dirham Maroko = 1300an rupiah). Silakan mencoba Tanjia khas Maroko, yaitu sop kambing berminyak nan berbumbu kental, makanan penuh dosa. Setelah itu kami menuju masjid untuk menunaikan Isya, maghrib, lalu tarawih di masjid.
Arsitektur interior Masjid Khoutubia bisa dilihat seperti gambar di atas. Atap yang tinggi membuat masjid ini tidak perlu air conditioner. Suara imamnya sangat indah. Dalam bacaan Qurâannya ada sedikit perbedaan (saya juga belum lama tahu dalam membaca Qurâanpun ada beragam dialek yang juga benar pembacaannya). Setelah 5 kali 2 rakaâat, jamaaâah bubar. Ternyata di sini, tidak ditutup witir.
Satu yang membuat haru saya pribadi adalah banyak anak-anak yang ikut jamaâah sholat tapi semua mengikuti dengan khusyuâ. Nggak kayak di Indonesia. Sabar-sabar deh kalau sholat tarawih di masjid komplek/areal pemukiman :/
Panas terik di siang hari jugalah yang membuat kami semacam ingin recharge lagi dengan yang segar-segar selepas tarawih serta mempersiapkan diri untuk hari esok agar tidak mengidam yang dingin dan segar. Rekor terbanyak adalah 4 gelas jus oleh Bapak MZR, 2 semangka 2 jeruk. Semangka juga salah satu produk pertanian utama Maroko, selain kurma, jeruk, dan zaitun.
Jus de pomplemousse itu ternyata jus jeruk Bali (lihat gambar). Baru pertama kali nih. Nyobanya di negara orang pula. Hahahaaa
Untuk penginapan, kami ditunjuki oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang studi master di Maroko untuk di Ho(s)tel Dar Youssef saja. Karena murmer dan ada wifi. Fasilitas seperti kos-kosan dengan kasur keras dan kamar mandi luar. Ada kamar single dan twin. Harganya sama, pukul rata 60 dirham per malam per orang, atau sekitar 80 ribu rupiah.Â
(*)
Alhamdulillaah, usai sudah satu cerita dari seri âPotret Islam di Maroko (dari Mata Saya)â. Ceritanya bakal ada beberapa bagian. Ceritanya, begitu.
Sampai jumpa di bagian berikutnya!
maroko...next trip insya allah
Lebih baik berpahit-pahit di awal dari pada mengecewakan di akhir.
#PUKS with Dian â View on Path.
Itâs time to ponder upon commitments we made.
true