Aku baik baik saja menikmati hidup yang aku punya.
Masih ada keluargaku, keluarga gravart, keluarga HMI lipia, segelintir orang dari keluarga GI, teman-teman kos, ampas2, teman-teman kelas, teman Al madindong, dan lainnya.
You never walk alone~
No title available

No title available
NASA

Discoholic 🪩
Cookie Run:Kingdom Official!

No title available
Fieri Frames

Jimmy Eat World
Not today Justin
No title available

PR's Tumblrdome
The Stonewall Inn
almost home
No title available
occasionally subtle
🪼

@theartofmadeline

Love Begins
Fai_Ryy

bliss lane
seen from United States
seen from United States
seen from Mexico

seen from Poland
seen from Kenya
seen from Dominican Republic
seen from United States
seen from T1
seen from Türkiye

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Austria

seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from Ecuador

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Brazil
@amatutung-blog
Aku baik baik saja menikmati hidup yang aku punya.
Masih ada keluargaku, keluarga gravart, keluarga HMI lipia, segelintir orang dari keluarga GI, teman-teman kos, ampas2, teman-teman kelas, teman Al madindong, dan lainnya.
You never walk alone~
Ketika saya sudah katakan tidak akan membatasi HAKmu, maka ambillah dengan ETIKA yang baik. Apakah saya se"mengerikan" itu sehingga kamu harus berjalan mengendap-endap di belakang?
Pengalaman pribadi
Dengan tanganMu aku menyentuh Dengan kakiMu aku berjalan Dengan mataMu aku memandang Dengan telingaMu aku mendengar Dengan lidahMu aku bicara Dengan hatiMu aku merasa ____________________________________
Tak ada yang lain selain diriMu, yang selalu kupuja Kusebut namaMu di setiap hembusan nafasku. Kusebut namaMu.. Kusebut namaMu
____________________________________
Karya terbaik Dewa 19, disusul Laskar Cinta.
Pak Kris, jangan resah. Saya suka sekali lagu ini lho.
______ Sendiri berjalan di tengah malam nan sepi kian jauh melangkah semakin gelisah _______ Sendiri termenung di larut malam nan hening hatiku semakin gundah oh mata membasah _______ Bayu dingin lalu kan bintang mengedip sayu rembulan menyuram tiada terbayang… harapan _______ Sendiri melangkah di jalan remang membisu ku nanti engkau sinar bersama sang fajar
Setelah Nonton Chrisye
Chrisye, semurni- murninya musisi. Hidupnya sederhana, tapi pencariannya tidak. Sebagaimana seharusnya musisi yang selalu resah, perfeksionis, dan tidak pernah puas, ia punya ketiganya. Jiwanya murni, halus, dan sangat peka. Maka lucu sekali, ketika seorang mengaku seniman namun tidak memiliki kemurnian dan keresahan.
Saking seringnya resah, ia punya beberapa teman bicara, boleh dibilang penasihat spiritual, lah. Hidup sebagai publik figur, tau sendiri bagaimana kompleksnya. Hedonisme, gegap gempita. Jiwa yang murni akan selalu menolak. Ia selalu merasa kosong.
Ia terus mencari dan mengisi. Dicobanya membuat nada-nada untuk Tuhan. Lalu diantarkannya lagi pencarian itu, hingga sampailah ia pada titik balik segala resahnya. Lewat lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara, ia menemukan jawaban. Lagu yang merupakan perkawinan antara nada-nada persembahan Chrisye untuk Tuhan, dengan lirik yang digubah Taufik Ismail dari terjemahan surah Yasin: 65.
Chrisye telah menemukan Tuhan- Nya.
______________________________
Aku jadi teringat bang Danial Iskandar pernah bilang, banyak jalan yang mengantarkan seseorang menuju Tuhan. Ada ibadah, sains, bahkan musik. Awalnya aku ragu, bagaimana bisa ada yang menandingi "ibadah"?
Dan segalanya terjawab di film Chrisye.
__________________________
Allah..
__________________________
Chrisye, sebenar-benarnya musisi, dengan segala kemurniannya, ia berjalan menuju Tuhan, dan mengetuk pintu Nya.
Ada yang salah, dan parahnya tidak kutau apa. Seperti suatu energi yang menahan untuk tidak peduli, apalagi melakukan apapun. Aku kering kerontang di tengah lautan yang mengamuk, sampai terlintas untuk kembali ke tepi, atau berenang sendiri ke seberang.
Kubiarkanmu, kekasih menjadi pengembara. Carilah bebas, lagu yang sunyi, dan air mata.
Dan aku tidak perlu takut. Membayangkanmu akan tinggal di langit, dan menghilang di antara kumpulan mega.
Karna kita manunggal, maka rumahmu adalah dekapanku.
~Untuk orang-orang terkasih yang ingin menghirup kebebasan.
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti, yang hancur lebur akan terobati, yang sia- sia akan jadi makna yang terus berulang suatu saat nanti, yang pernah jatuh kan berlari lagi
Banda Neira's song
UJIAN, Sudah Berakhir?
