Jika tak berjodoh, mengapa kita harus dipertemukan?
Aku tahu bahwa setiap pertemuan pasti membawa ibrah yang bisa kita resapi. Tapi terkadang aku berfikir mengapa kita harus dipertemukan jika memang tak berjodoh?
Aku tak mungkin mengatakan bahwa Allah sedang mempermainkan aku dengan mempertemukanmu kemudian memisahkannya. Tak mungkin Allah yang Maha Rahiim bertindak seperti itu kepada hambanya. Namun, aku hanya terus bertanya kepada diriku, mengapa aku harus dipertemukan kemudian berpisah denganmu?
Pasca kejadian di cafe itu bersama Fathia dan Syifa, duniaku seakan-akan betul runtuh. Harapanku untuk menikah dengan Fathia telah pupus sudah. Aku tak mendapat restu dari orangtuanya. Aku dan Fathia sebetulnya sama-sama saling suka. Oleh karena itulah, sejak beberapa bulan yang lalu aku meminta Syifa untuk menjadi perantaraku untuk mengutarakan maksudku untuk serius dengannya.
Aku ingat sebuah Hadits bahwa jika kita mempunyai niatan yang baik, niscaya Tuhan akan memudahkannya. Maka dengan modal dasar tersebut, dan dengan proses tesisku yang sudah hampir selesai, aku memberanikan diri untuk menyampaikan maksud tersebut. Tapi tak dinyana, ternyata niatan baik itu ditolak karena beberapa alasan.
“Sebetulnya aku tak enak menyampaikan ini secara langsung, apa kamu tidak apa-apa?” Tanya Fathia polos kepadaku.
“Ya tak apa. Alasan yang jelas namun pahit akan lebih baik daripada alasan yang manis tetapi tak mendasar” Jawabku.
“Sebetulnya Abi cocok saja dengan niatmu datang untuk mengajakku menjalin hubungan yang lebih serius. Tetapi sepertinya masalahnya adalah . . .”
Fathia memotong sebentar perkataannya. Sepertinya dia sedang memberikan aku kesempatan untuk mencerna bahwa kalimat setelah ini adalah poin utamanya. Namun sepertinya aku sudah bisa menebak.
“Masalah ekonomi?” Kataku menyerobot.
“Emm, iya, Mas.” Fathia menjawab dengan tergagap.
Aku sudah menduganya. Ayah Fathia memang orang yang terpandang di lingkungannya. Beliau adalah seorang pengusaha tambang di daerahnya. Aku pernah mendapatkan cerita sedikit dari Fathia bahwa ayahnya dulu adalah seseorang yang tak mampu, kemudian karena kerja keras dan keteguhannya membangun bisnis, sekarang dia berhasil memimpin perusahaannya menjadi salah satu perusahaan tambang yang cukup stabil, walaupun tak begitu besar. Namun nampaknya kamu pun tahu, keuntungan tak seberapa dari usaha tambang sudahlah sangat cukup untuk menghidupi anak dan istrinya dengan penghidupan yang nyaman.
Sebetulnya ini juga menjadi issue-ku ketika datang ke rumah Fathia. Tempat tinggal dia bak rumah yang sering menjadi tempat film-film klasik Indonesia. Rumahnya besar dengan gerbang yang megah, tak lupa juga ada satu satpam penjaga dirumahnya karena beberapa aktivitas bisnis seperti rapat juga terkadang dilakukan dirumah Fathia. Hunian yang bergaya klasik ini mempunyai empat pilar besar menjulang ke atas lantai dua. Lantainya terbuat dari marmer, dan juga dilengkapi dengan karpet merah khas hotel bintang lima yang pernah aku kunjungi di daerah Sudirman.
Rumah yang sangat kontras dengan gubuk sederhana kami di Gresik, Jawa Timur. Tempat tinggal kami sangat sederhana. Hanya satu balok rumah yang dibagi menjadi beberapa bagian. Dua kamar, satu ruang tamu dan ruang makan, dan satu lagi adalah toilet. Rumah Ibu dirumah juga baru saja direnovasi menjadi bangunan yang cukup lama atas bantuan pemerintah, itu pun atas hasil negosiasi yang aku lakukan kepada kepala desa selama dua tahun lamanya. Agak miris, tapi memang begitu adanya.
