Listo Filmo: September 2014
Hey-ya! I started to think that maybe it'd be good writing a review on the films I watched. Jadi, mulai September ini (and hopefully bisa lanjut terus sampai Desember, dan mungkin seterusnya) gue bakal nulis `semacam` review film. Semacam, karena bahasa gue kayaknya kurang bagus buat bener-bener disebut review. Anyways, enjoy!
1. Something Borrowed (2011) – rated 3.5
The so-dramatic story about a 30-year-old woman named Rachel who secretly falls for her bestfriend’s fiance, that’s what, to make it short. Mulanya dia memantapkan hati supaya tetap menyimpan perasaan daripada harus menyakiti si karib. Tapi ternyata Dex, this bestfriend’s fiance I mentioned, juga diam-diam suka sama Rachel, bahkan semenjak mereka masih jadi mahasiswa di Law School. Mulai dari sinilah, konflik muncul. Secara keseluruhan, sebetulnya film ini bagus, tapi saya pribadi sebagai penonton nggak cukup penasaran akan jalannya cerita. Gampang ditebak, begitulah. Komedinya dapet, banyak bagian yang bikin ngakak, sayangnya a little too cheesy. And to be honest, saya demen banget sama Colin Egglesfield (Dex), dan agak sedih pas tahu Colin udah 40 tahun. Padahal ya kenapa juga.
2. The Devil Wears Prada (2006) – rated 4.5
“Can you please spell `Gabbana`?”—salah satu quotes yang paling saya ingat. Menceritakan tentang lika-liku pekerjaan Andy Sachs, a small-town girl dengan selera fesyen yang cukup mengkhawatirkan, sebagai asisten pribadi di sebuah high-end fashion magazine. Tidak hanya terpaksa mengubah gaya berpakaiannya supaya bisa `diterima` di dunia kerja, Andy juga harus menghadapi tingkah laku bosnya, Miranda Priestly, yang sangat-sangat perfeksionis dan seringkali meminta yang aneh-aneh kayak skrip asli Harry Potter buat anak kembarnya. Tapi disitulah letak komedinya. Sisi fashion-nya juga berasa banget, kok, sampai beberapa kali roaming karena ada nama clothing line yang saya nggak tahu. Overall, thumbs up buat Anne Hathaway—you killed it!—dan Meryl Streep. Ada Caesar Flickerman juga, btw, yang tetep kayak orang Capitol.
3. Juno (2007) – rated 4.5
Lemme say, this is one of my favorite films. Plotnya beda dari kebanyakan film remaja yang pernah saya tonton, that’s one, dan karakternya sangat `real`, that’s two. Dua alasan ini sudah cukup bikin saya ketagihan pingin nonton lagi. Sederhana, sebetulnya, tentang seorang remaja putri yang langsung hamil by the first time she lost her virginity to a boy named Bleeker yang bahkan nggak banyak komentar tentang kehamilan dia, si Juno ini. Karena masih di bawah umur, juga merasa belum bisa mengurus bayi, akhirnya Juno memutuskan untuk cari orangtua angkat yang mau asuh anaknya. Manis, lucu, pokoknya bikin senyam-senyum sendiri, padahal kelakukan Juno ini slengean. Selain itu didukung juga sama soundtrack yang cocok, remaja-ish gitu. Jadilah saya makin cinta Juno. Go watch Juno and see how the magic works!
4. Easy A (2010) – rated 4.0
Highly recommended untuk ditonton pas sleepover sama temen-temen. Easy A menceritakan tentang seorang cewek, Olive Pendergast, yang secara (tidak) sengaja menyebarkan false rumor tentang ke-tidakvirgin-an dirinya ke seantero sekolah. Berita tersebut sampai di telinga seorang cowok gay yang kemudian meminta bantuan supaya Olive sudi berpura-pura hooking up with him. Setelah itu dia malah terkenal, dan banyak `order` aneh dari berbagai cowok. Lucu, humor di mana-mana, walau sayangnya entah kenapa saya merasa beberapa akting pemain kelihatan kurang natural. Tapi film ini layak tonton banget, kok. Saya berencana nonton ulang lagi malah. Dan, lagi-lagi, ada Stanley Tucci di sini. Why, don’t ask.
