Rindu bertawa, disaat matahari tak seramai sekarang, disaat bulan tak sesunyi sekarang.

JBB: An Artblog!
Peter Solarz
🪼
Sweet Seals For You, Always
sheepfilms

Kaledo Art

Discoholic 🪩
ojovivo
I'd rather be in outer space 🛸
Today's Document
h
One Nice Bug Per Day
KIROKAZE
$LAYYYTER
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
wallacepolsom

No title available
d e v o n
Sade Olutola
he wasn't even looking at me and he found me
seen from Australia
seen from Bangladesh

seen from Bangladesh

seen from Greece
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from Malaysia
seen from Saudi Arabia

seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@andreebari
Rindu bertawa, disaat matahari tak seramai sekarang, disaat bulan tak sesunyi sekarang.
Menatap Dieng, Sebuah ‘Negeri’ Dibalik Awan (Part II)
Hallo,
Selamat malam, malam ini tepat di hari Sabtu, 13 Feb 2016.
Masih di kota Bandung yang semakin dingin, tapi tidak lebih dingin dari hatinya (eeaa). Iya betul, kalau malam ini malam minggu. Dan betul juga kalau malam ini saya kesepian, sudah lama rasanya tidak malam mingguan~
Setelah mengerjakan article baru untuk Saddap, yang saya beri nama Est, saya teringat tulisan yang belum diselesaikan.
Sebentar, untuk menambah khidmat malam ini, saya mau memutarkan lagu terbaru dari Monita Tahalea yang berjudul Memulai Kembali.
Jadi, kembali di malam yang dingin di Dieng,
Kami bertujuh, menginap di rumah Mas Ato’ ,laki-laki tinggi tegap, berkulit gelap, rambut kelimis sedikit tertarik ke belakang, dan berlogat medok kental. Oiya, Mas Ato’ itu bujangan.
Di rumah yang cukup besar itu kami beristirahat di ruang tengah yang cukup luas, dan dengan dinding-dinding rumah yang cukup diraba sedikit saja sudah begitu dingin. Jangan harap mencium wewangian ala-ala lavender atau forest dari merk Stella yang cukup terkenal itu, di rumah ini, dan hampir diseluruh rumah di kampung ini, wewangiannya adalah Menyan, ya Menyan yang baunya sangat khas dengan...
Tapi saya akui, wewangian alami ini begitu menyegarkan, dan begitu menghangatkan, tapi jangan sampai saya mencium wangi itu dikala sendirian...
Sebelum berangkat kami berbincang-bincang tentang aktifitas Mas Ato’ , selain menjadi petugas basecamp, beliau juga seringkali menjadi tourguide untuk mendaki gunung prau, bukan hanya prau, tetapi banyak gunung lainnya pula, seperti Semeru, Merbabu, Sindoro-Sumbing bahkan sampai ke Rinjani, yang konon kata Ilham keindahannya tiada tara dibanding tempat lainnya.
Tapi bukan itu yang menarik perhatian pembicaraan kami, mengenai Dieng keseluruhan yang membuat kami penasaran, mulai dari kebiasaan adat dimana Adzan Dzuhur dan Ashar memiliki rentang waktu tertentu, tidak seperti adzan-adzan biasanya sampai ke harta peninggalan Bung Karno di Dieng yang hanya bisa dilihat oleh mata batin saja.
Dieng memang menyimpan banyak misteri klenik, kalau umat Islam memiliki Mekkah dan Madina sebagai 2 kota utama, umat Hindu punya Dieng, ya Dieng. Bukan Bali, bukan Bromo. Disini dalam 5 tahun sekali, seluruh penganut umat Hindu di Dunia akan berkumpul untuk menyelenggarakan upacara agama.
Kalau diperhatikan wajah-wajah asli penduduk Dieng hampit mirip dengan orang-orang Mongolia, yang memiliki pipi merah memancar, tapi tetap ada unsur-unsur Jawa-nya.
Pernah suatu ketika, Mas Ato’ bersama timnya menemukan salah satu harta peninggalan Kerajaan Mataram dulu, sebuah emas, yang ternyata setelah diteliti bukan dari Nusantara dahula kala, melainkan dari daerah asia timur yang merupakan sebuah upeti / pajak yang sekarang lebih dikenal untuk Raja Mataram.
