Watch ""Fear of Allah" meaning - Mufti Menk" on YouTube
#islamicvideo #2022 #drugaddiction #bayan#maulanatariqjameel #noumanalikhan #muftitariqmasood #muftimenk #trending #drisrarahmed #mufti #muf
cherry valley forever
No title available

tannertan36

Andulka
todays bird

PR's Tumblrdome
noise dept.

No title available

oozey mess
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Origami Around

Janaina Medeiros

JBB: An Artblog!
taylor price
I'd rather be in outer space 🛸
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Game of Thrones Daily

❣ Chile in a Photography ❣

JVL

No title available

seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from Singapore

seen from United States
seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from Spain
seen from United States
seen from Switzerland
seen from United States

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Singapore

seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands

seen from T1
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
@aleumdaun13
Watch ""Fear of Allah" meaning - Mufti Menk" on YouTube
#islamicvideo #2022 #drugaddiction #bayan#maulanatariqjameel #noumanalikhan #muftitariqmasood #muftimenk #trending #drisrarahmed #mufti #muf
One of the most dangerous and destructive traits anyone can have is arrogance. When you feel you are better than someone else for any reason, your heart quickly fills with pride which leads to rude and careless behavior.
This superiority complex can come in many forms. It could result from exceptional intelligence where you start looking down on people who are not as well read as you are.
Realize that no matter how smart you are, there will always be individuals who are smarter. Also, if you’re not humble and you use your intelligence as a way to gloat, Allah could take it away instantly.
The arrogance could arise from feeling superior to others due to religiosity. You start feeling better than others because of your prayers, the way you dress or the worship you do.
This form of arrogance is truly baffling to me because if you are a true servant of Allah and you are doing the worship for the right reasons, which is to cleanse your heart, then there should be no remnants of ego. Looking down on others for not being religious enough is absurd because the guidance comes from Allah and if you’re not grateful and you use it as a way to judge others, then you can easily be misguided.
Another form of arrogance comes from beauty, wealth and status. You may feel that you are special for having certain privileges. These ‘privileges’ are tests in disguise and if you’re not careful to use your blessings in the right way, then they could lead to your destruction.
The worst kind of arrogance is when you feel nothing you read or hear applies to you. You somehow believe that you’re always right and it’s everyone else who’s messed up.
The way to combat all these forms of arrogance is:
1. Attribute any gift or blessing to your creator and not to yourself.
2. Refrain from feeling superior to anyone regardless how much better you are in any particular area.
3. Stay humble and don’t allow yourself to be self-righteous.
4. Spend time with people who are genuinely humble. Other people rub off on us whether we like it or not.
5. Stop judging everyone! Focus on yourself and only be obsessed with being a better version of yourself - NOT seeing the flaws of others.
6. Know that any good deeds that you do is a mercy from Allah and to keep this blessing you have to show humility.
7. Have the Prophet Mohammad (peace and blessings upon him) as your ultimate role model and exemplify your understanding of the religion through your beautiful character.
8. Regardless of how many arrogant people get ahead and look successful, don’t fall for the trap of the shaytan. Remember that his downfall was arrogance and he wants every single one of us to be infected with the same disease that wiped him out.
-Haleh Banani
What is jannah (A thread 🧵)
