Kalau pasanganmu baru pulang dan buka pintu, jangan langsung disuruh. Jika kamu gak mampu menyambutnya dengan baik, minimal biarkan dia masuk rumah dulu dengan tenang karena kamu gak tahu apa yang sudah ia hadapi di luar sana.
Taufik Aulia
One Nice Bug Per Day
almost home
todays bird
Peter Solarz

@theartofmadeline

Origami Around
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JVL
h

#extradirty
Alisa U Zemlji Chuda
RMH
Stranger Things
No title available

Product Placement
Cosmic Funnies

izzy's playlists!
Claire Keane
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

seen from Malaysia
seen from United States
seen from India

seen from Singapore

seen from Australia

seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from Iraq
seen from Iraq
seen from Croatia
seen from India

seen from Mexico
seen from Mexico
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@agungkwrn
Kalau pasanganmu baru pulang dan buka pintu, jangan langsung disuruh. Jika kamu gak mampu menyambutnya dengan baik, minimal biarkan dia masuk rumah dulu dengan tenang karena kamu gak tahu apa yang sudah ia hadapi di luar sana.
Taufik Aulia
Dalam doa-doa, jangan lupa meminta istiqomah dalam ibadah. Sebab istiqomah adalah harga dari sebuah ketaatan pada Allah. Berat, karena hadiahnya surga.
Menikah itu hanya mengubah setatus, tapi tidak dengan mengubah sifat asli seseorang.
Karena kita tidak tau bagaimana aslinya seseorang yang akan kita nikahi atau menikahi kita nanti, maka mintalah pertolongan pada Allah. Yang menggenggam jiwanya, yang tau bagaimana aslinya.
Jangan gegabah mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan Allah, fatal !!
Pernikahanmu, Semoga Selalu Indah Walaupun Tak Selamanya Mudah
Alhamdulillah, kali ini dua orang teman saya ternyata berjodoh. Saya mengenal mereka berdua ketika mengikuti pelatihan Forum Indonesia Muda angkatan 16 tahun 2014.
Kala itu, Sabtu, 18 Maret 2017 di Mesjid Al-Khabii, Kopo. Rintik hujan yang lembut penuh berkah menemani suasana khidmat pengikraran janji suci itu. Semua berjalan lancar sehingga jarak yang sangat jauh diantara mereka hilang seketika, saat kata “sah” menggema di mesjid itu.
Selamat Menempuh hidup baru, @yulialatifah dan Dwi Bremani, Semoga pernikahan kalian bersemi sampai surga-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan cinta-Nya pada keluarga kalian berdua.
Berikut ini adalah catatan singkat khutbah nikah mereka yang saya rangkum dengan bantuan seorang teman, Aji Nur Affifah. Yuk kita resapi bersama! Semoga bisa menjadi pembelajaran baharga untuk kita kedepannya ya.
Adakah yang galau nikah? Hehe….
Galau nikah boleh banget, asalkan dibarengi dengan semangat menuntut ilmu, terus memperbaiki diri, dan yang gak kalah penting adalah terus menjaga diri. Agar sesuatu yang fitrah ini menjadi berkah. Semangat dan selamat berjuang ya!
Begini isi khutbah nikah mereka :
Jika diambil tema besarnya, nasehat yang disampaikan kala itu mengandung sebuah tanda tanya “Bagaimana memaknai pernikahan agar cinta tak lekang oleh waktu dan terus bersemi hingga ke Surganya?”
aahh yaa, setiap hati yang bertaut karena Allah tentu saja mendamba cinta hingga surga. Namun, untuk mencapai hal itu, ada beberapa makna yang harus ditanamkan pada mitsaqon ghaliza ini. Sebelum ia bertumbuh lebih tinggi, maka fondasinya harus diperkuat terlebih dahulu, agar ketika angin menerpa lebih kuat, maka ia tak mudah rapuh dan tak gampang rubuh.
Ialah perjanjian yang kuat, perjanjian yang agung, dan perjanjian yang disaksikan langsung oleh Allah SWT, yang apabila sepenggal kalimat itu di ucapkan maka para malaikatpun akan memenuhi seisi ruangan seraya mengaminkan doa-doa yang bertebaran disana.
Jadi, apakah yang harus ditanamkan, ditumbuhkan dirawat hingga ia bersemi sepanjang waktu?
Tolong tanamkanlah beberapa makna ini didalam hatimu, ya!
