Siang itu, aku berjalan santai melewati gazebo — tempat para mahasiswa yang nongkrong sambil nunggu ujian semester dimulai atau melepas penat setelah ujian. Ya, minggu ini bisa dibilang minggu yang sibuk dan terkadang juga bisa dibilang minggu yang santai. Tergantung dari dosen mata kuliah yang memberikan tugas take home atau tetap ujian tulis langsung di kelas.
Aku bersama temanku berjalan menuju kantin untuk mengisi perut kami yang mulai keroncongan. Saat mulai memasuki pintu kantin, tidak sengaja aku mendapati seseorang yang sedang duduk sendiri sambil menatap buku di sebuah bangku dekat penjual batagor. Terlihat samar-samar. Namun, aku yakin bahwa ia adalah lelaki itu. Aku memang sedikit tercengang. Namun, keterkejutanku ini semakin memantapkan asumsiku. Aku merasakan aura yang berbeda dari sudut pandangku.
Lelaki itu menjadi seseorang yang berbeda. Lelaki itu telah berubah. Lelaki itu berubah 180°. Ia menjadi lelaki yang lebih tenang. Ia menjadi lelaki yang tidak lagi bodo amat. Ia menjadi lelaki yang serius. Ia membaca buku. Ia duduk sendiri tidak dikelilingi oleh teman-temannya.
Entah mengapa, aku begitu peduli dengan perubahannya. Jujur, itu sedikit menakutkan karena karakternya benar-benar berbanding terbalik dibandingkan saat kali pertama aku mengenalnya. Lalu, hati kecilku seakan berbicara bahwa ada yang berubah darinya.
Apabila mengingat pertemuan pertamaku dengannya, dia adalah seseorang yang sangat ramah, dia adalah tipe orang yang sangat bodo amat yang pernah kukenal. Dia adalah orang yang sama sekali tidak peduli kata-kata orang lain yang mungkin menyinggungnya. Dia adalah orang yang sangat sering mendapat teguran dari dosen-dosen senior karena kelakuannya ketika berada di dalam kelas. Dia adalah orang tersantai yang pernah kukenal. Dia pernah menyebutku sombong hanya karena aku terlalu malu untuk menyapa terlebih dahulu. Dia sangat talkative. Dia sangat blak-blakan dalam mengekspresikan sesuatu. Dan ya, ternyata semua itu menjadi daya tarik tersendiri untuk aku yang memiliki karakter yang bertolak belakang dengannya.
Bahkan, aku sempat berpikir apakah ia akan terus begini menghadapi hidup yang membutuhkan keseriusan ini? maaf, karena dia memang se-slengean itu. Namun, dugaanku ternyata salah. Ternyata memang benar peribahasa yang sering kali kita dengar itu, don’t judge a book by its cover.
Ia ternyata berubah menjadi seseorang yang lain. Aku merasa ngeri. Menyadarkanku bahwa secepat itu seseorang berubah. Ada sesuatu yang kudapati dari sorot matanya. Ia tampak geram. Ia tampak terluka. Ia tampak kesepian. Ia tampak marah. Aku merasa perubahan itu diakibatkan oleh sesuatu yang bernama kecewa atau bahkan patah hati. Aku seperti pernah merasakannya. Aku seperti ikut merasakan emosi itu.
Mungkin harapanku untuk dirinya, semoga pilihannya untuk berubah bukan hanya sekedar emosi sesaat. Semoga luka itu membawanya pada jalan yang lebih baik lagi dari versi dirinya yang sebelumnya.