SELFIE2 #12: Ngomong-Ngomong Soal Nikah
Sebelum project #30daysramadhanwriting dimulai, saya melakukan riset kepada teman-teman untuk menanyakan topik apakah yang sesuai untuk diangkat. Dari sekian banyak jawaban yang ada, menariknya, seseorang mengusulkan kepada saya untuk menulis tentang persepsi saya secara pribadi mengenai masa-masa menanti pertemuan dengan pangeran impian. Hahaha! Saya langsung tertawa ketika mendapatinya. Pasalnya, saya memang tidak terbiasa untuk menuliskan hal-hal pribadi terkait cinta dan masa-masa menunggu pernikahan. Tapi, rasanya engga ada salahnya juga untuk dicoba. Ya kan? Bismillah, saya akan coba berbagi, semoga ada kebaikan dan pembelajaran yang bisa dimaknai.
Sejak beberapa tahun lalu, tepatnya sejak saya membaca buku Udah Putusin Aja yang ditulis oleh Ustadz Felix Siaw, saya memilih untuk tidak berpacaran. Ini bukan hal mudah bagi saya yang memang tidak hidup di lingkungan yang agamis. Sebaliknya, interaksi intens dengan lawan jenis adalah hal yang lumrah terjadi di sekitar saya. Alhasil, saya yang tidak pernah pergi dengan seorang laki-laki di malam minggu pun dianggap sebagai perempuan yang aneh. Tak heran kiranya jika pertanyaan basa-basi seperti, “Sekarang lagi dekat sama siapa?” atau “Kok malam minggu di rumah aja sih? Engga ada yang jemput?” pun seringkali saya terima dan membuat saya bingung bagaimana harus menjawabnya. Meskipun demikian, saya tetap tidak ingin berpacaran hanya karena banyak orang di sekitar saya melakukannya dan menganggapnya wajar.
Semoga Allah memampukan, saya ingin berproses dengan cara yang benar, diminta dan dijemput dengan cara yang benar, melangkah dengan cara yang benar, dan melaksanakan pernikahan dengan cara yang benar pula. Allah, hanya Allah yang bisa membuat dan mengizinkannya terjadi. Mohon doa, ya!
Jika diperhatikan, tulisan-tulisan saya tentang pernikahan hampir semuanya adalah re-share ilmu dan bukan bercerita tentang saya secara personal. Kalaupun ada, itu pasti dituliskan setelah saya menyelesaikan konfliknya beberapa waktu yang lama sebelumnya, yang seingat saya, mungkin hanya satu atau dua tulisan saja. Itulah mengapa, mungkin sulit sekali untuk menemukan tulisan-tulisan saya yang bercerita tentang penantian, kerinduan, cinta, atau sejenisnya. Bukan apa-apa, tapi bagi saya, hal-hal personal yang berkaitan dengan diri saya semacam itu tidak layak menjadi konsumsi publik, terlebih lagi jika ternyata saya belum menemukan makna kebaikan apa yang bisa dibagikan di balik kisah pribadi saya.
Kalau begitu, apakah itu berarti saya tidak pernah menggalaukan masalah jodoh? Tentu saja pernah! Seperti kebanyakan anak muda di luar sana, saya juga pernah bertanya-tanya tentang,
“Apakah saya memang akan Allah izinkan untuk menikah? Dengan siapa? Bagaimana cara bertemunya? Kondisi pertemuannya seperti apa?”
dan lain-lainnya. Tapi, saya sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan bisa terjawab sebelum Allah menakdirkannya untuk terjawab. Lalu, bagaimana bisa saya menghindarkannya dari konsumsi publik di media? Bisa, sebab saya memilih untuk hanya membicarakan dan menceritakannya bersama orang-orang terdekat yang saya percaya, yang saya yakin akan mengajak saya untuk mengembalikan semua kekhawatiran kepada Allah dan mensiasati kekhawatiran tersebut dengan mempersiapkan diri, bukan dengan menggalaukan diri.
Sebagai orang yang begitu awan dalam urusan cinta dan pernikahan, kiranya saya tidak sependapat perihal cinta dalam diam. Sebab, menurut saya, mempersiapkan pernikahan sangat tidak mungkin jika hanya dilakukan dengan diam sambil menunggu jodoh datang, memandanginya dari kejauhan sambil sibuk dengan kegalauan yang dibuat-buat sendiri, menangis dan merasa kehilangan padahal tidak pernah memiliki, dan lain-lainnya yang seringkali gagal untuk saya pahami. Hehehe, mohon maaaaf sekali, I am not inside that team! Sebaliknya, saya begitu meyakini bahwa,
Persiapan terbaik yang bisa saya lakukan dalam menanti pernikahan adalah dengan belajar, memperbaiki diri, dan mengisi waktu-waktu menunggu dengan memperluas kebermanfaatan lewat apapun yang bisa dilakukan sambil merayu Allah agar Dia mempertemukan dengan siapapun yang dikehendaki-Nya.
