Tentang semangat, antara kecemasan serta mimpi, dan cemburu
Aku masih ingat betul bagaimana rasanya cemburu (dalam makna global). Sangat tidak menyenangkan, sangat mengganggu, dan bisa mengacaukan hidup (manusiawi). Hingga saat ini, tidak dipungkiri, saya masih sering merasa cemburu.
Solo.
Menyoal rasa dan perasaan, mungkin masa pubertas tidak akan indah tanpa cemburu. Aku menganggapnya sebagai suatu hal yang bisa dimaklumi. Misalkan, kamu jatuh cinta dengan seseorang kemudian ada orang ketiga yang dirasa mengganggu "rasa sukamu". Wajar dan pubertas adalah masanya, aku mengalami hal itu. Ibarat pepatah, cinta tanpa cemburu rasanya hambar, hal kecil sekalipun. Akan tetapi cemburu nyatanya tidak hanya tentang cinta. Itulah yang terjadi dan masih sering ku rasakan sampai saat ini.
Saya seorang pencemburu tetapi bukan seorang bucin (acronym slang: budak cinta). Saya cemburu bukan pada orang lain, tetapi pada kekasihku sendiri, terkait lingkungan dan lucky life. Saya tahu tulisan ini akan sangat pragmatis dengan ke-aku-an yang tinggi, tetapi semoga bisa diambil positifnya.
Singkatnya saat itu kelas 12 dan menyongsong bangku perkuliahan. Dia dari SMA ternama di Surakarta sedang saya ada di SMA swasta biasa. Dari hal itu sudah nampak jelas bagaimana perbedaan lingkungan akademik kami, sangat mendukung dan biasa saja. Di situ awal kecemburuan saya (cemburu positif, mungkin) dimana saya merasa tidak mendapatkan iklim dan situasi yang mendukung.
Kemudian, kami mendaftar satu kampus yang sama di Jogja lewat jalur SNMPTN Undangan (saat itu namanya gitu, sekarang entah namanya apa). Saya mendapati kenyataan kontradiktif, anda harus senang dan bersyukur karena kekasihmu berhasil lolos dan saya sendiri tidak berhasil menaklukkan UGM. Untuk pertama kalinya saya menangis di hadapan wanita yang bukan ibu saya. Kekasihku pun merasakan hal yang sama dan hanya bisa menenangkanku karena sadar kami tidak bisa apa-apa. Saat itu saya merasakan sedih, kecewa, menyesal, dan cemburu.
Dibalik rasa cemburu itu ada satu penenangan yang membuat saya cepat untuk bangkit. Saya merasa didukung sepenuhnya dan diberi semangat untuk mencari sekolah di Jogja (saat itu UGM hanya menerima SNMPTN Undangan dan Tulis). Menyemangati diri untuk kali kedua mencoba SNMPTN Tulis meskipun hasilnya nyaris dan itu menjadi kala dimana saya merasa jatuh (kedua kalinya). Dibangkitkan lagi, didukung kembali, disemangatkan kembali bahwa masih ada beberapa kampus di Jogja yang bisa dicoba. Kali ketiga dan keempat hampir bersamaan, UNY dan UIN, saya mendapati dua pilihan antara Sastra Inggris atau Ilmu Komunikasi. Menghadapi pilihan itu saya sangat kacau, hingga akhirnya kekasih memberikan masukan, sangat sepele tetapi tidak terfikirkan di kepala saya, yaitu melihat hasil tes psikologi untuk peminatan jurusan. Saya merasa sangat terbantu dan akhirnya memilih Ilmu Komunikasi. Kebahagiaan lain adalah selama berproses saya mendapatkan semangat yang tidak bisa diganggu gugat karena tujuan kita dapat bertemu di satu kota tercapai.
Jogja.
Kecemburuan ini masih berlanjut. Kesenjangan lingkungan kami sangat kontras (UGM dan UIN, coba bayangkan saja). Kekasih mendapat beasiswa sedangkan saya mati-matian mencari namun hasilnya nihil. Setelah kutelusuri ternyata tempatku tidak lebih banyak penawaran beasiswa yang tersedia. Kemudian, penempatan KKN dimana saya mengupayakan untuk dilokasikan di luar jawa dan kekasih berhasil mewujudkan izin dan berupaya untuk mewujudkan KKN di luar jawa (Palapasang). Namun lagi-lagi situasi dan lingkungan saya tidak memungkinkan karena kampus masih membatasi.
Kami punya keinginan sama, yaitu selesai dan wisuda bersamaan. Itu menjadi semangat yang sangat besar untuk saya. Namun kenyataannya prosesku belajar harus sedikit lebih lama. Saya harus menempuh program magang sedangkan kekasih tidak. Cemburu lagi? Ya, saya cemburu dan mulai cemas kalau saja kami tidak bisa wisuda bersamaan. Saya mencoba bersikap dewasa dan menutupi kecemburuan itu. Akan tetapi hasilnya kacau. Dari program magang saya merasakan bagaimana rasanya bekerja. Saya tidak memungkiri bahwa hanya sekedar telpon dan chat sangat menghibur ditengah pressure, sangat membantu dalam mengembalikan semangat.
