State of Nothing
sedang tidak berbagia atu berduka
tapi merasa hampa diantara manusia-manusia
menarik diri dari kerumunan yang dirasa terlalu riuh
dalam pertemananpun tidak perlu ada saya untuk dapat bertukar kata
YOU ARE THE REASON
Today's Document

Kiana Khansmith
Sweet Seals For You, Always
todays bird
RMH
Three Goblin Art

Andulka

JBB: An Artblog!

❣ Chile in a Photography ❣
tumblr dot com
AnasAbdin
styofa doing anything

#extradirty
KIROKAZE
Xuebing Du
🪼
taylor price
dirt enthusiast
cherry valley forever

seen from Türkiye

seen from Australia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Latvia
seen from Indonesia

seen from Maldives
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States

seen from South Africa

seen from Canada
seen from Türkiye
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@amaliaa99
State of Nothing
sedang tidak berbagia atu berduka
tapi merasa hampa diantara manusia-manusia
menarik diri dari kerumunan yang dirasa terlalu riuh
dalam pertemananpun tidak perlu ada saya untuk dapat bertukar kata
Yang menghancurkanmu bukan dia
Tapi kamu
Yang terlalu berkespektsi dan bermimpi
Padahal tidak menganggapmu hadir
Sebentar Saja
Sini
Tidurlah di bahuku
Ku pinjam sebentar tubuhmu
Sambil ku labuhkan penat yang berlayar di benak
Melelahkan bukan dunia ini
Saat tidak ada yang mengerti tentang ku
Dan harus bersahabat dengan narasi suram
Jangan berkata apa-apa
Aku cuma perlu irama detak jantungmu
Untuk membuat ku tetap tenang
Dari kisruhnya pikiran yang ku buat sendiri
Patah yang Samar
tersenggal ku menyelamatkan nafas diantara air mata yang tumpah ruah. meraba sandaran dan tak ada satupun yang disana lalu tergeletak di tanah yang basah ingin ku berdayakan kaki lalu berlari jauh, jauh sampai aku tidak ingin mengenali tempat ini lagi
bagaima rasa sakit yang selalu sama meremukan tawa yang kau hadiahkan sesaat lalu. berduka setelah berbahagia untuk kali terakhir setidaknya itu akhir yang terucap, diantara janji akhir-akhir lainya. menunggu semuanya samar, tapi semuanya terus memberikan memar yang pilunya sudah membiru hingga kebas meninggalkan rasa
bolehkah ku beranjak
barangkali disana tak terluka, meski ku tak tahu pasti.
Menenggelamkan Kebahagiaan
Kebahagian pada dasarnya datang dari pencapaian sebuah ekspektasi. Seringnya kita berduka, karena kenyataan dan harapan berkontradiksi. Hal ini yang membuat seringnya menjalankan hidup dengan lumrah tanpa memiliki tujuan untuk berbahagia. Tawa dan senyuman itu hanya hadiah manis yang tidak bisa diharapkan kehadirannya. Kadangpun, bahagia bisa ditarik paksa, meski sudah berusaha untuk menggengam dengan upaya. Akhirnya kita kembali bersahabat dengan luka.
Terus berulang hingga sadar bahwa kita tidak pantas untuk berbahagia.
Ekspektasi memang terlihat kalem, namun sebenarnya dia kejam. Padahal ekspektasi sederhana yang mudah untuk dupayakan bisa menjadi runtuhnya harapan. Sesederhana, ingin meminjam waktumu dua puluh empat jam pun untuk dijadikan tempat bersandarpun, tak boleh. terlihat bisa dan biasa bukan? Tak usahlah berbahagia, karena kamu pada berduka pada akhirnya.
Semalam benar-benar ku tak mau beranjak dari tidurku. Yah, jika bukan karena mimpi yang teramat nyata dan indah itu.
Tak biasanya ku meningat dengan baik bunga tidur hingga ku mampu menuliskan kembali disini.
Awalnya aku ingin menuju suatu tempat yang tak tahu dimana itu... sudah jadi hal yang lumrah jika ku tersesat saat ku berhenti di titik yang salah
Lalu tiba-tiba seseorang datang, menolong dan mengarahkan ke jalan yang seharusnya. Dalam perjalanan dia mengajaku untuk beristirahat sejenak dalam hunian sederhana nan lapang membiarkanku menjauh dari kepanikan tadi. Sembari dia berkelakar lalu bersandar menceritakan cerita yang tak kupahami tapi tetap ku ingin mendengar semuanya. Tak sadar ku ikut tertawa saat hal-hal lucu datang... dan megusap lembut rambut saat cerita duka datang. Sungguh ku ingin waktu benar-benar terhenti kala itu.