Dan pernah beliau mencoba untuk menjualnya, dan tidak ada satu toko emas yang mau menerimanya, bukan karena palsu, tetapi karena tidak ada yang sanggup membayarnya.
Begitu banyak petapa-petapa yang melakukan ritualnya di gua-gua Dieng, entah untuk apa, yang jelas bagi mereka untuk mencari kesempurnaan bagi ‘ilmu’ yang mereka miliki.
Tak terasa jam sudah menunjukkan 22.00 WIB
Sudah saatnya kami mendaki, sebelum pendakian dimulai, Uja memimpin doa, karena dia pemimpim rombongan, dan satu-satunya yang memiliki pengalaman mendaki gunung.
Mungkin sekitar 20 menit perjalanan, kami sudah menemukan sedikit masalah, tetapi mungkin bagi Manda itu masalah agak banyak (hahaha)
Dia kelelahan dengan membawa carrier yang begitu besar, carrier baru seharga 2,5 juta milik temannya yang ia beli dulu pakai uang pribadi, lalu nanti akan diganti sama temannya itu.
Kami sedikit merubah rencana, dimana saya dan Syahid yang tadinya dibelakang, diminta berjalan duluan, karena kami harus sampai lebih dulu ke Pos 2 untuk memasang tenda.
Sesampainya di Pos 2, saya dan Syahid langsung memasang tenda tanpa menunggu Uja, Edo dan Aji yang baru datang sekitar 20 menit kemudian.
Sebetulnya bukan rasa lelah yang menjadi kekhawatiran saya, tapi rasa dingin. Saya takut berada di ketinggian tersebut dapat membuat saya hipotermia, dan benar saja, saya kedinginan setelah memasang tenda, langsung saja saya pakai jaket double, sarung tangan, kaos kaki, dan langsung sembunyi di dalam tenda dan dibalut dengan sleeping bag. Lalu saya tidur dan mereka semua masak.
Pukul 03.00 WIB
Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, medan perjalanan semakin berat, tanjakan gunung tersebut hampir membentuk sudut kemiringan 75′
Tanah yang masih basah setelah diguyur hujan deras tadi sore semakin membuat langkah berat dan harus berhati-hati karena licin. Untungnya malam itu begitu cerah, kalian dapat melihat bintang-bintang bertebaran dilautan hitam yang luas sejauh mata memandang, dan dibawah kita dapat melihat kelap-kelip lampu Dieng yang begitu sunyi tapi memiliki aura yang besar, seperti calon mertuamu yang diam seribu bahasa ketika dia tau anak kesayangannya mau kau bawa dari rumahnya.
Pukul 4.45 WIB
Akhirnya kami sampai di puncak, dan ternyata kabut tebal sudah mulai turun, harapan kami untuk melihat sunrise semakin memudar, karena kami tahu tidak akan mungkin terlihat matahari terbit dalam situasi seperti ini.
Diam berjalan sembari meraba kegelapan saya di puncak, untuk mencari tugu yang menjadi pertanda kita sampai dipuncak, perlahan demi perlahan kabut gelap menjadi kabut putih, pertanda matahari telah muncul.
Duduk lesu terdiam disana, saya, Desi dan Aji. Memikirkan kurang beruntungnya kami di pengalaman pertama dalam pendakian. Begitu keputus asaan itu datang, pikirku lebih baik tidur untuk beristirahat menyiapkan tenaga ketika turun nanti.
Lalu, tak lama kemudian Uja berteriak.
‘Langitnya orange eyy, eta matahari na kelihatan’
Sontak kami semua bangun dan kembali ke tugu tersebut,
Subhanallah, begitu indah nya ciptaan-Mu Tuhan. Terima kasih atas hadiah-Mu untuk Negeri ini.
Terima kasih teman-teman untuk pengalaman ini.
Terima kasih Tuhan, telah kau berikan alam yang begitu indah untuk negeri ini.
Terima kasih Dieng untuk kesahajaanmu, mungkin suatu waktu aku akan kembali lagi kesana.
Nite
Menatap Dieng Sebuah 'Negeri' Dibalik Awan
Bandung, 9 Februari 2016
Sudah lama rasanya tidak menulis di media ini, malam semakin larut, gelas kedua Torabika Cappuccino sudah di seduh, sembari Justin Bieber dengan hits terbarunya Love Yourself mengiringi.
