Sudahkah kau tersenyum bersama bapak ibumu? Mengobrol dengan keduanya? Bersyukurlah. Beberapa orang menganggap itu hanyalah impian.
Monterey Bay Aquarium

gracie abrams

if i look back, i am lost
No title available
Keni
Cosimo Galluzzi

Origami Around

bliss lane
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

No title available
RMH
Sade Olutola
Sweet Seals For You, Always
macklin celebrini has autism
Color Me Curious
Game of Thrones Daily
Cosmic Funnies

Love Begins
NASA
Not today Justin

seen from Indonesia
seen from Israel

seen from Mexico
seen from Uruguay

seen from Venezuela

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from Spain
seen from Maldives

seen from France
seen from United States
seen from Indonesia
seen from Colombia

seen from United States
seen from United States
seen from Nepal

seen from United States

seen from France
@ajengasih-blog
Sudahkah kau tersenyum bersama bapak ibumu? Mengobrol dengan keduanya? Bersyukurlah. Beberapa orang menganggap itu hanyalah impian.
Semacam punya sayap tapi diharuskan berlari. Tak berarti.
Aku sulit bicara. Kenapa tidak kau baca saja pikiranku?
ajengasih (sungkan mau ngomongnya, bingung mulainya *1)
Jarang posting foto.
Sekali-kali ga apa lah... :p
Pepatah Romawi kuno mengatakan: Habent sua fata libelli. Buku-buku memiliki nasibnya sendiri. Begitu juga dengan manusia. Hari demi hari adalah lembaran yang harus dijalani. Jangan pernah berhenti.
Rivelino, 22th, Abis Mabok Duren. (via penyihirhati)
apa kabar
pernah nggak kamu kangen banget ditanya apa kabar? maksudnya apa kabar yang tulus. yang nggak diikuti dengan agenda-agenda terselubung. yang nggak diikuti dengan keperluan-keperluan tertentu.
maksudnya, apa kabar yang tulus aja. yang muncul tiba-tiba bukan karena kamu habis posting sesuatu di sosial media. yang muncul tiba-tiba karena kamu nongol di mimpi–nggak usahlah mimpi, di benak paling tidak–seseorang. yang muncul karena suatu masa dalam hidup kamu, kamu pernah begitu berarti untuk seseorang itu, atau sebaliknya.
maksudnya, apa kabar yang tulus aja. yang bukan penasaran, melainkan peduli.
banyak-banyaklah tanya apa kabar–yang tulus. meskipun kadang pertanyaan apa kabar cuma dijawab “baik” atau “ya gitu aja” atau “alhamdulillah”, yang belum tentu pun dijawab sesuai dengan kenyataannya–meskipun begitu, apa kabar adalah pertanyaan yang menyejukkan. yang menunjukkan bahwa keadaan seseorang penting, paling tidak bagimu.
siapa tau, kamu satu-satunya orang yang tanya apa kabar. siapa tau, kamu menyelamatkan hidup bahkan nyawa seseorang karena menanyakan kabarnya.
The power of “apa kabar” :’)
Agar Menemukan
Kau butuh hilang agar dicari, kau butuh pergi agar bisa pulang. Kau butuh kesepian agar ditemani, kau butuh diam agar ditanya.
Hanya saja, seringkali kita mengeluhkan tentang jalan yang harus kita tempuh demi apa yang kita cari. Seringkali kita setengah hati menjalani jalan yang sebenarnya mengantar kita pada apa yang kita cari, hanya saja kita tidak tahu tentang itu.
Yang kita tahu hanya sebatas pada apa yang kita rasakan saat ini, pada apa yang terlihat dan terdengar. Kadang dan lebih sering menyakitkan juga melelahkan tapi kita tidak punya pilihan selain menjalani.
