Tidurlah yang nyenyak para lelaki kecil Ibu.... 😘

Origami Around

Andulka
TVSTRANGERTHINGS

pixel skylines
Stranger Things
Monterey Bay Aquarium
Cosimo Galluzzi
I'd rather be in outer space 🛸
noise dept.
art blog(derogatory)

No title available
Three Goblin Art
taylor price
Misplaced Lens Cap
Show & Tell
One Nice Bug Per Day
No title available

blake kathryn
hello vonnie
Claire Keane

seen from Poland
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Germany

seen from Maldives

seen from Romania
seen from Indonesia

seen from United Kingdom

seen from Norway
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Italy

seen from Germany
@anabsurdthings
Tidurlah yang nyenyak para lelaki kecil Ibu.... 😘
Sabar Atau Ekstra Sabar
Setiap hari seperti petualang. Aktivitas yang berlangsung pun tak bisa disamaratakan. Mood pun menjadi tak karuan. Tapi yang bisa ibu lakukan hanya mengambil nafas panjang.
Begini ternyata arung jeram itu... Membuat adrenalin terus berpacu. Tapi pikiran dan perasaan tetap harus dijaga supaya tidak membuat kisruh.
Dua bayi di rumah.... Bertiga seharian. Satu bayi mulai memasuki fase tantrum (jerit-jerit histeris ketika kehendaknya tak terpenuhi) & satu bayi mulai banyak gerak dengan cara berguling guling...terhalang dinding, pecah tangisnya.
Ditambah PR (selalu😌) plus membuat materi mengajar di malam hari... Jadilah isi kepala dancing all the times... Pilihannya hanya dua, sabar atau ekstra sabar.
Ketika kakak merajuk minta ditemani dan maunya main tarik-tarik rambut ibu sambil naik kuda ibu.... Sabar...
Saat adik minta ditemani main lalu keasyikannya diselingi kegemesan kakak (kepala adik di towel dikit 😅).... Sabar...
Dan saat dua bayi menangis...satu minta main di luar, satu minta nenen sambil tiduran... Sementara ibu hanya seorang diri.. Jadilah suara tangis membahana pecah ruah meramaikan rumah... Masih harus Sabar...
Jika ibu sedang sibuk bercengkrama dengan panci & kawanannya saat dua Jr tidur tetapi tiba-tiba keduanya mewek menjerit entah mengapa... Di situlah harus Ekstra Sabar... Tidak gegabah melemparkan sutil atau berteriak-teriak supaya dua bayi di kamar bisa tenang kembali.... syusahhhh sekali ya Allah..
Sesekali saya pernah berada pada titik lelah dan tak tahu harus bagaimana...jadilah hanya bisa ikut dua bayi menangis... pasrah..
Tapi bukan berarti tak bisa. Tetap ada usaha dengan sisa daya yang ada untuk selalu istiqomah pada dua pilihan... Sabar atau Ekstra Sabar.
Saya mau panen yang manis pada buah yang saya tanam, jadi saya harus memperlakukan bibit yang saya punya dengan semaksimal dan seoptimal mungkin. Mengusir segala jenis hama dan penyakit supaya mereka tumbuh dengan sehat. Memberikan jenis pupuk yang sesuai dan seimbang supaya tidak OD. Menyirami pula dengan teratur..
Lelah memang... Tapi saya yakin.. Insha Allah, lelah itu akan terbayar lunas... Karena hasil berbanding lurus dengan segala usaha dan kerja keras. Pun tetap harus ikhtiar. Tetap berusaha sabar atau ekstra sabar.
Time is Running Very Fast And Faster
Yaahhh... 2018 sudah berjalan 26 hari. Cepat sekali, itulah yang saya rasakan. Tiba-tiba saja sudah hampir Februari. Tak ada acara spesial di awal tahun kecuali pulang ke kota tempat saya tumbuh & berkembang lalu setelahnya sibuk dengan urusan bayi-bayi yang tumbang karena kelelahan.
