Berkali-kali, saya dan seorang kawan mempertanyakan, "mengapa ya rasanya susah sekali untuk mendobrak cara pikir dan cara pandang yang ada"
"Harus ada kajian secara sosiologis, psikologis, dan historis tentang ini"
Dan akhirnya malam itu kami menemukan jawabannya, salah satu PR terbesar yang ada adalah paradigma soal Ilmu.
Guru kami mengisahkan perjalanan belajarnya di tempat lain yang amat sangat berbeda dengan di wilayah kami, dan itu tercermin dari etos kerja beliau, konsistensi beliau, dan kegigihan beliau
"Saya itu dikomen" kata beliau "untuk apa sekolah lagi, dan gak linier terhadap pekerjaan juga"
Ah inilah, cara pandang terhadap ilmu yang terbatasi untuk mendapatkan pekerjaan semata, bukan ilmu yang mempompa jiwa kita untuk terus bergerak
Begitulah akhirnya, sejatinya peradaban itu akan nampak, dari kalangan-kalangan orang berilmu, yang mampu berfikir dengan cermat, hatinya tenang, fisiknya pun kuat
Ilmu itu cahaya, maka orang yang berilmu seharusnya memancarkan cahaya dan selalu dikelilingi oleh cahaya itu
Tidak ada kata berat dan terlambat untuk menjadi insan berilmu, perasaan berat dan terlambat adalah tantangan awal untuk membuka diri dengan keinsafan bahwa "kita belum tahu".
Maka selanjutnya PR besarnya adalah segera mencari tahu, dan menjadi orang yang berpengatahuan.
"Peradaban lahir dari pusat kota, karena disanalah tempat para penuntut ilmu berkumpul" kira-kira begitu simpulan yang saya dapatkan dari penjelasan Assoc.Prof. Muhammad Ishaq
Ustadz Asep Sobari menguatkan dalam penjelasan historisnya "Pernah ada di satu titik, semua elemen dalam negara begitu lemah; politik, ekonomi dsb. Namun peradaban itu tetap bertahan karena satu elemen, yaitu kekuatan pendidikan"
Selamat menempuh ilmu wahai pewaris peradaban, bersusah payahlah, keluarkan hartamu, inilah medan jihad kita; jika tidak bisa mengangkat senjata, angkatlah pena, ikatlah ilmumu, sehingga lahir peradaban baru yang berlandaskan ilmu