©kurniawangunadi
Kamu butuh ikhlas untuk melepaskan…
Jika Anda cerdas pasti bisa membaca keadaan. Jika Anda bijaksana pasti bisa menjaga lisan.
ajengasih
Semangat Syarifa!
*sahabat harusnya memahami
“Kinar, Syarifa beneran udah pindah?” tanya Andin pagi itu sebelum kelas dimulai. “Kayaknya sih gitu.” “Kok kayaknya?” “Ya… aku nggak tau. Barang-barang dia masih di kamar kok. “ “Kamu kan sahabatnya, masa kamu nggak tau? Masa dia nggak pernah cerita?” Aku hanya diam. “Eh Kinar, kamu tau nggak, mamanya Syarifa tuh kan jadi TKW tapi di sana dia malah jadi simpenan majikannya. Terus Bapaknya frustasi terus bunuh diri.” Aku diam, tak percaya. “Masa kamu nggak tau?” Aku tetap diam, menggeleng. “Aku nggak yakin deh karirnya Syarif bakalan lama. Apalagi kalau publik tau tentang kisah hidupnya. Bisa gila 2x dia. Kamu kasih nasihat deh.” Aku tersenyum dan mengangguk. Dosen datang. Semua menyiapkan diri. Obrolan itu terhenti.
Aku berjalan tidak melewati jalan yang biasanya. Aku ke gedung rektorat, hanya sekedar mengenang. Aku dan Syarifa pertama bertemu di sini. Aku baru keluar gedung setelah daftar ulang kuliah. Aku bertemu Syarifa membawa brosur kos, lalu kami ngobrol dan singkat cerita, kami satu kos, satu kamar. Sekarang sudah hmapir setahun, kami akan berpisah karena dia lebih memilih mengejar impiannya. Panjang umur, dia meneleponku. “Kinar… kamu dimana?” “Rektorat.” jawaku singkat. “Aku jemput ya? Tunggu di situ.” Sepuluh menit kemudian ada mobil berwarna merah berhenti di depanku, Aku tidak tau mereknya, aku tidak paham tentang permobilan. Kaca mobilnya terbuka. Syarifa!! Aku melompat girang. “Ini mobil siapa?!” “Taraaaaa….. ayo jalan-jalan!” Kami berdua mengelilingi kota. Lalu aku ingat sesuatu. “Rif… kamu…” aku teringat cerita Andin. Aku tau Syarifa gadis yang kuat, dia penuh semangat. Aku ingin tahu apakah cerita itu benar atau tidak. Aku juga berpikir akan menasehatinya kalau memang perlu. Dia butuh seorang penguat. “Iya,,, kenapa?” “…” aku ragu untuk bicara. “Kinar… hei! Ada apa?” Aku berpikir lagi. Kurasa itu tidak baik sekarang. Apa pun yang terjadi pada Syarif di masa lalu adalah sesuatu yang telah ia lalui. Dan sekarang adalah yang telah ia capai. Aku yakin untuk sampai di titik ini dia telah merasakan kepahitan. Dia telah meneguknya dengan baik, kini rasa manis yang harus ia rasakan. Memang perjalanannya baru dimulai. Aku tidak akan merusak rasa manis itu. “Nggak.. itu… . Rif.. kamu yang semangat ya. Kamu sudah berhasil menyusuri sungai kecil. Sekarang kamu sudah sampai di tepi pantai. Yang kamu hadapi adalah lautan luas. Akan lebih banyak tantangan. Teruslah mengayuh dayung agar kau sampai ke seberang. Ingat aku selalu ada di kemudi belakang.” aku tersenyum tulus padanya. Syarifa memandangku. Sebentar tapi dalam. Dia tertawa. “Hahaha.. Kinar emang jago bikin konotasi! Kamu di kemudi belakang ngapain? Aku supir dong. Hahahaha” kami tertawa bersama. Aku teman, sahabat Syarifa. Aku tidak memiliki siapa-siapa di sini. Mungkin dia juga. Hanya teman. Hanya teman tempat bergantung