Cemburu ini masih berlanjut dikala ketakutanku mulai nampak perlahan. Tepatnya tugas akhir (TA) , skripsi. Saat itu saya masih awam dengan beragam model penelitian dan akhirnya muncul rasa ingin mendalami ragam penelitian. Saya harus melakukan penelitian lapangan sedangkan kekasihku cukup dengan desk-work. Artinya secara finansial dan waktu saya membutuhkan lebih banyak hal daripadanya. Benar saja, disaat saya selesai magang dan mulai ngebut proposal kekasihku sudah mulai analisis data. Saya menyadari kejenuhannya saat menyusun TA dan menyadari diri tidak bisa membantu apa-apa, sehingga satu-satunya cara adalah "tetap ada" meskipun tidak jarang emosinya menjadi suatu hal yang sangat menggangguku. Namun dibalik itu saya melihat dan merasakan dorongan spirit yang coba diberikan padaku. Bersamaan itu ada satu kejadian yang memantapkanku padanya dan perlahan mulai menerima apapun tentang kekasih.
Kami terus berproses meskipun saya pernah pada merasa ingin istirahat dari hubungan kami (di dalam hati saya akan kembali). Kenyataannya saya tidak bisa dan mulai menyadari bahwa saya sangat membutuhkannya, kami saling membutuhkan satu sama lain. Bahkan hanya sekedar "ada" dan alibi untuk makan malam bersama. Meskipun dinamikanya berubah-ubah tetapi kami, khususnya saya sendiri, selalu meluangkan waktu untuk ada dan saling memberi motivasi.
Saya sedikit kacau karena takut perihal "wisuda" ini tidak terwujud. Benar saja, tiba-tiba sidang dan Agustus 2016 adalah jadwal wisuda. Saya kacau sampai dibuat bimbang antara harus datang untuk ikut memberikan selebrasi atas sidangnya atau tidak. Untungnya rekan lama dari Solo memaksa dan mengingatkan tentang siapa kita. Ku beranikan diri untuk datang dan mencoba tersenyum meskipun dalam hati merasa sedih (di beberapa foto terlihat jelas, saya tak bisa menutupi kesedihan itu). Pasca itu saya hanya diam termenung beberapa hari sampai pada akhirnya kekasih mengajak "makan malam" untuk gelar barunya. Lagi-lagi saya dihadapkan dengan perasaan 4 tahun sebelum ini, antara senang serta bangga dan sedih karena saya belum selesai. Namun di situ bukan perayaan tetapi menjadi malam motivasi untuk kami berdua. Sekembalinya dari makan malam, saya merasa sangat bersemangat untuk segera lulus.
Tidak terasa Agustus datang dan tiba harinya wisuda. Saya datang tapi dengan hati yang kacau dan sangat sedih (kami gagal wisuda bersama). Saya sempat enggan menemuinya karena jelas di situ ada ibuk dan adik, saya malu. Tapi akhirnya memberanikan diri dengan menutupi sedihku. Ibarat langit dan bumi, kekasihku hari itu sangat cantik dan sempurna dengan kebaya biru langit (warna kesukaanku waktu kecil, SS Lazio) sedangkan aku saat itu adalah gondrong dekil pakaian compang-camping (menyesal saat itu aku habis beli baju dengan warna senada dengan kebayanya namun sedang dicuci, nying). Namun aku tersadar, itu hanyalah bonus dan hiburan untukku. Kekasihku dan ibu perlahan memberikan semangat untuk segera selesai, dengan penuh harapan aku merasa sangat senang dan bersemangat.
Akhirnya selang dua bulan setelahnya saya berhasil menyelesaikan TA. Saya sengaja untuk tidak memberikan kabar ke siapapun terkait sidang saya, bahkan orang sekelas tidak banyak yang tahu. Saya berencana mengajak kekasihku makan malam setelahnya, niatnya sureprise, namun tidak berhasil karena diam-diam kekasihku berhasil memata-matai agendaku. Tak apalah, setelah itu aku sangat bahagia karena akhirnya aku bisa selesai tidak lama setelah kekasih wisuda (melihat waktu yang bisa saja lebih lama). Setelahnya, tujuanku adalah mendapat jadwal wisuda terdekat dan kami bisa berswafoto bersama dengan samir masing-masing.
Ternyata wisudaku digelar Februari 2017, sangat dan terlalu lama (nov-feb), padahal dengan segera kuselesaikan semua urusan revisi 24jam. Bersamaan itu kekasih sedang sibuk-sibuknya mencari pekerjaan. Saya melihat betapa sibuk dan stressnya dia, pun aku juga harus segera mendapat pekerjaan, apapun. Sesekali saya menghibur dengan mengiyakan keluar, menemaninya berkunjung ke Jogja, dan membahagiakan diri dengan beragam kegiatan perbucinan. Yang pasti kuusahakan adalah diriku "selalu ada" meskipun tidak bisa sepenuhnya (kebetulan saya mulai mendapat pekerjaan freelance untuk dua perusahaan di Jogja). Sebisa mungkin kutemani dan kuajak bertemu, mencuri waktu.
