Menjadi yang Kaucintai - Bagian 4
Setelah drama menyampaikan gagasan dengan nuansa sidang tesis pekan lalu, aku semakin harap-harap cemas dengan hasilnya. Apakah ayah Fathia mau menerima lamaranku atau tidak. Jika aku lihat kemarin, sepertinya sih ayahnya oke oke saja dengan kehadiranku. Bahkan ketika aku ditanya beberapa alasan mendasar mengapa ingin menikahi Fathia, aku bisa menjelaskan alasannya dengan baik juga. Syukur alhamdulillah.
Tapi entah kenapa tetap saja ada rasa was-was. Bagaimana jika aku tak diterima, bagaimana jika ada syarat yang harus aku penuhi dan mustahil aku lakukan. Misalnya aku harus mempunyai penghasilan dua digit baru bisa menikahi orang yang aku cintai. Tapi ya sudahlah. Yang jelas aku sudah memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri.
Hari ini, aku sedang menunggu Fathia di cafe tempat kita biasanya rapat organisasi di Universitas Indonesia. Dulu, aku ingat sekali ketika kami sudah selesai rapat BEM UI, pasti kami mampir disini untuk melepas penat dan mengevaluasi beberapa divisi yang tadi tak terbahas. Aku beruntung sekali bisa bertemu Fathia ketika pertukaran pelajar di UI. Aku yang sedang belajar psikologi di Universitas Brawijaya mendaftarkan diri untuk exchange ke UI. Bukan tanpa alasan, UI adalah salah satu universitas terbaik di bidang psikologi.
Di waktu pertukaran pelajar yang singkat itu, aku memanfaatkan waktu untuk bergabung di beberapa organisasi di kampus ini. Salah satunya BEM, yang kemudian ini menjadi momen aku bertemu Fathia, anak fakultas kedokteran yang cerdas dan rendah hati.
Sebetulnya aku sudah memiliki rasa padanya sejak kami awal-awal bertemu. Aku kagum dengan pribadinya yang sopan, rendah hati, dan pintar. Pernah suatu saat, ketika kami sedang melakukan pengabdian bersama ke korban banjir di Bogor, dia menunjukkan jiwa peduli yang besar kepada kami semua. Ketika itu rombongan kami semobil sedang berhenti sejenak di Indomaret di salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor. Kebetulan ketika itu kami memang berhenti cukup lama untuk beristirahat, jam sudah menunjukkan 11 malam. Ketika rombongan semobil sudah masuk satu per satu, kami sadar, ada yang kurang. Fathia menghilang. Kami panik. Menelpon dia tak berdering sama sekali. Aku yang juga panik langsung turun dari mobil dan mencoba kembali ke gerai Indomaret tadi. Dan kau tahu? Dia sedang belanja dengan seorang anak kecil lusuh yang terlihat seperti dua hari tak mandi.
“Fathia, ini kami sudah mau berangkat.” Kataku dari ujung pintu
“Iya Mas, bentar ya. Udah mau selesai kok.” Jawabnya
Ternyata dia membelikan satu keranjang penuh jajan dan bahan makanan untuk anak kecil kusam tadi. Bagi kita, anak gelandangan seperti itu memang sudah menjadi fenomena biasa di Indonesia. Bahkan beberapa dari mereka memang sengaja berprofesi sebagai gelandangan untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Oleh karena itulah, terkadang aku malas untuk memberikan uangku kepadanya, takut jika ternyata orang itu hanya berpura-pura sudah, padahal mempunyai rumah yang cukup bagus di kampungnya.
“Kenapa kamu menolong dia? Kan dia pengemis, orang yang malas, Fathia?” Tanyaku heran sambil berjalan bersama ke arah mobil.
“Ya memang sih dia gelandangan. Tapi barangkali memang hanya itulah pekerjaan yang bisa mereka lakukan, kita kan ngga tahu. Kita mah bisa enak kuliah, kerja dan berorganisasi juga karena privilege kan. Ayahku misalnya, dia adalah seorang pengusaha tambang, ya otomatis aku ngga harus living paycheck to paycheck. Hidupku ya udah fokus belajar aja dapet nilai yang bagus terus kerja. Kalau mereka, gimana mau belajar? Sedangkan mereka harus memikirkan juga mau makan apa hari ini karena ngga punya stok bahan makanan.” Jelas perempuan itu dengan lugas, dan diberi studi kasus yang simpel dan mudah dimengerti.
“Ohh gitu yaa.” Jawabku setengah melongo karena penjelasan yang lengkap dari Fathia.
Sejak saat itulah sepertinya aku mulai memiliki rasa kepada Fathia. Dan karena dia jugalah aku mempunyai semangat untuk melanjutkan studi S2 ku di UI, agar bisa bertemu dia lebih sering dan aktif mengikuti komunitasnya di berbagai kegiatan.
Sekarang, dia sedang sibuk koas di jurusan kedokterannya. Sedangkan aku dalam proses penyelesaian tesis di magister psikologi klinis. Masuk di bidang psikologi klinis juga membuatku lebih sering berdiskusi tentang ilmu kedokteran dengan Fathia. Bagi kalian yang belum tahu, psikologi klinis adalah bidang ilmu psikologi yang juga menggabungkannya dengan ilmu kedokteran. Memang lebih pusing, tapi penerapan ilmu ini lebih scientific dan lebih dapat dipertanggungjawabkan olehku selaku calon praktisi.
Karena aku dan Fathia bisa dikatakan masuk di rumpun keilmuan yang mirip, sama-sama klinis, tak jarang kita jadi sering berdiskusi mengenai suatu isu. Dan dari situlah aku menjadi lebih kenal perempuan itu. Aku menjadi tahu segalanya, tentang apa yang diungkapkan, dan apa yang tak diungkapkan.