Grades of Jannah -1. Jannatul Maawa,2. Darul Maqaam,3. Darul Salaam,4. Darul Khuld,5. Jannat-ul-Adan,6. Jannat-ul-Naeem,7. Jannat-ul-Kasif,8. Jannat-ul-Firdaws
Jannah is made with -1. Bricks of Gold and Silver. 2. Its cement is of perfumed Musk. 3. Its chips are pearls and Yaqoot. 4.Its sand is Zafraan.
These will be whiter than milk, sweeter than honey and softer than butter and free Of seeds. The stem of these plants will be made up of gold and silver. There will also be gardens of grapes.
There will be gardens in Jannah. Every garden will have the length of about 100 year's journey. The shadow of these gardens will be very dense. Their plants will be free of thorns. The size of their leaves will be equal to ears of elephants.
The people of paradise will have all that they desire. One step into Jannah and they will remember no pain. They will say they never suffered, they will say they never cried.
When the people of Jannah will reunite, they will remember all the times they spoke about Jannah in this world. They'll look back and laugh, at how short life was, and then smile, because beautiful is their final abode.
A dip in Jannah -Oh how much we long for that moment. The moment where we reunite, we hug our loved ones once again. We forget about all the pain, and thank Allah for all the tests!
May Allah grant all of us Jannah Ameen 🤍
Kamu merasakan lelah. Sebab tujuan mu bukanlah surga. Namun, dunia. Dunia memang melelahkan sayang. Tidak ada penikmat dunia yang benar-benar merasakan kesenangannya yang abadi. Tidak ada.
Sebab dunia ini hanya sementara, dan akhirat selamanya. Itulah sebabnya engkau merasakan lelah yang begitu dalam. Sampai-sampai engkau ingin sekali merasakan cukup, dan menyerah saja.
Tidak ada yang mengejarmu, kamu berlari sebab kamu sendirilah yang merasa tertinggal jauh atas pencapaian orang-orang disekitarmu.
Saat engkau merasa tertinggal jauh, jauh sekali dari teman seusiamu. Selalu saja engkau menyalahkan dirimu sendiri dan keadaan yang tidak pernah berpihak baik kepadamu. Kamu selalu menyalahkan diri mu sendiri atas ketidakmampuan yang belum kamu miliki. Pada akhirnya hanya lelah yang kamu dapat. Pada akhirnya hanya sia-sia saja yang kau rasakan. Kosong, tak bernilai apapun.
Ada yang terlupa dari apa yang kau upayakan selama ini. Baik sangkamu kepada Allaah. Tak pernah kau sertakan dalam upayamu menggapai apa yang sedang kamu tuju. Perasaan mu tak pernah tulus mengantarkanmu pada setiap doa-doa yang kau panjatkan kepadaNya. Hatimu tidak pernah benar-benar hadir saat kau meminta.
Jangan demikian wahai diri. Jangan demikian. Tak pantas kau bersikap demikian. Tak akan merubah apapun. Sikapmu yang anggkuh, tak akan merubah keadaan menjadi lebih baik. Justru itu akan menjerumuskan mu pada semakin kerasnya hatimu. Yang mana akan membuatmu semakin jauh dan jauh dariNya.
Pertolongan Allaah itu dekat, namun kamu selalu membuat hal itu semakin jauh dari hidupmu. Sebab angkuh dan tak mengahambanya dirimu kepada Allaah. Melembutlah wahai diri, melembutlah. Kembalilah kepada fitrahmu, fitrah manusia yang sangat membutuhkan Rabbnya.
Don't hide from your pain.
Go inside. Listen to it.
Break into it and then break through it.
You will.
Rise through it
and then wear your scars like badges of honor.
Let the scars always remind you, not of your weakness, but of your strength.
Of what you went up against.
And won.
You will meet Him.
We all will.
And when you do, the pain will be gone.
These moments will be small.
But what you gained will be big.
It will be big.
The broken of this life will be kings and queens then.
Your pain will have become just another jewel in your crown.
_______
Yasmin Mogahed
Baru Terungkap, Ternyata Imam Syafi'i memiliki Murid "Slow Learner" dan Begini Cara Mengajarnya.
Sangat mengesankan pada apa yang ditulis oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, bagaimana cara Imam Syafii, sebagai guru mengajar salah satu muridnya yang sangat lamban dalam memahami pelajaran.
Sang Murid itu adalah Ar Rabi’ bin Sulaiman, murid paling slow learner. Berkali-kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi Robi’tak juga faham. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya,
