Bismillahirrahmaanirrahiim..
Kali ini saya menulis NHW dengan energi yg sama seperti ketika menulis tentang trasure dan kinanti..juga cloud (jadi kangen Windy;soulmate yg paling paham tentang jenis energi macam apa yg sedang merasuki saya saat ini). Jika energi ini muncul, kekuatan ‘generating idea’ dan potensi ‘creator’nya teraktivasi.
Mulanya biasa aja, tapi setelah sekilas ngobrolin tugas NHW bareng pak suami, ujung-ujungnya malah ketemu ide untuk mengkolaborasikan passion suami dan saya... masyaAllah, Alhamdulillah..Allah memang selalu punya cara yg kece untuk ‘ngasih kunci jawaban’ pada hambaNya.
Masiih ingin ngoceh(nulis) banyak, tapi mari fokus pada NHWnya dulu..
satu tahun ke depan..
1. Saya ingin menjadi
pelatih/trainer/edukator/campaigner untuk materi ‘hemat air’
2. Saya ingin melatih orang2 berhemat air dengan:
- mengajarkan cara berwudhu sesuai sunnah,
- mengajarkan cara mencuci piring yg hemat air dan higienis
3. Saya ingin memiliki ‘wadah’ untuk mengedukasi/menyebarkan materi tentang ‘hemat air’
5-10 tahun ke depan..
1. Saya ingin menjadi pendiri(founder)/ penggagas(inisiator) “bumi kinanti”
2. Saya ingin mewujudkan berdirinya “bumi kinanti” dengan:
- menyebarkan ide tentang “bumi kinanti”
- menemukan dan mengumpulkan sumberdaya untuk membangun “bumi kinanti”
3. Saya ingin memiliki ikatan yg sangat baik dengan semua yg terlibat dalam terwujudnya “bumi kinanti”
lifetime purpose
1. Saya ingin menjadi jalan bagi perubahan baik di tanah air
2. Saya ingin setiap usaha yg saya lakukan, sekecil apapun, bisa mendorong terjadinya perbaikan positif
3. Saya ingin memiliki jejak positif di bumi, yg bisa menjadi cahaya penerang di yaumil akhir.
Bismillah..
Makin ke sini, makin ngerasa kalau konsep matrikulasi ini mantep,
banget, karena selalu memfasilitasi dan mendorong pesertanya untuk merenungi hidup.
Tugas kali ini bahkan memfasilitasi peserta untuk mengetahui bakatnya via temubakat.com. sukaaa!
Sebetulnya perihal talent mapping ini sudah ada sejak jaman kuliah dulu, tapi saya nggak pernah ikutan karena berbayar. Sewaktu kerja, udah pernah nemu website yg memfasilitasi talent mapping secara gratis, tapi berhubung udah merasa menemukan bakat dan passion alias sok tau terhadap kondisi diri, maka si website itu pun diabaikan (apalagi pertanyaannya bahasa inggris dong, makin saya hiraukan hehe)
Karena ini adalah kali pertama, perasaan saya ketika mengisi : duh, kok susah banget ya jawabnya..
soalnya di situ dijabarkan kualitas2 diri dan disuruh pilih yg dirasa paling sesuai dengan saya..
masalahnya, saya ini terlalu peka sama kekurangan diri;
jadi saya mencari jawaban semacam : kurang rapih dan teliti, tapi kok nggak ada ya?????
mau milih jawaban yg ada, rasanya nggak pe de. Tapi akhirnya dijawab juga setelah bengong 10 menit menatapi pilihan2 yg ada
hasilnya?
taraaaa
Sewaktu jawab NHW1, jurusan yg saya pilih adalah jurusan pelayanan-pengabdian, dan ternyata kekuatan saya : 40% servicing. Seru yah, ternayata bisa pas gini, alhamdulillah.. Semoga benar benar bisa memaksimalkan si kekuatan dan semakin rajin belajar, amin.