Nyaris dua pekan di awal tahun hanya berkutat dengan kakak dan adek. Rewelnya mereka sungguh subhanallah... Membuat keringat ibu tak berhenti mengucur.
Tak apa, alhamdulillah para jagoan sudah kembali fit. Sudah kembali dengan gerak huru hara masing-masing. Dan jika melihat kedua lelaki junior saya saat ini, waktu betul-betul berlari begitu kencang.
Habibi & Naufal telah menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Si adek jadi gempal dengan pipi merekah dan begitu menggemaskan. Sementara kakak tumbuh tinggi menjulang...celana dan baju-baju menjadi cigkrang.
Perkembangan mereka juga signifikan. Memang, kakak belum lancar berbicara. Kosakata yang bisa dilafalkan hanyalah 'apa', 'mamam', dan selebihnya ocehan hahihuu ala bayi. Tapi kakak sudah paham apa yang dikatakan orang. Dia mengerti jika harus diminta menyerahkan botol susu pada ayah atau ibu. Kakak sudah bisa diajak berkomunikasi secara sederhana. Dan adek, luar biasa...maunya nempel terus sama ayah ibu. Tak mau ditinggal seorang diri. Jerit dan tangisnya langsung pecah jika dia sendirian...
Padahal rasanya baru kemarin saya menggendong bayi yang beratnya tak lebih dari 3 kg.. Sekarang adek sudah 10kg 😅 kurang dua kilo lagi jadi sepadan dengan kakak.
Semoga saja cepatnya waktu yang bergerak tak sia-sia. Dan saya bisa terus mengikuti ritme gerak cepatnya sembari menikmati segala kejutannya.
Beginilah salah satu pola Habibi. Maunya panjat panjat apapun.... Dan inilah alasannya kenapa ayah ibu tidak boleh lengah atau membiarkan si bayi sendirian
Ketika Bayi IBU Tergolek Lemas
Beberapa hari terakhir adek sedang bad mood. Tentu saja karena kondisi, tubuhnya yang kurang sehat. Tak bisa diajak bercanda. Ekspresi wajahnya murung & tatapan matanya begitu sendu nan sayu.
Si adek minta gendong seharian, sesiangan, sesorean & semalaman. Jika diletakkan di kursinya atau di stroller terlalu lama make mewek Dan jeritnya menjadi histeria tersendiri di rumah. Tetangga sebelah sampai heran karena selama ini bayi-bayi Ibu dikenal charming & anti rewel...
Satu-satunya yang tak berubah adalah tetap doyan ngASI & masih mau melahap makanan yang disuapkan ke mulutnya. Hanya saja si adek maunya minum ASI sambil tiduran di kasur...
Tak masalah sebenarnya untuk tetap stay di atas kasur... Yang jadi masalah adalah Ibu punya dua bayi. Si kakak yang atraktif plus begitu lincah tak mungkin dibiarkan berkeliaran di rumah sendiri. Kakak pastilah merengek jika tak dikawani bermain... Apalagi si ayah selalu pulang saat langit mulai remang...
Karena itulah Sejak pagi hingga senja menjelang seperti genderang perang bagi ibu. Harus melayani dua bayi dimana salah satunya sedang kurang sehat. Yang satu minta susu, yang satu minta ganti popok karena BAB 😅.
Si adek tak mau tidur jika tak dikelonin, sedangkan kakak tak mau tidur karena masih mau bermain sementara adek rewel minta bobok sambil nenen 🙈. Pusing dehhh kepala Ini.....
Alhamdulillah... Ibu masih diberi kesehatan & kekuatan untuk rock and roll seorang diri plus ada bonus pijat pake minyak GPU dari si ayah saat malam...
Semoga adek bisa sehat lagi... Terus sehat pula untuk bayi-bayi ibu
😘😘😘
Membiasakan Mandi Sejak Dini
Kebiasaan bangun subuh lalu mandi pagi-pagi sudah saya terapkan pada kedua bayi. Sejak mereka lahir... Setidaknya mandi pagi tak pernah lewat dari pukul 6...kecuali saat mereka atau saya kurang fit... Lalu mandi sore saya lakukan sekitar pukul 14.00-14.30.