“Rabi’ Sudah paham belum ?”
“Belum faham, ” jawab Rabi’.
Dengan kesabaranya, sang guru mengulang lagi pelajaranya,lalu ditanya kembali, ”sudah faham belum? Belum."
Berulang diterangkan sampai 39x Rabi’ tak juga paham.
Merasa mengecewakan gurunya dan juga malu, Rabi’ beringsut pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Selesai memberi pelajaran Imam Syafii mencari Robi’, melihat muridnya. Imam Syafi'i berkata, ”Robi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya !”.
Sebagai seorang guru, sang imam sangat memahami perasaan muridnya, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara privat.
Sang Imam mengajarkan Rabi’ secara privat, dan ditanya kembali, ”Sudah paham belum ?"
Hasilnya? Rabi’ bin Sulaiman tidak juga paham.
Apakah Imam Asy-Syafi’i berputus asa?
Menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh? Sekali-kali tidak. Beliau berkata,
”Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”
Mengikuti nasihat gurunya, Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat berdoa kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar.
Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.
Tahukah kita?
Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i dan termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya.
Sang slow learner bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar.
Inilah buah dari kesabaran Imam Asy-Syafi’i dalam mengajar dan mendidik.
Adakah kita, para guru dan orangtua bisa meneladani kesabaran Imam Syafii dalam mengajar ?
Berapa kuat kita meyakini bahwa tidak ada anak dan murid yang bodoh?
Sudahkan kita, para guru dan orangtua mendoakan anak-anak dan murid didik kita agar difahamkan pelajaran ?
Sudahkan kita, para guru dan orangtua Memotivasi anak murid kita agar gigih berdoa kepada Allah Taala? (AP)
Copas
Sumber :
1.Kitab Thabaqat al-Fuqaha’ Syafi’iyyin juz 1 karya Ibu Katsir ad-Dimasyqi, hlm. 143-144.
2. Kitab Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra juz 2 karya Abdul Kafi as-Subki, hlm. 132-135.
3. Ensiklopedia Imam Syafi’i karya Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam al-Indunisi, hlm. 553
Ketika di zhalimi, lalu merasakan sakit itu manusiawi. Seperti halnya ketika kita terluka, tidak akan langsung sembuh. Namun jangan sampai memelihara rasa sakitnya, karena orang yang bertaqwa adalah hati yang selalu dijaga agar mampu memaafkan dan tidak membalas dengan keburukan yang sama.
Memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan zhalim seseorang, namun untuk membersihkan hati kita, utamanya dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta'ala. Barangkali Allah Ta'ala mengampuni dosa-dosa kita pun sebab kelapangan hati dalam memaafkan.
Ibaratnya kita dipanah sampai terluka, dan kita ngotot tidak mau anak panah tersebut dilepaskan dari tubuh kita, bahkan menolak pengobatan sampai kita tahu alasan orang tersebut memanah kita, atau bahkan ingin membalas rasa sakitnya dengan cara yang sama.
Sampai kapan mau membuang waktu dengan luka yang justru akan semakin memperparah keadaan diri? Mungkin saja hikmahnya akan kita temukan dikemudian hari, mungkin saja alasannya akan kita mengerti nanti.
Tetapi untuk saat ini kita selalu mempunyai pilihan untuk melepaskan anak panah tersebut dari tubuh kita, memilih mengakhiri luka nya, memilih sembuh lebih cepat, memilih menjalani hidup dengan penuh makna dan ketenangan, memilih menghormati apa yang telah Allah Ta'ala izinkan untuk terjadi, sebagai ujian.. atau mungkin sebagai teguran?
Jangan lupa, bahwa hal terpenting didalam setiap kejadian adalah kebersediaan hati untuk belajar meluaskan kesabaran, membuka pintu maaf, introspeksi diri, dan kembalikanlah segalanya kepada Allah Ta'ala.
Bukankah kita mengimani bahwa dari setiap kebaikan dan keburukan akan mendapatkan balasan? Sebaik-baik pilihan adalah mengembalikannya kepada Allah Ta'ala. Sehingga perhitungannya bukan lagi antara dia dan dirimu, tetapi antara dia dan Rabb nya manusia.
