Sejak 5 bulan menikah, aku dan suami sudah cari dokter untuk tanya kenapa belum hamil-hamil. Dokter pertama bilang kalau belum setahun masih wajar dan disuruh makan-makanan bergizi aja. Jawaban yang kurang memuaskan buatku karena dia bahkan gak melakukan pemeriksaan apapun. Walaupun pulang sambil misuh-misuh karena konsultasi yang gak sampai 15 menit itu bayarnya 500ribu, kita ikutin tunggu satu tahun untuk cek ulang (tapi gamaooooo di dokter yang sama 😛).
Tahun pertama lewat, bukan dengan makan-makanan bergizi seperti yang disarankan, aku justru melewati tahun pertama dengan kenaikan berat badan sebanyak 10kg. Sepuluh kiloooo dalam setahun!!!! Selama itu pula jadwal haid jadi berantakan.
Singkat cerita tahun kedua ganti-ganti dokter, suami dicek pula kondisi spermanya (ada masalah tapi ceritanya bukan tentang itu jadi skip dulu aja). Aku juga cari-cari informasi dari siapa lagi kalau bukan dari dokter segala umat; Mbah Google. Dari sana aku self diagnose bahwa aku PCOS, tapi sekian dokter belum ada yang mendiagnosa kalau aku PCOS.
Tahun ketiga siklus haid berantakannya luar biasa. Aku bisa gak haid dalam jangka waktu 3 bulan. Akhirnya kami memutuskan untuk periksa ke rumah sakit besar, Mitra Keluarga. And finally menemukan dokter yang detail, saat itu aku dicek dengan USG Transvaginal, cek darah, dan suami dirujuk untuk cek pula ke dokter spesialis andrologi. Hasilnya seperti dugaanku sebelumnya; PCOS. Sel telurku buanyaaak, tapi kecil-kecil dan tidak berkembang. Dokter bilang itu bisa terjadi mungkin karena keturunan atau lonjakan berat badan yang terlalu drastis sehingga hormon-hormonnya berantakan, kerja insulin juga jadi berat, dll.
Tahun ini pernikahanku sudah 5 tahun, hampir 6. Hampir 3 tahun diagnosa PCOS itu berlalu. Saat pertama di diagnosa, aku diresepkan obat yang sama dengan penderita diabetes dan pil KB untuk menstabilkan hormon selama 3 bulan. Dokter juga menyarankan untuk turun berat badan 5-10% dari berat badan yang sekarang, olahraga, dan lagi-lagi makan makanan yang bergizi.
Obat yang dokter kasih ini cukup membantu untuk mengembalikan siklus haid jadi on track tapi sayangnya selama minum obat ini efek sampingnya lumayan menggangu. Setiap habis minum obat ini rasanya mual parah bahkan ya sampai muntah. Tiga bulan muntah-muntah tapi sambil tau kalau bukan hamil penyebabnya (karena dikasih pil KB) rasanya berat di badan berat di hati.
Sejujurnya sindrom ini cukup mengganggu terutama dari hal-hal yang terlihat secara fisik. Rambut selain di kepala tumbuh subur, terutama bulu kaki, tangan, dan ketiak. Tapi rambut di kepala rontoknya luar biasaaa. Asli, ogut takut botaaak wkwk.
Selain itu, PCOS ini bikin aku terlihat pemalas. Aku gak tau ini alasan atau bukan, tapi setelah baca beberapa testimoni penderita PCOS lainnya, ternyata kemalasanku selama ini beralasan. HAHA. PCOS ini bikin aku cepet capek, ngantukan, gampang laper, gampang cemas, stress dll. Padahal dokter menyarankan untuk turunin berat badan, tapi si hormon justru bikin kita terus bertambah gemuk.
PCOS bukan sindrom yang bisa disembuhkan, hanya saja bisa dikontrol gejala-gejalanya. PCOS bikin kita sulit hamil tapi tidak menghilangkan kemungkinannya 100%. PCOS bisa juga membuat kehamilan beresiko memiliki komplikasi seperti tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, preeklamsia, dan keguguran dini. Terdengar menakutkan bukan?
I was dealing with this syndrome, hidup berdampingan dengan semua gejala-gejalanya, sekarang sedang berusaha berdamai dengan diri sendiri untuk menerima, juga berusaha mengontrol gejala-gejala ini. Tentu saja dengan misuh-misuh. 👋