Kebiasaan yang beberapa saat terakhir di'gosipkan' oleh tetangga sekitar. Kata mereka kasian anaknya disuruh mandi subuh, masih bayi pula... Atau saat mandi sore "ini loh masih jam berapa kok si Habibi sama adeknya sudah mandi aja".
Aaaahhhh kalau mau membalas bisik-bisik mereka sih percuma... Mau diceritakan pun tak akan mereka paham.
Hanya saja salah satu alasan saya menerapkan mandi lebih awal, baik pagi maupun sore, karena diapers Habibi sudah penuh. Minta digantikan dengan segera, jika tidak maka pipisnya akan menggenangi seluruh rumah. Sementara adek entah mengapa selalu saja 'minta' mandi pada pukul 6 pagi & 2 siang... Mungkin karena merasa gerah.
Setelah mandi barulah mereka main-main. Entah itu di luar atau di dalam rumah. Seandainya mau main keluar, kondisi badan sudah fresh tidak kucel dan kumus-kumus bau pesing :).
Membiasakan Mandi sebelum keluar rumah sejak awal... Supaya besok besar mereka sudah terbiasa untuk bersih sebelum keluar rumah.. Karena menanamkan kebiasaan itu tak bisa instan, harus dilakukan sedini mungkin untuk mendapatkan panen yang diharapkan...
Si gembul yang sedang lemas
Ajaibnya Susu Ibu (ASI)
Banyak orang mengatakan bahwa anak yang minum ASI lebih tahan terhadap serangan ataupun infeksi berbagai macam penyakit. Dan sebagai ibu dengan dua bayi yang berbeda jenis asupan nutrisinya saya menolak pernyataan tersebut. Habibi, anak pertama ibu, minum susu botol. Sementara Natal, si adek, full ASI. Kenyataannya si adek jauh lebih sering terkapar lemah karena penyakit. Adek mudah sekali terkena flue , apalagi jika si ayah yang membawa virusnya ke rumah. Kelelahanpun bisa membuat daya tahan tubuh adek turun.
Sedangkan kakak jauh lebih tahan terhadap serangan penyakit....padahal kakak minum susu botol.
Tapi, ASI itu ajaib. Adek seringkali sakit. Sekarang batuk, besok pilek, lalu besoknya demam dan besoknya lagi diare. Tapi karena ASI, sakitnya jadi mudah dilawan sehingga sembuhnya juga cepat. Mungkin karena ada tambahan imunitas yang terkandung di dalam ASI... Jadilah mudah sembuh dari sakit.
Jadi sebenarnya daya tahan tubuh itu sifatnya bawaan, tidak melulu anak ASI punya daya tahan tubuh lebih kuat daripada anak 'sapi'. Banyak kok anak ASI yang sakit-sakitan. Tapi memang karena ada tambahan 'perisai' dari ASI jadilah sakitnya mudah diperangi.
Tapi tetap, ASI itu Amazing. Ajaib luar biasa. Naufal bisa bebas dari penyakit biduran (bentol-bentol merah di seluruh badan) dalam waktu satu hari, sedangkan Habibi butuh waktu satu minggu untuk sembuh dari sakit serupa... Pun perlu waktu beberapa hari untuk kembali fit 100%.
Jadi, untuk mengukur besarnya daya tahan tubuh anak tak melulu dilihat dia minum ASI atau minum susu formula...
Ketika Tengah Malam. Membuat sesuatu yang bisa dijadikan salah satu objek kesenangan si toodler esok pagi. Merangkai lego yang didapat dari tante (Alhamdulillah, rejeki anak sholeh) selama 5400 detik yang akan dibongkar oleh si empunya perkakas tak kurang dari 60 detik 😅😅😅
Yang Penting Sehat
Habibi tampak kurusan. Pipi tembemnya saat 'bayi' menghilang. Paha dan perutnya yang montok lenyap begitu saja. Dan yaaa... si abang terlihat langsing dengan tinggi badan yang menjulang.