dan rumahku sekarang. Tidak peduli apa yang telah ia lalui di masa lalu, Syarifa sudah berhasil. Aku tidak tega menanyakan masa lalunya. Dan kalaupun benar, lalu kenapa? Aku akan tetap jadi sahabatnya. Penilaian orang, seburuk apapun meskipun itu benar, biarkanlah. Aku tidak mau hal itu akan menyakiti hati Syarifa. Mereka tidak benar-benar tau apa yang sedang terjadi, dan bagaimana Syarifa melewati ini semua. Aku tidak mau dia jatuh sebelum berdiri. Yang terpenting sekarang adalah aku akan mendukungnya. Aku akan membantunya sebisaku jika memang itu perlu. Aku akan ikut dia mengayuh dayung, meski hanya di belakang saja. Kamu bisa! Semangat Syarifa!
Dia Percaya (Cerita dari Fariz)
Ayah, Ibu, percayakah kalian padaku? Aku seperti ini adanya. Aku tak sebaik mereka. Tak sepintar mereka. Tak semengagumkan mereka. Maafkan aku.
Ayah, kau mengajarkanku untuk jadi laki-laku pemberani. Melatihku agar pandai berenang, nyatanya hingga kini aku masih takut tenggelam. Membuatku agar rajin belajar, nyatanya hingga kini aku tidak pernah juara kelas. Yang aku tau hanya memegang benda kecil ini, yang ukurannya tak lebih besar dari buku tulisku semasa sekolah. Tapi ini yang membuatku bahagia. Membuatku dihargai. Membuat aku merasa berguna menjadi manusia. Maafkan aku.
Ibu, kau mengajarkanku bagaimana menjadi lelaki bertanggungjawab. Aku gagal di ujianku masuk perguruan tinggi yang kau ingin menempuh pendidikan di sana dulu kala. Aku melawan perintamu agar aku bagun pagi dan tidur sebelum jam 10 malam. Aku terlalu lelah berkelana siang hari dan belum pulang di malam petang. Maafkan aku.
Ibu, Ayah, bagaimana aku bisa tetap hidup dan terus melanjutkan perjalanan, ketika sudah tidak ada lagi yang percaya padaku. Bahkan kalian yang melahirkan dan merawatku. Bukankah aku harapan kalian? Tapi aku sendiri tak mampu mewujudkan harapan itu.
Hari itu, aku kembali menemukan harapan. Ketika aku mulai ragu dengan diriku sendiri. Apakah aku mampu melakukannya. Apakah aku pantas melakukannya. Apakah aku bisa…
Hari itu ibu, ayah, … aku bertemu dengan seseorang yang percaya padaku. Tanpa alasan, tanpa “tapi” dan tanpa “cuma”. Hari itu aku bertemu dengan seseorang yang mengatakan “aku yakin padamu”.
Namanya Kinara, Bu, Yah. Kami bertemu tidak sengaja waktu aku sedang mencari objek foto di hutan kota sore-sore. Dia terus melompat-lompat, mencoba menangkap kupu-kupu. Dia di sana sampai hampir malam. Aku tidak jadi memotret, aku duduk di bangku dan hanya melihat tingkahnya yang lucu. Dia kelelahan lalu behenti melompat. Dia duduk berjongkok. Terengah-engah. Lalu memandangku. Dia menghampiriku, lalu berkata..
“Maaf, kenapa Anda tertawa melihat saya. Dari tadi melihat saya dan cekikikan. Saya seperti melawak ya?”
Aku diam, lalu merapatkan mulutku. Dia memandangku protes dan penuh tanda tanya.
“Em.. maaf. Kamu sedang apa?”
“Anda pasti sudah tau saya lagi apa.”
“Maaf kalau kamu merasa terganggu. Aku cuma sedang belajar memotret”
“Tapi dari tadi Anda hanya memegang kamera itu dan tertawa melihat saya.”
Waktunya beku. Kaku. Kami saling diam.
“Maaf, saya kelelahan, tidak sopan. Emosi sesaat.” katanya menyesal.