5. Love Actually (2003) – rated 4.0
It is basically a heartwarming Christmas-themed film to watch because it tells so much about love and family, tapi jadi kurang aman kalau ditonton bareng sama ayah-ibu, apalagi adik kita. Banyak adegan saru, alias sexual exposure (atau apa itu namanya), alias tidak lulus sensor. Biarpun gitu, Love Actually sebetulnya bagus banget. Touching, beberapa bikin senyam-senyum sendiri—pada takaran yang nggak berlebih. Pas, pokoknya. Keragaman karakter dengan kisah mereka masing-masing ternyata, menurut saya pribadi, tetap mudah dimengerti. Yang paling mengena di hati, sih, ceritanya si Liam Neeson sama Thomas Sangster (iya, di sini Thomas masih kecil dan imut sekali, thank you), tentang bapak yang menyemangati anaknya biar bisa menyatakan cinta ke teman sekolahnya. Sebagai tambahan, potterheads pasti notice beberapa wajah familiar di film ini. Salah satunya adalah… ((drum rolls)) Alan Rickman! Yay!
6. The Importance of Being Earnest (2002) – rated 4.5
Ngidam nonton drama komedi yang beda? Go watch this film! Digarap based on a famous play written by Oscar Wilde, tentang dua orang pria yang berusaha mengejar cinta sang pujaan hati dengan pura-pura menyamar, mengganti nama mereka jadi Ernest. Penuh konflik, kalau boleh dibilang, tapi pengemasannya apik dan jatuhnya jadi kocak. Colin Firth nggak bosen bikin orang ketawa juga, sih, ya. Setting waktu dan tempat menyesuaikan, yakni sekitar akhir abad 19, jadi kita bakal lihat para pemain yang pakai gaun aneh-aneh. Salutlah, padahal ini film saya tonton di kelas Modern Literature (biasanya film jaman dulu kurang oke, ‘kan…) dan berhasil ditonton tanpa sekalipun nguap. Achievement.
7. About A Boy (2002) – rated 4.5
Cocok untuk para fans Hugh Grant dan Nicholas Hoult. Yak, di sini Nick masih kecil dan mukanya bulat seperti bola bekel. Mungkin bakal pangling, at the first glance. Mereka berdua adu akting sebagai Will (perjaka tua yang selalu gagal dalam hubungan asmara) dan Marcus (a school boy yang di-bully gara-gara kepergok sering nyanyi di kelas dan hal-hal konyol lain). At one point they meet, lalu jadi kenalan, hingga akhirnya Marcus sering mampir ke rumah Will. Another heartwarming film, imho, sebab masih berkaitan dengan cinta dan keluarga. Di awal-awal sebenarnya bisa bikin nangis, tapi terus banyak komedinya juga. Bagus, jadi… well, masukin ke list film wajib-tontonmu!
8. The Maze Runner (2014) – rated 4.5
Best of the best! Di akhir bulan September lalu saya nonton The Maze Runner, akhirnya, setelah lama ngidam. Kalau ditanya reaksi, jelas hebring banget berhubung saya memang sangat-sangat-sangat suka sama Kaya Scodelario dan nggak sabar ingin lihat aktingnya. Saya sendiri belum baca bukunya, tapi film ini cukup mewakili, some agreed. Kisah dystopian future di mana anak-anak dikirim ke sebuah tempat asing—mereka menyebutnya Glade—entah atas alasan apa, karena bahkan mereka tidak mengingat apapun. Mereka percaya bahwa satu-satunya jalan keluar adalah dengan melewati labirin raksasa yang setiap malam selalu berubah posisi. Lalu, suatu ketika seorang pendatang baru, Thomas, disusul gadis bernama Teresa, membawa perubahan penting dalam Glade tersebut. Secara keseluruhan, film ini sukses bikin saya deg-degan, takut, juga penasaran dan bertanya-tanya tentang kelajutannya. Nggak terlalu sulit ditebak, that’s true, but I’m not saying the plot is predictable though. The Maze Runner was surprisingly amazing! Dan saya langsung jatuh cinta begitu lihat Newt. Selain memang Thomas Sangster itu ganteng (iya ‘kan.) karakterisasi Newt rasanya memperkuat alasan saya supaya makin cinta sama Newt. I’m looking forward to watching the sequels!












