YOU ARE THE REASON
trying on a metaphor
TVSTRANGERTHINGS
ojovivo

roma★
Monterey Bay Aquarium
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available
I'd rather be in outer space 🛸
d e v o n
Misplaced Lens Cap

tannertan36

Kaledo Art

Product Placement

#extradirty
Claire Keane

Discoholic 🪩

ellievsbear
No title available
h

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Moldova
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Lithuania
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Spain

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
@anggityaa
Ambition
“The Prophet (peace be upon him) said, “If anyone fulfills his brother’s needs, Allah will fulfill his needs; if one relieves a Muslim of his troubles, Allah will relieve his troubles on the Day of Resurrection".”
— [Sahih Bukhari and Muslim]
“Duhai Allah, maafkanlah aku yang sebenarnya tau sedang berjalan menuju kematian namun masih terus saja mengkhawatirkan tentang kehidupan keduniaan. Masih tenggelam dalam gemerlap kefanaan. Sibuk dengan kesia-siaan.”
—
Hingga terkadang aku luput mencemaskan amal perbuatan yang bahkan aku pun ragu untuk jadikan itu sebagai perbekalan.
Ya Rabb. Ampuni.
Ajaib!
Hari ini aku sampai pada di satu titik untuk lebih fokus pada diri sendiri. Yang mana pacuannya bukan lagi orang lain, tetapi track sendiri.
Sudah lebih legawa dengan segala ritme yang lambat. Proses yang teruuuuus saja masih berproses belum menuai hasil. Atau...orang lain yang lebih dulu (seakan-akan) sampai pada diri yang kamu idam-idamkan.
Aku benar-benar merasa menerima diriku sendiri saat ini dengan segala kekurangannya. Setelah membenci diriku setengah mati dan itu melelahkan. Setelah berusaha bersaing atau merasa tersaingi oleh yang lain dan itu juga tak kalah melelahkan.
Aku sampai pada satu titik...perubahan yang baik bukan mengacu pada orang lain. Orang lain boleh menjadi sosok penyemangat, tapi tidak yang menentukan jadi apa kita esok.
Aku sampai pada satu titik bahwa kebermanfaatan dan peran setiap orang itu berbeda. Tinggal bagaimana kita berusaha maksimal menjalaninya.
Yang sejatinya harus diajak berkompetisi adalah diri ini. Agar hari esok jadi sosok yang lebih baik dari hari kemarin. BUKAN DARI ORANG LAIN.
Lebih baik terus berpacu dalam niat beribadah, bermanfaat, dan menunaikan peran sesuai yang Allah isyaratkan serta amanahkan pada kita.
Tiap dari kita adalah ajaib! Maka temukanlah mantramu sendiri :D
Refleksi Postpartum
“istri-istri kamu adalah ladang/tempat kamu bercocok tanam” QS Al Baqarah: 223
Pagi ini saya membaca kembali buku Quraish Shihab yang berjudul Pengantin Al-Quran. Mungkin dulu saat pertama kali membuka lembar demi lembarnya, saya belum terkoneksi dengan baik karena seingat saya, saya membacanya di awal usia dua puluh tahun, atau bahkan belasan?
Kini ketika beberapa bagian dibuka kembali, menelusur tiap katanya, jadi ada internalisasi yang cukup terlebih setelah mengalami sepotong demi sepotong kisah berumahtangga.
Adalah kejadian pascamelahirkan yang begitu saya ingat saat Quraish Shihab menuliskan pembahasan ayat yang tersebut di atas.
Beliau memaparkan, “Ayat ini tidak hanya berbicara tentang hubungan seks dan perintah untuk melakukannya, atau sekadar mengisyaratkan bahwa jenis kelamin anak ditentukan oleh sperma bapak, sebagaimana petani menentukan jenis buah dari beih yang ditanamnya, Tetapi yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa bapak harus mampu berfungsi sebagai petani, merawat tanah garapannya (istrinya), bahkan benih yang ditanamnya (anak) sampai benih itu tumbuh, membesar, dan siap untuk dimanfaatkan.”