Rumah kami, entah apakah layak disebut rumah jika dilihat dari bangunannya. Karena jika musim hujan tiba, tak jarang kami sekeluarga juga harus bergegas mengambil ember-ember kecil bekas cat tembok untuk diletakkan di lantai yang basah karena bocor. Jangan kau bayangkan ember itu hanya ada satu atau dua di tengah ruangan. Kami pernah menghitung, setidaknya ada sembilan titik bocor di rumah kami, sehingga, mau tak mau, ketika hujan lebat tiba, aku, ibu dan adik langsung berubah menjadi pemburu ember untuk diletakkan di titik dimana kebocoran terjadi.
Memang kami berdua, aku dan Fathia adalah dua insan yang berbeda latar belakang tetapi anehnya kami selalu nyambung ketika berkomunikasi. Bukankah kunci keberhasilan suatu hubungan berada di komunikasinya?
“Maaf ya Mas, tapi memang begitu adanya jawaban dari Abi.” Kata Fathia lirih.
“Ya nggak apa-apa, Fathia. Berarti memang bukan jodohnya.”
“Terus rencana Mas kedepan gimana?” Tanyanya kembali
“Mungkin aku akan melanjutkan prosesku untuk mengejar beasiswa S3 di UCL London mengambil fokus di clinical child psychology.” Jawabku datar.
“Wahh di London? Bakalan seru tuhh. Andai aja ya Abi merestui pasti aku bisa menemin kamu PhD disana.” Jawab Fathia cukup kegirangan.
“Hush, jangan ngomong gitu. Aku tak ingin memikirkan pernikahan lagi akhir ini. Aku ingin istirahat. Doaku yang dulu aku sampaikan kepadamu perlu aku ganti, yaitu agar kita menemukan seseorang yang cocok, kemudian bisa membangun keluarga masing-masing yang kuat dan berpendidikan tinggi.”
Aku menjawab respon Fathia dengan diplomatis. Sebetulnya didalam hati, jika aku boleh mengatakan, ya memang mungkin akan sangat seru jika aku dan dia bisa tinggal di London selama 4 tahun sambil menyelesaikan PhD ku disana. Kami bisa mengelilingi bumi Allah yang indah dan fokus memberikan pendidikan terbaik untuk anak di Inggris. Tapi malang bukan kepalang, taaruf kami berhenti di tahap ini. Aku hanya ingin berdoa padanya, semoga dia bisa dipertemukan dengan lelaki yang bertanggung jawab.
“Oh ya Mas, ini ada titipan dari Abi, untukmu.” Perempuan teduh itu berkata sambil menyodorkan satu kertas seukuran undangan.
“Oh apa ini?” Jawabku. Aku mengambil kertas seperti undangan tersebut, dan membukanya secara perlahan. Gila. Ini adalah undangan nikah. Tapi siapa yang akan menikah? Sahabat Fathia? Aku membaca satu per satu informasi yang ada, dan menemukan tulisan “kami yang berbahagia, Fathia dan Aldika”.
“KAMU MAU MENIKAH?” Tanyaku keheranan.
Dia hanya diam, sesekali memandang ke arahku, kemudian membuangnya lagi.
“Tapi, kenapa secepat ini, Fathia? Baru kemarin kita melakukan proses ta'aruf, kemudian hasilnya ternyata aku tak berjodoh denganmu. Tak mungkin ketika proses ta'aruf kemarin kau juga sedang menjalin hubungan dengan yang lain. Aku tahu kau tak seberani itu melanggar kesucian taaruf. Mengotori proses taaruf sama saja mengotori agamamu sendiri, Fathia. Tapi kenapa secepat ini?” Aku mulai tak bisa mengontrol diri. Betapa tidak, wanita yang aku kenal baik-baik menjadi seperti orang yang asing. Dia bukan seperti Fathia yang aku kenal dahulu.
“Maaf Mas, aku hanya menyampaikan pesan Abi. Aku tak berhak menjawab. Saya ijin pamit.” Fathia menjawab pelan dengan menundukkan kepalanya. Dia nampaknya telah berubah, dia bukan Fathia lagi, dia adalah orang yang asing.
Bersambung
Menjadi yang Kaucintai - Bagian 5
@careerclass @bentangpustaka-blog @langitlangit.yk


















