Kenapa ada orang-orang cerdas, berbakat, hidupnya menderita?
Kenapa ada orang-orang dungu hidupnya penuh dengan fasilitas dunia?
Ada orang-orang yang sudah semaksimal mungkin berusaha tapi tetap tidak berhasil-berhasil juga.
Ada orang-orang yang tidak punya kapasitas, jangankan berjuang, jangankan no pain no gain, dengan mudahnya ia sukses.
Ada yang dari lahir hidupnya sudah kaya raya
Ada yang puluhan tahun kaki di kepala -kepala di kaki tapi tidak memiliki kekayaan seperti dia.
Bahwa effort manusia bukanlah segala-galanya.
Ada yang lebih di atas itu semua, yaitu kehendak-Nya.
"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir : 29)
Dengan itu kita kembali kepada filosofi spirit penghambaan, yang mengingatkan kita bahwa kita adalah seorang hamba.
Karena sehebat apapun kita, sejago apapun, effort setinggi apapun pada akhirnya kita hanyalah seorang hamba, yang salah satu tugasnya adalah menerima takdir Allah Azza Wa Jalla, itulah KESUKSESAN.
Seringkali yang membuat kita hancur adalah ketika kita menjadikan parameter duniawi sebagai tolak ukur kita dalam memandang sebuah kesuksesan.
Kalau kita yakin bahwa semua keringat, semua kerja keras, air mata itu tidaklah sia-sia.
Kita melakukan itu semua dalam rangka menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita yakini sebagai sebuah pahala, keberkahan dan mengharap akhirat, sesungguhnya kita telah sukses.
Jadikan segala sesuatunya diniatkan dalam rangka bertaqarrub kepada Allah, dan menjadi sarana menuju akhirat.
Apapun hasilnya, apapun yang Allah takdirkan, semuanya dikembalikan kepada Allah.
Dan pada akhirnya apa yang Allah takdirkan, itu semua adalah ujian.
Apakah kita masih beriman atau tidak?
Apakah masih mau berharap kepada Allah atau tidak?
Apakah kita akan lalai dengan segala fasilitas dunia yang Allah berikan dengan mudahnya?
Apakah kita akan hasad ataupun dengki kepada saudara kita yang Allah berikan kelebihan harta?
Apakah kita ikhlas dengan apa yang Allah takdirkan?
Apakah kita akan protes kepada Allah?
Apakah kita masih meyakini bahwa Allah adalah pemutus yang paling bijak?
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS. Al-Mulk : 2)
Karena yang mengatur itu semua bukan kekuatan kita, melainkan kekuatan Allah Azza wa Jalla.
*Nasihat dari Al Ustadz Hafizhahullah, dicatat dari sebuah talkshow via youtube.