8 Juli 2021
Tangisku pecah
Air mataku tumpah
Aku lelah
Menahan semua resah
Sendirian
-----
4 bulan post partum, akhirnya aku menangis. Tangis yang selalu kutahan karena aku harus menjaga diri dan mood untuk selalu kuat. Aku bisa, aku kuat, aku mampu handle semuanya sendiri. Walau susah, walau berat, aku tahan tangisku, aku tahan pedihku. Aku kepayahan. Walau banyak yang membantu, tapi akhir2 ini aku merasa banyak hal tak bisa kukerjakan. Sebulan kemarin no nanny, no art, cukup bikin stress. Tapi, aku coba kendalikan semua. Coba kukerjakan semua dg bantuan adikku. Hari ini, mingkin titik batas aku bisa menahan diri.
Menangislah untuk meredakan laramu, lukamu.
Menangislah untuk menguatkan jiwamu, ragamu.
Kataku pada diri.
----
Terima kasih adik sulungku, sore tadi sudah mendengarkan keluh kesahku. Akhirnya rumpah ruah juga air mata ini di hadapanmu. Katamu: kalau mau nangis, nangis aja jangan ditahan.
Aku sempat mengeluh pada adikku dan merasa bersalah tentang anak2 yang kurang kenyang karena asiku mungkin kurang cukup, tentang aku yang seperti terpenjara di dalam rumah. Gabisa kemana2, gabisa ngapa2in. Gabisa belanja sayur dan buah, gabisa menyediakan makanan yang baik padahal kita sekeluarga butuh gizi yang baik. Aku pun merasa bersalah terhadap hal2 ini. Gasempet pipis, gasempet mandi, gasempet makan. Boro2 makan banyak, sempet makan pun sering tidak. Minum pun ternyata gabanyak krn sering gasempet. Padahal aku butuh banyak makan dan makanan bergizi serta minum banyak untuk produksi asiku. Aku kasian sama anak2ku. Aku ingin mereka cukup asi karena mereka sedang tidak suka minum pakai botol. Jadi, hanya aku satu2nya sumber makanan dan kehidupannya. Aku sungguh merasa bersalah. Kata adikku lagi: jangan merasa bersalah. Rilex aja. Santai aja. Kalau diterusin nanti jadi baby blues.
----
Maafkan aku diriku, esok dan seterusnya aku akan mencoba lebih tegar dan kuat lagi. Aku pasti bisa 💪













