
seen from United Kingdom
seen from Yemen

seen from Italy

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Sweden
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from China
seen from United States
seen from Kosovo
seen from United Kingdom
seen from Czechia
seen from Türkiye

seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom
seen from China
BULLSHIT of the month. Sorry i am from the second kind!
SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN ALLAH?
Bissmillahirrohmanirrohim…
Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pertanyaan ‘Siapakah yang menciptakan Allah’ atau ‘Siapakah yang membuat Allah itu ada’, mungkin bagi kita kaum Muslim, itu adalah pertanyaan B-O-D-O-H. Ya benar, pertanyaan BODOH.
Pertanyaan yang tidak semestinya dipertanyakan.
Dan hampir semua ulama besar akan berkata bahwa itu adalah pertanyaan yang berasal dari bisikan setan, jadi tidak perlu dijawab atau diperdebatkan. Biasanya mereka akan mengutip Hadist berikut ini :
Dari Abu Hurairoh mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : " Setan akan mendatangi seorang dari kalian lalu mengatakan, 'Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan ini? sehingga dia akan berkata, 'Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Dan ketika dia menghinggapinya maka berlindunglah kepada Allah darinya dan harus dia menyudahinya. " (HR. Bukhori dan Muslim)
Atau Hadits yang ini :
Dari Abu Hurairoh mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Manusia akan senantiasa bertanya sampai yang dikatakan, 'Ini adalah Allah yang menciptakan makhluk lalu siapakah yang menciptakan Allah?' dan barangsiapa yang mendapatkan sedikit saja tentang hal ini maka katakanlah 'Aku beriman kepada Allah. " (HR. Muslim)
Bagi saya pribadi, alhamdulilah, pertanyaan itu tidak menjadi masalah, cukuplah saya berpatokan pada surat dibawah ini yang sangat jelas menerangkan “Apa itu Allah”.
Al Ikhlas : 1 – 4
1. Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
Ayat diatas jelas mengatakan bahwa Allah Maha Esa, udah itu saja, titik. Sudah “Esa” ditambah “Maha” pula, berarti bener2 gak ada lagi yang seperti Dia. Bila yang ‘seperti’ Dia saja tidak ada, bagaimana mungkin ada pencipta-Nya ? Bukankah si Pencipta haruslah memiliki faktor ‘lebih’ dari Ciptaannya?
Tapi jawaban seperti ini tidak akan bisa diterima oleh mereka yang menganut ajaran Atheisme. Seorang Atheis tidak akan pernah bisa percaya dengah hal Gaib seperti itu. Atheis lebih mengutamakan logika dan ilmu pasti untuk menjawab berbagai misteri yang terjadi disekitarnya.
Jadi saya berpikir ini harus ada suatu jawaban yang lebih ‘mendekati’ logika atau ilmu pasti. Jawaban yang sulit dibantah oleh orang yang lebih mengutamakan ilmu pasti dan logikanya.
Karena bagi saya seorang Atheis bukanlah orang yang ‘sesat’, mereka hanya memerlukan ‘sesuatu’ untuk memahami apa yang sulit dipahaminya. Apabila suatu hal telah dapat dipahami dan dimengerti olehnya (berdasarkan ilmu pasti dan logikanya) maka Insha Allah ia akan dengan mudah menerima dan meyakini hal tersebut.
Saya berpendapat jauh lebih berbahaya orang yang sesat, orang yang sesat itu memanipulasi sesuatu, membolak balik sesuatu demi membenarkan kesalahannya. Orang yang sesat bahkan lebih parah lagi selalu berusaha mengajak orang lain ikut dalam kesesatannya. Melakukan segala cara mempengaruhi pikiran orang lain dengan pembenaran atas hal yang salah. Itulah ciri khasnya si Iblis dari jaman Nabi Adam. Mereka yang sesat ini tidak mau tahu dengan kebenaran.
Sedangkan Atheis, meraka adalah orang yang ‘tidak tahu’. Ada perbedaan besar antara ‘tidak tahu’ dan ‘tidak mau tahu’. Dan menurut saya, adalah kewajiban kita sebagai Muslim untuk memberitahunya kebenaran. Tinggal mikir masalah “Caranya”, itu saja.