Pernikahan adalah rahmat Allah, pasangan kamu adalah yg terbaik dunia akhirat. Terimalah ia dengan segala rasa penuh kesyukuran. Terimalah ia, baik kebaikannya maupun apa-apa yang tidak ada padanya. Sadarkah jika, di antara miliyaran manusia di bumi ini, tapi Allah telah memilihkan dia untuk melengkapi agamamu. Maka, janganlah biarkan dia pudar. Karena pernikahan itu amanah bagimu, hanya ia yang dititipkan Allah pada kamu. Muliakakan ia dengan sebaik-baiknya cara. Lalu berlomba-lombahlah menjadi seseorang yang mulia dengan cara memuliakan pasangan kamu.
Pernikahan adalah jembatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka setiap waktu yang kamu habiskan bersamanya akan bernilai ibadah. Luruskan setiap niat yang mengawali setiap harimu, setiap langkahmu hanya untuk Allah. Menata setiap satuan tangga surga bersama dan senantiasa menanti ridha-ridha Allah.
Pernikahan adalah dakwah. Dakwah adalah merangkul dan dirangkul. Menjadikan diri sendiri sebagai teladan untuk pasangan. Kamu tak harus memberikan khutbah didepan banyak orang, karena dengan memberikan teladan yang baik dalam rumah tangga maka akan menjadi jalan dakwah bagimu. Hadirkanlah perbuatan, perkataan dan sikap yang baik, yang penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian,berpegang teguhlah pada alqur'an dan sunnah, maka tidak akan ada perpecahan keluarga dan tidak ada perceraian diantara kalian. Dengan mengajarkan one day one ayat, one day one hadist maka rumah tangga itu akan dipenuhi cahaya dan hati akan ditumbuhi iman yang berlipat-lipat pula.
Pernikahan adalah sebuah kepercayaan dari Allah. Allah akan meminta pertanggungjawaban nanti. Untuk apa waktu yang kamu habiskan bersama, kemana tujuan kamu menempuh perjalanan berdua dan kontribusi apa yang dibangun saat bersama. Karena pernikahan adalah jalan menuju surga bersama-sama. Jadi, pastikan apa-apa kepercayaan ini dijaga dengan sebaik-baiknya.
Pernikahan adalah taklim. Ia merupakan awal dari pembelajaran. Perbedaan yang ada dalam pernikahan adalah pelajaran berharga. Setiap kejadian yg terjadi dalam pernikahan adalah bagian untuk kita menjadi manusia yg lebih baik. Sikapi perbedaan itu dengan penuh rasa cinta.
Begitulah beberapa makna tentang pernikahan yang bisa dijadikan fondasi untuk menjadi keluarga yang dirindukan surga. Pernikahan adalah rahmat, ibadah, dakwah, amanah, dan taklim.
Semangat berbenah, dan semoga diberi kesempatan untuk mengamalkannya ya!
Bandung, 22 Maret 2017
Apa yang Kamu Rasakan Saat Pasanganmu Bilang ‘Sama, Aku Juga Capek’ Saat Kamu Mengeluh Capek?
Salah satu pendewasaan yang saya sadari setelah menikah adalah menahan diri untuk tidak bilang ‘sama, aku juga’ saat pasangan sedang mengeluh seperti capek, kurang tidur, atau kerjaan kantor banyak sekali.
Saya orangnya jarang-jarang mengeluh, tapi sekalinya mengeluh ya cuma sekadar ingin mengeluh saja, bukan kode untuk diserve ini dan itu oleh pasangan.
Pernah beberapa kali pasangan saya spontan merespon begini, “Sama, aku juga capek.” Mungkin dia tidak ada maksud apa-apa, sama seperti saya yang sekadar bercerita saja. Tapi rasanya yang tadinya saya harapkan bisa plong kok malah jadi sesak ya. Saya tidak merespon apa-apa lagi.
Sekali, dua kali, tiga kali, terus terulang seperti itu. Dan rasanya masih sama. Sepertinya bukan respon seperti ini yang saya inginkan.
Lama saya merenung kenapa saya kurang suka dengan respon seperti itu. Ternyata kemudian saya sadari bahwa saya terbiasa mendengarkan keluhan dan saya jarang mengeluh. Saat pasangan saya mengeluh, saya berusaha mendengar tanpa menimpali dan mencoba mencarikan solusi bila diperlukan.
