Keteladanan Sayyidah Fatimah Az-Zahra
Perempuan merupakan penyangga sebuah peradaban, apabila perempuan suatu peradaban itu baik maka peradaban tersebut juga akan baik.
Maka begitupun sebaliknya, namun melihat fenomena saat ini banyak para muslimah yang mengalami kemerosotan akhlak dikarenakan kurangnya teladan yang dapat kita jadikan panutan.
Salah satu keteladanan yang dapat kita jadikan teladan ialah Sayyidah Fatimah Az-Zahra, berikut beberapa hal yang dapat kita jadikan teladan dari akhlak beliau :
Ali mengatakan, “Kami sedang Bersama Rasulullah SAW, Beliau lalu berkata kepada kami, ‘Beri tahu saya, apa yang paling baik untuk wanita?’ “Kami semua tidak mengetahuinya sampai kami bubar. Aku lalu kembali ke tempat Fatimah. Aku pun memberitahukan kepadanya apa yang ditanyakan Rasulullah, dan bagaimana kami tak bisa menjawabnya. Ia lalu berkata, ‘Aku mengetahuinya. Yang baik bagi wanita adalah mereka tidak memandang laki-laki dan laki-laki tidak memandang mereka.’
Apabila ada laki-laki yang ingin bicara kepadanya maka beliau akan berbicara dari balik tirai atau hijab, agar beliau dapat terpelihara dari pandangan yang bukan mahramnya.
Sayyidah Fatimah Az-zahra juga berpesan apabila beliau wafat dirinya harus ditutup rapat-rapat dari pandangan yang bukan mahromnya.
2. Ketaqwaan kepada Allah SWT :
Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah memenuhi putriku Fatimah, hatinya, anggota-anggota badannya, sampai tabiatnya, dengan iman, sehingga ia selalu taat kepada Allah.” Hasan bin Ali mengatakan, “aku lihat ibuku bangun di mihrabnya pada malam Jum’at, dan ia terus rukuk dan sujud sampai terbit subuh. Aku mendengar ia mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Ia banyak mendoakan mereka, dan tidak berdoa sesuatu pun untuk dirinya sendiri. maka aku bertanya, ‘Ibu, mengapa engkau tidak berdoa untuk dirimu
sendiri sebagaimana engkau mendoakan orang lain?’ ia pun menajwab, ‘Anakku, tetangga dulu baru kemudian rumah sendiri.“ Hasan bin Ali mengatakan, “Tidak ada di dunia orang yang lebih banyak ibadahnya daripada Fatimah. Ia bangun malam sampai bengkak kedua kakinya."
3. Berbakti kepada Orang Tua :
Sayyidah Fatimah senantiasa berbicara dengan kata-kata yang menggembirakan dan menyenangkan hati Ayahnya, ia memberi bantuan untuk ayahnya, serta melayaninya, untuk itu Rasulullah SAW memanggilnya dengan sebutan Ummu Abiha yaitu (Ibu bagi ayahnya)
Pada suatu hari, seorang musyrik menaburkan tanah di kepala Rasulullah SAW ketika beliau masuk ke dalam rumahnya dan tanah masih ada di kepalanya, Fatimah menghampirinya dan membersihkan tanah dari kepalanya itu sambil menangis. Rasulullah SAW pun berkata, “Jangan menangis, Anakku! Sesungguhnya Allah adalah pembela Ayahmu”.
Dari Ibnu Abbas diiwayatkan bahwa Nabi masuk ke Ka’bah dan mulai melakukan shalat. Maka, berkatalah Abu Jahal, “Siapa yang mau berdiri ke tempat orang ini dan merusak shalatnya?” berdirilah Ibnu Az-Zab’ari. Ia mengambil kotoran hewan dan darah, kemudian melemparkannya kepada beliau. Fatimah datang menghilangkan kotoran itu dan mencaci mereka yang asyik tertawa.
4. Taat serta Patuh kepada Suami :
Sayyidah Fatimah tidak pernah keluar rumah tanpa izin dari suaminya, tidak pernah membuat marah suaminya walau satu hari pun. Fatimah juga tidak pernah berdusta dirumahnya, tidak pernah berkhianat dan tidak pernah melawannya dalam urusan apapun. "Demi Allah," kata imam Ali, "aku tidak pernah marah kepadanya dan tidak pernah menyusahkannya sampai ia wafat. Ia juga tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menyusahkannya sampai ia wafat. Ia juga tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menentangku dalam urusan apapun."
Sayyidah Fatimah senantisa memberi semangat untuk suaminya, memuji keberanian dan pengorbanan suaminya. Ia menghilangkan rasa sakitnya dan membuang keletihannya sehingga Imam Ali mengatakan, "Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku."