Pemaaf adalah sifat yang sangat terpuji yang Allah Ta'ala sifatkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Karena beratnya amalan ini, sehingga Allah Ta'ala menyebutkannya di dalam Surat Ali Imran ayat 133-134, tentang ciri orang bertaqwa yang akan mendapatkan ampunan dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
Di dunia ini ada orang yang dihadirkan Allah Ta'ala untuk mengenalkan kita pada rasa sakit, tentu hikmahnya ada. Agar kita dapat mengambil pelajaran darinya, dan mendapatkan kemuliaan darinya jika kita sikapi dengan kesabaran dalam memaafkan.
Namun hal ini jangan dijadikan alasan ataupun dijadikan pembenaran bagi siapapun untuk berbuat zhalim. Sebab pahala yang ia miliki akan diberikan kepada orang² yang ia zhalimi, jika ia tidak memiliki amal kebaikan, atau pahalanya telah habis, maka dosa orang yang di zhalimi akan ditimpakan kepada orang yang menzhalimi, hingga ia dilemparkan ke neraka. Inilah yang disebut dengan orang yang muflis. Wal'iyadzubillah 💦
Jangan memilih sesuatu yang tak ingin kamu miliki seumur hidup
Kalau kamu sudah sadar bahwa kamu tidak yakin, jangan diambil. Kalau kamu sadar bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan untuk bisa diterima, jangan diterima. Kalau kamu sadar bahwa ada hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kamu pegang, apalagi itu, tolak! Jangan terlalu mudah berkompromi pada dirimu sendiri, pada hal-hal yang memang ingin kamu genggam seumur hidupmu. Jangan terlalu berbaik hati, memilih karena kasihan. Jangan terlalu polos, menyangka bahwa segala sesuatu itu nanti bisa berubah. Tapi, kamu tak bisa mengendalikan sama sekali berubahnya ke arah mana, semakin baik, atau semakin rusak. Kalau kamu sadar bahwa sesuatu yang ingin kamu sertakan dalam hidupmu adalah sesuatu yang bernilai, jangan pernah kamu menurunkan nilainya. Kalau kamu sadar bahwa kamu seberharga itu, jangan pernah merendahkan harga dirimu. Jangan memilih karena kamu tidak punya pilihan. Buatlah pilihan itu. ©kurniawangunadi
With divorce rates in the Muslim community continuing to rise along with a terrible epidemic of pornography driven by an aggressively pervasive digital world, marital intimacy among many other things is on the decline.
Couples are often so wrapped up in the increasing demands of life that they are prone to forget each other even when they occupy the same space. Their minds and hearts have long drifted apart though their bodies remain.
Intimacy must be restored at once but it cannot be forced. It must be reintroduced with consistent daily practice and effort. Simple acts of kindness and love can help reestablish a connection between even the most distant couples.
Connecting with the mind, body, and most importantly soul will help bring back the warmth and thaw a marriage that has frozen over time.
1. Mind Intimacy involves talking, connecting, listening, understanding.
2. Body Intimacy involves sensing with tender and gentle loving touch the reality and form of another, and allowing the transfer of energy between two souls encased in the body to happen.
3. Soul Intimacy involves bearing witness to pure selfless love for another and allowing it to emerge with full transparency and vulnerability before the Most Compassionate, Most Loving, and All-Hearing.
-Hosai Mojaddidi
“Aku menjaga diriku baik baik bukan semata-mata demi kelak pantas bersamamu, tapi memang Rabb-ku memintaku begitu.”
— Hingga bertemu denganmu di dunia atau tidak, bukan lagi menjadi kekhawatiranku.
Ya Allah, aku menjaga diriku baik-baik, membatasi diri dari laki-laki asing, serta tidak bermudah-mudahan dengan mereka, karena ingin menaati-Mu. Aku ingin memuliakan diriku sebagaimana diri-Mu telah memuliakanku. Maka ya Robb, kalau aku sedang khawatir prihal pasanganku di masa depan, tenangkanlah aku dengan keyakinan bahwa Engkau tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran seorang hamba.
Darurat Keikhlasan
"Apapun yang terjadi di ujung usaha kita, semuanya akan kita respon dengan hamdalah kalau sejak awal kita punya keikhlasan."
Tidak akan ada sesal yang menyempitkan jiwa. Tidak akan ada murung yang menyusutkan muka. Sebab sejak awal amal itu dibangun dengan ikhlas dan ilmu.