Lalu alhamdulilah, saya menemukan Riwayat ini, Riwayat yang bercerita tentang seorang anak muda yang dengan cerdas menjawab 3 pertanyaan dari seorang Atheis. Pemuda muslim yang lahir di Irak pada tahun 80 Hijriah (699 M), pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Sayangnya saya belum bisa menelusuri Referensi jelas tentang Asal Riwayat ini, saya membacanya dari berbagai artikel yang tidak mencantumkan sumbernya.
Tapi, okelah itu tidak menjadi masalah, karena isi riwayat ini menurut saya tidak bertentangan dengan dalil apapun di Al Quran, bahkan saya mendapatkan pelajaran yang sangat bagus dari riwayat ini.
SILAHKAN DIBACA
Alkisah, ada seorang ilmuwan hebat dari Romawi, ilmuwan ini tidak mempercayai adanya Allah (Atheis), karena baginya prinsip “Allah memang ada” itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya namun di sisi lain ia juga penasaran mengapa orang-orang yang beragama Islam dapat dengan mudah mempercayai hal-hal seperti itu.
Jadi ia berusaha mencari tahu, dia masuk ke majelis-majelis ilmu, dia telah bertanya pada banyak ulama dan pada banyak muslim terkenal yang diteladani oleh para muslim lain. Namun belum juga menemukan jawaban yang memuaskan hatinya. Dia belum menemukan jawaban yang tepat.
Hingga satu ketika langkah ilmuwan ini sampai di suatu masjid yang didalamnya tengah berlangsung majelis ilmu. Sang Ilmuwan meminta ijin bertanya pada semua jamaah yang hadir. Siapapun muslim disana diperbolehkan menjawab, dengan syarat jawaban itu tidaklah boleh berdasarkan dalil (Al Quran dan Hadits), sebab bagaimana ia dapat meyakini jawaban itu bila ia belum meyakini si pencipta jawaban.? Jawabannya mestilah berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, ilmu pasti.
Ada 3 pertanyaan yang diajukan sang Ilmuwan. Pertanyaan yang menurutnya sangat cerdas dan haruslah dijawab dengan cerdas pula.
1. Siapa atau apa yang menciptakan Allah ? Bukankah setiap hal yang tercipta itu haruslah ada penciptanya. Manusia tercipta dari manusia, hewan tercipta dari hewan, dan tumbuhan tercipta dari tumbuhan itu sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada bila tidak ada penciptanya?
2. Bagaimana mungkin manusia dapat makan dan minum tanpa buang air? Bukankah itu salah satu petunjuk Allah tentang keadaaan manusia di surga nanti. Sebab bila ada sesuatu yang masuk maka harus ada sesuatu yang keluar, dan itu telah menjadi sistem di tubuh manusia untuk mempertahankan keseimbangan didalam tubuh.
3. Allah berkata bahwa Iblis terbuat dari Api, dan Allah pun menciptakan neraka yang juga terbuat dari Api. Lalu bagaimana mungkin Allah dapat menyiksa Iblis disana ? Bagaimana bisa Iblis merasakan siksaan di Neraka sedangkan Iblis dan Neraka terbuat dari zat yang sama yaitu Api.
Beberapa saat keadaan di majelis ilmu itu menjadi hening, semua pertanyaan berhubungan dengan hal Gaib, dan bagaimana cara menjelaskannya dengan ilmu pengetahuan biasa ?
Hingga akhirnya ada satu jamaah yang berusia masih sangat muda berdiri dan meminta ijin untuk menjawabnya.
Pemuda itu berdiri didekat mimbar seraya berkata “Inilah saya, hendak bertukar pikiran dengan Tuan”.
Sang Ilmuwan terperanjat tidak mengira bahwa yang akan menjawabnya adalah seorang anak muda, mungkin ia membayangkan para orang tua yang telah banyak berilmu dan berpengalamanlah yang akan maju, ia pun mempersilahkan.