Melihat si abang kurus, semua orang yang pernah mengenalnya ketika bayi berkomentar dan selalu dengan inti yang sama.... Habibi kurus karena tak mau makan.
Yaaaa saya akui, sejak usia si abang menginjak satu tahun, dia begitu sulit diberi makan. Sendok yang terarah ke mulutnya seakan musuh yang tak ingin ia temui. Maunya hanya diberi sendok lain untuk mencecerkan makanan ke seluruh ruang. Iya, si abang susah sekali makan. Dia tak seperti toodler pada umumnya yang makan tiga kali sehari dengan menu sepiring penuh. Nope... thats not my son.
Dan komentar orang-orang adalah "Gimana nutrisinya kalo gak dikasih makan?" Iyes, ibunya yang disalahkan ... tidak memberi makan si anak.
Ketahuilah kalian para ibu...para emmak... dan para embah sekalian... tidak semua anak terlahir sebagai tipe pemakan.
Tipe pemakan ini adalah bayi-bayi yang mulutnya terbuka lebar untuk makanan pokok apapun dengan porsi yang teratur, semangkuk atau sepiring penuh. Tapi ada pula bayi yang leluar dari tipe umum itu... Habibi saya. Tidak melulu makan tiga kali sehari dengan menu utama karbohidrat berupa beras yang diolah dalam bentuk apapun. Habibi tak mau makan dalam porsi besar... tapi percayalah semua, bahwa anak saya tidak kekurangan asupan nutrisi. Tidak mengalami gangguan kesehatan berupa gizi buruk.
Dia memang tak mau makan nasi sepiring penuh dengan aneka lauk, tapi cuilan-cuilan tempe...remah-remah roti..potongan kecil daging, udang & telur ; gigitan kecil pisang, serta beberapa suap bubur kacang ijo sudah cukup untuknya. Dia makan bukan karena 'hobi' layaknya bayi tipe pemakan. Dia makan karena memang mau makan dan butuh makan.
Tak hanya bayi sebetulnya, orang dewasapun begitu. Ada yang suka sekali makan, sehingga mampu melahap makanan 'besar' lebih dari tiga kali dalam sehari.... tapi ada pula yang makan karena memang mereka butuh...
Bukankah yang penting tubuh tidak kekurangan nutrisi dan tetap sehat??!!!
Habibi saya, insha Allah sehat. Dia memang tak makan rutin tiga kali sehari , tetapi dalam sehari pasti adalah makanan yang masuk ke mulutnya. Dan itu tanpa paksaan.
Yuupp...saya tak mau memaksakan makan pada anak. Daripada dipaksa, dicekokin makanan lalu muntah...percuma. Yang penting saya tetap mengajarkan kebiasaan makan pada si bayi. Selalu menyertakan dia saat makan bersama suami... toh 2-3 sendok bisa juga masuk mulutnya... Nanti lama-kelamaan pastilah dia juga terbiasa untuk makan.
Biarlah kurus, yang penting sehat.
Toh tidak kurus kering ya Mas.. tapi kurus keren 😊😊😊
Karena Rejeki Tak Melulu Soal Rupiah
Sejak pindah dari kota untuk menetap bersama suami di awal tahun ini, saya melepas pekerjaan yang cukup bisa memberikan tambahan uang bulanan... setidaknya bisa buat beli lipstik dan novel-novel baru. Tanpa kerjaan tetap pastilah saya punya lebih banyak jam 'nganggur' selama di rumah. Mau mencari pekerjaan di tempat baru tak mungkin, karena saya harus menjaga bayi dan di tempat baru ini...kami betul-betul hanya tinggal berdua dengan seorang bayi (10 bulan yang lalu).