Lalu ingatan terbang saat detik-detik setelah melahirkan. Saya merasa menjadi seorang yang kuat sekaligus lemah dalam satu tubuh dan jiwa. Saya merasa begitu rapuh sekaligus terpenuhi dalam satu waktu. Dan saya menjadi seperti induk singa sekaligus anak burung yang ditinggal ibunya sebentar di sangkarnya dalam satu kelindan.
Saat itu secara fisik belum pulih total, secara batin senang sekaligus berkecamuk, kadang cemas, takut kehilangan, merasa bersalah, dan resah datang tidak pakai aba-aba. Misalnya ketika menggendong bayi, takut sekali rasanya tulang-tulangnya patah, “betul tidak ya caraku? dia menangis, apakah aku salah menggendongnya? berkali-kali aku mengangkatnya dari lengan terlebih dahulu, apa tidak masalah?” dan pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya jika dikenang, padahal dulunya sangat amat krusial bagiku. Saat itu saya butuh kejelasan, benarkah cara saya? Cukup becuskah saya menjadi ibu? Itu baru urusan menggendong. Belum terkait ASI, jahitan yang tidak kunjung kering, nifas yang berkepanjangan, merasa insecure karena perbedaan pola asuh, stress jam tidur yang berantakan, dan banyak hal lainnya sebagai ibu baru dan perempuan yang bertambah peranannya.
Dan saya begitu tertolong karena salah satu nikmat yang Allah beri yaitu suami, yang saya tahu tidak sempurna dalam perjalanannya, tapi berusaha menunaikan ayat tersebut. Berusaha menjadi sebaik-baiknya petani.
Masih saya ingat sampai sekarang betapa sebalnya saya saat kontraksi datang dan saya buru-buru mengajaknya ke Rumah Sakit karena merasa sudah tidak tahan lagi, beliau masih saja mengurusi soal halaman belakang rumah yang belum jadi. Beliau mengontak tukang untuk menggarapnya agar saat saya pulang dari Rumah Sakit, sudah terpasang kanopi sesuai rencananya. Alih-alih mengelus punggung saya atau mengingatkan saya mengatur nafas, beliau sibuk dengan sesuatu yang harus berjalan dengan matang itu: memasang kanopi untuk anak istri.
Rasanya saat itu jika saya boleh marah-marah kepada suami, bapak dari anak yang akan saya lahirkan ini, saya akan marah semarah-marahnya. Tapi saya tahan. Waktu itu seperti tidak ada daya untuk marah saking sakitnya kontraksi yang datang. Sepulang dari Rumah Sakit, saya mensyukuri ketidak marahan saya pada waktu itu, dan memaafkan diri saya sendiri yang memaki suami habis-habisan dalam hati. Alhamdulillah kanopi belakang sudah jadi, saat hujan datang, kami tetap bisa menjemur baju anak, saat pagi dan matahari sudah naik saya bisa menggendong anak saya untuk berjemur tanpa terlalu kepanasan, saat siang saya bisa memasak tanpa harus terlalu takut angin bisa mematikan kompor seperti sebelum-sebelumnya. Dia berusaha maksimal sebagai petani.
Pun saat kebutuhan kami menjadi dua kali lipat. Aku tahu setiap anak akan ada rezekinya sendiri, tapi juga perlu diikhtiarkan. Dan suamiku begitu gigih berjuang demi popok-popok, kelancaran ASIku, dan benda-benda stimulasi tumbuh kembang anak yang lainnya seperti buku, mainan, kursi, gendongan, dsb. Beliau memutar otak membuka keran-keran rezeki yang lainnya mengingat bertambahnya kebutuhan kami.
Beliau juga menjadi teman terbaik saat aku nyaris terkena baby blues. Meskipun saat itu hanya kata “sabar” yang keluar dari mulutnya, tapi tangannya tiap malam memijat punggungku, kehadirannya utuh membelaku saat mertua, orangtua, keluarga, dan kerabat meremehkanku atau pola asuhku. Dia menjadi benteng yang kokoh sekaligus pintu keluar masuknya unek-unek maupun kata-kataku yang terlontar kurang pantas mungkin saat itu. Kalian tahu, kadang ibu habis melahirkan seberapi-api itu, yang jika tanpa support bagai orang kesetanan.
Saya jadi paham mengapa para praktisi parenting begitu getol mengajak Ayah untuk kembali dan maksimal dalam perannya di keluarga. Mengapa mereka begitu galak dalam bersuara Ayah harus ikut mengasuh. Karena keluarga yang fatherless memang serapuh itu. Begitu dekat dengan kekerasan, kehampaan, kemiskinan, dan menurunnya kualitas kehidupan.