Selanjutnya, bikin matriks.. masih ingin cerita banyak soal matriks ini tapi bentar lagi tengat waktu tugas!!! Maka dicukupkan dulu lah ocehannya kali ini.
jadi karena zikra ini lahir di Lund, tapi bapak ibunya WNI, maka dek zikra harus punya resident permit selama tinggal di Swedia.
Sebelum urus resident permit, si dedek harus punya paspor dulu.. maka ibu pun sejak hamil udah ngintip2in persyaratan bikin paspor ini.
Berhubung cari2 infonya pas hamil, yg mana ketika itu otak sedang menciut, maka setelah lahiran, tetep aja harus bolak balik cek persyaratan sampe paham..
Informasi dari website KBRI sayangnya tidak memuat info untuk membuat paspor anak. Pernah dapat kontak staf KBRI dari neng Rizka tapi hilang gara2 HP harus bolak balik factory reset. Maka Ibu kembali mengandalkan info dari blog mamah mamah kece seperti di sini dan di sini; tapi keduanya ditulis tahun 2014..ibu pun merasa kurang yakin, lalu menunda proses bikin paspor, sampei akhirnya pagi ini nemu lagi tulisan terbaru (2016) di sini . Alhamdulillah.
semoga hari ini lancar, amin!!!
oh ya, setelah paspor jadi, jangan lupa untuk mengurus surat keterangan lahir, syaratnya bisa diintip di sini ; tapi berhubung ini adalah tulisan tahun 2015, maka perlu konfirmasi ulang sebelum memproses.
Dari kemarin menunda mengerjakan NHW karena merasa minder binti bingung. kenapakah?
karena tugasnya meminta untuk menulis 3 aktivitas paling penting dan 3 aktivitas paling tidak penting, lalu evaluasi aktivitas manakah yg lebih sering dilakukan/ paling memakan waktu.. setelah itu, buat ‘kandang waktu’
kenapa jadi minder bin bingung?
1.karena ketika saya masih SMA, Papa pernah memberi tugas yg serupa; lalu sekarang saya sudah beranak dua, tapi masih sering lupa betapa ruginya membuang waktu untuk kegiatan kurang bermanfaat :,(
2. karena saya kuliah, dan kami sedang dalam mode survival karena merantau ke negara yg biaya hidupnya tinggi (baca: ngga mampu jajan di restoran apalagi menggaji ART); maka kondisi rumah tangga kami atur supaya hidup menjadi lebih simpel..
misal, saya membatasi kepemilikan barang dan baju (untuk mengurangi jam bersih bersih rumah);
mebiasakan berangkat kuliah dengan ‘seragam’ yg anti kusut (untuk membatasi cucian, tidak perlu menyetrika dan menghemat waktu bersiap sebelum ke kampus)....
hasil simplifikasi hidup ini bikin saya jadi minder untuk lapor tugas NHW, karena setelah ditulis, setiap hari saya hanya melakukan 3 aktivitas saja : beribadah, kuliah dan mengurus bayi. kok rasanya ngga produktif banget ya hidup ini? jauh banget dari kata profesional.
3. Jadinya bingung, mau nulis apa dong.
ahya, aktivitas tidak penting:
browsing atau chatiing sambil menyusui, atau ketika di bis dalam perjalanan ke kampus.
Perbaikannya:
aktivitas browsing atau chatting selama menyusui atau dalam perjalanan, harus diganti dengan tilawah.
tentang ‘kandang waktu’; alhamdulillah karena saya kuliah, maka semua sudah terjadwal, dan ‘kandang waktu ini sudah berlaku, hanya saja perlu memperbaiki jadwal ketika weekend yg masih lebih sering bablas.
bismillaahirrahmaanirrahiim
Membuat Desain Pembelajaran?
Tugas kali ini meminta para calon ibu profesional untuk membuat sebuah desain pembelajaran.
Bagi saya, kata ‘desain’ otomatis membuat otak saya mengingat tahapan yg dilakukan ketika mendesain sebuah bangunan pengolahan air.
Maka, dalam membuat desain pembelajaran ini, saya menggunakan tahapan yg saya ketahui sebelumnya (untuk mendesain bangunan pengolahan air)
sebagai analogi atau filosofi dalam mendesain proses pembelajaran yg akan dilalui oleh saya pribadi.