5. Ibu Teladan dan Bertanggung Jawab :
Bagi Sayyidah Fatimah, rumah adalah pabrik untuk menghasilkan manusia manusia pengemban risalah. Rumah adalah perguruan tinggi untuk mengajarakan pelajaran-pelajaran kehidupan. Ia sadar bahwa harus mendidik anak-anaknya agar dapat menjadi pemimpin yang akan dipersembahkan kepada masyarakat sebagai teladan Islam yang hidup, sebagai gambaran, hakikat dan model Al-Quran yang bergerak.
6. Murah Hati dan Dermawan :
‘Assalamu’alaikum, wahai penghuni rumah Kenabian (Ahlu Bait An-Nubuwwah).’ ‘Alaikas-salam. Siapa anda?’ tanya Fatimah. Ia menjawab, ‘Saya seorang Arab yang sudah tua. Saya telah menghadap ayahmu, pemimpin yang memberi kabar
gembira, karena suatu kesulitan. Wahai putri Muhammad, saya tidak mempunyai pakaian dan dalam keadaan lapar. Maka tolonglah aku, semoga Allah menyayangimu.’ Ketika itu, Fatimah dan Ali, juga Rasulullah SAW, sudah tiga hari tidak makan, dan Rasululah mengetahui kondisi mereka berdua.
Maka Fatimah mengambil kulit domba yang telah disamak yang dipakai sebagai alas tidur oleh Hasan dan Husain, lalu ia berkata kepada orang itu, ‘Ambillah ini, wahai orang yang mengetuk. Semoga Allah memberimu yang lebih baik daripada ini.’ Orang tua itu berkata lagi, ‘Wahai putri Muhammad, aku mengadu kepadamu bahwa aku lapar, tapi kamu memberiku kulit domba Aku tidak dapat melakukan apa-apa dengannya. Dengan apa aku menghilangkan rasa lapar?’. Ketika mendengar perkataanya itu, Fatimah mengambil kalung yang ada di lehernya yang dihadiahkan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia memutuskannya dari lehernya dan memberikannya kepada orang itu sambil berkata, ‘Ambillah ini, dan juallah. Mudah-mudahan Allah akan memberikan ganti untukmu yang lebih baik daripadanya.’ Orang Arab itu mengambilnya dan pergi ke masjid Rasulullah SAW.
7. Senantiasa Bersyukur :
Sayyidah Fatimah menerima apapun keadaan yang menimpanya. Selama hidup berumah tangga bersama suaminya yang penuh dengan kesederhanaan dan bahkan seringkali kekurangan, Fatimah tetap merasa bahagia. Baginya kebahagiaan hidupnya adalah mendapatkan Ridha Allah SWT, Rasul-Nya, dan suaminya.
Rasulullah SAW memuji Sayyidah Fatimah sebagai istri terbaik bagi suaminya. Rasulullah SAW mengunjungi Sayyidah Fatimah selama tiga hari beliau tidak datang ke tempat mereka. Pada hari keempat, beliau datang mengunjungi mereka. Saat hanya berdua dengan putrinya, beliau bertanya, “Bagaimana kabarmu, Anakku.? Bagaimana kesanmu tentang suamimu?” “Ayah, ia adalah suami terbaik. Hanya saja, beberapa wanita Quraisy datang ke tempatku dan berkata, ‘Rasulullah menikahkanmu dengan orang yang miskin yang tak mempunyai harta, ‘ “Demikian jawab Fatimah. Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Anakku, ayahmu dan suamimu tidak miskin. Aku telah ditawari harta dunia. Tapi aku memilih apa yang ada pada Tuhanku. Anakku, sesungguhnya Allah telah melihat ke bumi, lalu Dia memilih dua orang dari penduduknya. Yang satu Dia jadikan sebagai ayahmu, dan yang lainnya sebagai suamimu. Anakku, sebaik-baik suami adalah suamimu. Janganlah kamu durhaka kepadanya dalam satu urusan apapun”.
Sayyidah Fatimah adalah anak yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW sepanjang hidupnya, sayyidah Fatimah telah meriwayatkan 18 hadis dari Nabi Muhammad SAW di dalam kitab Shahihain lain diriwayatkan satu hadis darinya yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dalam riwayat sayyidah Aisyah. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Dawud. Ibnul Jauzi berkata: “Kami tidak mengetahui seorang pun diantara putri-putri Rasulullah saw yang lebih banyak meriwayatkan hadis darinya selain Fatimah”.
Semoga kita dapat meneladani akhlak baik seperti Sayyidah Fatimah Az-Zahra.
Source : Putri, Trisna Endar, Hendra Harmi, and Ummul Khair. Keteladanan Sayyidah Fatimah Az-Zahra Tentang Pendidikan Akhlak Bagi Muslimah. Diss. Institut Agama Islam Negeri Curup, 2021.