“Kenapa kamu ingin menangkap kupu-kupu? Tugas sekolah?”
Dia menggeleng. “Aku tidak sedang menangkap. Aku hanya ingin bermain-main. Biarkan mereka bebas. Mana tega saya menangkap hewan secantik itu.”
“Aku suka menangkap kupu-kupu.”
Gelombang wajahnya berubah. Sedikit kecewa. Lalu aku tunjukkan sesuatu di layar kecil kamera digitalku. Potret kupu-kupu yang aku ambil di kebun belakang rumah tempo hari.
“Aku menangkap mereka dalam kamera. Mereka akan tetap hidup di sini. Aku bisa melihatnya berualng kali.”
Matanya tak lepas dari gambar-gambar kupu-kupu milikku.
“Aku yakin Anda akan jadi fotografer hebat!”
“Kamu hanya memuji.”
“Tidak, aku percaya. Anda juga harus percaya.” Dia mengkahiri kalimatnya dengan senyuman. “Anda bukan menangkap kupu-kupu. Anda menangkap kenangan.” dia lalu pergi.
Aku tercengang. Ada yang percaya padaku. Tapi dia pergi. Aku memotretnya dari belakang ketika dia berlari. . . . Itulah awal pertemuan kami, Bu, Yah…
Janji Kak Fariz
“Kinara, apa kabar?”
Kak Faris baru sms. Setelah 1 bulan kepindahanku kemari.
“Baik.”
“Kamu kemana aja ga pernah hubungi aku?”
Kemana aja ga pernah hubungi? Di sini siapa yang tidak menghubungi siapa? Tidak adil sekali jika dia mengatakan begitu. Okelah mungkin aku bisa menghubungi duluan. Tapi apa salahnya dia dulu. Hei… aku perempuan!!! Siapa diriku harus menghubungimu dulu? Siapa dirimu harus kuhubungi dulu? Iya, kita memeng bukan siapa-siapa dan tak memiliki hubungan apa-apa untuk saling menghubungi.
Dua menit… 5 menit… aku diamkan. Logika memaksaku untuk tidak membalas, tapi hati ini dalam diamnya ingin. Dengan ragu aku memainkan keyboard hp. Terlambat, Kak Fariz mengirim sms lagi.
“Kinar, aku sekarang kerja di majalah fashion. Jadi fotografer. Aku pernah janji mau traktir kamu kan kalau dapet kerja baru. Tapi kamu berada jauh.”
Sebenarnya aku turut bahagia, menjadi fotografer, bermain-main dengan lensa dan gambar adalah cintanya. Tapi aku ingin biasa saja. Buat apa bilang begitu kalau bukan cuma untuk pamer. Toh, dia tidak akan menepati janjinya. Aku yang harus datang padanya. Bukan dia yang datang atau menjemputku. Seperti sebelum-sebelumnya. Aku ingin sekali-kali dia yang berjuang. Aku ingin dia yang datang.
“Selamat, Kak :)”
“Cuma selamat? Tunggu ya kalau aku ada pemotretan ke Medan! Aku janji!”
Aku membuang nafas, bibirku tertarik ke kiri dan ke kanan, senyum, tapi mataku diam. Kalaupun dia datang ke sini, pasti dia lupa.
“Ga usah maksain, Kak! Aku ga akan nagih kok”
Selesai. Tidak ada percakapan lagi. Mungkin untuk ada percakapn yang lain menunggu waktu berhari-hari lamanya. Mungkin lebih. Apalagi kalau aku sudah lelah. Tubuh ini sudah lelah, otak ini juga. Tapi hati ini begitu mudahnya berganti.
Sejujurnya aku sangat merindukan Kak Fariz. Seenaknya saja dia bermain-main dengan hati ini. Datang dan pergi sesuka dia. Ah, sudahlah! Tubuhku sudah jauh, pikiran dan hatiku juga harus! Akan kucoba, semoga Tuhan membantuku. Semoga ada cara, semoga ada jalan.
Kamu. Siapa kamu sebenarnya? Dalam sekejap bisa menguasai hatiku. Menjajah dan memonopoli sesukamu. Kau pikir kau rajaku? Kau pikir aku milikmu?
