Barangkali cinta yang paling sunyi adalah cinta yang tak pernah meminta tubuh sebagai bukti. Ia hidup sebagai gagasan, sebagai kemungkinan, sebagai langit yang tak pernah benar-benar disentuh burung. Kita menyebutnya platonis, seolah kata itu cukup suci untuk menyembunyikan segala luka yang dikandungnya.
Aku mencintaimu tanpa pernah sampai kepadamu.
Di antara kita, waktu bersenggama dengan kefanaan, melahirkan kenangan yang bahkan tak memiliki masa lalu. Yang ada hanya bayang-bayang tentang sesuatu yang mungkin terjadi, namun sejak semula telah dihukum menjadi mustahil.
Kehampaan adalah medium yang paling setia. Ia mereplikasi namamu ke setiap ruang yang gagal diisi kehadiran. Pada dinding kamar, pada jeda percakapan, pada malam yang terlalu panjang untuk disebut tidur. Semakin kucoba menghapusmu, semakin banyak salinanmu tumbuh di dalam diam.
Lalu keheningan dipaksa membisu.
Betapa ironis. Bahkan sunyi kehilangan hak untuk bersuara ketika rindu telah melampaui bahasa. Tak ada lagi kalimat yang sanggup menanggung beratnya kehilangan atas sesuatu yang tak pernah benar-benar dimiliki. Yang tersisa hanyalah napas yang terdengar seperti doa, tetapi tak lagi percaya kepada langit.
Mungkin beginilah nasib cinta yang terlalu mencintai ide tentang seseorang. Ia tidak mati karena penolakan, tidak pula hidup karena harapan. Ia menggantung di antara ada dan tiada, menjadi monumen bagi kemungkinan-kemungkinan yang dikuburkan sebelum sempat dilahirkan.
Dan aku tetap tinggal di sana—di ruang yang tak mengenal pertemuan maupun perpisahan—mencintaimu sebagai sebuah konsep, sementara semesta dengan tenang mengajarkan bahwa bahkan keabadian pun hanyalah bentuk lain dari kefanaan yang menolak mengaku telah berakhir.
@gramabiru | fanatonis

