Tahapan 0 (Tahapan awal) sebelum mendesain:
memeriksa kualitas air, karena serangkaian unit unit yg akan didesain harus menyesuaikan kebutuhan, dalam hal ini, bagaimana kualitas air tersebut pada mulanya?
jika disesuaikan untuk kebutuhan pembelajaran, maka tahapan 0 ini adalah memeriksa kualitas diri, yg sudah terjawab saat mengerjakan NHW4
Tahapan 1 proses desain: menentukan kualitas akhir yg akan dipenuhi, dan memasangkan bangunan pengolahan yg dibutuhkan.
dalam proses pembelajaran, tahapan 1 ini sesuai dengan menentukan kebutuhan ilmu untuk mencapai milestone, yg sudah terjawab saat mengerjakan NHW4
Tahapan 2 proses desain: memeriksa kriteria desain setiap unit pengolahan air (berapakah ketentuan dimensi bangunan yg diperlukan untuk mengolah sejumlah air dengan kualitas tertentu)
dalam proses pembelajaran, saya harus menetapkan kriteria desain untuk masing-masing unit pembelajaran. Sebagai contoh, dalam unit pembelajaran primer saya menetapkan materinya adalah pengelolaan waktu.
kriteria desain untuk unit belajar ini antara lain : materinya harus mencakup pengelolaan waktu bagi wanita muslim yg sudah berkeluarga dan memiliki anak. Maka materinya harus bisa membantu saya memilih prioritas dalam menggunakan waktu. salah satu rujukan dalam materi ini antara lain: https://athirahm.wordpress.com/2015/09/12/waktu/ dan https://www.mindtools.com/
Tahapan 3 proses desain: menyusun seluruh rangkaian unit yg sudah dikerjakan dalam tahapan 2
dalam proses desain pembelajaran, seluruh rangkaian proses ini harus sesuai dengan milestone dan dapat menghasilkan output sesuai kriteria yg ditentukan di tahap awal.
Tahapan 4 proses desain: trial (pengujian bangunan pengolahan)
setelah dihitung, dilakukan simulasi apakah bangunan yg sudah didesain (lalu dibangun), dapat menghasilkan kualitas air yg diinginkan jika dioperasikan dalam kondisi riil.
Nah tahapan 4 inilah yg paling krusial dalam proses pembelajaran menurut saya pribadi, . Karena secara teori dan konsep, 3 tahapan sebelumnya sudah siap sejak lama, namun prakteknya, apakah sudah menghasilkan kualitas diri yg diinginkan? jika belum, maka susunan unit pembelajaran yg sudah ada, harus dievaluasi lagi, diulangi lagi, dipelajari lagi, hingga diri ini mencapai kualitas diri yg sudah ditetapkan dalam cita-cita belajar.
laa haula wala quwwata illa billah..
Power ranger dan sailor moon.
Itu adalah dua hal yg melintas di kepala, seketika membaca judul materi kelas minggu ini.
Waktu kecil, saya bercita-cita ingin jadi power ranger.
Karena megazordnya keren, bisa dipakai untuk melawan monster.
Pernah juga ingin sakti seperti usagi tsukino,
tapi maunya pas berubah dengan kekuatan bulan,
bajunya jadi celana panjang ala pelaut beneran, bukan rok mini.
Apa hubungannya cita-cita saya dengan kelas matrikulasi?
Ngga ada sih.. tapi.. materi kali ini membuat saya merenungi banyak hal, dari mulai cita-cita absurd saya, hingga peran Papa.
Papa adalah contoh terdekat bagi saya, tentang bagaimana mendidik dengan kekuatan fitrah.
Jaman dulu, informasi tentang bagaimana mendidik anak dan segala teorinya belum bisa diakses semudah hari ini. Tapi, Papa mengikuti insting alamiahnya, kekuatan dirinya, untuk mendidik dan menemani perjalanan saya menemukan passion dan misi hidup.