Pada akhirnya saya kembali cemburu karena kekasih tidak bisa hadir di acara wisudaku karena sudah pindah ke Jakarta. Saya menyadari kekasihku galau dibuatnya karena kami terpisah jarak. Sedih, jengkel, marah, kesal, sangat cemburu. Semua emosi negatif muncul sampai aku merasa tidak perlu datang ke wisudaku sendiri (ini sebenarnya yang aku inginkan). Namun dibujuknya aku, diingatkanlah aku, dimotivasilah aku oleh kekasih bahwa orang tuaku juga ingin melihatku mengenakan toga lengkap dengan samirnya. Di situ aku tersadar, ternyata kekasihku juga sudah mulai memikirkan orang tuaku juga, maka mulai hilanglah semua keraguanku untuk memilihnya dan mulai memantapkan tekad untuk menerima apapun kondisinya. Saya hadir di wisuda namun tidak ada satupun foto untuk mengabadikan momen itu (saya tidak berminat untuk berfoto), hanya foto prosesi dan foto dengan orang tua yang kualitasnya sangat payah.
Jakarta.
Akhirnya saya menyusul ke Jakarta, sepekan setelah saya wisuda akhirnya sah bekerja di Jakarta. Memang sulit bagi kami untuk bertemu (jakpus-jaksel) karena waktu bekerja kami yang sama-sama tidak tahu waktu (parahan saya sih). Tapi tiap akhir pekan (ketika saya tidak ada lembur, karena event sering di weekend) kami menghabiskan akhir pekan bersama. Meskipun saya pas-pasan dan masih berupaya mencari pekerjaan yang lebih proper saya sangat menikmati kebahagiaan kecil itu. Tidak ada rasa cemburu kecuali hanya salah paham kecil yang menjadi pupuk saja. Ya, saya rindu Jakarta bersamanya. Sampai akhirnya kami harus berpisah jarak kembali. Saya diterima studi lanjut dan kekasih penempatan di Lampung, sebuah provinsi dimana aku ingin sesekali ke sana.
Semarang - Teluk Betung dan Pandemi.
Agustus 2017, jarak memisahkan kita. Tidak banyak, tetapi saya sslalu mengupayakan yang terbaik semampu saya. Situasi memaksa saya untuk mengulur upaya mencapai financial freedom mengingat SRG-TKG butuh biaya tak sedikit. Di pikiranku hanya menabung untuk berkunjung. Saya meluangkan diri untuk selalu ada meskipun via telpon, begitu pula sebaliknya. Namun tidak pada kekasih, dia sangat bisa untuk mengunjungiku tiap pekan, tapi tak kusarankan (sering ngeyelnya) karena ada hal yang lebih besar untuk diprioritaskan dengan biaya yang cukup mahal. Disitu rasa cemburu muncul kembali, karena aku tidak bisa melakukan hal yang sama.
Singkat cerita saya wisuda, November 2019, saya tidak lagi cemas karena kekasih bisa hadir. Kecemburuan wisuda masa lalu terbayar lunas. Di lain sisi saya cemas untuk mencari bagaimana mulai bekerja dan karir mulai dari nol. Saya merasa mulai kekurangan afeksi baik dari rumah maupun dari kekasih. Saya menyadari rumah memang tidak mengeti sedangkan kekasih jelas sibuk dengan pekerjaan, saya memaklumi itu. Namun tak jarang di waktu luang kekasih memberi masukan, saran, motivasi, namun kami mulai ada lag tentang apa yang harus dilakukan pasca lulus. Sebenarnya kami satu pemikiran namun dayaku yang tidak mencukupi (financial problem). Saya cemburu dengan karirnya sedangkan aku masih memulai kembali.
Kami bisa menengahi perbedaan pemikiran kami, sampai akhirnya Pandemi Covid-19 membuat dunia krisis dan banyak usaha goncang, hingga tidak ada rekrutmen di tiap perusahaan. Saya kacau, sangat kacau. Saya mulai kehilangan arah, stress seberat-beratnya, dan untuk pertama kalinya saya depresi luar biasa dalam hidup. Saya pun mulai merasakan kudang afeksi, perhatian, dan demotivated. Kekasih juga mulai lelah pastinya karena saya tak kunjung mengikatnya. Terlihat jelas dari sikap dan momentum yang ada. Pun saya merasakan hal itu juga.
Hingga karangan ini selesai dibuat, saya masih belum mendapat pekerjaan. Saya cemburu karena semangat yang dulu kuupayakan tidak kurasakan. Banyak teman yang justru mendapatkan semangat berlapis namun tidak dengan saya. Kekasih menjauh dan menutup diri, saya hanya bisa meraba dan menduga saja. Kemampuan saya saat ini hanya bisa berdoa yang terbaik sembari mengupayakan apa yang bisa diupayakan. Masalah ini global, bukan hanya saya saja yang terkena dampaknya. Semoga semua lekas membaik dan apa yang kurencanakan dapat terwujud.
Maaf, akhir tulisan ini sumbang, karena saya tidak mau mengambil kesimpulan terlalu cepat.

















