Alhamdulillah
“Akan diberlakukan pemotongan tunjangan sebesar 20% dari tunjangan yang kita terima di tahun 2015 per Januari 2016″, “Alhamdulillah”
“Pemotongan tunjangan dipertimbangkan untuk dicabut, dan tunjangan yang dipotong pada bulan Januari akan dikembalikan”, “Alhamdulillah”
Semacam Roller Coaster ya. Begitulah nasib pegawai di lembaga tempat saya kerja se-Endonesa. Ada yang frustrasi karena cicilannya banyak, ada yang mencoba untuk tabah, ada yang juga yang terang-terang berniat mencari tambahan (baca: memperbanyak dinas).
Bagaimana dengan saya? Setiap ada perbincangan tentang potong-memotong tunjangan di grup WA, baik itu level kacung mumet sampai level kepala seksi, komentar saya cuma singkat, “Alhamdulillah”.
Sampai ada kawan yang agak sinis ketika saya cuma komen “Alhamdulillah” dan bersikap nyantai. “Lu belum pernah ngrasain beratnya hidup (baca: ci-ci-lan bank) sih, Hung. Lu bakal ngrasain ntar”, “Lu kan selalu bilang “Alhamdulillah”, ntar tunjangan yang dibalikin buat gw yak”. Saya cuma bisa menjawab dengan nyengir “Kita kan harus selalu selalu bersyukur, mas”.
Kalau ada yang berpikir saya sholeh dan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan (tsaaah), itu salah. Saya tidak se-sholeh itu. Saya saja masih bingung dan meraba bagaimana konsep syukur itu. Ketika saya menyikapi dengan “Alhamdulillah”, saya tidak tahu itu bentuk syukur saya atau karena saya ini orangnya jowo banget, nerimo, selalu menjunjung falsafah “masih untung...” untuk menghadapi ketidakberuntungan, haha.
Iya kan, mau bagaimana lagi coba? Perpres 37 Tahun 2015 (silakan googling kalau mau tahu gaji saya :p) menyatakan bahwa kalau target tidak tercapai, ya dipotong tunjangannya. Menurut saya, kami (saya dan seluruh pegawai di perpres tersebut) sudah menerima dengan senang hati menikmati kenaikan dan rapel kenaikannya ketika perpres itu dieksekusi, dan ketika target tidak tercapai, ya kami harus ikhlas dong dipotong. Kalau tidak ikhlas dengan pemotongan ini, kenapa pas perpres-nya keluar tidak ada yang protes tentang pasal pemotongan? Kan wagu jadinya.
Kembali ke falsafah yang saya banggakan, (masih) menurut saya masih untung dipotong 20%, bukan 30%, bukan pula 50%. Ketika penerimaan dibawah 70% dari target, tunjangan kami dipotong terancam dipotong 50%. Ketika penerimaan naik, besaran pemotongannya mengecil berturut-turut 30 dan 20%. Bukannya itu rejeki? Tidaka jadi dipotong 50%, cuma 20%. Tidak jadi dipotong 20%, tunjangan tetap. Bukankah semua itu rejeki? Bukankan semua itu nikmat? Wong mbiyen sak durunge diundakne, uripmu sik mulyo, kan? Ya Alhamdulillah.
Masih digaji segitu, saya masih seneng banget. Wong saya pernah merasakan lebih gembel dari itu. Digaji segitu saya juga masih seneng banget, masih bisa nyicil utang beli tanah kemarin. Ya Alhamdulillah. Saya percaya hidup ini akan seperti roller coaster. Tidak pandang profesi, tidak pandang kedudukan, semuanya akan merasakan ketika lapang dan sempit. Ketika di atas, dan ketika berada di bawah. Ketika di atas, Alhamdulillah. Ketika di bawah, ya Alhamdulillah. Masih untung ngga bawah-bawah banget tho, haha.
Berbicara tentang nikmat, beberapa hari ini saya tersadarkan (setelah beberapa kali percobaan untuk sadar) bahwa nikmat itu tidak cuma uang dan materi. Di dekat kosan saya, ada sebuah mushola yang jamaahnya kebanyakan berusia lanjut. Saya yang berumur 17 tahun ini yang paling muda, haha. Ketika sholat, saya sering mengamati (Maafkan Baim ya Allah, sholatnya ngga khusuk :’(), seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan manusia untuk bisa melakukan gerakan sholat secara benar akan berkurang. entah itu karena penyakit, atau memang karena faktor usia faktor usia. Saya berpikir, saya masih diberikan nikmat kemudahan berdiri, ruku, sujud, dan duduk dengan enak. Dan bapak-bapak, embah-embah itu, masih diberikan nikmat untuk semangat datang ke mesjid, walaupun kaki mereka sakit, ruku tidak sempurna, dan harus segera menyelonjorkan kakinya setelah salam. Alhamdulillah.
Bahasa Inggris jelek terus? Alhamdulillah :’(. Mungkin belum waktunya, mungkin belum yang terbaik. Tapi saya penasaran, bagaimana kelanjutan rencana studi saya, haha. Manut maring Gusti mawon :D