Saya tertarik untuk menceritakan perjalanan singkat mendaki Gunung Prau, Dieng, Wonosobo beberapa waktu lalu. Sebuah perjalanan yang saya niatkan untuk belajar menjadi manusia ikhlas. Walaupun kata Deddy Mizwar di film Kiamat Sudah Dekat, bahwa ilmu ikhlas itu tidak dapat dipelajari, namun harus diterima dan dimengerti bahwa setelah semua usaha yang telah kita upayakan biarkan menjadi urusan Tuhan untuk yang menentukan hasilnya.
Tapi, mari kembali lagi mengenai Dieng.
Saya pendaki gunung pemula, bahkan dataran tertinggi yang pernah saya naiki sebelumnya hanyalah Bromo, itupun menggunakan Jeep beberapa tahun yang lalu. Saya menyukai petualangan di alam, mungkin karena sudah terbiasa dari kecil ikut orang tua yang berlatar belakang seorang petani. Bagi saya berpetualang di alam itu lebih menarik karena banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan, menghargai berbagai ciptaan Tuhan yang begitu indah, mengetahui cerita-cerita rakyat daerah sekitar serta dapat membantu sesama sesekali waktu.
Sebagai pendaki pemula, Gunung Prau merupakan tempat yang tepat untuk memulai hobby ini. Dengan ketinggian 2.565 MDPL, Gunung Prau dapat menyajikan pemandangan yang luar biasa indahnya.
Dalam perjalanan ini saya ditemani teman-teman kuliah di MBA-ITB, 5 laki- laki dan 2 perempuan, tapi untuk ini kita menganggap 2 perempuan ini seperti laki-laki (hahaha). Kita memulai perjalanan ini dari Terminal Cicaheum Bandung pada pukul 18.10 WIB (terlalu terlambat dari jadwal keberangkatan pukul 17.00) menggunakan Bis Sinar Jaya.
(Imanda, Desi, Andre, Uja, Syahid, Edo, AJi)
Dari Kiri bawah ke Kanan Atas
Perjalanan menuju Terminal Wonosobo menggunakan bis ini jangan ditanyakan lagi keraguan akan kegilaan sang supir membawanya, roller coaster yang pernah anda naiki di Dufan ataupun Trans Studio pasti akan kalah meneganggkannya. Jadilah seperti Edo, yang terlelap dengan mudahnya tanpa menyadari begitu membahayakan sang supir ketika berada di jalur turunan Gentong di daerah Tasik, mungkin supir ini terinspirasi adegan film Tokyo Drift ketika mereka balapan di daerah pegunungan, bau air liur sudah tidak terendus lagi karena wewangian kopling itu sudah meracuni ac di dalam bis, botol minum yang jatuh sudah tak terhitung lagi.
Pukul 3.30 WIB kami tiba di Terminal Wonosobo, dinginnya hampir menyerupai dinginnya Jatinangor dikala bulan Ramadhan. Sembari menunggu Mikrolet dari terminal menuju basecamp pendakian yang baru beroperasi pukul 05.00 WIB, kami beristirahat sejenak. Perjalanan menuju basecamp ditempu kurang lebih 1 jam perjalanan, mulai saat ini kita akan disuguhkan pemandangan alam Wonosobo yang begitu indah, Gunung Prau yang berdiri sendiri dan tepat di depannya ada Gunung kembar Sindoro-Sumbing yang berdampingan begitu mesra. (cieee, sa e lau dor)
Setelah berbincang-bincang dengan petugas basecamp, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan planning awal, yakni mendaki gunung pada siang hari untuk mengejar sunset lalu camping untuk melihat sunrise, dikarenakan pada musim penghujan jalur pendakian ditutup dan dilarang camping sampai dengan tanggal 1 April. Dan titik temunya kami diperbolehkan mendaki pada malam hari lalu camping di pos 2, kemudian baru mengejar sunrise. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengisi waktu dengan mengunjungi beberapa tempat wisata disekitar Dieng.
Ada satu tempat yang dinamakan tourist lokal disebut, Batu Ratapan, yang sebenarnya bernama Batu Rata, entah mengapa lebih dikenal Batu Ratapan, mungkin yang datang kesana duduk di batu tersebut dan sering meratapi hidupnya, ya seperti saya sekarang (hahaha)
Sebelumnya kami sempat kecewa ketika sampai di kawasan ini, dan hanya melihat Telaga Warna yang ketika kita datang akan muncul kalimat ini
“Oh, begini doang?”
