Paradoks membersamai tumbuh kembang anak adalah ketika saya bilang,”Jangan jadi sepertiku”. Namun saya menemani proses bertumbuhnya dengan memberikan pupuk atas pengetahuan yang tertanam dari alam bawah sadar. Bahwa, ada hal-hal yang sekuat tenaga tidak ingin saya berikan namun tanpa sengaja ikut hanyut dan luruh. Entah melalui kata-kata atau perilaku ketika overstimulasi terjadi di dalam otak saya.
Ternyata, reparenting ourself yang sering digaungkan khalayak ramai di media sosial memang benar sulit. Sangaaaaat sulit.