Lalu saat saya mengeluh dan mendapat respon ‘sama, aku juga’ itu rasanya seperti saya ini tidak boleh mengeluh. Padahal niat saya mengeluh hanya sekadar mengeluh saja biar plong, bukan untuk membandingkan siapa yang lebih capek.
Sekali lagi, mungkin maksud pasangan saya bukan seperti itu. Hanya saja yang namanya komunikasi itu kan dua arah, ada potensi lain maksud lain juga penerimaannya. Dan dalam pernikahan, baik suami atau istri, adalah sama-sama subjek. Maka, menurut saya, saya perlu untuk menyampaikan ketidaksukaan saya atas respon seperti itu. Biar sama-sama senang dan sama-sama belajar.
Komunikasi yang baik antara suami dan istri itu komunikasi yang setara, yang bisa didengarkan dan mendengarkan satu sama lain, yang mau saling menghargai dan saling memberi ruang untuk berekspresi.
Saya gak sadar bahwa kalimat pendek ‘sama, aku juga’ itu bisa bikin kesal. Awalnya saya kira biasa saja, lama-lama kesal juga hehehe. Tapi inilah yang namanya pendewasaan. Pasangan saya tidak benar-benar salah, dan saya juga tidak sepenuhnya benar. Ini hanya soalan pola komunikasi yang berbeda dan perlu disinkronkan. Itu saja. Semoga saja.
@taufikaulia
Menikah itu nambah masalah
Menuju lima tahun pernikahan, tau-tau sudah mau berempat. Begitu cepat sekali waktu berlalu.
Dulu sebelum menikah, ada begitu banyak sekali kekhawatiran sehingga bisa mikir beribu kali untuk memutuskan menikah.
Memang benar kata seorang kawan "menikah itu nambah masalah"
Tapi ketenangannya juga bertambah, keberkahannya bertambah, rasa syukurnya bertambah dan kebahagiaannya pun bertambah.
Kadang bingung, waktu masih sendiri keresahannya banyak banget. Kok setelah menikah engga tau mau meresahkan apa lagi.
Mikirnya makin sederhana; jalani, jalani, jalani. Udah cuma gitu aja.
Yang mencukupi Allah, kenapa jadi kita yang bingung.
Satu ditambah satu logika manusia jawabannya dua. Tapi matematikanya Allah, jawabannya tak terhingga.
Memang benar, banyak tidak masuk akalnya. Tau-tau ada, tau-tau cukup, tau-tau bisa, tau-tau mampu melewatinya.
Kalau ada yang bilang menikah itu melelahkan, iya memang engga salah. Betul melelahkan.
Tapi ketika sudah sampai di rumah, capeknya hilang dan lupa sama lelahnya.
Menikah itu menjalani kesadaran.
Sadar sama-sama saling membutuhkan. Sadar sama-sama punya kekurangan. Sadar sama-sama punya kesalahan.
Kuncinya, jangan keluar jalur.
Ibarat melakukan sebuah perjalanan. Jika suami itu sopir, fokus dan pegang kendali. Karena penumpang di belakang engga peduli ngantuknya kamu.
Mereka cuma mau tau sampai di tujuan. Melencengnya kamu sana sini, membahayakan mereka.
Kamu ke luar jalur, celaka mereka.
Begitupun penumpang, tetap tenang. Jangan melompat atau pindah kendaraan lain, karena ada kendaraan yang lebih bagus.
Karena percuma sopir sampai di tujuan sendiri.
Dan belum tentu juga dengan pindah kendaraan yang lebih bagus, bisa bikin kamu lebih cepat sampai di tujuanmu.
Iya kalau sampai, kalau malah tersesat?
Karena tujuannya dari menikah ya cuma satu, yaitu membawa pernikahanmu selamat.
—ibnufir
Dari panjangnya perjalanan kemarin yang sempat membuatmu lelah dan ingin mengeluh, kamu banyak menemukan sisimu yang lain. Kamu menemukan cara yang tepat bagaimana untuk pulih. Dan yang terpenting kamu menemukan dirimu yang sedang tumbuh dan cara pandangmu melihat sekitar dan dunia jadi berbeda.
@terusberanjak
Your Silent Treatment Is Killing Me
Silent treatment itu cuma 'bagus' untuk cooling down, tapi gak akan menyelesaikan apapun. Kalau ada masalah ya diobrolin. Bilang aja kalau gak suka, kecewa, atau marah. Orang yang kamu diemin itu bukan cenayang.
