Dingin selalu datang tanpa permisi, menyusup ke sela napas dan tulang. Ia seperti jarak yang tak kasat mata, memelukku dengan sepi yang panjang. Tapi kemudian ada kamu—hangat yang tak pernah aku duga, hadir di antara kabut yang menelungkupkan malam.
Kamu adalah alasan mengapa dingin tak lagi menakutkan. Dalam tatapmu, aku menemukan api kecil yang cukup untuk menyalakan harapan. Dalam suaramu, gemetar itu mereda, seperti musim yang enggan beranjak karena nyaman menetap di dekatmu.
Mungkin dunia bisa terus membekukan langkahku, tapi selama ada kamu, dingin hanya akan menjadi cerita. Karena setiap kali aku menggigil, namamulah yang selalu kutemukan sebagai selimut.