Sepertinya kita perlu berhenti sebentar untuk merenung. Membaca lagi amal-amal kita yang sejak awal kita lakukan, kemudian bertanya: apakah sejak mula kita jadikan ikhlas sebagai pondasi utama?
Apalagi di zaman serba zahir ini. Apa-apa ditampakkan bahkan dengan bangga direkam. Makin besar tantangan untuk menjaga ikhlas. Karena rival terbesarnya adalah pamer dan sum'ah; senang jika dilihat dan senang jika didengar.
Mungkin itu kawan yang membuat kita sering lelah melihat seliweran media sosial kita. Lelah karena banyak orang terlihat berkompetisi untuk menyatakan kehebatannya. Lelah juga karena akhirnya kita pun kena cipratan noda itu, lalu ikut-ikutan mengklaim nikmat sebagai hasil dari peluh keringat kita semata.
Walaupun sebenarnya, aku yakin banyak orang tak berniat segelap itu ketika berselancar di jagat maya. Namun pikiran kita keburu melihat dari tampak luarnya, dan itu jadi masalahnya.
Itu yang membuat kita galau minta ampun kalau pencapaian kita tak terjadi. Yang membawa kita khawatir terus jika rencana kita tak sesuai harapan. Karena apa? Ya karena ikhlas itu hilang. Kita tidak siap untuk rela. Kita tidak siap untuk berbenturan dengan takdir yang disiapkan buat kita.
Berat jadinya hidup tanpa ikhlas itu. Seperti yang ditulis Ibnu Qayyim Al Jauziyyah suatu hari...
العمل بغير إخلاص ولا اقتداء، كالمسافر يملأ جِرابه رملاً، يثقله ولا ينفعه، الفوائد ص 49
"Sebuah pekerjaan tanpa ikhlas dan meneladani Nabi ﷺ, ibarat musafir yang pergi jauh tapi mengisi kantong dan bawaannya dengan pasir; memberatkan dan tak memberi manfaat."
Wal iyadhu billah...
Rabu, 3 November 2021
Ada yang akhirnya memilih mengubur masa lalunya yang kelam dalam-dalam. Entah itu tentang ia yang pernah melakukan banyak maksiat di masa lalu, mengalami tekanan dari keluarganya, perkara ia pernah dijauhi oleh teman-temannya, dibully, dan hal semacamnya. Semuanya masih lekat membekas dalam ingatan seolah baru saja terjadi kemarin.
Ia menyembunyikannya dari semua orang. Menyembunyikan luka yang dulu sempat berteriak lantang. Memilih hanya Allah yang tau betul siapa dirinya. Namun ia tau Allah membiarkannya melalui hal-hal itu karena Allah ingin ia belajar.
Ia sadar Allah tengah mengabulkan satu-persatu doanya yang dulu ia terus panjatkan. Ia tau kalau saja ia tak mengalami hal-hal berat itu, barangkali ia tak akan pernah tau bagaimana rasanya harus bersabar, bagaimana rasanya harus bergantung kepada Allah, bagaimana ia harus menghargai setiap orang, bagaimana hatinya harus terus melapangkan maaf kepada orang lain, dan memandang dunia tak hanya dari sehelai sayap nyamuk.
Ia sadar masa-masa beratnya dulu yang membentuk karakter, pemikiran, dan persepsinya saat ini. Ia bersyukur dan berterima kasih kepada Allah karena tengah menguatkannya sampai akhir. Lebih tepatnya ia berterima kasih karena Allah telah memilihnya sebagai hamba yang mau belajar dan terus belajar.
Semua pemikirannya akhirnya bermuara pada kesadaran kalau dunia betul-betul hanya tempat memupuk amal dan ujian bagi orang-orang yang beriman.
- repost tumblr terusberanjak
Menikahlah dengan penuntut ilmu yang berusaha mengamalkan ilmu
Banyak di antara manusia yang semangat dalam belajar ilmu agama tetapi tidak disertai adab, terkadang ilmu itu tidak dibarengi dengan amal perbuatan. Padahal tujuan ilmu itu supaya kita bisa beramal dengannya.
Maka, pilihlah dia lelaki yang paham urgensi ngaji, semangat menuntut ilmu, dan berusaha mengamalkannya.
Dia tahu adab kepada wanita...
Dia tahu bahwa Islam mengajarkan agar suami memuliakan istrinya...
Berbuat baik
Tidak kasar
Tidak main fisik
"Karena jika menikah itu salah pilih, yang ada setiap hari hanya galau."
Nasihat Ustadzi @ustadzaris
Galau karena setiap hari makan hati, melihat kelakuan pasangan yang ternyata tidak menampakkan ilmu dan adab Islam.
Lelaki yang paham ilmu agama dan berusaha mengamalkannya, adalah dia yang mudah membantu pekerjaan istri di rumah. Tangannya tidak berat untuk membantu mencuci piring, membantu di dapur, membantu mencuci baju dan banyak kegiatan rumah lainnya.
