Menjalani peran sebagai istri bukanlah tugas mudah untuk Sabila, dibalik kesibukannya menjadi salah satu manajer disebuah perusahaan ternama, Ia berusaha untuk terus menyesuaikan ritme rumah tangga nya dengan kesibukan dunia kerja. Arya tak jarang juga meminta Sabila mengurangi tanggung jawabnya di kantor untuk bisa beristirahat bahkan pulang tepat waktu seperti karyawan lainnya. Namun perkataan suami nya itu tak diindahkan, bagi nya bekerja adalah prioritas utama nya saat ini, Sabila telah ambisius sejak dulu. Perjanjian sebelum menikah dengan Arya pun berisikan larangan untuk Arya menyuruh Sabila resign. Tidak boleh ada yang menghambat mimpi-mimpi Sabila, termasuk apa yang telah Ia perjuangkan sampai detik ini.
Menjadi laki-laki yang memiliki istri lebih dominan bukanlah hal mudah, dari segi pendidikan dan ekonomi Arya merasa kalah dengan istri nya itu. Namun Arya telah lebih banyak belajar ilmu rumah tangga, Ia tidak ingin kehilangan jiwa kepemimpinannya. Baginya, Sabila boleh lebih unggul dari nya dalam segala hal, tapi tidak soal kepatuhannya dengan Arya sebagai suami nya. Sehingga butuh waktu untuk Arya memahamkan hal itu kepada Sabila. Perlahan tapi pasti, Sabila mulai menerima Arya, mencoba untuk mau dengan senang hati menerima sosok Arya di hidup nya.
Sore itu di teras villa Sabila melihat status sosial media dari teman karib nya Fani. Ia tengah berbahagia sebab kelahiran putra pertamanya. Hal itu membuat Sabila membalas status tersebut dengan bahagia.
“Akhirnya gue jadi tanteeeeeeee! Fannn selamat yaaaa. Akhir nya lu jadi mamak mamak hahahha.” Tulis Sabila meledek sahabat nya itu.
“Hai ontyyyy Saaaaaaa, ayuk sini main kerumah abang Rayhan. Bantuin mamak aku ganti popok dan mandiin akuuu.” Fani berganti membalas pesan itu dengan ledekan pula.
“Ihhh gemecccc, anak kicil udah pinter ngetik di HP yaaa. Tante mau telpon dong boleh nggak?”
Tidak lama setelah itu Fani menelpon Sabila lebih dulu, mereka lanjut bicara via video call untuk mewakili ketidakhadiran Sabila di moment bahagia itu.
“Halo Billll, makasih yaa buat kado nyaa, sudah datang tadi pagi, have fun ya liburannya sama Arya. Siapa tahu abis itu Rayhan otw dapat teman main.” Fani meledek sahabatnya yang sedang berlibur bersama sang suami. Itu adalah kali pertama Sabila dan Arya liburan berdua sejak mereka menikah satu tahun lalu.
“Hahahaha bisa ajaa. tapi Fan gue mau nanya deh, lu kenapa bisa siap punya anak sih? Lu nggak takut semua hidup lu bakalan berubah?” Sabila menanyakan pendapat itu pada Fani karena sejauh ini Sabila belum ada niatan untuk memiliki seorang anak.
“Justru itu Billl, ketika sudah berkeluarga, fokus gue sudah bukan tentang gue, ataupun suami gue. tapi ini tentang kita. Dan karena gue merasa harus memiliki keturunan, yaa gue nggak punya alasan buat menunda kan. Mungkin beda urusan ya sama lu yang punya banyak kesibukan. Tapi saran gue sih kalau bisa punya Bill, setidaknya satu kalau lu memang nggak mau banyak-banyak. Masa tua kita tuh terlalu berharga kalau nggak dilewati bareng anak cucu.”
Sabila terdiam, Ia tidak menyangka teman kecil nya itu telah beranjak dewasa. Pemikirannya luas dan jauh sekali. Bahkan Sabila sempat terhipnotis dengan jawaban yang Fani berikan. Apakah ini saat yang tepat untuk Sabila mengambil jeda sejenak untuk mulai membangun keluarga seperti pada umumnya, punya anak dan hidup bahagia? Sabila bertanya-tanya pada hati kecil nya.
“Tapi Fan, kalau gue merasa nggak siap jadi ibu gimana?”
“Nggak ada seorang ibu yang benar-benar siap 100% Billl, begitupun gue, yang penting kita mau untuk terus belajar dan jadi yang terbaik untuk anak kita. Pasti bisa kok, lu kan punya Arya yang bakal terus dukung lu juga.” Fani menjawab hal itu senetral mungkin dan memberi dukungan.
