Me and Myself.
Saat akhir SMA, saya masih tidak tahu Teknik Kimia itu belajar apa hasilnya apa walaupun Bude dan kakak sepupu saya lulusan Tekkim. Saya yang tidak tahu bakat saya sebenarnya dimana akhirnya diberi saran oleh Bude untuk memilih antara FK atau Tekkim. Menurut beliau, kedua jurusan ini sangat prospek. Karena dulu saya agak phobia dengan darah, akhirnya saya mendaftar SNMPTN dengan memilih Tekkim sebagai jurusan pertama dan TPHP sebagai jurusan kedua.
Alhasil saya diterima di Tekkim. Saat masuk di dunia perkuliahan, pasti akan melewati namanya ospek. Saat ospek saya dicekoki dengan kata-kata semacam jangan malas kuliah di kampus kerakyatan, duit kuliah kalian itu duit rakyat.Okay kata-kata tersebut lumayan mengena untuk saya. Tapi ada satu perkataan yang tidak mengena untuk saya. Ingat perjuangan kalian untuk masuk kampus ini. Hmm, sesungguhnya saya tidak ingat karena saya merasa tinggal daftar dan keterima. (Ini bukan berarti tidak menghargai perjuangan teman-teman saya ya).
Awal-awal di Tekkim saya merasa shock dengan materi dan cara belajarnya yang sangat sungguh berbeda dengan di sekolah dulu. Saat menerima IP semester 1, saya sedikit sedih karena nilai saya tidak sebagus teman-teman lain. Hal itu pun berlanjut ke semester-semester selanjutnya. Tapi saya tidak merasa terlalu sedih atau depresi karena menurut saya IPK bukan segalanya (sepertinya ini efek cekokan kakak-kakak angkatan saya hehehe). Tapi ya kata-kata tersebut banyak terbukti juga untuk kakak-kakak angkatan tersebut.
Saya bertanya-tanya saat terdengar kabar ada teman yang stress dengan kuliah dan segala tetek bengeknya. Saya merasa sangat bingung hingga akhirnya saya merasakan apa rasanya DEPRESI itu. Hal itu berawal dari pengerjaan salah satu syarat lulus di Tekkim, yaitu Penelitian. Saat mendekati deadline Penel, data saya dinyatakan SALAH TOTAL oleh Dospem saya. Akhirnya, saya mengulang dari AWAL karena sampel saya merupakan bahan alami sehingga tidak tahan lama dan rusak. Selain itu, saya harus MENGGANTI METODE ANALISIS SAMPEL saya agar didapatkan hasil yang lebih rasional. Hal tersebut juga tidak mudah dilakukan karena walaupun sudah mengganti metode, hasilnya juga tidak bagus. Beberapa orang menyarankan, “ya sudah Tan dimanipulasi saja datanya biar cepat seminar”. Tapi saya tidak punya pikiran untuk memanipulasi data saya.
Akhirnya setelah 1,5 tahun saya mengerjakan Penel saya (telat hampir 6 bulan dari rombongan yang lain), saya berhasil seminar di bulan Mei 2017. Lumayan mengangkat satu beban. Walau saya agak sedikit sedih karena yang dating ke seminar saya sangat sedikit. Ke mana teman-teman saya yang selalu bertanya kepada saya kapan seminar tapi tidak datang ke acara tersebut. Biasanya ya kalau seminar itu bawain bunga atau hadiah begitu, tapi saya sama sekali tidak berharap hal-hal seperti itu. Datang saja sudah senang. Moral support yang saya butuhkan.
Sumber DEPRESI saya yang kedua adalah Tugas Akhir berupa Prarancangan Pabrik Kimia (PPK), yang juga merupaka syarat kedua kelulusan. Awalnya saya ingin berpartner dengan salah satu sahabat saya. Tapi ada kedua teman saya yang lain yang mengajak saya menjadi partner untuk mengerjakan PPK sekaligus tugas PPK tersebut dijadikan lomba di salah satu universitas terkenal di Indonesia. Awalnya kami bertiga semangat sekali mengerjakannya hingga tiba pengumuman tim yang lolos abstrak. Hasilnya? Tim kami TIDAK LOLOS ABSTRAK. Pertama kalinya saya merasakan tidak lolos abstrak. Kalah di paper atau tahap final sih sering, tapi tidak lolos abstrak? PENGALAMAN PERTAMA. Wow dampaknya juga boombastis untuk tim kami, terutama saya. But, life must go on. Ya kami tetap mengerjakan tugas tersebut tapi hanya 10% dari semangat awal kami mungkin. Kami jadi sering konsul dengan dospem TA kami mepet sekali dengan deadline. Hal itu kami lakukan berulang kali hingga dospem TA kami marah.