Jangan salah, ini tentu tidak mudah! Suatu hari, dalam sebuah kelas pra-nikah, saya pernah bercerita kepada senior saya, “Teh, saya bosan, saya capek belajar terus tapi engga praktik-praktik juga!” Waaah, ini memalukan sekali! Ternyata ada kondisi dimana saya muak dengan semua ilmu pra-nikah karena banyak informasi tapi belum kunjung mendapatkan ruang untuk mengaplikasikannya. Tahukah kamu apa yang menjadi jawaban senior saya saat itu? Beliau bilang,
“Teh, istighfar! Minta maaf sama Allah! Teteh engga boleh begitu! Ayo luruskan lagi niatnya. Belajar adalah bentuk persiapan agar nanti teteh bisa melaksanakan ibadah pernikahan dengan baik, meski kita tidak pernah tahu apakah takdir itu akan sampai kepada teteh atau tidak. Amal perlu didahului ilmu, teh.”
Deg! Sesuatu terjadi di hati saya hingga tanpa sadar pipi saya mulai banjir. Astaghfirullah, saya telah keliru! Sejak saat itu, saya kembali memacu diri untuk bergegas dan bersemangat. Meski tak pasti apakah Allah akan menyampaikan saya pada pernikahan atau ternyata ajal menjemput lebih dulu, insyaAllah saya tetap ingin memperjuangkan ilmu untuk menujunya. Mohon doa semoga senantiasa istiqomah, ya!
Alhamdulillah, betapa Allah Maha Tahu bahwa saya dangkal ilmunya. Dihadirkanlah oleh-Nya sahabat-sahabat yang sering sekali mengingatkan saya banyak hal tentang persiapan pernikahan:
bahwa keinginan untuk menikah tidak boleh sampai membuat kita menggadaikan harga diri, bahwa pertemuan dua orang manusia dalam ikatan pernikahan adalah bagian dari kebesaran Allah, bahwa pernikahan perlu diawali dengan selesai dan berdamai terlebih dahulu dengan diri sendiri, bahwa menikah adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah, serta bahwa mendidik generasi adalah bagian dari bentuk kewajiban dan tanggung jawab kepada-Nya.
Ah gengs, terima kasih untuk selalu mengajak saya kembali ke titik waras ketika memikirkan pernikahan!
Hmm, kalau begitu, jadi kapan nih nikah? Sejujurnya, saya ingin menyegerakan dan tidak ingin menunda. Tapi, saat ini memang belum ada laki-laki shalih yang benar-benar menyatakan pinangannya kepada keluarga saya. Mohon doanya, semoga Allah berkenan menyegerakan pertemuan itu dan menyatukannya dalam ikatan pernikahan dengan siapapun yang dikehendaki-Nya. Jika dan hanya jika boleh meminta, ingin sekali bisa dipasangkan oleh Allah dengan orang yang sebelumnya pernah saya kenal karena pernah bermuamalah atau mungkin pernah berada dalam satu atau lebih lingkaran pertemanan yang sama. Tapi terserah Allah aja, deh! Hehe. Semoga dia yang dikehendaki-Nya itu adalah dia yang jika saya bersamanya maka dunia-akhirat kami akan semakin hebat dan kebermanfaatan kami bagi ummat juga akan semakin meluas. Aamiin Allahumma Aamiin. Doa baik ini untukmu juga, ya, temans!
Ah panjang sekali ternyata! Terima kasih teman-teman karena telah membacanya sampai paragraf ini. Seperti yang tadi saya katakan, kita yang saat ini sedang dalam masa-masa penantian memang sedang berhadapan dengan ketidakpastian: kita tidak pernah tahu apakah menikah ataukah ajal yang terlebih dulu menjemput kita. Kalau begitu, jangan galau, ya! Jangan buang waktumu untuk mengangankan hal-hal yang tidak perlu. Ayo kita belajar, bersiap, dan memperbaiki diri agar bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya!
Learning is the new cool! Preparing is the new cool! Productive is also the new cool!
Yup, saya memilih untuk belajar, bersiap, dan bergerak bermanfaat! InsyaAllah. Semoga Allah senantiasa membimbing dan menguatkan. Bagaimana denganmu, apa yang kamu lakukan dalam masa penantian? Bagaimana kamu mentransformasikan kegalauanmu menjadi sesuatu yang positif? Let’s look into yourself!
Oh iya, untuk mengintip re-share saya tentang belajar parenting dan pranikah, silahkan klik disini.
Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini insyaAllah akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.00 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.