Itulah mengapa ayat ini semestinya menjadi bahan renungan kita bersama, tidak semata soal seks dan betapa suami berhak atas istrinya dimana saja, kapan saja, tapi juga berkewajiban atas istri dan keluarganya dimana saja dan kapan saja.
Para suami, kembalilah pulang, peluk, dukung, dan upayakanlah terus keluargamu…sebagaimana kamu mengupayakan impian dan ambisimu.
Para suami, temanilah istri-istrimu, bercocok tanam dan perhatikan garapanmu meski itu saat hujan, badai, kemarau, maupun pancaroba. Jangan hanya berharap cuaca bersahabat setiap saat.
Para suami, para ayah, para lelaki, saya menuliskannya sebagai perempuan yang merasa bahwa saya tumbuh sampai detik ini, juga atas jasa petani saya bercocok tanam meski kadang dia juga kurang betul dalam menyirami, kadang lupa memberi pupuk, pernah juga kepanasan dan agak layu, tapi tak mengapa, dia tengah berupaya. Tak henti doa saya, supaya petani saya senantiasa ada dan berkarya maksimal di ladang garapannya.
Semangat berjuang petaniku, dan untuk benih-benihnya semoga tumbuh kuat mengakar, juga kian merunduk ketika kian berisi, bagai padi,
Kurangku
Aku tidak bisa mengukur seberapa berat pundakmu menjadi seorang imam; kepala keluarga dan memimpin anak-istri.
Aku juga tidak bisa mengira-ngira beban tanggungjawab yang besar dalam tiap langkahmu.
Dari ketidak mampuanku itu, maafkan aku jika seringkali aku luput...masih saja mendebatmu saat kau bilang jangan. Masih saja melobimu padahal kau bilang tidak.
Maafkan aku jika berulang kali membuatmu merasa kurang dihormati. Candaanku barangkali terlewat santai, omelanku bisa berujung sakit hati, ketidakpekaanku membuatmu berjalan lebih berat, keteledoranku membuat aibmu tersingkap.
Aku harus terus mengingatkan diriku sendiri, bukankah seharusnya yang membahagiakan untukku ialah ketika ridamu selalu membanjiri langkahku? Bukan hal-hal duniawi yang tak akan ada artinya jika terus kukejar...
:’(
It’s easy to focus on the negatives in your life and start complaining about what’s not good enough or what’s lacking. Don’t do it. Because it will steal your peace and you’ll never be satisfied with what you have, always wanting more. Don’t let your hearts be troubled.
Kalau Allah sudah cukup buatmu, mestinya tak ada orang yang bisa menyakitimu.
Kalau Allah sudah cukup buatmu, dadamu akan jadi dada yang paling lapang.
Tak ada sedih yang terlalu, tak ada bahagia yang terlalu.
Tak ada manusia yang bisa mengintervensi sedih dan bahagiamu.
Tak ada kata yang mampu menyinggungmu, tak ada laku yang mampu melukaimu.
Karena kau sadar, bahwa semua milik Allah, termasuk perasaan-perasaanmu.
Kalau Allah sudah cukup buatmu, bahagia dan sedih adalah fana, sedang cinta-Nya abadi.
Taufik Aulia
Notulensi Kajian Al Ummu Madrasatul Ula bersama teh Karina Hakman (bagian 1).
Salman, 23 Agustus 2019
Mencari pujian dari orang lain itu menyempitkan hati, sedang yang kamu dapat hanyalah susah payah tapi sia-sia. Sebagus apapun dan seburuk apapun usaha yang kamu lakukan, mereka tetap akan memandangmu dengan kacamata mereka. Baik dan buruknya manusia itu beda dengan baik buruknya Allah. Istighfarkan saja dalam keadaan lapang maupun sempitmu, ada Allah yang menjaga dan membantumu. Tenang :)
@jndmmsyhd
Don’t think that bad things happen only to you. They happen to everyone. Every single day. The difference lies in how you deal with any given situation. Your attitude counts. If you choose to see things in a positive light, then you’ll rise above it and overcome it eventually.
Mufti Ismail Menk
our first time
alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, so this is the feeling of loving someone deeply, even we never met yet.