“Gue tuh heran ya Fan sama Arya, kok ada sih laki-laki berhati lembut kaya dia? Selama satu tahun ini dia tuh sering banget gue abaikan keberadaanya. Pernikahan ini tuh kaya formalitas aja gitu. Sampai suatu ketika gue tuh jatuh hati banget dengan cara dia melindungi ibu dan gue. Dia benar-benar hadir buat jadi pengganti alm Ayah Fin. Ngejagain gue dan merawat ibu, gue luluh Fin lihat perhatiannya.”
“Ehmmm ciee jadi sudah mulai jatuh cinta nih?” Fani meledek Sabila yang mulai mengaku tentang perasaannya pada Arya.
“Yaa gue nggak tahu sih, tapiiiii, muncul perasaan buat bikin dia bahagia jugaaaaa. Gimana dong Fan? Masa sih gue jatuh cinta sama dia?”
“Ya menurut lu aja, tinggal serumah, sekamar, dan sudah tau luar dalam nya. Masa iya sih nggak timbul perasaan? Bohong banget!”
“Menurut lu, aneh nggak sih kalau gue bilang mau punya anak juga ke dia?”
“Hahahhaah lu nih ada-ada aja yaa bener deh! Yang ada lu aneh banget kalau sampe berniat nggak punya anak. Yaa walaupun di jaman sekarang banyak banget yaa kampenye-kampanye buat keluarga muda biar nggak perlu punya anak, tapi waktu gue jadi ibu beneran, rasanya tuh benar-benar se-bahagia itu ternyata.”
“Lu ih, bikin iri ya sekarang. Tapi okedeh, nanti coba gue komunikasikan sama suami gue.”
“Hahahaha cieeeee, tuhkann sudah ngaku kalau punya suami sekarang. Liburan kali ini misi nya berhasil nih kayanya.”
“Dihhh, nggak jelas ya emang, dah lah, nanti gue telpon lagi yaaa. Thanks for your timeee ibu cantikkk. Semangatt mengASIhi yaaa.”
“Siaappp, sama-sama ya Billl, sampai ketemu lagi kita.”
Sabila menutup telpon itu, Ia menatap jauh ke arah jendela luar, bayangan itu hadir lagi, sebuah definisi keluarga sempurna yang tidak pernah terlintas di pikirannya, memiliki buah hati yang lucu dan ceria. Senyum itu terukir di bibir Sabila, tidak sengaja pula Arya masuk ke kamar dan melihat istri nya itu tersenyum manis. Ia bingung apa yang telah terjadi, tapi pemandangan itu tidak ingin Arya alihkan dengan cepat, Ia menunggu Sabila sadar bahwa suami nya telah berada disana, melihat tingkah anehnya senyum-senyum sendiri. Arya mendekati Sabila dan duduk di sisi kasur lainnya, Sabila masih juga tersenyum dan belum menyadari keberadaan suaminya. Sampai saat Arya merebahkan badannya di kasur, Sabila sadar akan gerakan dimana tempat Ia duduk termenung, Ia akhirnya sadar bahwa ada oranglain disana.
“Emhh kamu sejak kapan disitu?” Sabila tersadar dan bertanya kepada Arya yang kini asyik dengan ponsel nya.
“Baru saja mau aku rekam ada manusia yang daritadi senyum-senyum sendiri.”
Sabila hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya itu.
“Makan yuk, nasi goreng kamu pasti sudah matang kan?”
Sabila langsung mengalihkan pembicaraan itu dan mengajak Arya makan, sejak tadi Sabila telah mencium aroma nasi goreng yang sedang Arya buat. Sejak menikah Sabila juga menjadi tahu bahwa skill memasak tak hanya dimiliki perempuan saja. Nyatanya laki-laki yang ada dihadapannya itu pandai sekali membuat masakan apapun.
Didepan hidangan nasi goreng teri itu Sabila tampak antusias, hal itu membuat Arya tampak sedikiti bingung dan heran. Baru kali ini Ia merasa diapresiasi atas apa yang dia usakan. Sesuatu yang tidak butuh perjuangan panjang, hanya nasi goreng sebagai menu sarapan. Tetapi Arya tidak pernah lupa menyertakan hati nya, pada perjuangannya itu pula, Ia selalu menyelipkan doa-doa untuk melunakan hati Istri nya agar bisa menerima nya dengan sempurna.
“Tadi mikirin apa sih? kok senyum-senyum gitu?”
“Hhhmmmm, kamu merhatiin?” Arya skakmat, Ia memang tengah memperhatikan tapi hal itu sungguh tidak sengaja saat Ia hendak masuk ke kamar.
“Nggak sengaja sih tadi lihat kamu asik senyum-senyum sendiri.” Arya menjawab dengan mimik datar. Ia mulai menyendok nasi goreng buatannya yang tampak enak dengan telur dadar dipisah itu.
“Aku tiba-tiba kepikiran deh.” Sabila mulai membuka apa yang membuat Ia senyum-senyum tak karuan itu.