Bagaimanapun, misi hidup saya yg sudah saya tulis jauh jauh hari di buku diary, tentu perlu perbaikan. Karena apa yg saya tulis hanya berkisar pada ilmu duniawi.
Itulah mengapa, pada NHW#1, prioritas ilmu yg ingin saya pelajari saat ini adalah tentang bagaimana menjadi sebaik baiknya ‘pelayan/hamba’ bagi pencipta semesta alam.
Agar supaya saya selalu mengingat, bahwa apapun yg saya usahakan adalah sebagai bentuk pelayanan bagiNya.
Agar saya selalu mengingat, bahwa setiap pencapaian dan keberhasilan adalah atas ijin dan kuasaNya.
Saya pikir, saya bisa menyelesaikan NHW#4 ini lebih cepat dari biasanya karena saya sudah punya gambaran besar tentang misi hidup sedari dulu, tapi ternyata proses perenungan ini membuat saya kewalahan membendung luapan pikiran. Untuk membatasi ocehan saya, maka saya tuangkan jawabannya melalui diagram.
Kira-kira seperti inilah proses berpikir saya dalam menjawab poin a,b dan c:
Hasil atau keluaran dari proses berpikir di atas adalah misi individu seperti yg tertera pada gambar di bawah ini. Misinya saya bagi dalam tiga kerangka waktu, namun untuk ketiganya, bidang dan perannya sama: bidang sustainable living, dengan peran sebagai praktisi sekaligus edukator.
Berhubung permasalahan lingkungan dan sustainability adalah topik yg saya minati sejak dulu, dan sudah dipelajari sejak di bangku perkuliahan,
maka untuk saat ini, prioritas ilmu yg ingin dikuasai adalah tentang pengelolaan waktu (Bunda cekatan). Tidak lupa, ilmu sesuai jurusan pada NHW#1 senantiasa dipelajari, agar setiap langkah yg diayun, sesuai dengan ridhoNya.
Setelah menentukan prioritas ilmu, milestone pencapaian dibuat, untuk memandu perjalanan dalam memenuhi misi hidup. Berikut penampakannya:
bismillaahirrahmaanirrahiim.
Semoga setiap usaha dan rencana ini terlaksana sesuai kehendakNya. amin.
catatan refleksi:
Ketika mengerjakan tugas ini, sejujurnya saya bingung dengan perintah tugas yg seakan berfokus pada refleksi misi hidup diri; saya pikir, tugas kali ini kurang berkaitan dengan materi ‘mendidik dengan kekuatan fitrah’; terutama karena misi hidup saya sendiri agak berbeda dengan misi hidup ibu Septi yg memang terkait dengan pendidikan ibu dan anak.
tapi setelah merenungi hal ini lebih dalam, beginilah gambaran keterkaitaannya dalam pandangan saya
proses dan pengalaman dalam membaca kekuatan diri maupun merumuskan misi hidup, akan sangat berguna bagi bekal saya dalam membimbing dan mendampingi anak dalam memahami kekuatan dirinya, dalam merumuskan misi hidupnya.
Peran saya adalah mengamati, menemani, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya, sebagaimana petani organik mengelola kebunnya.
sejujurnya, saya pun sangat menikmati mengerjakan tugas yg ini, hingga teringat lagi kalimat dalam materi sesi #3:
“Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan”
Di titik ini, rasanya proses mendidik anak pun terasa sangat menyenangkan, karena terbayang kekuatan diri apa dan misi serta karya apa yg bisa diintegrasikan dalam proses perjalanannya.
Alhamdulillah, jazakumullah khairan katsiran Bu Septi+tim matrikulasi,
Tell the believing men to reduce [some] of their vision and guard their private parts. That is purer for them. Indeed, Allah is Acquainted with what they do. (Qur’an: Surah An-Noor, Ch. 24, Ayah/ verse 30)
The beauty and the wisdom behind the ayah/verse of hijab from Surah An-Noor cannot be easily overlooked. We are well aware of the fact that our moral code is being hollowed out by the immoral practices being deliberately spread in our society. When we read this ayah/verse that commands the believing men to maintain hijab, we see a commandment which if implemented will provide a strong moral base for our society.