i'm so in love with every 'first time' we have 🖤
first time knowing you are really there inside my tummy.
first time hearing your heart beating.
first time feeling your tiny kicking.
cant wait to experience our next other 'first time'.
hopefully Allah always keep you to always stay healthy until we meet and so on, my dear.
Asing
Ada satu hadits yang biasanya disampaikan oleh guru kepada muridnya yang baru belajar agama (Islam), oleh seorang senior kepada juniornya yang baru bersemangat ber-Islam, oleh pemimpin kelompok kepada pengikutnya yang sedang memulai jalan hidup baru, “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.”
Hadits dari sahabat Rasulullah bernama Hurairah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dulu sekali, ketika saya membaca hadits ini pertama kali, ada semacam tangan yang ditepuk-tepuk di punggung saya, ada kehangatan bahkan di setiap huruf kalimat itu. Kalimat itu memang benar-benar membesarkan hati. Ada yang tiba-tiba ditinggalkan teman-teman karena memakai jilbab, ada yang dimarahi orang tua karena terlalu aktif berorganisasi, ada yang harus berpisah dengan kekasih karena menganggap pacaran tak tepat lagi menjadi cara awal untuk membentuk rumah tangga, ada pula yang harus meninggalkan pekerjaan karena dalam pandangan baru yang dimiliki pekerjaannya itu syubhat bahkan jelas kemaksiatannya.
Mamak saya tak pernah kering mulutnya menasihati saya, “Rasulullah saja ada yang membenci apalagi kita.” Dalam kalimat itu, ibu saya mau menyampaikan, kalau kamu dibenci orang, jangan terlalu jemawa berpikir kamu dibenci karena telah mempraktikkan hidup sebagaimana Rasulullah hidup, Quran yang berjalan, kata Bunda Aisyah. Kamu boleh berpikir bahwa jalan hidup berislam memang akan membuatmu terasing, tetapi bukan berarti ketika kamu diasingkan itu karena kamu sedang menjalankan cara berislam sebagaimana Syahidul Anam itu berislam. Mungkin kamu diasingkan karena mulutmu, karena pilihan katamu, karena cara berjalanmu, atau mungkin karena kamu tampak merasa sudah pasti dalam kebenaran dan yang lain sudah jelas dalam kesesatan.
Jika dalam pertanyaan-pertanyaan tadi kamu yakin, berislammu sudah sebagaimana Rasulullah berislam, kamu akan tiba persimpangan jalan itu. Apa yang harus dilakukan setelah diasingkan. Membenci yang mengasingkan atau tetap mencintai yang mengasingkanmu sepenuh hati.
Selesai dengan orang lain
Beberapa waktu terakhir, terutama setelah menikah. Saya semakin sering menerima konsultasi dari teman-teman saya sendiri terkait pra-pernikahan mereka.
Salah satu nasihat yang paling sering kita dengar untuk orang-orang yang berniat menikah adalah; selesailah dengan dirimu sendiri terlebih dahulu. Sebuah nasihat paling lazim dan paling abstrak, karena tidak ada ukuran yang pasti tentang maksud dari “selesai dengan diri sendiri”. Tidak bisa juga dijelaskan bagaimana bentuknya. Tapi tetap saja, selesai dengan diri sendiri adalah bekal yang penting untuk masuk ke jenjang rumah tangga.
Setelah bab itu selesai, ternyata saya baru menyadari ada hal-hal yang juga harus selesai, yaitu selesai dengan orang lain.
Teman-teman yang bercerita dengan saya adalah teman-teman main, teman diskusi, teman kuliah, mereka adalah orang-orang yang saya kenal. Dan lingkaran kami bukanlah lingkaran suci, kami pernah mengalami masa-masa muda yang mungkin memalukan kalau diingat. Seperti pacaran, hubungan tanpa status dengan orang lain, dan sebagainya. Itu sebelum berhijrah seperti sekarang.
Dan saya kini menambahkan satu nasihat ini ke teman-teman saya. Selesaikanlah urusan dengan dirimu sendiri, juga dengan orang lain. Masuk ke jenjang kehidupan rumah tangga jangan sampai masih ada orang-orang di masa lalu yang masih memiliki keterikatan emosi dengan kita atau pasangan kita. Khawatir bila itu kemudian datang lagi di tengah rumah tangga yang sudah berjalan nantinya. Selesaikanlah.