Silent treatment itu gak kayak diemnya orang yang mau nenangin diri. Diam itu gak akan jadi bahaya selama diamnya kamu itu untuk menenangkan dan menyiapkan diri untuk membuka obrolan yang sehat dan setara setelah kamu tenang.
Diam itu jadi masalah—toksik, ketika kamu diam untuk mengontrol dan menunjukkan bahwa kamu punya kuasa dan kekuatan yang lebih besar dalam sebuah hubungan. Di sini diammu tidak menyelesaikan masalah, melainkan hanya akan memanipulasi orang yang kamu diamkan untuk merasa bersalah. That's it. In the end, orang yang kamu diamkan itu akan bingung, frustasi, merasa tidak dihargai dan tidak dicintai. Silent treatment is abussive. Inilah mengapa silent treatment justru hanya akan memudarkan ikatan-ikatan emosional.
Komunikasi adalah kunci. Komunikasi dengan kata-kata ya, bukan komunikasi dengan sandi morse. Maka dari itu, bila ada masalah dengan siapapun, silakan diam untuk menenangkan diri, tapi jangan lari dari masalah.
Siapkan dirimu untuk mendengarkan dan bicara. Setelah kamu tenang, jangan pendam dan bersikap seakan semuanya baik-baik saja.
Jangan ragu untuk bilang, “Hei, we need a talk.”
—@taufikaulia
Kamu tahu? Sederas-derasnya hujan yang ditunggu-tunggu, daun yang basah itu tetap saja akan merindukan matahari yang terik, untuk mengeringkan dan menghangatkannya.
Pun juga dengan kelamnya masa lalumu, sekelam apapun masa lalu itu, terkadang kita juga butuh untuk mengingatnya, untuk diambil pelajarannya, bukan diulangi kesalahannya. Daun yang basah itu mungkin aku, bisa juga kamu.
Tidak ada yang betah berlama-lama dalam hujan, tidak ada pula yang tahan berlama-lama dalam teriknya matahari, segala sesuatu itu sesuai dengan porsi dan juga kebutuhannya.
Kadang kamu butuh hujan, kadang kala kamu juga butuh matahari. Keduanya berkolaborasi untuk menyeimbangkan hidup.
Semangat itu perlu, sebab ia perihal masa depan yang kita impikan dan juga sedang kita perjuangkan, tapi terkadang juga butuh untuk mengerem dengan kembali mengingat dan belajar pada apa yang pernah kita lalui, masa lalu.
Benar, tidak ada yang ingin masa lalunya yang buruk itu terjadi lagi, bahkan beberapa di antara kita juga ada yang enggan untuk mengingatnya. Tetapi, percayalah, mengingatnya untuk mengambil peringatan dan pelajaran itu juga perlu, agar kita bisa memiliki rambu-rambu dalam perjalanan kita hari ini.
Ingat seperlunya, ambil pelajaran sebanyak-banyaknya. Agar langkah kaki tidak lagi menginjak perangkap yang dulu kita pernah terkena dan memasukinya.
Selamat bertumbuh.
Menanti reda, untuk hujan yang cukup lama.
Kuningan, 3 Januari 2023.
@jndmmsyhd
(apostrof.id)
[Amin yang sama, Doa yang berbeda]
Barangkali, kita mengangkat tangan yang sama, pada Tuhan yang sama, dengan kekhusyukan yang sama, diakhiri Amin yang sama, tapi dengan doa yang berbeda.
Aku selalu saja meletakkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang ada di depan. sehingga harapan dan pandangan mata terus saja kutuju hingga ke ujung masa depan. isi doaku Hanya seperti orang serakah yang tidak pernah puas: Ingin ini, ingin itu, banyak sekali. selalu ada saja yang kurang dan tak pernah habis. sedang kamu selalu berhasil menutup doa di penghujung malam dengan segenap kecukupan dan rasa syukur.
melihatku yang terus saja mengangkat tangan dan tak sedetikpun berhenti kamu menegurku dan berkata, "jika pandanganmu terus-menerus ke depan bisakah kamu bahagia? jika tidak pernah berhenti sejenak untuk melihat saat ini Bisakah kamu bahagia? jangan-jangan kebahagiaan itu memang tidak pernah ada---- di masa depan?"
mendengar itu, aku tersentak, lalu tertunduk.