Karena jadwal kosong itulah yang akhirnya membuat saya & suami sepakat bahwa saya bisa menggunakan sedikit waktu guna mencari pendapatan tambahan tanpa harus meninggalkan rumah... menjadi 'guru' les untuk anak-anak tetangga di perumahan yang kami tempati.
Tak lama, hanya 90 menit... lima hari dalam seminggu. Yang ikut belajar memang tak banyak, hanya tiga bocah (sekarang lima) & semuanya adalah anak dari orang tua yang berada. Saya juga tak menuntut upah dengan nominal tertentu, karena memang tak tahu rata-rata upah seorang guru les di desa ini... tapi saya berpikir bahwa orang tua mereka lebih dari mampu untuk sekedar membayar uang les dan mereka pastilah tahu bahwa kertas & pena & perangkat mengajar dibeli dengan rupiah... so, saya akui bahwa saya mengharapkan ada rupiah yang saya dapat dari 90 menit tadi.
Sungguh, berbaur dengan bocah-bocah sd itu menyenangkan dan menggemaskan. Saya tak pernah merasa bosan...lelah pasti karena menghadapi bocah-bocah yang masih labil... menyenangkan karena saya bisa berbagi pada sesama.. Alhamdulillah ada sedikit ilmu yang bisasaya beri..bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama?
Tapi ya... lagi-lagi masih menyimpan harap untuk sebongkah rupiah 😅
Well, mungkin karena memang perumahan ini terletak di area desa yang mayoritas penduduknya masih berpegang pada semboyan 'guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa' , jadilah semua hal yang berbau pendidikan dianggap tak butuh jasa... everythings about education is free.
Akhirnya, no payment for the 90 minutes.
Ya sudah... lalu mau bagaimana? Saya sendiri pun tak pernah meminta karena tak tahu berapa yang pantas saya terima setelah memerah daya nan upaya selama 90 menit × 5 hari dalam seminggu.
Alhamdulillah nya... saya jadi punya tabungan untuk bekal di akhirat nanti... jika ilmu yang saya sebarkan ini bisa bermanfaat, bukankah bisa jadi ladang amalan yang pahalanya tak terputus jika kelak saya menghadap Sang Khalik?
Ilmu yang saya miliki juga akan semakin melekat karena terasah hampir setiap hari... saya pun menjadi lebih banyak belajar dan lebih banyak tahu lagi tentang pelajaran-pelajaran jaman sekolah dasar... jadi ingat lagi isi perjanjian Kalijati dan Linggarjati 😆😆
Mungkin ini adalah bentuk cinta yang lain. Tak masalah dengan apapun, yang penting bahagia.. dan yaaa..namanya juga cinta, tak akan pernah bisa masuk di akal 😎
Rejeki sudah ada yang mengatur... dan bentuknya tak melulu berupa kelimpahan materi. Alhamdulillah masih diberi waktu untuk menikmati hidup dengan cara yang baik.
P.S : Tak apa ya Allah jika memang para tetangga menganggap ku sebagai volunteer , asalkan Kau cukupi susu & popok Habibi & popok Naufal... Please God, susu bayiku habis 😭😭😭 popoknya pun menipis... 😓
Jatuh Juga
Yaaakkk... sepandai - pandainya tupai melompat, pastilah terjatuh juga. Se-setrong apapun ibu, akhirnya tepar jua.
Mungkin karena akumulasi lelah dan habisnya amunisi daya, jadilah saya lemah tak berdaya. Bekas jahitan operasi yang beberapa waktu terakhir sempat merembeskan darah tiba-tiba terasa begitu nyeri. Sakitnya betul-betul subhanallah... hanya Tuhan yang tahu, saya tak bisa mendeskripsikan rasanya dengan kalimat yang pantas.
Yang pasti rasa sakit itu membuat saya tergolek seharian di atas kasur... jangankan berdiri, duduk saja membuat nyeri. Satu-satunya cara supaya saya tak merasakan sakit yang luar biasa itu adalah memejamkan mata. Tidur.
