“”
—
Kala janji itu terucap
Izinkanku tunggu dengan penuh harap
karna janji adalah hutang
Bukan pada manusia tapi pada Tuhannya

blake kathryn

祝日 / Permanent Vacation

#extradirty

ellievsbear

Origami Around

Product Placement
Show & Tell

Discoholic 🪩
styofa doing anything
noise dept.

izzy's playlists!
Today's Document

JBB: An Artblog!
YOU ARE THE REASON

⁂
taylor price
sheepfilms
Claire Keane
Not today Justin

if i look back, i am lost
seen from Bulgaria
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Netherlands
seen from United Arab Emirates

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@aksarajiwa92
“”
—
Kala janji itu terucap
Izinkanku tunggu dengan penuh harap
karna janji adalah hutang
Bukan pada manusia tapi pada Tuhannya
Pada akhirnya, halaman buku itu selesai ditutup tanpa sempat dibaca ulang.
Penanda terakhir tetap tinggal di bagian yang sama, seolah beberapa hal memang ditakdirkan berhenti sebelum selesai dipahami.
Sampulnya masih utuh, aroma kertasnya pun belum benar-benar hilang, hanya saja tak pernah ada lagi jemari yang membuka dengan niat yang sama.
Dan sejak itu, buku tersebut perlahan terbiasa menjadi sunyi, tersimpan rapi di antara banyak cerita, namun tak lagi menunggu untuk diteruskan.
“My secret is not far from my lament,
but the eye and ear lack the light to perceive it.
The body is not hidden from the soul,
nor is the soul hidden from the body,
yet no one is permitted to see the soul.”
(The Song of the Reed-Rumi)
Mencintai seseorang yang pernah dicintai
namun tidak pernah engkau miliki adalah neraka dunia
rupanya, aku pernah merasa memilikimu
bukankah rasa kehilangan hanya akan ada
jika engkau pernah merasa memilki?
Aku memujimu, sebab engkau layak dikasihi
pribadimu menembus batas
seperti sebuah fiksi
rasanya tidak percaya aku mengingatmu begini lama
melewati entah berapa generasi
_MSIUK_
@aksarajiwa92
Pelabuhan yang Tenang
Kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu disatu dermaga?
padahal kulihat, bulan hanya satu pelabuhan tenang yang mau
menerima kehadiran kapalmu
kalu dulu memang pernah ada satu pelabuhan kecil yang kemudian
harus kau lupakan, mengapa tak kau cari pelabuhan lain
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
seandainya kau mau, membuka tirai di sanubarimu
maka kau akan tau
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya
hingga pelabuhan itu menjadi rumahmu
rumah dan pelabuhan hatimu….
@aksarajiwa92
Jawaban Pernah Singgah, Kitalah yang Tak Membuka Pintu
Seringnya kita tidak menyadari bahwa sebenarnya Allah telah menjawab doa dan hajat kita lewat perantara orang lain. Bahkan tak jarang, ketika dihadapkan dengan jawaban tersebut kita lebih memilih untuk berpaling dan tak mensyukurinya, malah justru, seringnya, mengeluh dan menyatakan bahwa ini tak sesuai harapan.
Lalu, hilanglah kesempatan itu sekali, dua kali, hingga berkali-kali. Setelah itu, kita mulai menyalahkan bahwa Allah tidak adil lagi, lagi, dan lagi.
Lantas siapa sebenarnya yang salah dan disalahkan?
Mungkin bukan doa yang terlambat dijawab, melainkan hati kita yang terlalu sibuk menakar “seharusnya”. Kita menetapkan bentuk, waktu, dan cara—lalu kecewa ketika Tuhan memilih jalan yang lebih sunyi, lebih sederhana, dan sering kali… lewat orang biasa yang tak kita anggap istimewa.
Kita lupa, tidak semua jawaban datang dengan gemuruh. Sebagiannya hadir sebagai kesempatan kecil, uluran tangan yang tak kita genggam, nasihat yang kita remehkan, atau pintu yang terbuka pelan—namun kita tutup kembali karena tak sesuai bayangan.
Dan saat semua itu berlalu, kita berdiri di hadapan sepi, lalu bertanya dengan nada menggugat, “Mengapa Kau tak mengabulkan doaku?”
Padahal barangkali, yang tak berubah bukanlah kehendak-Nya, melainkan keengganan kita untuk percaya bahwa jawaban Tuhan tidak selalu hadir dalam rupa yang kita inginkan—tetapi selalu dalam bentuk yang kita butuhkan.
Maka siapa yang keliru?
Tuhan yang memberi tanpa henti,
atau kita