Tapi, dia kembali menuntunku untuk berjalan kembali menyusuri jejak yang hilang... sambil terus berkata tidak akan pergi kemana-mana dan akan terus disana. Ya, disampingku.
Kini tahu mengapa mimpi ini harus kuabadikan.
Dear Me - Paul Kim
Penerjemah Rindu
Bagimana cara menguraikan rindu, padahal kata tak bisa saling bercumbu?
Apakah kamu tahu?
Jawabnya cukup dengan kehilangan, maka kamu akan merasakan tanpa berpesan.
Cukup pergi, untuk mengerti, bahwa yang pergi benar peduli.
Saya (tidak) baik-baik saja
Apa kabar?
Dalam setiap pertemuan pertama setelah sekian lama tidak terjadi tidak terjadi.
Saya baik-baik saja.
Lalu terdiam. Sembari berkata-kata dalam hati.
(Sebenarnya banyak hal yang ingin saya ceritakan, banyak sekali. Tapi, aku tidak bisa mengungkapkannya karena jarak dan ruang yang saya ciptakan sendiri. Aku, cuma butuh teman, dimana kamu duduk disana dan mendengarkan semuanya, tapi kamu tidak ada disana, jadi aku menimbun semua cerita-cerita ku sehingga aku kesulitan untuk tidur. Cuma cerita-cerita sederhana memang, tapi mereka berlalu lalang dalam ingatan hingga terkadang susah untuk mencerna semuanya.
ini masa-masa sulit, dan semua orang merasakannya. Aku meringkuk disudut ruangan merasa bosan, hingga pikiran jahat sering menghampiri. Cuma ingin bersandar sebentar, menyederhanakan pikiran runyam yang kubuat sendiri. Mungkin dirimu lebih paham saat mengalaminya, dimana keberadaan tidak bisa diwakili oleh media apapun. Sengaja tak kusapa, karena aku tidak ingin mengerengut waktumu untuk mendengar keluh kesah yang biasa.)
dan yang terucap selanjutnya
Semoga harimu menyenangkan, bye.
Aku Turut Berbahagia
Sampai saat ini, masih belum paham dan mengerti bagaimana kita bisa berbahagia untuk kebahagiaan orang lain. Bukankah cukup menderita ketika kita menyaksikan orang yang kita sayangi berbahagia, sedangkan kita tidak bisa memastikan kebahagiaan kita sendiri dikemudian hari. Satu hal yang pasti, kebahagiaan itu tanggung jawab masing-masing. Kita tidak bisa meletakan tanggung jawab kebahagian kita pada seseorang. Salah satu penyebab, kita tidak bisa berbahagia atas mereka yang bersuka cita karena : iri.
Iri adalah hal yang paling bisa di salahkan atas duka diatas bahagia. Lalu muncul pertanyaan apakah saya akan berbahagia juga seperti itu, diikuti dengan menyiksa keadaan “kenapa kita tidak bisa berbahagia bersama-sama dan kamu lebih dahulu bersenang-senang meninggalkanku dalam kesepian”. Padahal jawabannya jelas... kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing. Lalu, dimana kita bisa menemukan kebahagiaan?
Blogging, masih keren gak sih?
Saat scrolling di Twitter, pernah nemu ada tweet orang “Kangen nulis Blog”
Lalu salah seorang celeb tweet nyamber - “Gak usah, Gak ada duitnya, mending nge-vlog”
Setuju dengan hal ini, tapi endingnya semua akan kembali ke duit. Mana yang ada duitnya itu yang dilakukan. Padahal, sesuatu yang kita sukai pun, bisa dikerjakan bukan dengan tujuan cuan, melainkan karena suka aja gitu. Tapi, blogger tetep dicari kok. Biasanya yang menggerakan publisher atau orang-orang yang kerjaannya relate sama Search Engine Optimization atau SEO mengoptimasi website untuk mendapatkan peringkat teratas di hasil pencarian. Tanpa adanya blogger, kerja SEO ini bisa berantakan. Karena biasanya kalo kita cari suatu keyword di Google akan bermunculan link-link yang berkaitan dengan keyword yang kita ketik, biar “link industri yang dikelola” ingin ada di atas atau paling enggak di halaman pertama dari lembar pencarian itu.