Karena kadang aku berharap begitu. Dan jauh dalam hati, hari itu aku tunggu
Tituut..tituut… Ada telepon. Ziddan. “Hallo, Assalamualaiakum.” “Wa’alaikumsalam. Cepet..!! Aku di bawah!” “Iya..iya tunggu.”
karena saat bersamamu tak pernah semanarik ini
Ajeng Asih
Untuk Kinara
Aku, ntahlah… merasa nyaman dengan gadis ini. Belum lama mengenalnya. Dia lucu dan bisa mengerti aku. Mau mendengarkan keluhku, tanpa banyak menasihati dulu. Aku tidak suka dinasihati. Aku ingin didengarkan. Dan dia tanpa kuminta sudah tau. Ntah bagaimana dia bisa membaca pikiranku.
Aku mengerti sedikit luka yang sedang dia rasakan. Aku memang tidak tau persis rasanya. Tapi aku paham. Mungkin aku belum sebaik Kak Fariznya. Belum setampan Kak Fariznya. Belum seasik Kak Fariznya. Belum pantas. Tapi aku bisa membuatnya tidak terluka. Pikirku.
Tapi aku belum yakin. Kadang aku bertanya dalam hati, “apakah ini benar?”. Semua yang kulakukan adalah yang kuanggap benar. Sampai saat ini aku melakukannya. Semoga ini benar.
“UNTUK KINARA”
Bawa aku ke tempat yang belum pernah kau kunjungi bersama sebelum aku Ajak aku melakukan hal-hal yang belum pernah kau lakukan bersama sebelum aku Ajari aku tentang cara menikmati hidup seperti caramu Beritau aku segala yang kau suka dan yang tidak
Lalu aku akan membawamu, mengajakmu, mengajarkanmu, dan memberitaumu segala tentang diriku
Tak ada batas. Tak ada sekat. Miliki aku.
Tapi.. Aku tak mau berjanji Aku tak berani jamin Aku takut tak bisa tepati
Karena aku pelupa Aku juga ceroboh Aku bukan pengingat yang andal Maka selalu ingatkan aku bahwa…
Bersamaku Hari-harimu akan lebih lucu Pergi ke tempat-tempat baru Melakukan hal-hal seru Semuanya Hanya denganmu.
Karena Saat Bersamamu Tak Pernah Semenarik Ini…
http://aldilaa.blogspot.co.id/2012/08/mengapa-bulan-dan-bintang-hanya-bida.html (gambar)
Sudah 8 bulan aku meninggalkan tanah Jawa menuju tanah Batak. 8 bulan pula aku meninggalkan orang lama dan menemukan orang-orang baru. Juga seseorang. Iya, aku kenal dengan seserorang. Namanya Ziddan. Dia juga dari Jawa. Ke Medan ikut kakaknya pindah. Dia kuliah di sini juga,bersamaku. Beda jurusan, beda gedung malah. Tapi setiap siang dia selalu datang ke jurusanku. Cari angin katanya. Bodoh. Alasan apa cari angin.
Belakangan ini kami dekat. Kami selalu chatting di bbm. Nama teratas di daftar chatku ya..Ziddan Alfar Ramadhan. Segala hal kami bagi. Sesekali berbicara formal tentang pertemuan saat latihan Taekwondo, membosankan tentang pemerintahan negeri, lucu tentang film, debat tentang musik favorit, bahkan nakal tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Aku senang mengenal Ziddan. Dia bisa menghiburku dari kehilangan sahabatku, Syarifa, yang mulai serius mengejar impiannya menjadi artis dan …. Kak Fariz.
Kak Fariz mana? Kak Fariz ada di urutan bawah. Tenggelam. Hilang. Sudah lama tidak berhubungan dengan dia. Sepertinya dia benar tidak menginginkanku. Sudahlah, aku sedang enggan membahas Kak F.
##
Aku baru pulang dari latihan Taekwondo. Biasanya aku dan Syarifa berangkat bareng. Kali ini tidak. Sudah 3x sih. Baru saja aku diantar Ziddan pulang. Dia hanya menawarkan, dan aku tanpa berpikir panjang langsung bilang “iya”. Tidak ada cukup alasan untuk menolak Lagipula, saat itu aku sedang butuh kendaraan untuk pulang ke kos.