Di halaman ini, tercantum informasi syarat pembuatan paspor baru / perpanjangan paspor melalui KBRI di Stockholm
Simpen url di sini, untuk paspornya dedek Zikra..
habis ngurus paspor lalu bikin surat kelahiran ya bu! catet!
dan sebelum ini, harus siapin pas foto zikra dulu. hmm.
Allah Ridha Kepada Mereka, dan Merekapun Ridha Kepada Allah
Jadi ceritanya kemarin, saya dan @novnovya kedatangan tamu istimewa di kontrakan. Temen-temen kampus pertama yang datang ke rumah sederhana kami. Ada satu yang menarik dari kunjungan sore hari itu; kebingungan agenda. Entahlah, biasanya kami rapat bersama, tapi sekarang agendanya jadi kultural sekali. Hehe. Dan akhirnya, terjadi diskusi yang diawali dari tausyah sederhana. Sampailah masuk bahasan tentang “Ridha Allah”.
Tentang “ridha Allah” ini adalah kalimat yang paling saya suka dari “diskusi sehat” kemarin. Ya, ada semacam dua syarat yang keduanya perlu dipenuhi. Disebutkan semalam, manusia seringkali terlalu fokus pada yang pertama. Tentang bagaimana cara membuat Allah ridha kepada mereka. Dilakukannya ragam aktivitas yang tujuannya, supaya Allah ridha kepada mereka.
Kita sebagai muslim kemudian melaksanakan shalat, misalkan. Sebagai bentuk ikhtiar kita agar Allah meridhai aktivitas kita mengikuti setiap perintahNya. Kita menolak untuk memakan babi, minum khamr, dan hal-hal yang haram lainnya. Sebagai bentuk agar Allah ridha menyaksikan penolakan kita terhadap yang dilarangNya. Kita melakukan ini dan itu, agar Allah menyaksikan kita dan Dia ridha terhadap apa-apa yang kita lakukan.
Tapi mungkin kadang kita juga luput untuk yang kedua. Bahwa yang disyaratkan bukan hanya keridhaan Allah kepada kita, tapi keridhaan kita kepada Allah. Radhiyallahu ‘anhum wa radhuu ‘anh. Saya pribadi sempat berpikir lama ketika mendapatkan kalimat tersebut. Bagaimana ya bentuk keridhaan saya sebagai seorang hamba kepada Tuhannya? Lebih jauh lagi saya jadi lebih berpikir lagi, bagaimana cara memastikan sebetulnya Allah ridha kepada saya?
Kalau tentang “apakah Allah ridha kepada kita?”, saya pernah mendengar nasihatnya Aa Gym. Katanya, “kalau mau tau yang kalian lakukan itu diridhai Allah atau tidak, adukan saja dengan kematian!”. Maksudnya bagaimana? Jadi misalkan, anda sedang melakukan maksiat, lalu tiba2 anda mati. Apakah anda siap? Bandingkan dengan ketika anda sedang shalat dengan sangat khusyuk, lalu tiba2 anda mati. Mana yang kira-kira Allah ridhai kematiannya?
tapi yang kedua, bagaimana ya? Bagaimana kita ridha kepada Allah?
Tadzkirah yang saya dapatkan, mungkin jawabannya adalah tentang ketulusan hati. Perasaan. Ya, mungkin sesederhana itu. Ah, tidak sederhana nampaknya.
Begini, anda dimintakan tolong oleh ibu anda untuk membeli makanan di warung sedangkan anda sangat letih karena baru saja sampai dari perjalanan jauh. Tapi karena anda paham bahwa ridha Allah ada bersama ridha orangtua, maka anda melawan rasa letih anda dan mengikuti perintah ibu anda. Jika anda menolak dan bahkan mengatakan “ah” saja, maka anda akan mendapatkan murkaNya. Itu yang pertama. Kita berharap ibu kita ridha terhadap apa yang kita lakukan.
