“Mbak Ayu, aku boleh masuk ke kantor ATR BDD nggak? Disuruh cari tempat untuk BOD foto buat di annual report.” “Okey.”
Kemudian ku bawa kedua manusia itu ke common room, ke honest dan ke ruangan director.
Lalu aku diam. Dari Sore ini sungguh cerah. Terlalu hangat untuk hati yang patah.
Mungkin karena belum mengikhlaskan. Ah. Rasanya seperti putus cinta.
Pernah ada yang bilang padaku tentang “masalah-masaah akan datang padamu saat kamu menginjak usia 23 tahun”. Tanpa bermaksud mendahului Tuhan, kurasa masalahu nampaknya mengacak-ngacak 22 tahunku. Terlalu banyak apa yang tidak dimaksudkan menjadi nyata, terlalu banyak yang mereka tidak mengerti tentang mimpi yang menjadi terlalu jelas biasnya.
Berkali patah hati karena harapan yang tak kunjung jadi terang. Teriak yang membuat senyap. Di saat-saat yang lain berpacu dengan dirinya, aku ditarik ke ruang yang terlalu kuat kutubnya. Terlalu kuat mimpinya. Kuat hisapnya.
Terlalu patah hati kali ini. Keterlaluan. Terlau sesedih ini. Sehilang tujuan ini. Mungkin tak akan jadi sehancur ini kalau tidak ada orang yang menghancurkan benteng yang selama ini aku bangun.
Kenapa harus orang itu yang pertama kali mempercayai mimpiku?
Saat mereka yang menganggap diri mereka adalah sahabatku pun mungkin menganggap ini sepele, ada orang asing yang “seolah-olah” menganggap mimpiku berharga. Mungkin, tepat 1 tahun yang lalu, pertama kali saya mengutarakan rasa penasaranku atas mimpi yang tak kunjung ku ungkapkan ke siapapun.
“Pak, bisa nggak dalam 5 tahun ke depan saja jadi manager?”
Tepat di hadapan dewan juri, dari kampus-kampus kenamaan, yang hanya mendelik dan langsung tersenyum simpul –jika bukan senyum meremehkan.
“Kenapa nggak? Gue punya orang yang jauh lebih muda dari target kamu dan jadi manager”
Sebahagia itu sampai aku bukan lagi tidak yakin dengan mungkinkah mimpi saya jadi nyata, tapi aku tidak yakin kalau dia manusia. Aku bukan anak yang lahir dari keluarga kaya, punya perusahaan dimana-mana, tapi mimpinya ketinggian, dan sialnya ada yang percaya?
Kenapa harus orang itu yang pertama kali bertanya tentang masa laluku?
Benar. Lelah ini karena masa lalu yang tak pernah ada akhirnya. Masa lalu yang bahkan terus berjalan beriringan dengan masa depanku. Masa lalu yang jadi alasan kenapa aku ada di Jakarta saat ini.
Aku tak punya sesiapapun, tak punya apapun di kota ini. Bertahan untuk tetap hidup pun sudah bagus. Perempuan, 21 tahun (saat itu), bergempur dengan dirinya sendiri dan alasan-alasan yang membuat benteng dengan perasaan terlalu kokoh berdiri dan tak tersentuh sama sekali. Bertempur dengan distraksi idealisme, kultur, sosiologi, udara, debu, tanah, air, cela, gosip dan sendiri. Tak seorang pun menyempatkan diri untuk mengetahui alasan dari setiap kenapa dalam diriku, karena semuanya –termasuk diriku, percaya kalau aku akan baik-baik saja.
Hingga orang itu menghampiriku hanya untuk bertanya, kenapa aku bisa jadi aku yang sekarang. Barisan kata-kata yang membuatku tertegun. Siapa orang itu? Mengapa seberani itu merusak tangguhku? Berakhir di ruangannya. Berakhir dengan semua sakit yang ku pendam semenjak kecil menjadi isak. Berakhir dengan alasan hilangnya rasa percaya.