Ternyata badai yang kau benci itu yang membentukmu jadi seperti saat ini, bukan? Tak mudah menilai seseorang semena-mena, belajar mendengar orang lain, belajar menghargai setiap orang, mengetahui bahwa segala hal yang mungkin terasa menyakitkan itu semuanya bersifat sementara. Lebih dari itu, melalui badai yang sempat membuat tubuhmu porak-poranda, kamu jadi orang yang lebih hangat, bukan?
Agar Muslimah Siap Menikah #21
Agar Muslimah Siap Menikah #21
Bismillahirrahmanirrahim, Nasihat ke 20. Wahai Istri “Muslimah Shalihah” Allah menamaimu dengan 2 nama yang indah ketenangan dan pakaian. Firman Allah SWT QS. Ar Rum Ayat 21. Allah ciptakan kalian dari diri kalian (sesama manusia) pasangan hidup, supaya para (suami) mendapatkan ketenangan bersamanya dan Allah jadikan diantara kalian cinta dan kasih sayang, sesungguhnya dalam hal itu terdapat…
View On WordPress
Ketenangan
Sumber penyakit dalam kehidupan kita adalah saat kita tidak mengenal Allah. Sumber kekecewaan kita adalah saat berharap pada makhluk dan meninggalkan Allah. Solusi dari permasalahan hidup adalah bersandar kepada Allah.
Syeikh Utsaimin Rahimanullahu Ta'ala berkata "sumber keresahan hidup manusia yaitu ketika tidak mengenali kepada siapa bersandar dalam kehidupan dan akhirnya itulah yang6 membuat gelisah pada hidupnya."
Syeikh Utsaimin Rahimanullahu Taala berkata "salah satu ilmu yang bersifat wajib untuk dipelajari setiap mukmin adalah mempelajari nama dan sifat Allah"
Hal ini menjadi perkara yang wajib dipelajari setiap mukmin. Karena siapapun manusia yang telah mengenal Allah. Dengan mengetahui bagaimana zatnya, bagaimana sifatnya, dan bagaimana ketetapan yang telah ditakdirkan, maka dia akan berada pada ketenangan. Dia tahu kepada siapa akan berharap dalam kehidupan di dunia.
Maka orang yang paham siapa pelindungnya dia akan tenang. Namun orang yang tidak paham siapa pelindungnya, maka dia akan gelisah.
Tidak perlu risau dan gelisah, apabila apa yang kita inginkan tidak terwujud. Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kita.
Percaya dan meyakini akan ketetapanya termasuk rukun iman ke 6, yakni percaya terhadap qada' dan qadar.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS Al-Baqarah: 216)
Berprasangka baik dan meyakini ketetapan Allah adalah kunci ketenangan hati :)
Ini Hal Paling Sering Disebut dalam Nasihat Pernikahan
✍🏻 Muhammad Scilta Riska
(Penulis Buku Sketsa Hati)
Dulu, sebelum menikah rasanya mendengar khutbah nikah amat penting. Selain semangat menggebu-gebu, rasa penasaran juga minim pengetahuan.
Setelah menikah, ternyata orang sudah atau lama menikah justru lebih membutuhkan nasihat pernikahan. Selain kedua mempelai tentunya.
Kita seolah direfresh, diingatkan kembali akan hakikat, makna dan tujuan pernikahan.
Dan ini menjadi bahan renungan, apakah kita sudah membangun rumah tangga seperti keluarga Rasulullah.
Rasulullah yang paling baik akhlaknya pada keluarganya. Memandang dengan wajah senyum, memanggil dengan nama terbaik, memberi perhatian, membantu pekerjaan istri disaat yang sama tetap harus mencari nafkah. Begitu pun dengan berbagai peran dan amanah sebagai istri. Seperti kata-kata motivator dalam seminar, daurah pra-nikah.
Nasihat pernikahan paling penting adalah soal komitmen. Mitsaqan ghalizhan. Dalam akad, kita telah menyalakan semangat pertanggung jawaban.
Pertanggung jawaban dalam pernikahan ini bukan hal sepele. Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 21 menyebut pernikahan sebagai ayat. Diantara tanda kekuasaan Allah.
Maknanya sangat agung, tentu kita harus memuliakan. Melangsungkan pernikahan dan membangun rumah tangga dengan cara-cara yang terpuji.
Jangan dicampur segala hal bertentangan dengan syariat.
