Saya lupa tepatnya, tapi kurang lebih sudah 1 tahun saya mulai menanam cabe di depan kontrakan saya. Dan pagi ini saya bungah sekali, melihat pohon(?) cabe yang saya tanam sudah mulai berbuah. Ada sense of accomplishment yang muncul di dalam hati, sedikit sombong lah ya. Saya yang bisa dibilang tidak punya soft skill sama sekali, mampu merawat tanaman cabe sampai berbuah. Buat petani atau mereka yang berpengalaman, pencapaian saya tentu tidak seberapa. Kalau hal ini saya ceritakan di depan mertua mereka paling geleng-geleng kepala. Halah, lombok kwi garik ditabur tumbuh dewe. Ekpresi seperti itu lah mungkin yang akan saya dapat.
Mengapa saya mulai bertaman atau apapun istilahnya? Awalnya gara-gara kucing. Saya suka tidak tega jika melihat kucing liar, apalagi yang penampilannya melas. Sering saya kasih sisa makan, bahkan dibelikan makanan kucing. But things always comes in package, you got the good but you also have to deal with the shits. Literally shit, kucing-kucing itu mulai menandai wilayah. Apesnya dibagian depan teras ada tersisa tanah selebar 50cm. Tau sendiri lah ya, apa yang terjadi ketika kucing bertemu dengan tanah.
Lelah dengan pekarangan yang bau kotoran kucing, sampai menganggu tetangga saya mulai putar otak. Ditambah kondisi istri yang sedang hamil, kucing-kucing ini sudah saatnya pensiun. Saya mulai berhenti memberi makan kucing yang mampir. Awalnya tidak tega dengar ngeong melas mereka, tapi lama-lama terbiasa.
Masalahnya, kucing-kucing itu tetap buang kotoran di depan rumah. Mungkin sudah terbiasa, atau masih merasa ini wilayah mereka. Istri mengusulkan tanahnya dikasih kawat saja, katanya bikin kucing tidak enak saat buang hajat. Maka dicobalah memasang kawat diatas tanah depan. Tapi strategi ini gagal, malah tambah bau karena kotorannya tidak bisa dikubur.
Suatu waktu, saat pulang kantor saya lewat penjual tanaman-tanaman hias. Akhirnya saya ajak istri beli dua pot dan dua tanaman untuk dipasang di depan. Barangkali kalau diisi sesuatu, kucing bakal susah untuk buang kotoran. Tanaman pertama waktu itu semacam pinus, dan bunga mawar. Sayangnya kami pasangan yang kelewat malas untuk mencari tau, dipikir semua tanaman sama cukup disiram dan voila! Mawarnya sukses mati dalam waktu 3 hari.
Waktu mertua berkunjung, pot mawar yang kosong ditebar biji tomat dan cabe. Kemudian saya mulai menyirami pot kedua ini. Benih cabe dan tomat mulai tumbuh, ada beberapa malah. Lagi-lagi karena kemalasan saya, kebanyakan mati yang tersisa hanya dua batang cabe. Yang saya lakukan hanyalah menyirami taman dipagi hari, sudah. Saat semakin besar, pot kecil terlihat tidak mencukupi lagi buat keduanya, belum lagi daunnya yang sering layu.
Kunjungan mertua berikutnya, mereka membawakan lidah buaya. Saya juga mulai berniat sedikit serius soal bertaman ini. Maka dibelilah pot-pot baru yang lebih besar, dan saya meminta pupuk kompos dari kantor. Kedua cabe tadi dipindahkan ke pot yang lebih besar, dan tanahnya dicampur kompos. Naas, satu cabe tak bertahan sedang yang satunya hidup segan mati tak mau. Daunnya banyak yang layu, begitupula cabangnya banya yang kering. Sebelum mertua pulang, pot cabe yang mati ditaburi bji cabe yang baru.
Dari pengalaman cabe gelombang pertama, begitu anak-anak cabe mulai muncul saya langsung eleminasi. Hanya disisakan 2-3 cabe tumbuhnya berjauhan. Sambil terus disiram setiap pagi sebelum saya berangkat kerja. Beberapa hari/minggu kemudian saya pilih satu cabe yang paling tinggi. Sisanya saya cabut dengan tega, biar menjadi penyubur tanah saja.
Awalnya saya menduga kegagalan gelombang pertama karena waktu penanaman di musim hujan, sehingga sering terhembus angin atau kelebihan air. Tapi gelombang kedua mulai menunjukkan hal yang sama. Cabangnya mengering, daunnya agak meranggas. Saya coba amati saat libur dan sampai pada kesimpulan sinar matahari yang kurang.
Karena rumah menghadap timur, dan diseberang rumah terdapat pohon dan pagar beton maka sinar matahari langsung hanya mengenai cabe sampai jam 9-10 pagi saja. Inisiatif saya, tanaman cabe saya pindah ke bagian depan pagar rumah. Dibagian ini paling tidak sinar matahari langsung bisa sampai jam 12-1 siang. Singkat cerita, setelah 1 tahun cabe gelombang kedua mulai berbunga dan sebagian sudah menjadi buah(?) cabe. Masih hijau-hijau, tapi memunculkan kepuasan tersendiri. Oh iya, cabe senior juga mulai berbunga meskipun cabangnya masih banyak yang kering dan daunnya sedikit sekali. Paling tidak cabe senior ini masih bisa survive.