Sepanjang perjalanan, Ziddan lebih banyak diam. Berbeda ketika saat berbicara di dunia maya. Dia banyak bicara di sana. Di sini, aku yang terus mengajakknya bicara. Setiap pertanyaanku dijawabnya penuh semangat. Dari pertanyaanku muncul lagi pertanyaan-pertanyaan darinya. Kami saling bercerita. Kami tertawa.
Satu kata yang paling kuingat, saat di amengatakan, “Bulannya bagus!” kemudian aku memandang ke atas. Mencari bulan di langit. Memandangnya. Seakan ia juga memandangku. Kami.
Sekali lagi di depan pintu gerbang kos, aku melihatnya tertawa. Matanya hilang ketika tertawa. Lucu. Aku senang bisa bersama dengan Ziddan. Bisa mengenalnya. Bisa membuatku sedikit melupakan kekecewaanku terhadap Kak F.
Tau perasaanku?
“Hai kamu, Kamu yang beakangan ini menemani hari2ku. Mengukir tawa diantara air mata yang mengalir Membuatku lupa bahwa ku miliki sedikit luka
Kaulah alasanku berani melawan badai di tengah hujan Alasanku melupakan masa lalu yang perih Aku tau tentangmu lebih dari yang orang kira
Kita saling bercerita Malam itu di bawah sinar bulan Kita tertawa bersama Membicarakan hak bodoh tentang kita sendiri Dan kuyakin.. Kau mengingat setiap kata yang kuucap
Jika ada kesempatan lain, bolehlah kuulang lagi? Tidak! Lagi, lagi dan lagi!! Karena saat bersamamu tak pernah semenarik ini Dan segala hal serasa berjalan terlalu cepat”
Berbeda (Telah Pergi)
“Kamu sudah berubah. Berubah itu berbeda dengan yang sebelumnya. Iya kamu berbeda. Aku tau, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Ini semua karena k eadaan. Keadaan yang mengharuskan kamu begini. Berbeda dari sebelumnya. Tapi begitu lemahnya dirimu, mau saja menyerah dengan keadaan. Aku tau kamu lemah. Iya, semua orang bisa lemah, tapi mereka juga bisa menjadi kuat jika memang mereka mau. Kamu hanya perlu berlatih untuk menjadi kuat. Itu tidak sulit. Seperti aku yang kuat mencintaimu di segala keadaan. Kuat mencintaimu meski keadaan menyarankanku untuk berhenti. Aku mencoba berkawan dengan keadaan. Merajuknya bahwa aku pasti akan selalu baik-baik saja jika tetap mencintaimu” 14/11/2014 14.33
“Mau kemana lagi, Fa?” tanyaku sambil tetap menghadap layar laptop.kla “Ke tempat Pak Nur” jawab Syarifa di depan kaca menyisir rambutnya. “Lagi?” “Hemmh” “Nanti sore jadi ngumpul sama anak2 Taekwondo kan?” “Ya ampun Kinar, ntar sore ya! Aku lupa! Ijinin aja deh. Kayaknya ini sampe malem, soalnya mau bahas jadwal pemotretan buat bulan depan. Udah ah” “Fa, kalau nanti kamu udah jadi artis terkenal, kamu masih mau tinggal sekamar sama aku ngga sih? Maskeran bareng sama aku. Kita jalan ke pasar murah cari obralan. Kadang mandi bareng, haha. Terus tiap malam minggu kita nangis2 bareng, kamu cerita tentang Ifan, aku galau tentang Kak Fariz…” aku berpaling, menoleh, kosong. Syarifa sudah pergi. Iya, Syarifa sudah berubah, dia sudah pergi pergi.
Sudah familiar dengan orang ini?