Bahkan berakhir dengan tawaran ke psikolog. Ya, orang itu yang pertama menawariku untuk konsultasi dengan psikolog. Nggak, nggak semua dari kalian tahu rasanya ingin kabur, ingin menyakiti diri sendiri setelah 5 menit sebelumnya tertawa terbahak-bahak itu seperti apa. Ya, kondisi ku yang saat ini kalian hadapi adalah kondisi yang jauh lebih baik. Kalau mengutip kata dia, kondisi tanpa topeng.
Tentunya tawaran ke psikolog ku tolak. Aku tidak percaya siapapun selain diriku sendiri, siapapun. Semakin aku percaya orang, aku akan cenderung semakin lemah. Dan siapa “psikolog”-ku selama setahun ini? Dia.
“Why does it hurt? And it hurts like now. Why does it hurt? And it hurts like now.”
– Last Days, The Triangle
Niko Anindita. Orang itu adalah beliau.
Orang yang kemarin membuat teman baruku menangis karena kangen dia. Orang yang kemarin membuat teman ku yang lain menatap mobilnya saat dia meninggalkan kantor.
Sebagai atasanku langsung setahun ini, wajar sekali dia tergantikan. Hal yang biasa.
Tapi sebagai seorang sahabat, sebagai seorang kakak, sebagai seorang mentor, sebagai seorang yang setiap hari ada di hadapan mukaku lebih sering di banding orang tuaku, kurasa rasa kehilanganku tak berlebihan.
Aku kehilangan sahabat berbagi mimpi. Aku kehilangan sahabat berbagi pedih masa lalu, perih korporasi.
Aku patah hati kehilangan sahabat saat aku patah hati.
Kalau posisinya bisa kembali dengan setiap hari dia merenggut es kopiku, aku rela setiap hari, menyiapkan es kopi setiap pagi, membelikan Iced Coffee McDonalds di siang hari. Kalau posisinya bisa kembali dengan aku menamatkan buku Ekonomi Makro, aku ikhlas menghabiskan waktu untuk segera menyelesaikannya.
Posisinya bisa diganti dengan apa? Kekhawatiranku perlu diobati dengan apa?
Aku tidak percaya kalau dia tidak akan pergi kemana-mana. Aku tidak pernah percaya janji sejak kecil. Beberapa minggu ini akan jadi minggu yang berat, kurasa. Banyak kebiasaanku yang berubah. Akan jauh lebih banyak kesendirian yang depresif. Faktual. Aku akan lebih sering sendiri, aku akan lebih sering pulang ke Bandung.
Mengutip kata temanku, “Dia juga sama hancurnya dengan kita, Yu. Malah mungkin jauh lebih hancur.” Ya. Kita mungkin sama-sama hancur dan sedang sama-sama mengobati luka masing-masing. Semoga lukanya cepat sembuh, buatku, buat dia, buat beberapa orang yang merasa kehilangan.
Mungkin PMD-nya akan dibawah standar, mungkin banyak orang menghujat dia, tapi jauh lebih banyak yang kehilangan arah. Bulan yang emosional, katanya. Ya, seemosional aku menyelesaikan tulisan ini. Harusnya sebaik mungkin, tapi nampaknya lebih berujung curhat.
Walaupun aku bukan siapa-siapa, suatu kehormatan bisa kenal dengan dia, orang yang mungkin ku kagumi seperti aku mengagumi Iga Massardi. Kalian perlu tahu, ada orang sebaik dia, ada orang setulus dia, ada orang yang masih menyelamatkan nyawa orang lain saat dia sudah koma, ada sahabat semacam dia. Ada.
Dear Pak Niko,
terima kasih membuat ku berani percaya lagi. Terima kasih telah menyelamatkan nyawa banyak orang. Terima kasih telah mengisi hari kerja kami. Terima kasih telah membuat kami bangga bisa kenal denganmu. Selamat berlibur, selamat menghabiskan waktu dengan orang-orang tercintamu yang juga percaya sebaik itu lah sosokmu. Semoga perjalananmu jauh menebus perjalananmu sebulan ini. Semoga bacaan ini menemani perjalananmu. Bahagiakan dirimu, Pak!
Sampai bertemu lagi di Jakarta, ya! Semoga luka kami sudah sembuh, semoga kami sudah bisa percaya lagi.