JAWABAN PERTAMA
Pemuda itu berkata “Jawaban atas pertanyaan pertama. Tuan adalah seorang Ilmuwan, berarti tuan mengerti perhitungan bukan ?”
Sang Ilmuwan menjawab “Tentu saja, itu adalah duniaku”
Si pemuda melanjutkan lagi “ Berarti tuan meyakini bahwa angka 2 didapat dari 1+1, angka 3 didapat dari 1+2, angka 4 didapat dari 1+3, dan seterusnya bukan? ”
Ilmuwan mengangguk mengiyakan hal itu.
Lalu pemuda berkata lagi “Berarti kita sepakat bahwa setiap angka yang tercipta itu selalu berasal dari angka 1, bila Tuan berkata bahwa ilmu perhitungan ini adalah dunia Tuan, maka saya ingin tahu dari mana asal angka 1 tersebut. Angka berapakah yang menciptakan angka 1 itu tuan?”
Sang ilmuwan tersentak, dan sebelum ia sempat menjawab, si pemuda berkata lagi “Bila tuan tidak pernah mempermasalahkan angka 1 dalam dunia Tuan, dan tuan meyakini bahwa angka 1 haruslah ada agar dapat tercipta angka-angka lainnya. Maka apa sulitnya Tuan meyakini bahwa Allah itu ada dan dapat menciptakan hal-hal lain namun Allah tidak memiliki pencipta?”
Sang Ilmuwan pun terdiam, berpikir tapi tak mampu menjawab.
Ia hanya berkata pelan “Tolong jawaban atas pertanyaan kedua”.
JAWABAN KEDUA
Si pemuda dengan tenang melanjutkan : “Pertanyaan kedua pun akan saya jawab dengan ilmu yang Tuan kuasai. Apakah tuan mengerti proses perkembangan bayi didalam kandungan? Apakah tuan tahu bagaimana bayi tersebut dapat tumbuh menjadi tubuh yang lengkap? Dan bagaimana ia tetap hidup sedang ia belum dapat makan karena mulutnya belum terbentuk”
Sang Ilmuwan kembali menjawab : “Tentu saja saya tahu, bayi mendapatkan makanan dari ibunya sehingga ia dapat tumbuh, makanan didapatnya dari tali pusar yang terhubung ke ibunya”
Si pemuda tersenyum, dan berkata : “Berarti kita sepakat bahwa bayi pun selalu makan dan minum meski d idalam kandungan, lalu kenapa bayi tidak buang air?”
Untuk kedua kalinya sang Ilmuwan tersentak.
Si pemuda melanjutkan lagi : “Bila tuan dapat meyakini bahwa bayi tidak pernah buang air meski makan dan minum selama 9 bulan, lalu apa sulitnya Tuan meyakini bahwa manusia di surga kelak pun bisa begitu?”
Lagi-lagi sang Ilmuwan terdiam, bingung harus berkata apa. Ternyata apa yang belum dipahaminya selama ini memiliki persamaan yang sangat berdekatan dengan apa yang telah diyakininya atas ilmunya sendiri.
JAWABAN KETIGA
Melihat sang Ilmuwan termenung, si pemuda mendekatinya sambil berkata “Bolehkah saya melanjutkan ke pertanyaan terakhir Tuan?”
Sang Ilmuwan menatap mata si pemuda, ada sebuah titik terang yang muncul di kepalanya, dengan tersenyum dia menjawab : “Silahkan wahai pemuda yang cerdas”
Si pemuda membalas dengan tersenyum pula, dan tiba-tiba tangan si pemuda bergerak dengan cepat menampar pipi sang Ilmuwan yang ada di hadapannya.
Ilmuwan itu terkejut sekali, dan untuk kedua kalinya tamparan si pemuda mendarat lebih keras di pipinya. Semua jemaah majelis ilmu yang hadir disanapun terperanjat dengan tingkah pemuda itu. Suasana menjadi gaduh.