“Aku pengen punya anak.” Arya tiba-tiba tersedak, setan manakah yang memasuki jiwa Sabila, mengapa keinginan nya itu sangat bertolak belakang dengan perlakuannya selama satu tahun belakangan ini. Arya bingung tapi juga ikut tersenyum akan keinginan istrinya itu.
“Apa yang memotivasi kamu punya keinginan itu?” Arya masih berusaha tenang dan mencari tahu akar ide tiba-tiba itu.
“Kayanya rumah tangga kita bisa berubah deh kalau sudah ada anak. Aku lihat hidup Fani jauh lebih bahagia sekarang.”
“Hmmm, Faniii, okeeee. Tapi kalau aku boleh saran, alangkah baiknya sebelum itu, kita sama-sama mempersiapkan dulu jadi orang tua terbaik. Fani bahagia mungkin karena dia sudah banyak belajar.”
“Maksud kamu aku kurang belajar?”
“Enggakk, maksudnya kita bisa memulai dengan konsultasi terlebih dahulu ke dokter, kita persiapkan semuanya dengan rapi, nggak tiba-tiba.”
Sejak saat itu mereka berdua bersepakat untuk program hamil, mempersiapkan kehidupan seorang anak manusia yang lebih baik, tentu saja dari orang tua nya. Mereka mendatangi dokter spesialis kandungan dan memeriksakan kondisi satu sama lain. Tapi bak kilat di siang bolong, mereka harus mengetahui kenyataan pahit bahwa Sabila terdiagnosis polycystic ovarian syndrome (PCOS), sebuah penyakit yang menyerang hormon sehingga hormon reproduksi nya terganggu dan menyebabkan membengkakan ovarium. Hal itu membuat dokter menyarankan Sabila untuk menyembuhkan PCOS itu dahulu sebelum program hamil dimulai.
Pergi ke dokter kandungan untuk pertama kalinya untuk Sabila siang itu benar-benar melukiskan trauma, Ia datang dengan kebahagiaan namun pulang dengan perasaan campur aduk kekecewaan. Meski PCOS bukanlah penyakit serius dan sangat bisa disembuhkan seiring dengan pola hidup sehat dan olahraga yang cukup, Sabila merasa itu menjadi hukuman baginya yang sejauh ini mengabaikan sang suami. Ia merasa gagal menjadi wanita yang utuh dan penuh karena diagnosa tersebut.
“Kamu denger kan tadi kata dokter, itu bisa sembuh kok.” Arya menguatkan Sabila. diagnosa itu berita buruk baginya, tapi bukan berarti tak ada harapan.
“Aku akan tetap ada disamping kamu, nemenin kamu sampai sembuh. Kita berjuang sama-sama yaa.”
Sabila menggelengkan kepala nya tanda ketidaksepakatannya terhadap perkataan Arya itu. Ia sudah terlalu lama menyiksa Arya untuk berjuang padanya. Dan kali ini, Ia lagi-lagi membuat suaminya itu berjuang lebih keras untuknya.
“Kamu boleh kok cari yang lebih baik dari aku.” Sabila mengeluarkan jurus drama nya sebagai perempuan, di film-film yang Ia tonton, kerap kali rumah tangga yang sulit dikarunia seorang anak solusi nya adalah menikah lagi, atau bercerai.
“Apasih kamu tuh, nggak usah drama deh. Yang pengen banget punya anak itu kan kamu, aku tuh nggak masalah nemenin kamu sembuh dulu. Aku juga nggak nuntut kamu untuk segera punya kan? Pasti sembuh.”
“Ya tapi kalau nggak sembuh gimanaaa????”
“Perlu aku ulang jawabannya?” Arya menggenggam tangan Sabila, Ia terus menguatkan bahwa tidak akan ada yang berubah meski Ia tahu kenyataan beberapa jam lalu oleh dokter.
“Dokter itu cuma mendiagnosa, keputusannya tetap pada Tuhan Yang Maha Esa Billl. Sekarang kita lakukan anjuran dokter ya, mulai makan sehat dan rutin olahraga. Kita lewatin ini sama-sama.”
“Jadi, kamu sepakat buat melanjutkan cerita kita?”
“Okeee, mari kita lanjutkan cerita kita ya sayang.”
Arya membisu, kini perempuan yang ada di sebelahnya itu memanggilnya sayang. Sebuah kata yang mustahil keluar dari perempuan seperti Sabila. Kini Sabila terperangkap dengan cinta Arya yang tidak pernah padam, Ia tak pernah berdoa mendapatkan suami yang baik nya tiada tara. Tapi Arya hadir memberikan sebuah harapan bagi Sabila. Sosok yang kini mulai Sabila rasakan getaran cinta nya. Keyakinan Arya membuatnya semangat dalam menjalani perjuangan yang jauh lebih berat selanjutnya.