The man who I love.
Cookie Run:Kingdom Official!
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

EXPECTATIONS

Origami Around
tumblr dot com

izzy's playlists!
YOU ARE THE REASON
🩵 avery cochrane 🩵
art blog(derogatory)

if i look back, i am lost

No title available

Love Begins
untitled
Not today Justin
official daine visual archive
Sweet Seals For You, Always
★
noise dept.

No title available
cherry valley forever

seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from Denmark
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Vietnam
seen from Saudi Arabia
seen from Pakistan
seen from Australia
seen from Singapore
seen from Brazil

seen from Australia

seen from Algeria

seen from Italy
seen from Philippines
seen from United States

seen from South Korea
seen from Vietnam
@aridha92-blog
The man who I love.
Dia
13 hari yang lalu, aku memutuskan mencari tahu jawaban dari semua ini. Aku menaruh hati padanya, atau ini hanya sesaat. Dan kini, aku menemukan sedikit jawabannya.
Dia, yang bisa mengalahkan kecuekanku. Dia, yang bisa melembutkan kerasku. Dia, yang bisa memahami sikapku. Dia, yang bisa mengerti egoku. Dia, yang bisa membuat aku jatuh cinta lagi.
Aku berencana pergi mendaki di malam 17 Agustus. Awalnya aku meminta ikut bersamanya, namun ia tak mengizinkanku karena tidak ada perempuan yang ikut bersama rombongan mereka. Akhirnya aku pergi sendiri bersama teman yang lain.
Malam itu kami berangkat, tiba-tiba saja ia akan mengajakku karena ia mengira aku tak jadi pergi. Saat itu aku sudah di bus menuju Bukit Gundul. Aku sedikit kesal, namun lagi-lagi aku tak bisa marah padanya.
Sepulang dari sana, komunikasi masih berlanjut. Kali ini lebih dekat, dan dekat. Ada perhatian, walaupun ia tetap cuek. Ada yang berbeda, walaupun ia bersikap datar. Dan aku merasa senang.
Dan satu hal yang aku tunggu : Ia berjanji mengajakku ke Gajah Bobok bersama.
Semoga saja.
Medan, 19 Agustus 2016
The man who makes me feel like a dangerous woman.
Mulai Berjarak
Setelah pertemuan kemarin di tanggal 30 Juli 2016, aku dan lelaki itu masih tetap berkomunikasi, via BBM tentunya. Awalnya sempat sedikit renggang. Mungkin bosan. Tapi akhirnya kami menemukan ritme percakapan kami kembali.
Kamis malam, tepatnya tanggal 4 Agustus 2016, aku mengirimkan sebuah lagu untuknya. Lagu yang kunyanyikan sendiri dengan suaraku. Responnya baik, dan aku yakin dia senang sekali malam itu. Walaupun sebenarnya aku tak pernah tau seperti apa ekspresinya disana atas hal yang aku lakukan.
Hingga esoknya, komunikasi kembali merenggang. Tambah lagi, aku yang sebenarnya sedikit sensitif, selalu merasa tak enak hati ketika ia menjawab hal-hal yang kurasa serius dengan gaya becandanya. Akupun menyampaikan keluh kesahku.
Setelahnya, ia mulai berbeda. Tak ada bbm penuh canda, penuh tawa. Aku mencoba mencairkan kembali kebekuan dengan hal-hal yang kuanggap bisa membuatnya tertawa. Namun aku rasa ia masih berbeda.
Sejujurnya aku bingung dengan hatiku sendiri. Ada apa dengan sikapku? Entahlah. Aku pun tak mengerti perasaanku saat ini.
Hingga pagi ini, aku memilih untuk mulai berjarak dengannya. Memastikan apa arti dari perasaanku, dan memastikan apa yang dia rasakan padaku. Aku yakin, di dalam jarak aku pasti menemukan jawabannya.
Apakah aku mencintainya, atau hanya pelepas sepi? Apakah ia mencintaiku, atau hanya sekedar ingin berteman?
Aku masih menunggu dalam jarak.
Medan, 6 Agustus 2016
The one who said that I was so cold yesterday.
Pertemuan
Aku membuka ponselku, mencari jejak aksara yang kuucap pertama kali saat bertemu denganmu. Ya, di sosial media berwarna biru tua ini kita akhirnya memulai perkenalan, dimulai dengan sapaanmu di tanggal 26 September 2015. Awalnya aku hanya cuek, menjawab beberapa pertanyaanmu seadanya.
Oktober kau kembali menyapa, tepatnya 13 Oktober 2015. Hingga kalimat demi kalimat kita mempertemukan pada suatu kenyataan bahwa kau adalah teman dari teman-temanku. Percakapan kita masih terus berlanjut hingga di 14 Oktober 2015 kita memulai percakapan lebih sering di jejaring sosial yang terkenal dengan PING!! nya.
Aku lupa tepatnya kapan aku bosan untuk menerima pesanmu, bahkan aku tak menyadari hingga kemarin kau masih berteman denganku di BBM dengan nama yang berbeda. Sejak itu pula, aku tak lagi bertukar aksara denganmu.
16 Juli 2016. Aku pergi bersama teman-temanku dari Para Petualang Lucu ke Gunung Sibayak. Seseorang mengirimiku pesan di BBM mengenai kepergianku. Gondrong, nama penggunanya. Aku berpikir selama ini dia adalah teman BBM yang kudapat melalui komunitas pecinta alam di Sumut. Percakapan kami di BBM terus berlanjut hingga pulang dari Sibayak. Dia orang yang asyik.
Beberapa hari setelahnya, aku coba meminta jejaring sosialnya yang lain. FB dan Instagram. Dan ia menjawab bahwa aku sudah berteman dengannya di FB. Aku coba meminta nama akunnya. Dan kenyataan yang kutemui adalah teman BBM ku bernama Gondrong adalah lelaki yang kukenal di FB 26 September 2015 lalu.
Aku masih heran, namun aku terus melanjutkan chat dengannya. Ada sesuatu yang membuatku tertarik, dan aku tak tahu denganmu. Yang jelas kau memintaku membawa buah tangan saat aku harus bertugas di luar kota tanggal 25-28 Juli 2016.
Aku kembali ke kota kita. Tentunya dengan buah tangan yang sudah kusiapkan sesuai pesananmu. Ini adalah moment awal kita akan berjumpa. Dan, aku sangat gugup kala itu.
30 Juli 2016 kau menjemputku di sebuah cafe, sewaktu aku selesai bertemu dengan teman baikku. Jujur, aku gugup dan bingung harus bagaimana saat itu. Bahkan tak berani memandang wajahmu. Aku langsung menyodorkan bungkusan yang kubawa untukmu dan naik di sepeda motormu. Dan kita menikmati senja bersama, hingga tiba di depan rumahku.
Malam, aku masih bertukar pesan denganmu di BBM. Satu hal yang mengangguku hingga sore ini adalah : kau berkata hatiku dingin.
Sekaku itukah aku?
Medan, 31 Juli 2016