Dan memang itu yang saya lakukan... sesekali membuka mata hanya untuk memberi si adek ASI. Karena sakit ini pula aksitivitas menyusui menjadi kurang optimal. Adek kurang puas karena ia tak bisa nenen dengan banyak gaya seperti yang dilakukan setiap hari. Tangisnya langsung pecah jika posisi yang dia inginkan tak dituruti... saya, tak bisa berdiri. Hanya mampu memberi ASI sembari berbaring...itupun sambil menahan nyeri karena posisi miring membuat tubuh harus menekan area perut.
Lebih menyakitkan lagi, abang harus bermain sendiri (lagi).
Untunglah, suami mau mengerti... dia melepas hari yang seharusnya dihabiskan untuk bekerja, menggantinya dengan diam di rumah. Menemani anak-anak kami yang masih bayi.
Yaaa...namanya juga lelaki, tak melulu bisa diandalkan soal mengurus rumah. Suami sudah lumayan bisa merapikan mainan Habibi yang kocar kacir di sana sini... tapi, mempercayakan kerapihan rumah 100% padanya seperti sebuah mimpi.
Itu pulalah yang menjadi salah satu kekuatan saya untuk berdiri dari kasur.... bagaimana bisa saya tenang dengan kondisi rumah yang tak bersih? Baru juga sehari tak disapu dan dipel, koloni semut sudah giat menjajah. Wadah magic com pun belum dicuci... alhasil tak ada nasi yang bisa dimakan. Lagi-lagi hanya bisa mengandalkan air mineral sebagai bahan baku ASI adek (maaf, ya Nak).
Sakit bekas jahitan ini entah kenapa sering kali membuat nyeri...
Semoga saja kondisi saya betul-betul segera pulih.
Supaya bisa kembali melompat kesana-kesini...
Libero Kesayangan Ayah Ibu. Abang Scirea Habibi yang sudah bisa diajak berkomunikasi meskipun dengan bahasa bayinya... Belum bisa bicara lancar, tapi sudah paham maksud orang sedang mengajaknya bercengkrama. Jagoan ibu nomer satu yang akhir-akhir ini sering ibu 'cuekin' 😭😭 Maaf ya Nak... Maaf karena ibu tidak bisa menggendong adek dan abang sekaligus.. Tetaplah jadi anak baik ya... tambah pinter & sehat selalu... ❤❤
Lelah Sekali, Sesekali Lelah
Akhir-akhir ini rasanya badan remuk redam.
Kaki pegal linu sepanjang hari, punggung nyeri dan ditambah nafas yang sering ngos-ngosan. Kondisi lelah yang berujung pada 'penelantaran' bayi. Karena lelah, jadilah waktu main bersama si abang menjadi kurang berkualitas. Saya jadi lebih sering hanya duduk diam mengamati Habibi yang sibuk membanting-banting perkakasnya sembari diselingi dengan menyusui adek.
Mungkin memang sedang sangat lelah... ditambah lagi panasnya suhu udara... jadilah ibu gampang naik darah..
Seharian beres-beres rumah dan menuntaskan segala kekacauan yang dibuat para lelaki, ditambah Naufal yang maunya nenen dengan berbagai posisi dalam satu kali sesi nenen (sebentar duduk, lalu berdiri, kemudian rebahan... atau sebalik-baliknya) yang membuat ibu harus duduk lalu rebahan dan tiba-tiba berdiri... kondisi yang betul-betul membuat encok pegel linu 😣; belum lagi kalau si abang sedang rewel minta gendong saat adeknya bobok, plus abang yang begitu senangnya membanjiri lantai dengan sisa susu di botolnya yang tentu saja disambut suka cita oleh para koloni semut dan disambut deru nafas yang membucah oleh ibu .. makan pun jadi sering terlewatkan karena tak ada yang bisa dimakan... tak punya waktu memasak dan tak bisa beli makan siap saji karena tak ada budget... akhirnya, mengganjal perut dengan tegukan air putih...
lalu malamnya saya harus berkutat dengan anak-anak tetangga yang minta 'ditemani' belajar.. anak-anak sd dengan berbagai tingkatan yang semuanya punya mulut dan bisa bergerak...anak-anak orang yang seringkali membuat saya harus mematikan 'kompor' yang siap meledak.. dan setelah mengurus anak orang, masih ada lagi PR yang harus dikerjakan... urusan cuci-cuci, lipat-lipat, & kora-kora... sungguh semakin menyempurnakan kelelahan dalam satu hari.