Jadi, menurutku. Blog itu masih keren dan penting. Karena segala macam pertanyaan pasti orang-orang menyarankan “Google aja” bisa jadi kalau emang blog yang kita tulis emang memberikan insight yang menarik akan di jadikan referensi kedepannya. Walaupun mungkin gak ada duitnya, bisa menjadi sumber ilmu dari orang-orang yang cari ilmu itu sangat keren.
#Cheers
Hampir Gagal terbang Karena Salah nama, booking via TRAVELOKA
Buat kalian yang sering traveling bareng sama temen-temen tentu masalah kolom pengisian nama adalah hal yang paling crusial. Biasanya sampai dicek berkali-kali, tapi ada juga yang system ada yang langsung nyimpen nama kita di aplikasi tersebut, jadi ketika kita mau beli tiket dengan orang-orang yang sama maka langsung auto fill, Traveloka sebagai salah satu contohnya.
Sebenernya udah lama mengalami hal ini, sekitar tahun 2017, tapi baru sempet nulis pengalaman yang bikin jantung kek orchestra menjelang liburan panjang yang sangat dinantikan. Jadi critanya, diawal tahun 2017 gw bersama 2 temen gw merencakan liburan ke korea, sampai akhirnya menuju pertengahan tahun kami bertiga nemu tiket pesawat yang agak “terjaungkau” walau gak murah-murah banget pakai Cathay Pasific. Ternyata, harga yang tertera itu gak include airport tax (karena pesawat Cathay biasanya transit di Hongkong) atau biaya lain-lain yang endingnya tetep mahal juga. Tapi, cita-cita mulia untuk jalan-jalan ke Korea Selatan, sudah terlanjur kebayang-bayang di angan.
Kali ini, kami memutuskan beli lewat traveloka, dan kebetulan kali ini emang pernah pergi bareng bareng orang yang sama jadi otomatis nama udah kesimpen di system. Petugas yang kebagian tanggung jawab beli tiket kali ini adalah gw, dan gw masukan nama mereka dengan full 2 nama. Tapi, karena udah ada file kesimpan jadi ada nama yang kedouble entah kenapa saat udah di proses booking tiket & payment. Ibarat kata, ada family name yang ke-double untuk khasus kali ini, tapi nama gw normal sebagaimana mestinya karena ngisi manual.
Selama berbulan-bulan sampai sebelum tanggal keberangkatan, gw coba searching kanan kiri termasuk Tanya dengan pihak travelokanya untuk hal ini, dan Traveloka menyarankan untuk ganti nama ke 2 temen gw ini dengan biaya kurang lebih 1 jutaan untuk masing-masing nama. Tentunya, budget segitu bukanlah budget yang dikit untuk anak-anak kucrit freshgraduate yang pengen pergi backpakeran ke korea dengan budget yang sangat minim dan dibantu cicilan pula. Akhirnya, kita skip dulu masalah ini dan mencoba untuk pura-pura bodo amat saat hari flight nanti.
Pada saat satu hari sebelum keberangkatan, tentunya kami coba untuk web-checkin lewat official website dari Cathay. DAAAAANNNNNNNN……. Ternyata justru nama gw yang gak bisa check ini dan ditolak oleh system. Kami bertiga memutuskan untuk menyelesaikan ini pada saat hari-H check in dengan dateng lebih awal dari jam boarding. Janjian di terminal 2, dengan gugup kami mendatangi counter check in Cathay Pasific, dan bener dong nama gw doang yang gagal check in. But why???? Kenapa malah nama gw yang gak bisa sedangkan nama temen gw yang awalnya gak ada apa2 justru gak apa-apa.Setelah Tanya-tanya sama pertugas jaga Cathay ini, ternyata oh ternyata out of nowhere nama gw ada yang kebalik, nama keluarga jadi ditengah dan nama tengah jadi nama keluarga.
Agak sedikit shock, mengingat kita boarding jam 11.30 PM dan saat kita tanya ini kurang lebih udah jam 9.00PM lebih. Lalu, kita tanya sama petugas, apakah yang bisa diurus untuk masalah ini? Dan jawabanya adalah gw haru bayar kurang lebih 1jutaan, untuk pengantian nama dan otomatis nama untuk PP (24 November- 3 December 2017) akan diubah. Disatu sisi, oke lah sejuta gak papa daripada gak jadi berangkat, tapi kedua temen gw bersikukuh kalau itu bukan kesalahan kami, kenapa kami yang harus bayar. Sampai disini, kita menyalahkan Traveloka habis-habisan sebagai agen pemesanan tiket penerbangan kali ini. Make sense sih, karena emang nama gw pas gw input gak salah dan pas gw cetak bukti booking tiket pun emang gak ada masalah, tapi kenapa tiba-tiba pas mau check ini berubah.