Sambil mundur menjauhi pemuda, sang Ilmuwan berteriak keras : “Ini apa maksudnya ? Kenapa kau menamparku hingga sakit sekali seperti ini? “
Si pemuda masih tetap tersenyum dan diam menunggu suasana gaduh menjadi tenang kembali.
Lalu ia berkata : “Wahai tuan yang berilmu. Tangan ku ini berlapis kulit dan pipi mu pun berlapis kulit. Tangan, pipi dan kulit kita terbuat dari zat yang sama, yaitu tanah. Lalu mengapa kau bisa merasakan sakitnya tamparanku ? Bahkan kau dapat merasakan tamparan kedua lebih menyekitkan dari yang pertama…? Nah itulah jawaban atas pertanyaan mu tentang bagaimana neraka dapat menyakiti iblis meski neraka terbuat dari zat yang sama yaitu api”
Untuk ketiga kalinya Sang Ilmuwan terdiam. Ia terhenyak dengan kata-kata si pemuda.
Ilmuwan yang Atheis itupun mulai menyadari bahwa semua pertanyaan yang diajukannya itu bukanlah pertanyaan yang cerdas tapi itu adalah pertanyaan yang sangat bodoh, pertanyaan yang sebenarnya tak pantas diajukan seorang ilmuwan seperti dirinya, ia sangat malu dengan dirinya sendiri.
Akhir cerita, sang Ilmuwan sangat puas dengan jawaban yang didapatkannya saat itu, para jemaah majelis pun dapat memahami inti dari semua jawaban si pemuda.
Dan bagi yang penasaran, nama si pemuda itu adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi, itulah sang Imam Hanafi muda, seorang hamba Allah yang diberi karunia kecerdasan tinggi dan berakhlak mulia selama hidupnya. Mazhab fiqihnya sangat terkenal dan banyak dijadikan sebagai panduan dalam Islam, kita mengenalnya dengan Mazhab Hanafi.
------------------
Riwayat diatas secara pribadi membuka pikiran saya, bahwa terkadang kita tidak harus mencari jawaban atas semua hal gaib dengan jawaban yang tepat, karena hal gaib itu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Yang harus kita lakukan adalah mencari persamaan pertanyaan sederhana yang mirip dengan pertanyaan itu. Pertanyaan sederhana yang jawabannya sudah umum dipahami orang lain, sehingga antara penanya dan penjawab dapat dengan mudah saling memahami, yang Insha Allah dapat menghindari perdebatan yang sia-sia.
Semoga bermanfaat. Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
🔎 http://www.aqidah.info/aqidahku/siapakah-yang-menciptakan-allah
KENSCOFF, Haiti (AP) — For a limestone mantel from the Waldorf Astoria, the church that owns the Olde Good Things antique stores asks for $8,500. But for the death of each child in a fire at...
From a religion built on “everyone hates you for following me” and “I do not bring peace, but a sword” to the entire book of Revelations.
Anti agama
Atheisme masuk dengan berbagai cara di bangsa ini. Tahun 1900 melalui paham komunis misalnya yang mengajarkan bahwa Agama adalah sesuatu yang kolot dan penganutnya tidak akan pernah maju. Maka ide memisahkan kehidupan agama dengan sosial dilakukan agar manusia-manusianya maju dan tidak percaya lagi pada hal takhayul. Misalnya saja raksasa dunia saat ini, China yang menjunjung tinggi komunisme bahkan menjadikannya sebagai falsafah negara terus saja mendeskriminasi muslim uighur untuk keluar dari agamanya. Kenapa hal tersebut dilakukan? Agar china menjadi bangsa yang besar dan terlepas dari takhayul agama dan hanya percaya hanya pada falsafah komunis.