Tapi cerita kedua, dalam kasus yang sama. Anda letih, baru saja datang dari perjalanan jauh. Lalu ibu anda meminta tolong untuk membelikan makanan di warung. Anda bangkit dengan antusias. Anda teringat lagi, sudah lama sekali anda tidak berjumpa dengan ibu anda. Padahal sejak kecil ibu anda menyayangi anda dengan sangat luar biasa. Ya, bahkan sejak dalam perjalanan anda sudah terbayang-bayang, apa yang bisa anda berikan untuk melayani ibu anda dengan sebaik-baik layanan. Maka bahkan anda tidak perlu menghampiri ibu anda untuk meminta uang belanja, tapi anda menggunakan uang anda sendiri untuk makan siang hari itu.
Radhiyallahu 'Anhum wa Radhuu 'Anh
Ya betul, shalat bisa menghindarkan kita dari dosa; dari murka Allah. Ya benar, berpuasa pada bulan Ramadhan adalah sebuah kewajiban. Jika dilakukan mendapat pahala, jika diabaikan mendapat dosa. Juga tidak salah, bahwa yang tujuan utama kita tidak berzina, minum khamr, makan babi, adalah ridha Allah kepada kita.
Tapi indah sekali nampaknya, jika kita tidak hanya bekerja sesuai dengan perintahNya. Tapi bekerja, dengan memahami apa maksud dari perintahNya, menerimanya dengan penuh cinta dan antusiasme, lalu tetap mengerjakannya bahkan dengan ahsanu amala. Dengan kualitas terbaik yang bisa kita tampakkan. Karena kita berharap Allah ridha kepada kita; dan kita ridha kepadaNya. :)
- Muhammad Fathan Mubina
p.s. : Jazaakumullahu khayr teman-teman semuanya.. Luar biasa bisa bertemu kalian lagi! :)
Saya ini orangnya serius. pemikir. suka merenung. *ngaku ngaku*
Maka Allah pasangkan saya dengan orang yg lebih serius, lebih pemikir,
tapi.... dia seringnya membungkus kedua kualitas itu dengan lawakan.
Setiap hari, adaaa aja celotehannya, kelakuannya,
yg bikin saya ketawa bahagia atau ketawa miris,
karena seringkali lawakan pak suami itu ya nggak jauh-jauh dari ngeledekin istrinya
Maka bisa dibayangkan, ketika saya membaca salah satu perintah dalam NHW#3 kali ini : buatlah surat cinta untuk suami anda, pusinglah kepala ini.
Rasanya pengen nge-skip tugas, dengan alasan lain: tugas kuliah periode baru sudah menumpuk; padahal alasan sebenarnya itu karena malas diledekin sama suami.
setelah merenung dan bersemedi berkali-kali, akhirnya bikin juga si surat cinta. Tapi sebelum bahas surat cintanya, lebih pengen bahas materi minggu ini: Membangun peradaban dari dalam rumah.
Materi kali ini semacam ‘kata kunci’, yg membuka berbagai tumpukan memori dalam kepala. Memori baik yg terkubur oleh adegan adegan drakor yg nggak penting.
Alhamdulillah wa syukurillah, si kata kunci muncul tepat waktu, tepat ketika saya memang sedang butuh diingatkan, tentang semua hal yg pernah saya renungkan, yg membuat saya berani mengambil keputusan berhenti bekerja, dan lalu bertahan dalam keputusan itu, meski banyak orang mencemooh.
Semua berawal dari rumah.
Dari rumah, perjalanan kami bermula.
*terus mellow, lalu kehabisan kata kata*
lanjut bahas NHW dulu ya...
NHW#3
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
Untuk menghindari timbulnya niatan pak suami menjadikan si curat cinta sebagai bahan ledekan, maka suratnya saya bagi menjadi 3 bagian:
Ketika baca bagian 1 , alhamdulillah pak suami Excited, sambil nanya “hadiahnya apa Bu?”
Setelah baca bagian 2, responnya:
“Oh gitu ya Bu?” sambil senyum senyum malu
Dan terakhir, pas baca bagian 3, responnya:
“Nggak apa kok Bu, Ibu nggak nulis pun, Bapak udah tau :)” --> sambil pasang tatapan mata berbinar ala puss di film shrek.