Setelah semua selesai, inginnya tidur saja sampai fajar menyingsing... tapi mau dikatakan apalagi... saya punya bayi... dua bayi.. dua-duanya tetap minta dikasih makan sepanjang malam... dan tetep ada sesi nenen dengan berbagai gaya..
Ya Allah, saking lelahnya... saya cuma bisa bersimbah air mata. Tak bisa menahan kucuran deras kelenjar di pelupuk mata, menangis pasrah.
Boleh bukan jika sesekali saya mengeluh, Tuhan...
Sakitpun Punya Cerita
Beberapa waktu terakhir rasanya begitu melelahkan. Banyak peluh yang turut menguras emosi... sedih, kesal, lelah... ngos-ngosan pula..
Dua jagoan Jr secara bergiliran diberi sakit... Alhamdulillah,Allah masih mau mengangkat derajat kami dan mengurangi rangkaian dosa yang sudah kami buat... tapi rasanya begitu menyiksa.
Sakitnya seperti berlapis-lapis... padahal yang merasakan adalah si kecil, tapi badan ibu juga ikut tersengat..
Si Abang demam, flue dan ada alergi di kulit yang menyebabkan telapak kakinya seperti manula...pecah-pecah dan terasa gatal.
Sementara si adek, tergolek lemah akibat infeksi saluran cerna dan flue yang tak kunjung sembuh... baru hilang fluenya, datanglah si demam yang membuat suhu tubuh adek luar biasa tinggi dan tentu saja membuat dia betah di atas gendongan...all the day... siang dan malam maunya ditimang..
Tak masalah sebenarnya menggendong si baby yang beratnya sudah mencapai 6 kg...
Tapi, ada Abang yang juga bayi... dan saya di rumah seorang diri karena ayah bekerja.
Bingungnya luar biasa... ditambah lagi kondisi finansial yang tidak menguntungkan karena banyaknya pengeluaran tak terduga 😥 tak pernah rasanya begini tak punya rupiah... sungguh, rekening kosong..celengan di rumah bolong, yang tersisa hanya selembar uang lima ribu... perut hanya terisi oleh nasi putih... tapi untunglah susu Abang masih terjamin.
Saya pun cuma bisa mengelus dada sembari sesekali bersimbah air mata & tentu saja meratap padaNya yang entah kenapa begitu senang 'mempermainkan' saya.
Kami serumah seperti sedang berperang...
Sementara adek berjuang dengan tubian sakit yang menderanya...
Ayah Ibu melawan lelah yang mendatangkan amarah..
Abang melawan manja minta digendong..
Dan ya...ternyata kami masih bisa bertahan...
Ngos-ngosan iya, tapi rumah masih ceria.
Sakitnya adek masih ada, tapi rumah kami tetap bisa menyuguhkan cerita.
Semoga saja Allah memberikan sudut pandang baru yang lebih menyenangkan untuk cerita selanjutnya...