Hal yang membuat saya makin shock adalah pabrik rancangan saya ini WOW TANTANGANYA BERKALI-KALI LIPAT dari judul TA milik teman-teman lain. Jumlah alatnya, designnya susah, reaksinya, kesetimbangannya makin membuat stress. Saya sangat iri dengan tugas TA teman saya yang lain dan sempat merasa menyesal bergabung dengan tim ini. Saya merasa sebelum menerima job atau pinangan orang lain, saya harus mengevaluasi diri saya apakah saya mampu atau tidak. Daripada saya jadi beban kan?
Dan terjadilah, saya merasa jadi beban untuk tim ini karena tidak banyak bantu. Hal itu saya rasakan berawal dari T4 atau bab bagian Perancangan Alat. Bab ini lah yang menjadi momok dari TA ini. Saat masa ini, kedua partner saya harus pergi Kerja Praktek dan saya di Jogja sendiri dan mendapat unit bagian belakang. Saya merasa sendirian seperti tidak memiliki arah untuk memulai mengerjakan dari mana. Saya tahu kedua teman saya sangat sibuk di KP jadi pekerjaan mereka banyak terlantar. Saya tidak marah atau sebal. Tapi saya merasa bingung saya harus mengerjakan bagaimana karena hanya diskusi dari LINE jadi kebanyakan saya tidak mengerti.
Kedua partner saya juga termasuk orang yang sibuk. Terkadang mereka ikut lomba atau seminar di luar kota. Teman-teman angkatan saya bahkan mengatakan jarang sekali melihat kami mengerjakan bertiga. Jika ditanya mereka kemana, ya kadang saya hanya menjawab asal atau seadanya, seperti “gatau tuh lagi pergi ke luar kota” , karena ya saya benar benar tidak tahu detail kegiatan kedua partner saya tersebut. Pertama kali saya merasakan kekuatan RUMOR. Karena jawaban saya yang asal-asalan itu, kata-kata yang sampai ke telinga kedua partner saya berbeda. Menurut mereka, saya berkata bahwa hanya saya yang mengerjakan TA. Lah ini pikiran dari mana? Aku tanpa kedua partnerku hanya remahan roti.
Stress yang menumpuk sebenarnya tidak saya sadari. Tapi sepanjang semester terakhir saya ini, tidak terjumlah berapa kali saya jatuh sakit. Kemarin diare, hari ini migraine, besok flu berat, radang faring, radang tenggorokan, demam, sariawan, dan lain-lain. Terdengar seperti penyakitan ya? Pada suatu hari saya akhirnya ke dokter untuk memeriksakan sakit saya. Dokter tersebut berkata bahwa saya mengalami DEPRESI. Saat mendengar perkataan itu, saya tambah merasa down. Saya menangis seharian. Saya merasa normal tapi kok dibilang depresi?
Setelah mendengar kata-kata tersebut, saya jadi menjadi lebih sensitif. Dulu saya sangat cuek dengan apa kata orang. Sekarang saya merasa takut mengecewakan orang lain, apa salah saya sehingga saya kadang tidak ditanggapi orang lain, dan semacamnya. Tapi mungkin itu buah perlakuan saya yang tidak bekerja keras. Mungkin.
Sebentar lagi Tan, sebentar lagi perjuangan TA ini berakhir. Sebentar lagi kamu akan berangkat KP, pulang untuk pendadaran, dan wisuda. Berjuanglah sedikit lagi. Karena masa muda memang masa-masa yang menyakitkan.
Tambahan : saya juga ingin meminta maaf untuk kedua pertner TA saya karena saya tidak bekerja maksimal dan terkadang saya susah sekali diajak kumpul. Saya juga minta maaf untuk teman-teman partner lain dalam mengerjakan tugas kuliah karena saya tidak rajin.
11 Juni 2017
Tertanda,
Intan.