Dari jam 9.30 PM kita coba terus telefon CS Traveloka untuk mengadukan hal ini, karena saat ini kami adalah pihak yang dirugikan. Tapi udah 4x lebih ditelpon jawabanya template dan sama persis, intinya suruh nunggu 20 menit untuk dikonfirmasi kembali. Pihak Traveloka juga merasa benar karena gw “pernah tanya” soal pergantian nama. Oke, ternyata cuma perkara pernah tanya, kita jadi makin dilemahkan posisinya. Tetep kita kejar ini CS jam 10.45 PM belum juga ada kejelasan tentang Traveloka akan bertanggung jawab untuk ganti rugi soal pergantian nama ini.
Intermezo dikit, ternyata ada mbak-mbak sebelah yang juga sama-sama terbang dengan maskapai yang sama Cathay Pasific yang juga ditolak sama system, karena pesen Traveloka hanya dengan 2 nama aja tanpa middle name dan diproses berhasil oleh Traveloka tapi, ternyata pernerbangan international salah satunya dengan Cathay wajib 3 nama, yakni nama depan, middle name, dan nama keluarga. Anehnya kenapa ini si Traveloka bisa lolos-lolos aja tapi di Cathay ternyata malah jadi masalah baru.Kami lagi marah-marah, dengen mbak-mbak sebelah lagi terpojokan jadi makin panas nih ati.Anehnya kenapa ini si Traveloka bisa lolos-lolos aja tapi di Cathay ternyata malah jadi masalah baru.Kami lagi marah-marah, dengen mbak-mbak sebelah lagi terpojokan jadi makin panas nih ati.
Gw coba bantiun dengan ikut complain lewat Twitter Traveloka, sedangkan ke2 temen gw pegang kendali di telepon CS. Long Story Short, jam 10.50 mulai ada kejelasan dengan Traveloka mau mengganti biaya penggantian nama tersebut, tapi saat ini harus gw dulu yang bayar karena akan di transfer kemudian hari. Jam 11.10 PM, masalah udah clear dan muncul masalah baru karena kita harus lari-larian ke imigrasi dan gate padahal itu jaraknya itu lumayan bikin exhausted. 11.30 PM Alhamdulillah kami bisa boarding, dan landing di Korea + balik ke Jakarta dengan selamat.
Perlajaran yang bisa dipetik dari masalah yang pernah kami alami ini adalah :
- Kalau penerbangan international jangan mepet-mepet berangkatnya
- Jangan mudah panic
- Kalau kamu merasa disalahin padahal kamu gak salah berarti kamu harus berjuang, sampai hak kamu didapatkan dengan seharusnya.
Jangan panik, mari piknik!
Sering lupa pergi, padahal hati sakit sendiri
Kita tidak bisa memandang satu dan lain hal dengan setara. Mungkin hal itu mudah buatmu, namun hal yang sama bisa membuat susah. Memaksakan kaki, disepatu yang berbeda hanya akan menjadi derita
Pernah gak berada dalam satu masalah yang sama, yang lain menganggap itu mudah, tapi kitanya dirasa susah. Karena penerimaan kita terhadap sesuatu pun tidak bisa sama. Kehilangan sepeser uang, mungkin bagi sebagian uang biasa saja, tapi mungkin bagi ratusan orang lain bisa membuat pilu.
Berjarak itu tidak hanya perkara meletakan spasi diantara kata, menjauhkan hati diantara jeda, mencoba untuk mati diantara ada. Itu, tidak mudah.
Pernah gak mencoba untuk melepaskan perangko atau materai kecil jauh dari kertas yang telah melekat. Bahkan jika kita tidak perlahan untuk mencoba, salah satu diantara kertas atau material perangko atau materai itu selalu jadi korban, sobek dan tak berguna lagi.
Bagaimana aku bisa rela, jika saat membicarakannya saja masih harus memaksa untuk tidak berduka.
Setidaknya, pernah terjatuh kedalam gravitasimu, meski tak sakit tapi susah untuk bangkit