Kemarin, HARI INI, besok.
Kemarin, hari Selasa, adalah hari Azima mencoba ikut shaum sunnah Dzulhijjah bersama ayahnya. Dari jam 10 sudah merengek lapar, minta buka. Sepertinya karena ketika sahur kurang asupan dan cairan. Niatnya hanya sampai Dzuhur, ternyata biidznillah ia bisa kuat menahan keinginan berbuka meski 2 jam sekali merengek lapar. Bahkan mencium bau kayu putih pun ia mengeluh lapar, katanya mirip bau permen (mentos) xD.
Saya sarankan untuk berbuka jika memang belum kuat, besok lagi kita coba, tapi ia enggan. Akhirnya saya berikan salah satu bujukan agar ia bertahan, “ya udah, azima selang-seling aja ya. Hari ini puasa, besok libur dulu, besoknya lagi puasa.” Ia mengangguk.
20 menit jelang berbuka ia sudah standby di depan meja makan, di hadapannya ada satu box besar pizza kiriman dari salah satu teman-baik-hati, “berapa menit lagi buun?”
“Sebentar lagi nak. Azima nunggu di depan aja, kalau nunggu di sini akan makin terasa lama”
“Nggak mau.”
“Ya udah, tapi sabar ya”
“Bun, coba hari ini udah jadi besok ya,”
“Gimana maksudnya?”
“Iya, kalau hari ini udah jadi besok kan, azima jadinya ga puasa, udah bs makan”
Saya tertawa, “lho, ya hari ini beda dengan besok. Hari ini adalah hari ini, besok lain lagi. Besok belum tentu Allah kasih kekuatan untuk bangun sahur dan puasa kan? Kita manfaatin hari ini dengan sebaik-baiknya”
Ia terdiam, mengangguk. Masih bersabar menunggu menit-menit jelang berbuka.
Percakapan dengannya seperti menyadarkan saya, ketika selang beberapa jam kemudian saya mendapat kabar tentang wafatnya seorang guru, betapa konsep “being present” untuk memberi amal terbaik adalah hal yang selayaknya dilakukan.
depok, 14 Juli 2021