yang tak pernah benar-benar siap menerima?
@aksarajiwa92
Beberapa hal ditakdirkan untuk datang terlambat, lalu beberapa orang cenderung mundur dan kalah dalam menghadapi keterlambatan. Padahal hasil akhirnya bukan tentang adu cepat dan siapa juaranya. Ini adalah tentang siapa yang paling siap menikmati dan mengais hikmah di setiap perjalanan yang dilalui.
Karena sejatinya hal yang diperlambat atau dipercepat, ujungnya tetaplah takdir Allah. Tidak ada yang salah dari keterlambatan, yang terpenting selamat di perjalanan dan sampai di tujuan. Menikmati perjalanan justru akan menambah pengalaman, memetik hikmah yang disajikan menambah syukur berkepanjangan. Jadi, berikhtiar, berdoa, jalan di tempat, atau mundur itu pilihan.
@aksarajiwa92
Kamu terjatuh dalam jurang penantian bukan karena kesalahan pertemuan
Tetapi karena tetap diam menanti saat harusnya sudah beranjak pergi.
(Bahagia Menanti Meraih Cinta Sejati - Arif Rahman Lubis)
@aksarajiwa92
Catatan dari Musim Pertama
Segala hal bermula dari awalan,
awalan adalah kosong
yang harus disemai benih,
disirami dengan sabar,
dirawat dengan doa.
Tak semua tumbuh seketika,
sebab akar perlu waktu mencengkeram makna.
Pada hampar mula itu,
benih tak segera bernama.
Ia memilih tenggelam,
belajar percaya pada gelap.
Disirami hari-hari yang sama,
dipelihara oleh waktu dan sunyi,
akar tumbuh tanpa suara—mengubah tanah,
sebelum mengubah rupa—
Ketika tunas menyapa cahaya,
segala yang disemai genap pada waktunya;
diri
berdiri
di musim pertamanya,
menanggalkan musim lalu tanpa nama
@aksarajiwa92
Jika kita merasa bahwa semua hal yang kita lakukan tak beres jua dan seakan seisi dunia menjadi penghalangnya, tidakkah kita curiga bahwa yang berantakan sebenarnya isi kepala dan dada kita?
Jika kita merasa bahwa semua anugerah dan capaian kita tak pernah memuaskan dahaga jiwa, segalanya terasa
fatamorgana hampa, tidakkah kita curiga bahwa yang kosong sesungguhnya adalah hati kita?
Jika kita merasa bahwa doa-doa kita tak berjawab dan lambat diijabah, tidakkah kita curiga bahwa kita sendirilah yang telah menyumbat jalan karunia dengan dosa-dosa?
Jika kita merasa bahwa tetiba orang- orang baik menghindar dan menjauhi kita, tidakkah kita curiga bawa maksiat kitalah yang menyebabkan Allah menyisipkan setitik benci ke dalam hati mereka tanpa disadari?
Dan jika kita merasa bahwa semua orang bermasalah dengan kita, tidakkah kita curiga bahwa sejatinya diri kita inilah masalahnya?
(Salim A Fillah)
Kita tidak pernah tahu seberapa kerasnya usaha orang lain untuk ridha dan mencintai takdirnya :). Maka, semoga Allaah Ta'ala senantiasa menjaga lisan kita dari ketidaksengajaan mengusik keridhaannya :).
Beberapa hal ditakdirkan untuk datang terlambat, lalu beberapa orang cenderung mundur dan kalah dalam menghadapi keterlambatan. Padahal hasil akhirnya bukan tentang adu cepat dan siapa juaranya. Ini adalah tentang siapa yang paling siap menikmati dan mengais hikmah di setiap perjalanan yang dilalui.
Karena sejatinya hal yang diperlambat atau dipercepat, ujungnya tetaplah takdir Allah. Tidak ada yang salah dari keterlambatan, yang terpenting selamat di perjalanan dan sampai di tujuan. Menikmati perjalanan justru akan menambah pengalaman, memetik hikmah yang disajikan menambah syukur berkepanjangan. Jadi, berikhtiar, berdoa, jalan di tempat, atau mundur itu pilihan.
@aksarajiwa92
Sedikit atau banyak hanyalah perihal kuantitas yang tak ada habisnya untuk diperhitungkan, namun terkadang yang sering terlupakan adalah nilai rasanya, yaitu nilai tentang cara bagaimana kita mengikhtiarkan, menerima, dan membaginya.
@Aksarajiwa92
Pict by tumblr
Sebelum terbang, kupu-kupu hanyalah kepompong dan sebelum menjadi kepompong ia hanylah ulat kecil yang terlihat mustahil—suatu hari nanti akan memiliki sayap dan bisa terbang.
Mengayuh mimpi ini, bukanlah hal mudah. Tanpa pertolongan Allah untuk melalui banyak kesulitan, tanpa doa-doa penuh ketulusan dari setiap hati tatkala dipanjatkan, tanpa dukungan dari keluarga dan setiap orang baik di balik layar kehidupan—segalanya mustahil terselesaikan sendirian.