The Amazing 2nd Baby Boy
Sudah selesai…Hari persalinan yang saya nantikan sudah terjadi sepekan lalu. Well, akhirnya saya ditakdirkan untuk menjadi satu-satunya yang tercantik di rumah. Si adek lahir dengan jenis kelamin yang sama dengan kakaknya. ——– ——— ———— ————— Pekan lalu, Selasa (6 Juni 2017) setelah salat subuh, saya dan suami menuju rumah sakit tempat kami biasa memeriksakan kandungan ini…sesuai dengan janji yang kami buat dengan dokter sehari sebelumnya. Dengan perasaan deg degkan luar biasa plus kepikiran Habibi yang akan saya tinggal beberapa hari, perjalanan menuju satu-satunya RSIA di tengah kota domisili saya terasa begitu lama. Saya memang tak berhenti berdoa, tapi suasana hati tak bisa dikendalikan. Pikiran akan jarum suntik dan segala macam obat plus gunting operasi dkk membuat saya gugup. Tapi yaaa… mau tak mau saya harus mengeluarkan si janin karena memang waktunya ia menghirup udara Bumi. Akhirnya, setelah ‘ditelanjangi’ di IGD..dipasang kateter, infus, diambil darah dan disuntik entah obat apa..saya digiring ke ruang operasi.. di ruang operasi pun rasanya begitu lama.. Perawat atau entah siapa menyiapkan segala keperluan SC… mengeluarkan semuanya dari 'panci’ sterilisasi dan menjajarkannya di samping tempat tidur saya. Saya yang terkulai dipasangi oxymetri (kalau tak salah) dan mulai dibius lokal. Suntikan bius dilakukan di bagian punggung, ajaibnya adalah saya tak merasakan kesakitan seperti yang orang-orang tuturkan tentang anastesi (dua jempol untuk dr Anastesi yang menjadi tim SC saya)… Alhamdulillah, ketakutan yang lain terlewati. Lalu kemudian kaki terasa berat seperti kesemutan… Hingga akhirnya saya tak merasa apa-apa dan terdengar jerit tangis bayi yang diikuti oleh perkataan dr “laki-laki ya Bu”. Okay, good bye lil girl… Si adek lahir pukul 07.35 pagi dengan berat 2.9kg & panjang 49 cm. Oh Tuhan, si adek luar biasa mungil jika dibandingkan dengan sang Kakak… Sekitar pukul 8 saya keluar dari kamar operasi, dan didiamkan di ruang pulih sadar..menunggu hilangnya reaksi bius sekaligus gerakan kaki saya. Uhhh rasanya
Dear Kamu , Suami
Iya, kamu...
Kalau kamu adalah suami...
Dan merasa seorang suami...
Pernahkah memikirkan bagaimana keadaan rumahmu bisa teratur setiap hari..
Pernahkah berpikir bagaimana wastafelmu bersih dari tumpukan wajan panci berminyak...
Pernahkah berpikir bagaimana pakaianmu selalu tercuci bersih...
Pernahkah berpikir bagaimana lantai kamar mandimu tidak membuatmu terpeleset..
Pernahkah berpikir bagaimana magic commu bisa berisi nasi yang siap santap...
Pernahkah berpikir tentang itu semua....
Jika pernah dan sudah memikirkannya... pernahkah kamu mengerjakannya, SETIAP HARI????
Dear kamu yang disebut suami...
Tak sudikah kamu turut serta mengerjakan semua perkara itu??
Membantu perempuan yang kau sebut sebagai istri...
Kalau memang kau anggap dia seorang istri...
Kalau kau punya daya, mengapa tak sudi melakukan pekerjaan rumah bersama perempuanmu?
Kalau Kau tak mau membantu, carikanlah seseorang pembantu untuk meringankan pekerjaan perempuan yang kau peristri...
Kalau kau tak punya materi untuk membayar seorang pembantu, maka bantulah perempuan yang statusnya sah sebagai istrimu...
Kau anggap pekerjaan rumah bukan tugasmu?
Lalu tugas siapa??
Kau anggap pekerjaanmu di luar terasa berat dan lebih berat daripada pekerjaan di rumah??
Hei Bung, tugas seorang kepala rumah tangga memang berat... kalian diberi otot memang untuk bekerja keras..
Menjadi suami memang tak mudah...
Menyadur kata perempuan yang bersuamikan penyanyi yang poligami sembunyi-sembunyi...'menikah itu tak semudah memuntahkan spermamu'.
Jadi kamu yang merasa sebagai suami... Kerja Keraslah...