Ujian akhir semester sudah usai lebih dari sepekan yang lalu. Nilai yang cukup menyenangkan, paling tidak terlepas dari D di mata kuliah Dr. Azzazy.
Saatnya libur dan piknik. Siapa yang tidak suka?
Tapi apakah liburan berarti bakal bebas dari ujian? Kupikir tidak.
Justru terkadang berlipat- lipat lebih berat.
Saat ujian bukan di atas kertas tapi ada di depan muka, seakan jadi bukti apakah ilmu adalah sekumpulan huruf yang dirapal, atau sebuah pengajaran yang merasuk di akal dan hati lalu membuahkan pekerti?
Terkadang aku sering salah persepsi. Takut gagal di mata kuliah tertentu. Belajar mati- matian sampai mengorbankan waktu makan, bersih- bersih, bahkan tidur. Tapi dengan ujian dalam kehidupan nyata, justru tidak mau repot mikir keras.
_____________________________________
Aku jadi ingat ketika kuliah tauhid adalah aib bagi yang tidak hapal tafsir “laa ilaaha illallah”. Bukan aib saja, tapi yakinlah anda akan diragukan keimanannya dan wajib tinggal kelas.
Tapi coba tarik sebentar ke belakang. Ke masa- masa silam yang kelam. Apakah dalam perilaku kita sudah menunjukkan perilaku seorang yang memiliki Tuhan atau tidak (atheis)?
Seolah gagal dalam ujian di dunia nyata bukan jadi masalah besar. Justru menggampangkan, ah aku khilaf, toh Tuhan kan Maha Pengampun.
_____________________________________
“Hamba- hamba yang paling takut kepada-Nya hanyalah mereka yang memiliki ilmu.” (Fathir: 28)
Aku selalu gentar membaca firman- Nya yang satu ini.
Apakah status mahasiswa syariah islam sudah dapat menjamin bahwa tempatku ada diantara mereka (read: ulama)?
Tuhan, mohon di-eling-kan terus.
Tuhan, petunjuk- Mu, selalu.
PULANG
Aku duduk di bus, pulang menuju rumah yang kutinggalkan 13 tahun lalu. Rumah yang membesarkanku sampai sepuluh tahun; Banjarnegara. Di luar gerimis mengetuk dari balik jendela di antara hutan pinus pinggir jalan. Ditemani alunan "kiss the rain" Yirumi, seketika kenangan bertahun-tahun silam mulai mengudara, menjelma menjadi foto- foto lawas yang dipajang di museum. Inilah akibat daya kenang yang tidak begitu buruk, sampai akhirnya pulangku ini bukan untuk apa- apa selain nostalgia. 27 Agustus 2016
Catatan Musim Panas Tahun Lalu
Ada satu hal yang lebih sakit dari sekedar perpisahan, kau tau? Kehilangan. Kehilangan seorang teman, tanpa perpisahan. Bahkan ia masih duduk di sampingmu, tapi kalian tidak tau apa yang harus dibicarakan. Berharap- harap waktu cepat menepi, supaya lepas dari rasa sungkan, ya karena beberapa waktu lalu kalian pernah berteman baik. Itu yang kutangkap dari garis- garis wajahmu. Pertemanan kita, katakanlah, sudah selesai. Maka yang kulihat dari matamu hanya masa lalu yang indah. Bahkan untuk mengantarmu pulang, aku tidak bisa lagi. Teman- temanmu yang baru sudah mencukupkan kebahagiaanmu. Apalah aku yang hanya menawarkan kesedihan.
Nonton
Aku masih ingat saat pertama kali naik kapal sampai Pulau Tidung. Pandangan hanya terbatas pada hijau biru lautan, dan ikan- ikan kecil terbang rendah di atasnya. Aku juga ingat ketika pertama kalinya makan burger di BK sampai mblenger karena perut orang Jawa susah mencerna roti daging. Pengalaman pertama memang tidak sesederhana ingatan sehari- hari yang sering lupa dimana terakhir meletakkan gunting kuku. Mau pengalaman baik ataupun buruk, maka tidak jarang orang trauma melakukan sesuatu padahal baru pertama mencobanya. Padahalnya lagi terkadang pengalaman pertama yang terkesan buruk tidak mesti dikarenakan keburukan yang dimilikinya, bisa jadi sebab kita melewatkan beberapa bagian penting yang dapat menjadikannya terkesan baik. Begitu pula pengalaman baik, banyak orang yang berujung pada ketagihan setelah mencoba pengalaman pertama. Seperti halnya malam ini ada satu hal yang baru pertama kali kulakukan dan mungkin akan berujung padanya pula. Aku sendiri masih sangat terbawa euforianya, sampai aku ingat potongan puisi WS Rendra, "Suka duka kita adalah biasa, karena semua orang mengalaminya" Benar memang. Ini pesan Rendra supaya kita ngerem euforia dalam suka sekaligus berhenti berlarut- larut dalam duka. Kembali lagi ke soal pengalaman pertama. Adapun kesan baik dan buruk pasti bersifat relatif sebab setiap kepala memiliki penilaian yang berbeda. Tapi bagiku seluruh pengalaman itu baik sebab akan mengantarkan kepada kebaikan, kebaikan di sini adalah hikmah dan pelajaran. Maju lagi ke pengalaman pertamaku malam ini, aku tetap tidak bisa bilang biasa saja. Pengalaman pertama ini mungkin akan berujung pada ketagihan juga. Ternyata nonton film hollywood di bioskop sangat menyenangkan!