Bahkan rombongan SMP yang murid-murid perempuannya begitu centil sampai mengajak Aji foto bersama pun berteriak;
“Yah, cuma kayak gini doang!”
Ketika hendak pergi dari Telaga tersebut, kami duduk sejenak di semacam gazebo, dan sambil melamun (lebih tepatnya meratap) saya mendapatkan ilham (bukan Ust. Ilham Syahidan yang kalau bercanda mukanya serius) melihat tulisan;
“Batu Rata ---->”
“Bentar, itu ada tulisan Batu Rata!”
Lalu sampailah kita disini, suatu tempat yang saya dan Edo idam-idamkan dari awal dan sudah dicoret dari daftar to do list anak-anak, ternyata tempat inilah yang mebuat kami tidak zonk (hahaha)
Malam semakin larut, sekarang giliran Pengamen Sekitaran Antapani dengan hitsnya Yang Terdalam sudah terdengar. Istirahat sejenak mungkin ide terbaik, mengingat hari ini yang melelahkan, besok atau lusa bisa kita lanjutkan cerita ini.
Nite.
Minggu ke 3 November 2013
Malam ini, aku ingin bercerita mengenai seorang perempuan yang kurindukan tiap harinya. Hari ini aku rasa 30 hari sudah tidak kujumpai dirinya, senyum dan tawa kemarin yang hampir tiap hari aku nikmati. Flashback 10 bulan yang lalu, tepatnya di bulan November pada minggu ke 3, aku lupa persis tanggal berapa kami bertemu, tapi kalau boleh mengingat hari itu Kamis, 21 November 2013. Setelah dikenalkan oleh teman sekampus, 1 minggu sebelumnya lewat Line Messenger, akhirnya dia ada waktu untuk menemuiku setelah sebelumnya ajakan pertamaku di tolak karena ada janji nonton katanya. Ngeumong cafe, itu tempat kami janji untuk bertemu tepat pada pukul 7 malam. Pada saat itu, aku tidak punya kepentingan lagi untuk kembali ke Jatinangor, dan kau tahu kawan mulai malam itu, aku selalu bersemangat untuk kembali kesana, sebuah kecamatan kecil yang isinya hampir menyamai dengan Kota Bandung.
Aku sudah standby 30 menit lebih awal disana karena saking bersemangatnya. Sebelum datang ke tempat yang dijanjikan, aku lebih memilih hanya duduk menunggu di atm center sekitar. Panik waktu itu datang, ketika tak ada kabar darinya, pikirku saat itu, paket data internet ku sudah habis, jadi langsung saja aku beli pulsa di atm tersebut, dan ternyata bukan paketku yang habis, tapi sinyal handphone nya yang gangguan ketika dia menjelaskan padaku ketika bertemu.
Tepat pukul 7 malam, aku sudah datang di cafe tersebut, sengaja memilih tempat duduk yang menghadap ke pintu masuk, jadi ketika dia datang aku langsung bisa mengenali wajahnya. Seingatku 15 menit lebih sudah berlalu, dan dia tak kunjung datang dan juga tak ada kabar yang masuk ke handphone ku. Hampir 30 menit berlalu beberapa kali aku melihat di luar pintu ada sesosok perempuan yang mengintip ke dalam, dan pada waktu yang bersamaan dia memberiku kabar, katanya dia sudah menunggu di luar, pikirku sejenak kenapa dia tak langsung masuk saja? Dan dengan sigap aku langsung ke luar untuk menemuinya, dan saat ku tanyakan hal itu padanya, "Malu" katanya, bukan kata itu yang membuat pikiran ku berhenti sejenak, tapi senyum kecil dari bibir yang kemudian menjadi tawa kecil, itu yang membuatku terpesona. Entah kata apa yang harus aku ucapkan untuk menggambarkan senyum tawa itu, mukjizat Tuhan mungkin pujian paling tinggi ku untuk dia.