Yap, David Karp, pendiri Tumblr. Platform miniblog dan medsos yang kalian nikmati setiap hari. Dari beberapa artikel dan juga video ini, saya mengambil kesimpulan bahwa Tumblr memang diciptakan oleh orang ini untuk memenuhi hasrat dan idealismenya (pada awalnya).
Memang awalnya begitu ya, dia menginginkan sebuah platform yang bisa digunakan untuk banyak hal. Buat status, upload gambar, sebagai portfolio sederhana desainer, menulis artikel, upload suara, dan akhirnya sekarang muncul fitur baru chat yang menurut saya ini sesuai dengan tujuan awal pembuatan tumblr.
Berbeda dengan pendapat @miring di sebuah postingannya, kalau menurut saya, chat super sederhana ini tidak masalah. Karena disitu kita bisa diskusi pribadi dengan akun lain, tanpa harus dipublish dan histori chat nya tetap tersimpan. Saya sih lebih suka chat PM daripada kalau diskusi harus reblog reblog an, dimana satu halaman web bisa berisi 5 reblog-an dengan postingan yang sama dan isinya hanya saling komentar yang tidak signifikan, menurut saya jadi polusi visual. Ini sih menurut saya.
Banyak hal dari Tumblr yang dinilai merupakan kekurangan, misalnya tidak bisanya kita membalas notes. Buat saya, itu justru kelebihan. dengan begitu, Tumblr tidak seperti medsos lain yang bisa dijadikan sarana bertengkar di dunia maya dengan saling membalas komen negatif. O ya, kita sepakat ya tumblr itu termasuk media sosial.
Kembali pada David Karp, satu hal yang selalu saya temukan pada diri orang-orang sukses : muda dan ganteng passion pada hal yang dia kerjakan. Dia bangun setiap pagi dengan perasaan senang karena akan mengerjakan hal yang dia suka. That’s my dream.
Ganteng Kece ya cowok ini, di umur 19 tahun (paad 2007) dia sudah bisa membangun tumblr, sedangkan saya di usia segini hanya bisa menggalau di tumblr.
Ya pencapaian orang berbeda-beda, perjalanan orang juga berbeda-beda. Tapi kita bisa belajar darinya. Belajar bahwa passionnya memiliki efek yang positif buat orang lain, buat kita terutama para user tumblr. Pekerjaannya juga tidak sempurna, produk ini banyak kekurangan, yang anehnya bisa kita terima dengan lapang dada.
Buat saya (yang naif dan menilai hanya dari tampak luarnya), produk yang bisa memiliki keterikatan emosional dengan user semacam tumblr ini, pasti diciptakan dengan sepenuh hati. Paling tidak, ada sedikit jiwa si pembuat di dalamnya.
Barangkali, suatu hari tumblr hanya akan jadi komoditi kapitalisme seperti medsos lain. Tapi, semoga selalu ramah seperti saat ini.
Thankyou very much David Karp, for made an awesome and great product!!!
If you’re in Paris right now
- Emergency special number (if you need information) (please, use it carefully, too many calls will make the line crash): 0800 40 60 05
- Schools and universities are closed tomorrow. (in the whole country btw)
- In Paris and IDF, it’s advised NOT TO MOVE. Don’t leave your home or the place you’re staying in unless you really have to.
- It seems taxis are free tonight if you need a ride home.
- IF YOU NEED A PLACE TO CRASH IN/ WANTS TO WELCOME SOMEONE: follow the hashtag #PORTEOUVERTE
- 5 metro lines are closed: 3, 5,8 9 and 11
- Maps of the attacks (source: Libération). Streets are probabky closed around these areas.