Yang penting juga kita maknai dalam ayat ini kata 'Azwajan'. Pasangan yang seiman. Beda dengan kata 'imro'atun' hanya sekedar pendamping, tidak atas dasar keimanan.
Carilah pasangan dalam kerangka iman. Bukan sekedar pendamping melengkapi informasi status.
Dalam memaknai pasangan, tidak berarti harus sama. Jangan berharap semuanya sama persis. Seperti kala kita berjalan kaki kanan dan kiri. Siang-malam, terang-gelap, panas-dingin, lembut-kasar dst.
Dari sifat dasar lelaki perempuan saja berbeda dan tidak pernah sama. Makanan kesukaan, hobi, warna favorit, juga kepribadian.
Jika keduanya berpasangan berarti dibutuhkan saling melengkapi. Memahami kelebihan dan kekurangan untuk saling menguatkan.
Jika bukan pasangan, tentu terjadi ketimpangan dalam rumah tangga. Masalah yang membuat jauh dari kebahagiaan.
Yang kita harapkan, jika sesuatu bertemu dengan pasangannya adalah ketenangan.
Sakinah diwujudkan dalam dua kata:
Pertama, mawaddah.
Mengapa bukan mahabbah berarti cinta.
Jika rumah tangga hanya dibangun atas dasar cinta akan dibatasi kata 'sejati'. Adakalanya cinta itu buta, palsu. Siangnya kesedihan, malamnya penyesalan seperti kata Qois pada Laila.
Adakalanya cinta hanya sebatas ungkapan yang belum bisa dipertanggung jawabkan. Makanya, cinta pekerjaan orang dewasa bukan anak kecil.
Adalah mawaddah sesuatu yang kita rasakan. Baik berupa cinta, perhatian, kasih sayang. Dan ini hanya bisa dirasakan melalui jenjang pernikahan.
Kedua, Rahmah.
Adapun rahmah diwujudkan dalam bentuk akhlak yang baik. Tingkah laku yang beradab.
Jika mawaddah hubungan antara suami istri. Adapun rahmah dibutuhkan menguatkan hubungan dengan anak keturunan. Dalam pendidikan adab dan ilmu.
Ada juga memaknai Mawaddah lahir disaat lapang. Rahmah datang disaat sempit.
Semoga keluarga kita senantiasa diberkahi, dilimpahkan mawaddah wa rahmah.
Wallahu 'Alam.
Menerima Kisahnya
Nanti, saat kamu menikah dengan seseorang, kamu tidak sedang menerima lembar buku yang kosong. Kamu akan mendapatkan seseorang yang sudah menulis begitu banyak catatan dan kisah, yang kamu baru akan benar-benar mengetahui kisahnya sesaat setelah akad terucap.
Pada kisah yang begitu menyedihkan, atau pada kisah yang begitu bahagia maka selalu siapkan hati yang lapang untuk menerimanya.
Sebab orang yang kamu nikahi adalah akumulasi dari masa kecil hingga ia dewasanya, bahkan sampai ia menemukanmu.
Tidak apa-apa, siapkan saja ilmu pernikahan dan mengelola rasa dalam berumah tangga. Kapan kamu harus menekan ego dan emosi, kapan kamu harus bersabar dulu untuk sesaat sebelum mengutarakan maksut dengan berbicara padanya.
Menerima kisah seseorang itu tidaklah mudah, terkadang ia jauh dari apa yang kamu harapkan, terkadang bahkan bertolak belakang dengan apa yang kamu bayangkan.
Sebab pernikahan itu menyatukan dan saling memperbaiki, kisah-kisah buruk dan hitam di masa lalu tidak perlu diungkap dan dibuka. Tutuplah serapat mungkin dan kubur sedalam-dalamnya, mulailah menjalani hari-hari dengan kebaikan yang penuh dengan keberkahan.
Andai kamu sedang menunggu seseorang yang datang padamu, maka siapkan ilmunya, perluas hatinya, dan mulailah melangitkan doa, agar apa yang kamu doakan senada dengan apa yang Tuhan takdirkan
Selamat malam, dariku yang tengah duduk di kereta menuju stasiun terakhir.
Gambir, 19 September 2023.
@jndmmsyhd
Refleksi.
Gif by tumblr
/1/
Jika kau memandang hidup ini sebagai kompetisi balap duniawi, maka perasaan "tertinggal" akan terus menerus mendominasi. Sebab yah, kiri kanan memang akan selalu tampak terus menerus berkilau dan menarik perhatian.