Aku rasa pada saat itu, warna biru yang dominan dikenakan olehnya, ya, warna biru, warna kesukaanku, yang membuatku tenang, sama seperti senyum tawa dia. Apa kau pernah merasakan yang namanya jatuh hati pada pandangan pertama, kawan? Ya, aku rasa, aku telah jatuh hati padanya, pada senyum tawanya, pada saat itu juga. Sesekali dalam setiap obrolan kami, aku pandangi betul dirinya, alisnya yang hitam tebal itu, hidungnya yang mancung, bibir yang sedikit tebal di hiasi dengan gigi atas yang putih rata dan gigi bawah dia yang masih mengenakan behel. Dan, matanya? Kau pasti akan sama terpesona sama dengan ku, mata indah dengan bulu mata yang lentik itu merupakan perpaduan yang sangat sempurna diiringi senyum tawa dia yang manis itu. Sampai sekarang masih menjadi perdebatan di antara kami, aku melihat warna coklat di matanya tapi dia bersikukuh, hitam adalah warnanya. Mau coklat? Mau hitam? Yang jelas dia memiliki mata yang indah dan tatapan penuh makna yang pernah aku temui sampai saat ini.
Mungkin bahan obrolanku pada malam itu sangatlah payah, aku terus bercanda soal orang tuanya. Dan aku tahu, sungguh tidak sopan untuk pertemuan pertama. Sampai - sampai Mie goreng spesial pesanannya pun tak di habiskan karena sudah kehilangan nafsu oleh candaanku. Selain itu yang bisa kuingat obrolan kami malam itu, mengenai penelitiannya dan jaket varsity warna biru yang dia tanyakan untuk temannya. Sesekali aku berhasil membuat dia tertawa, oh Tuhan sungguh indah sekali pemandangan itu, seandainya saja aku punya remote Click untuk memperlambat kejadian itu, aku sungguh sangat menikmatinya. Rutinitas dia setelah makan, selalu memperhatikan behelnya, takut - takut ada sisa makanan yang nyelip dan sampai sekarang aku suka memerhatikan saat - saat itu, karena suara lembut manjanya akan keluar dengan kata "Jangan liaat".
Aku rasa itu makan malam pertama yang cukup mengesankan, tapi tidak untuk bahan candaanku.
Dan ketika kami pulang aku menawarkan diri untuk mengantarkannya, dan disinilah salah satu moment yang tidak akan kulupakan.
Kutawarkan helm ku padanya, untuk memberikan rasa aman kepadanya, dan ketika sampai di depan gerbang kosannya, ada hal yang tidak sengaja terjadi, helm warna merah yang kuselaraskan dengan motorku berwarna hitam itu, memang baru saja aku beli, dan tentu penguncinya masih susah untuk di lepaskan. Dan pada saat dia kesulitan melepaskan itu, kutawarkan padanya, "Boleh dibantu?" ekspresi penolakan yang kulihat, tapi ketika dia mencobanya lagi, aku tawarkan kembali niat baik ku, dan dia menerimanya, momen ketika kulepaskan helm itu dari kepalanya, simpel, tapi sangat membuatku senang dan tidak terlupakan sampai sekarang, ketika senyum kecil dia mengucapakan kata "Makasih ya"
What a great night??? It was a wonderful night for me. Jatuh hati pada pandangan pertama kepadanya, dan aku yakin kawan, ketika kau bertemu dengannya, kau juga pasti akan mudah jatuh hati dengan senyum tawa nan manis itu, tapi ingat, aku tidak akan pernah merelakan dia kepadamu. Dia yang saat ini sedang kurindu, dia yang membuatku tidak ingin mencari lagi, dia yang sangat ku sayang meski jarak memisahkan, dia yang selalu aku tunggu disaat waktu mempertemukan kembali, dia Ismil Imama.
NB; Apabila kau yang membaca mual dengan kata - kata dalam tulisanku ini, aku berani bertaruh kau belum pernah jatuh hati seperti yang ku alami :))
@pidibaiq
Beberapa bulan lalu muncul quotes di berbagai media sosial yang menggambarkan Kota Bandung, seperti ini bunyinya "Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan". @pidbaiq lah yang mengeskpresikan kecintaannya kepada Bandung melalui kalimat itu.
Dan pada saat itu kalimat tersebut tidak menari-nari di pikiranku, hanya terpikirkan terlintas saja. Setelah membaca novel fiksi yang berjudul Dilan, sangat tertarik untuk mencari tahunya lebih dalam. Ada beberapa kalimat lagi yang patut menjadi inspirasiku saat ini, seperti ini bunyinya...
