Menjelang 1 Tahun Pernikahan
Jam 12.08AM, tengah malam. Harusnya saya bergegas menyiapkan materi untuk mengisi acara besok pagi—yang juga belum selesai pfft.
Tapi terdistrak dengan note di Evernote berjudul “Untitled Note” buatan Kania—yang bikin senyum-senyum.
Setelah dicek lebih detail, ternyata note tersebut dibuat di tanggal 9 Desember 2017, di dalam Notebook Evernote: “Rismawan Family”.
Isi notebook tersebut diantaranya adalah catatan pribadi saya yang ditulis beberapa hari sebelum akad, khusus untuk dibaca Kania setelah kami resmi halal. Karena dari pertama kenal (di kantor) sampai menjelang pernikahan, kami minim interaksi-interaksi yang kurang perlu.
Isi catatannya semacam daftar kesepakatan dan visi saya saat itu ketika kami sudah menikah. InsyaAllah belum berubah sampai saat ini.
Kalau dibaca lagi, bikin senyum-senyum sendiri. hehehe
Sengaja saya bagikan di sini untuk menjadi pengingat diri saya pribadi.
Relationship Goal: Ke Syurga Bersama
Salah satu tugas masing-masing kita adalah saling mengingatkan untuk senantiasa bersyukur dalam senang atau sedih, lapang atau sempit, mudah atau sulit. Syukur aja? Mengapa tidak juga dengan sabar? Karena saya percaya, dalam syukur, terkandung sabar.
Utarakan keinginan dan ekspektasi yang diharapkan dari pasangan. Meskipun itu hal-hal yang menurut kita mungkin remeh-temeh. Dengar, antara kita, tidak ada suatu hal yang levelnya remeh. Semuanya penting, jadi jangan sungkan untuk mengutarakan.
Sebagai pembelajar, kesalahan itu sebuah kewajaran. Itu bagian dari proses belajar yang tidak bisa dipisahkan. Selama dipertanggung jawabkan, semuanya dalam status: baik-baik saja. Budaya apresiasi menjadi penting, untuk menjaga motivasi.
Tidak boleh ada pertengkaran yang dibawa tidur. Semuanya harus selesai sebelum tidur. Komunikasi, empati dan keinginan untuk terus berbenah satu sama lain menjadi kunci.
Selama masih dalam koridor kebenaran dan masih dalam batas kewajaran, tidak ada salahnya mencoba untuk berubah atau menyesuaikan, dalam rangka mendapatkan kesenangan pasangan, anak, dan keluarga. Meskipun itu kesenangan yang sederhana.
Tidak ada yang salah dengan menuntut, sepanjang kita memegang prinsip dan mempraktikkannya dalam sehari-hari: bahwa memberi dan melayani itu 100x lebih membawa maslahat. Giving is getting more.
Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Usahakan maksimal, setelahnya terserah Allah. Allah tau kapasitas kita, Allah ndak suka kita merasa lemah.
Pahami keinginan pasangan.
Tidak boleh ada rahasia yang berjangka waktu selamanya, pahit atau manis. Terbukalah.
Belajar untuk saling mencintai setiap hari, jatuh cinta minimal satu minggu sekali.
Menjadi partner yang tumbuh bersama.
Saya ingin Kania memahami kekurangan-kekurangan saya sampai hal yang paling kecil. Nanti saya akan beri tahu daftar kekurangan itu. Lama-lama, Kania juga akan menambah panjang daftar kekurangan itu. Sesekali sesekali Kania mungkin akan menghapusnya, lalu menambahnya lagi. Daftar itu sangat mungkin tidak akan pernah bersih. Biar Kania percaya bahwa saya manusia, bukan malaikat hehe.
Pada prinsipnya, saya senang berbenah. Bantu saya menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari ya.
Kania tidak boleh menjadi wanita biasa-biasa saja. Keluarga kita harus hebat.
Saya ingin Kania tumbuh menjadi seorang istri dan ibu yang hebat, karena Kania punya peran yang sangat penting di keluarga kecil ini, keluarga yang terobsesi menjadi keluarga “hebat”.
Fokuslah untuk memberi kontribusi dan manfaat untuk masyarakat dengan potensi yang Kania punya. InsyaAllah saya akan membantu semaksimal yang saya bisa. Saya akan memastikan diri saya menjadi orang paling pertama yang mendukung Kania, apapun dan bagaimana pun kondisinya. Saya tidak rela kalau orang lain yang mengambil peran itu.
Konsekuensi logis dari itu semua, sangat mungkin akan banyak yang dikorbankan: waktu luang, kerapihan rumah, tumpukan baju yang harus di setrika, tenaga, energi, harta bahkan intensitas waktu kita bersama. Tapi mudah-mudahan itu semua dinilai Allah sebagai bukti cinta kita kepada agama ini.
Definisi kebahagiaan untuk keluarga kita mungkin tidak dengan berwisata ke luar pulau, jalan-jalan ke mall, nonton ke bioskop, makan di luar bersama, seperti definisi kebahagiaan kebanyakan orang. Semua itu tidak salah, sama sekali tidak salah. Sesekali, duakali, tiga kali mungkin kita akan memerlukannya. Tapi bukan itu satu-satunya cara kita untuk mencapai kebahagiaan.
Saya ingin keluarga ini mampu menghadirkan kebahagiaan bersama dengan kesibukannya dalam berbagi, berkarya dan berkontribusi.
Dari dulu saya memiliki cita-cita, agar keluarga saya kelak bisa menjadi kendaraan untuk siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas hidupnya dan mengenal Rabb-nya.
Enggak terasa, waktu 1 tahun berlalu. Begitu banyak nikmat Allah yang diturunkan untuk keluarga kecil kami. Alhamdulillah.
Mungkin begitu banyak pula nikmat Allah yang luput dari ekspresi syukur kami.
Semoga kami dimasukkan dalam golongan hamba-hamba yang bertaubat & bersyukur.
Depok, 25 Agustus 2018, 12:28AM