Aww.meleleh.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
untuk poin b dan c ini, seperti biasa, detailnya lebih suka ditulis di jurnal pribadi, penampakannya ada di foto di bawah ini
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
di lingkungan tempat tinggal saat ini, tantangan utama:
minimnya institusi pendidikan islam;
di lingkungan tempat tinggal di tanah air, tantangan utama:
minimnya kesadaran merawat lingkungan
mengapa Allah hadirkan keluarga ini di sini?
1. untuk mengasah dan mempertajam potensi masing-masing dari anggota keluarga:
- Bapak menemukan passion dan potensi yg selama ini terpendam: masak dan culturebox
- ketika di Indonesia, ibu sering terdistraksi karena isu lingkungan di indonesia banyak sekali. Allah ijinkan ibu belajar di sini, agar bisa lebih fokus pada satu masalah: masalah air
- Alkiva mendapat stimulasi lebih untuk mengasah potensinya di lingkungan yg beragam
2. untuk menunjukkan bahwa segala hal itu mampu dan bisa dilewati, jika Allah izinkan. Semua hal yg kami lewati hingg detik ini, termasuk kepindahan kami ke Lund, menunjukkan betapa besar kuasaNya, dan Allah lah sebaik-baiknya perencana.
3. agar keluarga ini bisa menyerap hal-hal baik dari apa yg diterapkan di sini, sebagai bekal untuk memperbaiki keadaan di tanah air
Lalu misi spesifik apa yg Allah titipkan pada keluarga kami?
Melihat potensi Bapak dalam memimpin, mengelola dan merencana + potensi Ibu dalam menggagas ide dan mencari solusi + potensi Alkiva dalam memvisualisasikan apa yg dia lihat, sepertinya Allah menginginkan keluarga ini bekerja untuk menyampaikan kembali ilmu yg sudah didapat, kepada masyarakat yg lebih luas, dengan cara yg menyenangkan (hal ini terinspirasi oleh kegiatan bermain, berkreasi dan menggambar bersama Alkiva).
Dalam jangka waktu terdekat, ilmu yg ingin disampaikan adalah tentang ilmu lingkungan (sesuai dengan latar belakang pendidikan Bapak dan Ibu); terutama tentang pencegahan/pengurangan sampah makanan;
ada juga keinginan untuk memulai pengenalan islam untuk Alkiva, tapi sebelum itu dimulai, ibu dan bapak harus lebih giat belajar memahami islam, agar apa yg disampaikan pada Al, bisa menjadi benih-benih kecintaanya kepada Allah SWT.
Kedepannya, mudah-mudahan keluarga ini bisa seterusnya menjadi ‘penyampai pesan bumi’ hingga terbentuk masyarakat yg dapat memaksimalkan fungsinya dalam merawat bumi, dan meminimalkan dampak aktivitasnya terhadap bumi.
Bismillah, semoga langkah kami kedepan selalu dalam penjagaan dan bimbinganNya. amin
Sampai juga ke bagian 3. ini bagian terakhir nih Pak :D
Bagian 1&2 ibu bikin dalam rangka tugas kelas matrikulasi loh Pak.
Aslinya sih disuruh bikin surat cinta, Pak; tapi berhubung ibu udah keseringan mengungkapkan itu -baik secara eksplisit via ucapan, maupun secara implisit via tulisan tulisan yg ibu tautkan, jadinya surat cintanya model begini aja ya, model kompilasi, atau remix gitu. xixi.
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah, pekan ini belajar lagi hal baru dari materi Matrikulasi IIP:
“Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga”
materinya kurang lebih berkisar tentang Apa Itu Ibu Profesional? | Apa itu Komunitas Ibu Profesional? | Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional? | Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?
Menarik ya materinya?!!