Bagaimana menyelesaikannya?
Mungkin ini cara yang klasik, mungkin juga cara yang sulit. Karena harus meredakan gengsi, yaitu meminta maaf.
Minta maaflah karena dulu pernah memiliki hubungan dengannya. Minta maaflah karena masa itu adalah masa dimana pemahaman tentang agama belum cukup. Minta maaflah karena telah menjadi bagian dari masa-masa kelamnya. Minta maaflah karena mungkin dulu sempat berjanji banyak hal dan tidak akan pernah ditepati. Minta maaflah kalau pernah menyakiti hatinya. Kemudian sampaikanlah kabar bahagia itu.
Mulailah kehidupan rumah tangga tanpa ada bayang-bayang tentang banyak hal, baik masa lalu, maupun orang lain.
Karena rumah tangga itu harus dimulai dengan kejelasan, kepastian, kepercayaan, keyakinan, dan keimanan. Sebuah perjalanan panjang yang nantinya jangan sampai menjadi sesal karena kita tidak sempat menyiapkan bekal tertentu.
Yogyakarta, 30 April 2017 | ©kurniawangunadi
“Antara membully dan nahi munkar”
Mencoba memberikan sedikit pandangan tentang banyak hal yang terjadi disekitar kita. Dimana kewajiban kita adalah nahi munkar, sesuai kapasitas diri kita, bukan mem-bully.
Apa bedanya membully dan nahi munkar?
1. Tujuan nahi munkar adalah menghilangkan kemungkaran tersebut. Sedangkan membully tujuannya sekadar meluapkan hasrat menghina dan merendahkan orang lain.
2. Cara dalam bernahi munkar. Jika kemunkarannya terbatas, maka dilakukan empat mata tanpa perlu diekspos ke publik. Jika kemunkarannya meluas dan dilakukan terang-terangan, juga tidak diberikan kesempatan untuk mengingatkan secara personal, bisa di depan publik. Namun tetap dengan batasan, yaitu dengan adab yang baik dan sesuaikan dengan kapasitas diri. Jika belum cukup ilmunya, maka diam adalah lebih baik. Sedangkan membully, apapun bisa dilakukan untuk melampiaskan hasrat mem-bully.
3. Nahi munkar fokus mengingatkan atau menasehati sisi kemungkaran pelaku. Sedangkan membully, karena tujuannya memang menghina, maka hal-hal yang tidak ada hubungannya pun akan diangkat, semisal kekurangan fisik, bahasa tubuh, dll.
Nahi munkar itu fardhu kifayah, bahkan fardhu ‘ain pada keadaan tertentu. Sedangkan membully itu termasuk kemungkaran.
Dan issue yang tengah hangat akhir-akhir ini adalah tentang mengkritik Pemerintah.
Saya berdiri di posisi yang tidak menyalahkan yang mengkritik dengan adab yang baik, juga tidak menyalahkan yang lebih memilih mendo'akan Pemerintah tanpa mengkritik. Kedua-duanya mempunyai andil yang besar untuk kemajuan bangsa ini.
Dan mengenai Mahasiswa UI yang berani mengkritik Pemerintah secara langsung, bersikap seperti itu adalah karena memang banyak sekali masalah-masalah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah, dan sayangnya kami sebagai mahasiswa seringkali tidak diberi ruang untuk menyampaikan aspirasinya. Hanya orang-orang yang 'sepaham’ saja yang diberi kesempatan untuk duduk bertatap muka dengan penguasa, selebihnya ketika ada rekan-rekan mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi ataupun mengingatkan pemerintah, mereka ditangkapi.
Itu dilakukan ketika para wakil rakyat di Parlemen sudah bukan lagi berada di pihak memperjuangkan kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak. Dan ini memang PR besar bangsa ini. Termasuk kita sendiri sebagai rakyatnya. Karena pemimpin adalah cerminan rakyatnya.
Dan sebelum menilai buruk, bedakan antara memberontak, dan menyampaikan aspirasi serta menyampaikan kritik dengan tujuan dan cara yang baik.
Maafkan, mungkin apa yang saya kira sedikit pandangan, tidak sesuai ekspektasi yang membaca :D