Cara lain adalah melalui liberalisme yang menjunjung kebebasan seseorang. Liberalisme sesuangguhnya adalah sesuatu yang rancu. Tidak ada yang benar-benar bebas di dunia ini. Bahkan negara yang paling liberal pun masih mempunyai aturan-aturan tertentu. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang tidak membahayakan penguasa dan sistem yang ada. Misalnya berjudi, berzina bahkan mabuk-mabukan. Tidak ada kebebasan yang sesungguhnya untuk orang-orang yang bersebelahan atau dianggap berbahaya. Misalnya penggunaan burqa di beberapa negara eropa. Kenapa Burqa berbahaya? burqa adalah simbol ketaatan muslim pada agamanya. Burqapun simbol perlawanan dari wanita yang seringkali dianggap “sampah” menjadi wanita mulia secara tuntunan agama. Wajar saja, karna islam sendiri dianggap membahayakan bagi para penguasa penguasa di negara yang katanya menjunjung tinggi liberalisme yang ternyata hanya paradox belaka.
Keduanyapun gagal di Indonesia untuk membuat umat bangsa ini menjadi atheis. Banyak cara lain dilakukan agar atheismu tumbuh subur di Indonesia. Mengapa Indonesia harus atheis? Indonesia adalah bangsa yang besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia dengan sumber daya alam melimpah dan negara yang luas. Maka hal ini sangat berbahaya bagi bangsa lain, karna bisa jadi Indonesia akan menjadi negara adidaya selanjutnya. Akan lebih berbahaya lagi jika islam digunakan sebagai dasar negara karna akan menciptakan tatanan dunia baru. Satu-satunya peradaban yang pernah mengalahkan peradanan Romawi dan Persia. Pun perjuangan bangsa ini adalah perjuangan agama, melalui ormas keislaman pada masanya. Ulama dan kaum santri yang telah mengorbankan jiwa dan raga tanpa meminta apapun. Bahkan setelah kemerdekaan diraih, lebih banyak ulama dan santri kembali lagi ke surau-surau dan masjid, bukan di parlemen.
Maka upaya mengateiskan Indonesia adalah hal penting, karna jika bangsa ini menjad bangsa yang atheis maka secara otomatis bangsa ini akan runtuh dengan sendirinya. Maka tak heran upaya atheisme terus saja dilakukan seperti menolak perda syariah ataupun perda-perda lainnya terkait agama misalnya.
UJIAN, Sudah Berakhir?
Ujian akhir semester sudah usai lebih dari sepekan yang lalu. Nilai yang cukup menyenangkan, paling tidak terlepas dari D di mata kuliah Dr. Azzazy.
Saatnya libur dan piknik. Siapa yang tidak suka?
Tapi apakah liburan berarti bakal bebas dari ujian? Kupikir tidak.
Justru terkadang berlipat- lipat lebih berat.
Saat ujian bukan di atas kertas tapi ada di depan muka, seakan jadi bukti apakah ilmu adalah sekumpulan huruf yang dirapal, atau sebuah pengajaran yang merasuk di akal dan hati lalu membuahkan pekerti?
Terkadang aku sering salah persepsi. Takut gagal di mata kuliah tertentu. Belajar mati- matian sampai mengorbankan waktu makan, bersih- bersih, bahkan tidur. Tapi dengan ujian dalam kehidupan nyata, justru tidak mau repot mikir keras.
_____________________________________
Aku jadi ingat ketika kuliah tauhid adalah aib bagi yang tidak hapal tafsir “laa ilaaha illallah”. Bukan aib saja, tapi yakinlah anda akan diragukan keimanannya dan wajib tinggal kelas.
Tapi coba tarik sebentar ke belakang. Ke masa- masa silam yang kelam. Apakah dalam perilaku kita sudah menunjukkan perilaku seorang yang memiliki Tuhan atau tidak (atheis)?
Seolah gagal dalam ujian di dunia nyata bukan jadi masalah besar. Justru menggampangkan, ah aku khilaf, toh Tuhan kan Maha Pengampun.
_____________________________________
“Hamba- hamba yang paling takut kepada-Nya hanyalah mereka yang memiliki ilmu.” (Fathir: 28)
Aku selalu gentar membaca firman- Nya yang satu ini.
Apakah status mahasiswa syariah islam sudah dapat menjamin bahwa tempatku ada diantara mereka (read: ulama)?
Tuhan, mohon di-eling-kan terus.
Tuhan, petunjuk- Mu, selalu.