“Urusan penyair adalah kata, benda budaya yang diciptakan berdasarkan niat dan maksud yang sampai kapan pun tidak akan bisa kita pahami sepenuhnya.” - Sapardi Djoko Damono
Jelang sore tadi, atas info seorang teman (terima kasih kepadanya saya ucapkan, semoga segala urusannya dimudahkan), saya menghadiri acara “60 Tahun Puisi Taufiq Ismail dalam Terjemahan Inggris” di Kampus UI Salemba. Sebenarnya ketertarikan saya menghadiri acara ini adalah lebih karena pembahas buku Taufiq Ismail berjudul “Dust on Dust (Debu di Atas Debu)” itu adalah penyair pujaan saya, Sapardi Djoko Damono. Namun menyaksikan dua penyair besar Indonesia dalam satu acara adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Melalui catatan sederhana ini, ingin saya bagikan sedikit hal yang saya dapatkan tadi.
Saya tidak akan menyampaikan detail jalannya acara, ataupun apa yang dibahas oleh Pa Sapardi terkait buku Pa Taufiq yang terdiri dari 3 jilid itu. Saya ingin menyampakin beberapa poin yang saya dapat dari apa yang disampaikan Pak Taufiq.
Pertama,
Segala hal yang telah dicapai seorang Taufiq Ismail hingga 60 tahun berkarya sebagai penyair, tak lepas dari pengalaman masa kecil yang begitu melekat sampai saat ini. Beliau masih ingat saat ayah dan ibunya yang selepas shalat Isya selalu duduk di sofa dan membaca buku-buku tebal. Pun begitu dengan ibunya. Juga pada setiap bulan, beliau selalu diajak ke toko buku dan dipersilahkan mengambil 2 buah buku yang disukainya, buku apapun itu. Saat menemukan nama ayahnya di bawah judul sebuah tulisan pada sebuah harian, dan puisi ciptaan ibunya di sebuah majalah, beliau terkagum-kagum. Sejak saat itu beliau ingin menjiplak ayah dan ibunya. Saat itulah beliau bercita-cita ingin menjadi sastrawan.
Kedua,
Pa Taufiq yang saat saya tanya tentang mimpi besarnya yang di masa tua belum terwujudkan, beliau menjawab, bahwa beliau ingin pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah SMA hanya mengajarkan dua hal: membaca buku - terutama sastra, dan menulis karangan.
Selama ini, pelarajan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah SMA hanyalah mengulang-mengulang pelajaran saat SD dan SMP. ‘Awalan-sisipan-akhiran, awalan-sisipan-akhiran, awalan-sisipan-akhiran’ selalu itu yang diajarkan, katanya. Atau paling tidak majas dan perihal tanda baca. Padahal pelajaran itu dirasa telah cukup untuk diajarkan.
Budaya membaca buku bangsa kita cukup rendah -terutama sastra, hingga menjadi sebab kita ketinggalan maju oleh bangsa lain. Padahal kita telah 68 tahun merdeka. Itu yang kemudian memunculkan istilah ‘tragedi nol buku’ dari Pa Taufiq. Istilah ini muncul atas penelitiannya terhadap kewajiban baca buku pada siswa-siswi SMA di 13 negera di dunia. Hasilnya, SMA di Singapura mewajibkan membaca 6 judul buku pertahun. Jepang 5 judul buku, Prancis 10 judul buku, Amerika 18 judul buku, dan Indonesia 0 judul buku! Judul buku yang diwajibkan disini adalah buku sastra. Menurutnya, di negara-negara maju, walau pelajar-pelajar disana menekuni sains, sosial, ekonomi, teknologi, dan lainnya, namun pelajaran sastra tetap diwajibkan untuk dipelajari. (Selengkapnya tentang Tragedi Nol Buku ada disini)
Pun begitu dengan mengarang. Selama ini, selama kita SMA, paling kita hanya membuat satu karangan dalam satu tahun atau bahkan tiga tahun. Dan itupun bisa ditebak, jika bukan tentang cita-cita, pasti tentang berkunjung ke rumah nenek saat liburan tiba.
Pa Taufiq ingin, setiap sekolah SMA di Indonesia mewajibkan siswa-siswinya membaca paling tidak 10 buku pertahun atau 30 buku selama 3 tahun. Dan mewajibkan kepada mereka untuk menulis satu karangan setiap minggu, 18 karangan per semester, atau 108 selama 3 tahun. Menurutnya, memang ada beberapa sekolah yang menerapkan wajib baca buku dan mengarang ini. Tapi jumlahnya masihlah sangat amat sedikit. Itupun sekolah-sekolah swasta internasional.
Saat ini beliau, bersama Pa Sapardi juga, sedang ingin mewujudkan itu. Ini ditempuh bukan untuk menciptkan penyair atau sastrawan. Tapi karena membaca sastra akan mengasah emosi dan daya imajinasi. Hal itu yang kemudian tidak hanya meningkatkan kecerdasan otak, tapi juga kecerdasan emosi dan logika berfikir.
Terakhir, dalam catatan ini.
Bahwa hari ini, membuat puisi telah disalahartikan oleh sebagian besar kalangan anak muda sebagai pelarian dari kegalauan. Itu yang disinyalir menjadi salah satu alasan minimnya ketertarikan anak muda saat ini membuat puisi. Pa Taufiq memang tak menyangkal dan menyayangkan hal tersebut, namun menurut beliau itu tak seharusnya kita dipedulikan. Dan tidak boleh menghambat. Biarkan saja. Berkarya, ya berkarya saja. Tak usah terlalu memikirkan semua itu. Begitu katanya.