Seakan bisik-bisik setan, tidak ada habisnya merayumu untuk menghitung kekuranganmu daripada kelebihan dalam dirimu. Seakan-akan, kau tidak punya alasan penting untuk tetap hidup.
Namun, jika kau memandang hidup ini sebagai arena perlombaan kebaikan dalam urusan akhirat maka "rasa tak berarti/ketertinggalan" sangat dapat kendalikan.
Sebab yang tahu perihal diterima atau tidaknya sebuah kebaikan hanyalah Allah. Rasa terima kasih dari manusia tak menjamin, keyakinan di hati bahwa amalmu sudah diterima pun—bisa jadi keliru.
Maka yang paling berkilau di matamu, belum tentu seberkilau itu bagi-Nya.
Kerendahan diri, akan sangat mempengaruhi. Bersihnya niat dalam setiap upaya kebaikan harus selalu di evaluasi.
Penilaian setiap perbuatan baik, sungguh rahasia—yang tak boleh disimpulkan sepihak oleh dirimu sendiri. Jadi jangan merasa tak percaya diri dalam arena lomba kebaikan akhirat ini dan tak boleh pula merasa sombong berbesar hati, sebab penilaian Allah, paling Maha tahu dan Maha adilnya tak tertandingi.
/2/
Jika kau pikir, sebuah eksistensi dan harga diri berpatok pada kontribusi yang "besar"......sebentar, mari memperkecil sudut pandangmu perihal ini.
Ada hal manis yang selalu ku pahami dari hidup yang teramat penuh kejutan ini. Bahwa, ada kebaikan yang bagimu spele atau mungil sekali atau bahkan tak berarti. Tapi ternyata sangat berarti di sisi-Nya.
Ada banyak kebaikan kecil, yang menjadi jalan untuk terjadinya kebaikan besar. Ada banyak kebaikan kecil, yang menjadi penolak dari keburukan besar. Ada banyak kebaikan kecil, yang menjadi jalan keselamatan yang luas.
Sungguh, jangan memandang sebuah kebaikan dari porsi sudut pandangmu yang begitu terbatas. Sungguh, jangan menyepelekan kontribusi yang mungkin biasa saja.
Berbuat baiklah, selalu.
/3/
Jika kau sering merasa tak berarti..
Maka lihatlah, betapa rumitnya penciptaan manusia seperti dirimu. Maka, tidak mungkin tanpa arti—Allah menghadirkanmu ke bumi ini.
Tak ada takdir yang ditulis asal-asalan, semuanya penuh cinta-Nya. Seringkali, orang lain akan berusaha menguatkanmu perihal betapa berharganya dirimu sendiri. Tapi sebenarnya, yang paling kau perlukan, untuk merasa bahagia—adalah afirmasi positif dari dirimu sendiri. Maka mintalah pada-Nya agar hidupmu selalu di naungi perasaan syukur dalam setiap perubahan keadaaan.
Jika hidup berusaha mengalahkanmu dengan banyak ujian dan benturan, di mata-Nya kau bukanlah pecundang sama sekali. Kau tetap berarti. Sebab kau hadir, karena Dia mencintaimu dan besarnya cinta itu tidak memiliki batasan.
Tak apa-apa jika bagi dunia kau tampak biasa saja, tidak wah dan tak dipandang cemerlang. Tapi selama niatmu hidup untuk beribadah dan hatimu senantiasa terpaut pada-Nya, maka hatimu akan penuh oleh rasa lapang dan tenang yang berlimpah.
Kini jika terasa jalannya melelahkan, itu hanya karena mozaik syukurmu, sedang berhamburan. Sebab dihantam ujian yang seakan tiada terputus. Pungutlah perlahan dengan sabar. Sebab kau teramat berarti.....lebih dari yang kau perkirakan.
Draft tertahan, 26 Agustus 2022 12.31
"C U K U P"
Menurut saya adalah dengan memanfaatkan apa yang kita punya semaksimal mungkin. Tidak perlu menambah apa yang belum maksimal. Dari konsep "maksimalisasi" ini kita akan paham makna cukup. Karena, selama sesuatu itu bisa kita gunakan secara maksimal maka tak perlu lagi kita mencari yang lain. Di situ definisi "cukup" menjadi realitas.