Saking menarik dan serunya, kadang ingin segera menyalinkan ulang materinya di blog ini, tapi behubung belum sempat, mari kita fokus pada Nice Home Work (NHW)-nya dulu. Dimana pekan ini, tugasnya ialah untuk membuat Checklist indikator profesionalisme perempuan, baik sebagai individu, istri, maupun ibu. Maka perlulah bantuan dari suami dan anak, untuk memberi masukan terkait indikator profesionalisme sebagai istri dan ibu.
Berikut hasil merenung dan berdiskusi dengan Pak Tegar dan Kakak Alkiva (Maaf ya dedek Zikra, masukannya belum ibu tampung, habis pas Ibu tanya, Zikra jawabnya baru bisa “ao nggi nggu” >_<)
memenuhi target belajar sesuai jadwal yg sudah dibuat
setelah kedua poin di atas konsisten dilakukan,
dilanjutkan dengan perbaikan kualitas dalam menjalankan pemenuhan target
b. Sebagai istri
menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lebih banyak dan lebih baik dari hari kemarin (dinilai oleh Pak Tegar)
setelah lulus kuliah, kemampuan memasak lebih baik (eksekusi resep baru setiap minggu, pastikan hasil memasak sesuai standar lidah Pak Tegar)
c. Sebagai ibu
mendongeng untuk Al dan Zikra setiap malam
membuat kue / camilan sehat setiap hari Sabtu
menggambar dan membuat mainan setiap hari Minggu
Begitulah kira-kira checklist indikator buatan saya.
Sebetulnya dalam membuat indikator disarankan untuk memenuhi kaidah SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Time-bond); tapi indikator yg saya tulis di sini agak umum (untuk bagian individu dan istri) dikarenakan detail2 yg SMART saya tulis di buku jurnal pribadi. Berikut contoh penampakan target yg saya tulis di buku
Mudah-mudahan indikator yg sudah ditulis bisa tercapai, amin!
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Intro
Jadi, ceritanya kemarin ada busui yg terjebak di dunia fananya drama korea, berkali kali meniatkan untuk insaf tapi kumat lagi kumat lagi. Akhirnya si busui bisa juga lepas setelah ketemu kegiatan yg lebih bermanfaat:
Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP).
Alhamdulillah. *sujud syukur*
Penjelasan matrikulasi insyaAllah menyusul, karena tulisan ini sebetulnya dibuat untuk menunaikan tugas dalam kelas matrikulasinya. Tugasnya namanya Nice Home Work (NHW).
NHW pertama ini dibuat untuk menguatkan ilmu yg didapat kemarin, yaitu tentang ‘Adab Menuntut Ilmu’; maka pertanyaannya terkait dengan mencari ilmu. Berikut adalah pertanyaan tugas (ditulis dgn huruf bold), beserta jawabannya.
Jurusan ilmu yang akan ditekuni di universitas kehidupan:
Ilmu pelayanan-pengabdian kepada pemilik semesta
Alasan terkuat ingin menekuni ilmu tersebut?
karena diri ini masih sering lupa bahwa status hidup di bumi adalah untuk mengabdi kepadaNya, maka diperlukan ilmu terkait ini agar bisa menunaikan tugas dan kewajiban di bumi sebaik mungkin
Strategi menuntut ilmu:
1. mendefinisikan mata kuliah dalam jurusan
2. menentukan rentang waktu/periode belajar untuk setiap mata kuliah
3. mencari guru dan ruang belajar untuk setiap mata kuliah
4. membuat catatan harian serta refleksi pencapaian/pemahaman
(target pemenuhan poin 1-3 : 29 Oktober 2016)
Apa saja yg akan diperbaiki dalam proses mencari ilmu:
Kelemahan yg dimiliki saat ini:
-sering hilang konsentrasi
-malas mencatat dan mengulang materi
-tidak konsisten
untuk memperbaiki kelemahan tersebut, berikut hal-hal yg akan dilakukan:
1. melatih konsentrasi dengan teknik ‘pomodoro’
2. merekap hasil belajar di blog setiap minggu
3. membuat target belajar yg SMART sehingga bisa menghindari rasa malas dan konsisten dalam menjalaninya
Sekian tulisan kali ini, sampai jumpa di tulisan dan NHW selanjutnya :D