Diluar, di tempat kerja dia gagah dan wibawa.
Di dalam rumah dia adalah sosok yang lembut lagi penyayang, tutur katanya manis penuh kasih sayang.
Sekali lagi, menikahlah dengan seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya.
Karena lelaki seperti itulah yang tahu bagaimana memperlakukan wanita, memperlalukan istrinya
📝 tulisan : dr. Ferihana Ummu Umamah, semoga Allah selalu menjaga beliau dan melimpahkan keberkahan kepada beliau. Aamiin.
May Allah grant me this rizq
"Tazkiatun Nafs" (Penyucian Jiwa)
Salah satu ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Allah Ta'ala menyebutkan tazkiyatun nafs bersama dengan ilmu. Di akhirat nanti kita akan ditanya Allah Ta’ala mengenai hal ini, karena Allah Ta’ala hanya menerima manusia yang datang kepadaNya dengan hati yang selamat (lihat surah Asy-Syu'araa ayat 87-89).
Dan Allah Ta'ala pun akan bertanya kepada hati, sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Al-Israa ayat 36.
Firman Allah Ta'ala:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36)
Setiap anggota badan yang disebutkan dalam ayat di atas akan ditanya pada hari Kiamat. Hatinya akan ditanya tentang apa yang terlintas, apa yang dipikirkan, dan apa yang diyakininya. Pendengaran akan ditanya tentang segala hal yang didengarnya. Dan seterusnya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir.
Bagi para pemula yang ingin mempelajarinya dirumah, disamping mendapatkannya dari kajian, baiknya berhati-hati juga dalam memilih buku/kitab tentang Tazkiatun Nafs.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah adalah salah satu Ulama yang banyak menulis kitab tentang tazkiatun nafs, selain ilmu Tafsir, hadits dan Ushul Fiqh serta Qawa`id Fiqh.
Namun kitab-kitab tentang tazkiatun nafs dari beliau pun sebaiknya dipelajari secara bertahap, bisa dimulai dengan kitab Al-Fawaid, lalu lanjut ke Ighatsatul Lahfan, dan ad-Daa'wa ad-Dawaa'. Jangan langsung membaca kitab Madarijus Salikin.
Kenapa?
Karena tanpa bimbingan seorang guru, sangat dikhawatirkan tidak mampu membedakan hadits-hadits maudhu dan dhaif yang ada didalamnya.
Lain halnya jika telah membacanya yang di mulai dari Al-Fawaid dan seterusnya seperti yang saya sampaikan diatas, maka mungkin bisa lanjut membaca Madarijus Salikin.
Catatan: Sebaik-baiknya tetap dalam bimbingan. Barakallahu fiikum.
Ada 4 langkah utk mengetahui kekurangan kita.
Duduk dg para ulama, alim yg mengetahui ttg penyakit jiwa.
Kawan yg baik, jujur. Bukan yg bekepentingan. Bukan pada saat ketika butuh saja.
Manfaat kritikan² dari org² yg memebenci kita. Sbg sarana utk memperbaiki diri kita.
Bersosialisasi dg masyarakat.
BarakaAllaahu Fiikum
Pengaruh Pasangan
Dulu sedemikian ketat menjaga diri, menghindari perkumpulan ghibab dan musik, memakai hijab dengan warna gelap, khimarnya pun menjuntai sampai bawah.
Seiring ia menikah, hidup bersama seorang laki-laki asing. Penampilannya banyak berubah, mulai meninggalkan hal-hal yang utama dalam ibadah, serta kini bermudah-mudahan dalam musik.
Allahu musta'an.
Pengaruh pasangan sedemikian besar terhadap keterjagaan amalan shalih. Sehingga janganlah tergesa-gesa menikah hanya karena usia. Menikahlah dengan yang agamanya baik sesuai pemahaman salafus shalih, akhlaknya baik, serta dengan yang mampu membimbing, dan membersamai saat belajar.
Karena sekedar berjenggot, celananya cingkrang, tidaklah serta merta menjadikannya shalih seketika.
- Suci Anggraeni || @sucianggr
Laa quwwata illa billahh, semoga Allah jagaa:))
Mereka yang begitu menjaga dirinya dari pandangan makhluk adalah mereka yang menyadari bahwasanya cukuplah penilaian Allaah atas penjagaan diri mereka.
Dan seorang muslimah yang begitu menjaga dirinya, sungguhlah mengetahui hakikat penilaian Allaah lebih utama dibandingkan penilaian makhluk semata.
Dipuji memang menyenangkan, akan tetapi berkhidmat kepada ketaatan akan jauh lebih menenangkan. Jaga diri, jaga kehormatan ya.
- @andromedanisa
Dipuji memang menyenangkan, akan tetapi berkhidmat kepada ketaatan akan jauh lebih menenangkan. Jaga diri, jaga kehormatan my dear..:))