For The Sake of Update (?)
Suatu hari, saat sedang jam istirahat, seorang teman yang baru beberapa bulan melangsungkan pernikahan bertanya kepada saya, “Nov, apa pendapatmu tentang fenomena kebanyakan orang saat ini yang sering memposting adegan mesra dengan pasangan halalnya di medsos sambil ditambah caption-caption romantis gitu?” Mendengar pertanyaan itu, saya lumayan kaget lalu menanggapinya dengan candaan terlebih dulu, “Hmm, kenapa nanya ini sama saya deh? Hehe.” Saya pun menjawab dan mencoba jujur pada diri sendiri, “Ya hmm, gimana ya, aku kurang sepakat kalau postingnya terus-terusan, berlebihan, dan kopong engga ada isinya. Kenapa? Karena aku pikir akan selalu ada orang-orang yang perlu dijaga perasaannya, yang belum menikah misalnya.” Sejurus kemudian, ia pun menimpali, “Nah! Itu juga sebenarnya yang aku pikirkan. Pengen sih posting, foto kami juga bagus-bagus, tapi kalau dipikir-pikir rasanya ya buat apa, khawatir engga bisa mendatangkan kebaikan buat yang lain.”
Di kesempatan yang lain, saya berdiskusi dengan seorang teman yang lain saat sarapan pagi. Kepadanya saya bertanya, “Teh, bulan madu kemarin gimana di SG, seru? Kok aku engga lihat satu pun posting kalian di medsos, sih? Terus, rasanya teteh juga engga pernah posting tentang cerita jalan-jalan, makan-makan, atau apa gitu di medsos, padahal kan setahun kemarin keliling Indonesia terus?” Saya begitu penasaran dengan jawabannya, pasalnya teman saya ini kadar empati dalam dirinya dahsyat, tinggi sekali! Lalu ia menjawab, “Engga, Nov. Hehe. Aku takut tanpa sengaja menyakiti hati orang lain. Alih-alih membagikan kebahagiaan, gimana coba kalau ternyata aku malah bikin orang lain sedih karena posting jalan-jalan atau makan-makannya aku? Apalagi kalau ingat Suriah, Palestina, dan yang lainnya, aduh aku engga sampai hati.” Saya pun mengangguk-angguk setuju.
Saya jadi ingat tentang sebuah inspirasi yang saya dapatkan dari Austin Kleon dalam bukunya yang berjudul “Show Your Work!”. Disana Austin menyampaikan sebuah pertanyaan yang kurang lebih menyatakan, “Apa pentingnya memposting apa yang kita makan, sedang hangout dimana, siapa saja yang menjadi teman kita, atau pamer-pamer lainnya? Memangnya apa manfaatnya untuk pembaca atau followers kita?” Ya, saya sepakat! Sayangnya, hari ini, ketika media sosial seperti sudah menjadi bagian besar dari hidup kita, kita seolah ingin melakukan banyak hal untuk kepentingan update. Yup, for the sake of update~ Padahal, tidak semua hal layak diupdate dan tidak semua hal juga boleh diketahui orang lain.
Benar memang penerimaan orang lain terhadap apa yang kita posting tergantung pada bagaimana mereka menggunakan persepsinya, tapi, rasanya kita juga perlu bijak menjaga perasaan orang lain dengan menentukan mana yang layak posting dan mana yang tidak. Kita tentu pernah menjadi rendah diri atau sejenisnya karena posting orang lain, bukan? Bagaimana rasanya?
Sekali lagi, kita perlu benar dalam menempatkan diri dan berhati-hati dalam menceritakan kebahagiaan yang kita miliki. Jangan sampai impulsifnya kita membuat tidak adanya kebaikan apapun yang bisa diambil oleh orang lain dari postingan kita. Duh, maaf ya teman-teman kalau ternyata selama ini ada update-update saya yang menyakiti hatimu, memunculkan iri dan dengki, atau terkesan menyombongkan diri. Semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk memperbaiki diri.