Dengan ilmu yang dipelajari di kelas, aku menjadi tahu bahwa Fathia mempunyai ambisi sosial yang tinggi, tak heran jika dia pernah mendirikan komunitas sosial di UI ketika masih aktif di BEM. Namun, namanya manusia, pasti dia juga mempunyai kekurangan. Salah satu kekurangannya adalah dia belum bisa berdamai dengan inner childnya.
“Hayoloo ngalamun apa” Tiba-tiba suara perempuan menghancurkan lamunanku. Disertai cekik tawa.
“Eh dasar Lo ya.” Aku menjawab dengan nada yang juga tak kalah keras.
Perempuan itu adalah Syifa, teman baik Fathia. Ternyata Fathia tidak datang sendiri ke cafe ini, dia datang bersama sahabat dia, yang sekaligus teman dekatku juga ketika organisasi. FYI, Syifa adalah orang yang membantu proses kami taaruf dari awal hingga akhir ini. Dia sudah menikah tahun lalu dan sedang mempersiapkan studinya ke Inggris. Dari dulu Syifa memang ingin S2 di Inggris bersama pasangannya, dan secara ajaib, ternyata harapannya terkabul. Gila ini orang emang, entah wirid apa yang dia amalkan kok bisa se perfect itu terkabulnya.
“Eciye yang lagi deg dengan nunggu hasil dari Abinya Fathia yaa? Eciyee.” Kata Syifa meledekku.
“EHH DIEM LU YAA, kalau aja bukan senior yang bantu prosesku sama Fathia, pasti udah aku geprek lu Kak.” Kataku yang kesal tapi sambil senyum-senyum karena omongan Syifa.
“Jadi gimana?? Udah siap jadi suami? Kata dia menimpali lagi
“Hushh! Suami suami. Emang yang mau kasih jawaban ente? Kan Fathia, dihh.” Aku menjawabnya dengan wajah merah tak keruan antara salah tingkah dan menjaga wibawa didepan Fathia.
Sepertinya jawaban doa-doaku semakin dekat. Fathia, perempuan yang aku kagumi sepertinya mau untuk hidup bersamaku dan membangun keluarga kecil tapi bahagia. Sepertinya inilah memang jawaban atas penantian panjangku untuk tidak berpacaran dengan siapapun selepas SMA. Aku berkomitmen untuk tak pacaran lagi ketika itu karena aku ingin fokus untuk masa depanku. Dan hari ini, tibalah saatnya untuk menerima konsekuensi dari cinta itu sendiri. Dan aku telah siap dengan itu semua.
Fathia dan Syifa mulai duduk di meja yang telah lama aku pesan. Kami duduk di sudut cafe agar mendapatkan privasi obrolan kami. Meja kami yang berbentuk bulat semakin membuat kami harus lebih saling berdekatan satu sama lain dan tak perlu bicara keras-keras. Kombinasi yang pas untuk menjaga rahasia obrolan kita!. Aku menurunkan laptop yang sedari tadi sudah berada di meja itu. Tak lupa aku juga menutup beberapa buku, tablet, dan gedgetku agar lebih khusyuk mendengarkan penjelasan Fathia. Ini akan menjadi salah satu momen yang bersejarah di hidupku.
Aku berdehem lirih, menandakan bahwa aku ingin menanyakan hasil diskusi Fathia dengan keluarganya, apakah kita akan melanjutkan kepada proses taaruf selanjutnya atau tidak. Aku lihat juga Syifa sudah senyum-senyum sedari tadi, apakah ini pertanda baik?
“Jadi, Mas, setelah didiskusikan dengan Abi dan Umi.” Fathia berbicara lirih
Aku menjadi semakin deg degan tak keruan. Apa, iya apa hasil diskusinya??. Jangan dipotong-potong gitu ngomongnya, Fathia. Dari dulu dia memang orang yang paling pandai mengatur intonasi dan ritme berbicara.
“Sepertinya proses taaruf kita tidak bisa dilanjutkan lagi karena Abi kurang cocok denganmu Mas.” Fathia melanjutkan bicaranya.
Waktu terasa berhenti. Suara bising bartender menyiapkan kopinya menjadi semakin nyaring di telinga. Dunia seakan-akan berhenti sejenak, atau setidaknya menjadi slow motion. Aku menghirup nafas lebih panjang dari sebelumnya. Mencoba mencerna apa yang tadi Fathia katakan. Orang tuanya menolak aku? Bukankah kemarin seperti baik-baik saja? Apakah semangatku belajar dan gelar S2 psikologi klinis yang akan aku dapatkan bulan depan masih terasa kurang? Apakah aku masih dirasa kurang bisa merawat anak gadisnya? Atau ada apa? Mengapa jika ada sesuatu yang masih mengganjal tidak ditanyakan saja ketika itu? Apa yang harus aku lakukan?
“Ta, tapi. Apa alasannya, Fathia?” Tanyaku yang masih setengah tak percaya dengan jawaban itu. Dia menunduk seperti merasa betul-betul bersalah. Sedangkan Syifa yang sedari tadi meledekku bahwa aku akan diterima juga menjadi bengong tak mengeluarkan satu patah katapun. Dia masih bingung mencerna jawaban Fathia tadi. Sepertinya ini hasil yang diluar dugaan Syifa.
“Ada beberapa alasan mengapa Abi menolak, yang pertama . . .” Sahut Fathia.
Bersambung (4/6)
Menjadi yang Kaucintai - Bagian 4
@careerclass @bentangpustaka-blog @langitlangit.yk
