Sebuah Surat, di tulis pada November 2021:
Kesembuhan adalah bentuk keajaiban dari-Nya. Kesembuhan datang dari pertolongan dan kebesaran Allah melalui perantara diri manusia yang sejatinya adalah makhluk lemah dan penuh kekurangan.
Setiap ucapan terima kasih yang kau terima, semoga menjadikan hatimu selalu bersyukur atas setiap aliran nikmat-Nya.
Setiap kesembuhan yang tampak mustahil namun seketika menjadi nyata, semoga membuatmu semakin tunduk dan taat pada-Nya.
Setiap kematian yang kau saksikan dengan kedua matamu, semoga membuatmu semakin sadar bahwa kelak kau pasti kembali kepada-Nya.
Setiap penyakit berat yang rasanya mengiris hatimu saat menyakiskannya. Semoga membuatmu semakin bermuhasabah dan memohon ampun atas segala keliru dan cela.
Semoga apapun kelebihan yang Dia titipkan padamu, tidak menjadikan dirimu angkuh. Tidak menjadikan dirimu merasa paling pintar dan besar hati. Sebab siapalah dirimu tanpa daya dan rahmat dari-Nya?
Semoga apapun kemampuan yang Dia titipkan padamu, tidak membuatmu melupakan bahwa itu semua terjadi karena karunia-Nya.
Kelak apapun gelar yang menyertai namamu, gelar itu tidak di bawa pulang. Namun setiap amanah dibalik gelar itu, tak satupun luput dari pertanggung jawaban yang begitu teliti.
Selalu libatkan Allah dalam setiap keputusan-keputusan yang kau ambil dan semoga setiap keputusan itu membawa kebaikan dan tidak menciptakan kedzoliman untuk orang lain atau dirimu sendiri.
Kamis, 28 Juli 2022 06.31
Tulisan: Mereka yang Mendahului Takdirnya
“Tingkat akhir dari usaha hati seseorang adalah saat ia lebih dulu ikhlas, menerima dan menyerahkan semua keputusan kepada-Nya, jauh sebelum Allah memberikan jawaban dan takdir akhir untuknya. Jawaban iya atau tidak bukanlah hal yang penting baginya, sebab yang ia cari adalah keberkahan”
“Bukankah hidup tanpa keberkahan itu seakan manusia yang berjalan tanpa hati? Ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan benar. Bukankah hidup tanpa keberkahan itu seperti manusia yang berjalan tanpa jiwa? Raganya menikmati tapi ruhnya mati.”
Bukan ia ragu pada usahanya, bukan pula ia berlepas diri dari mengencangkan ikhtiar dunia, tapi ia sadar bahwa tidak mungkin memasuki urusan yang bukan wilayahnya. Ia jauh lebih dulu berprasangka baik sebelum niat di hatinya berbuah menjadi perbuatan.
Tidak banyak orang sepertinya, karena hari ini kebanyakan kita tidaklah siap dan mau menerima hasil akhir dari apa yang kita usahakan bertahun-tahun lamanya. Kita lupa soal pemegang hasil akhir adalah Dia, bukan tangan dan relasi manusia.
Melangitkan rasa dengan doa. Iya, untuk kebaikan bersama, aku dan kamu.
@jndmmsyhd
Tentang Maaf(ku)
Memaafkan barangkali tentang berdamai dengan keadaan. Memeluk ikhlas sedalam mungkin sembari mengulum rela pada semua hal yang sudah menempa.
Menjadi terbiasa atas apa-apa yang menoreh luka. Menghapus dendam walau berulang kali harus menguatkan diri untuk menerima segalanya dengan lapang dada.
Memaafkan barangkali proses paling sulit bagi sebagian kita. Ia adalah proses berdamai tanpa tapi. Proses yang tidak jarang justru menghadirkan benci.
Tapi lagi-lagi. Tidak semua maaf berarti menyembuhkan. Tidak semua maaf berarti kembali bersinggungan.
Adakalanya kita hanya perlu memaafkan tanpa harus memulai segalanya seperti awal perkenalan.
Adakalanya kita hanya perlu memaafkan tanpa perlu lagi melibatkannya dalam perjalanan.
Adakalanya kita hanya perlu memaafkan tanpa perlu lagi mengetahui perihal langkahnya dalam mengarungi kehidupan.
Sungguh memaafkan tidak pernah mudah. Ia adalah proses panjang yang dilalui berulang kali dengan ribuan jeda. Ia adalah proses berdamai dengan diri sendiri walau terlampau lelah.
Dan aku memaafkanmu. Jauh sebelum kalimat-kalimat penyesalan kau suguhkan di hadapanku.
Aku memaafkanmu. Tapi untuk merencanakan sebuah temu, aku tidak pernah mau.
11:41 p.m || 21 Mei 2021