"Aku mencintaimu. Biarlah, ini urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu urusanmu"
dan lalu...
"Aku selalu berdoa berharap kamu mau denganku. Kukira Tuhan lebih kuasa daripada kau"
Tak peduli novel itu fiksi atau berdasarkan kisah nyata, novel itu, bahasa penyampaiannya sungguh bersahabat, dan bagiku, saat ini, dua kalimat terakhir itu kisah nyata yang kualami. Perasaan kepada seorang perempuan yang punya senyum tawa paling manis yang pernah kulihat.
I love you but it's not so easy to make you here with me, I wanna touch and hold you forever, But you're still in my dream.
Karna setetes lumpur, dapat merubah segelas dancow white.
The Woman I Love
Maybe I annoy you with my choices Well, you annoy me sometimes too with your voice But that ain't enough for me To move out and move on I'm just gonna love you like the woman I love We don't have to hurry You can take as long as you want I'm holdin' steady And my heart's at home With my hand behind you I will catch you if you fall I'm just gonna love you like the woman I love Sometimes the world can make you feel You're not welcome anymore And you beat yourself up You let yourself get mad And in those times when you stop lovin' The woman I adore You can relax Because, babe, I got your back Mm, I got you I don't wish to change you You've got it under control You wake up each day different Another reason for me to keep holdin' on I'm not attached to any way you're showing up I'm just gonna love you like the woman I love Yeah I'm gonna love you, oh, yeah I'm gonna love you You're the woman I love
Bukankah di ruangan gelap kita masih bisa maju selama meraba dan sabar menuntun?
FASE KOSONG.
Setiap orang pasti pernah mengalami fase dimana kehidupan terasa kosong, fase dimana tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus kemana, tidak tahu siapa yang mendukung dan mencemooh kita. Apapun namanya, baik itu fase kosong/ fase berpikir/ fase menikmati kemalasan, intinya ya sama, itu. Bagi saya, fase ini terjadi setelah menyelesaikan bangku kuliah, fase dimana berpikir tentang apa yang ingin di lakukan ke depannya, tanpa terburu-buru mencari pekerjaan, menikmati waktu luang dengan menyusun segalanya. Memang dalam fase ini banyak orang yang memandang sebelah mata, bahkan orang terdekat di sekitar pun melakukan itu dan menganggap tidak ada yang dapat di banggakan dari hidup ini. Tapi, bukannya kita perlu mengasah kapak agar menjadi tajam untuk menumbangkan pohon berakar besar dengan sekali tebas? Tidak ada yang salah dengan terjebak nya kita dalam fase ini, memang kita di kucilkan, secara teknis lapangan kita di pandang rendah tapi jangan sampai pikiran kita di samakan. Berpikir merencanakan sesuatu lalu bertindak terkadang lebih baik ketimbang bertindak tanpa berencana ataupun bertindak mengikuti arus. Dikucilkan, di pandang sebelah mata dan tidak ada yang bisa di banggakan, tidak bisa membuat otak anda berhenti mencari pengetahuan, tertinggal dari segi materi bisa di kejar, tapi ketinggalan pengetahuan, itu lain cerita.
Really love this moment. Disaat semua pasangan foto dengan background safety belt, tidur di kendaraan yang ada ac & nyaman tanpa polusi. Tapi dia masih mau ngelewatin semuanya, thanks god you gift me a lovely day with her.
A real love never be so easy, when i'm falling in love, i'll love really hard.
Coming soon! We’re very excited to announce our new brand for keeping you up with the latest high fashion. We provide super high quality & stylish design of hand-made leather crafts. #D&D Credit design by Girindra Chairil with Randy – View on Path.
Coming soon! We’re very excited to announce our new brand for keeping you up with the latest high fashion. We provide super high quality & stylish design of hand-made leather crafts. #D&D Creadit design by Girindra Chairil with Randy – View on Path.
'Ekspektasi'
Bukan, bukan karena di dunia ini gak ada yang pasti, tapi karena ekspektasi besar yang kita punya gak di barengin usaha dan feedback yang seimbang serta restu di sekitar.
Mungkin ini adalah periode paling membingungkan, karena kegilaan yang tak pasti seperti ini.
Dapat salam dari tetesan air hujan :)