"Tuan, saya rasa sumber sejarah saat ini salah. Saya kira Newton tidak sedang duduk di bawah pohon apel dan tetiba ada apel jatuh mengenainya lalu ia jadi menyadari sesuatu yang berujung pada konsep gravitasi. Saya kira saat itu Newton sedang jatuh cinta saja" seru seorang Nona ketika seorang Tuan tengah menjelaskan panjang lebar tentang hukum gravitasi.
"Maksud Nona apa? jangan mengada-ada! Jangan pula bawa-bawa cinta. Jangan mendadak membawa hal tidak rasional semacam itu di dalam diskusi akademis seperti ini, nona harus bisa membedakan mana yang rasional dan mana yang sekedar melankolia saja. Bukankah nona ini sebentar lagi akan menjadi seorang engineer?" sanggah si Tuan.
"Adalah cinta tuan, yang menyebabkan dua benda yang berada jauh untuk memiliki gaya tarik. Adalah cinta pula yang membuat seseorang tak bisa lepas dari orang lain meskipun ia berulang kali pergi dari orang itu,persis seperti bola yang tuan lempar berkali-kali ke atas tapi tetap kembali ke bawah karena gaya tarik bumi lebih kuat daripada bola itu, persis pula seperti kita yang hidup di bagian bawah bumi tapi tak jatuh karena dijaga gaya tarik dari pusat bumi. Adalah cinta, Tuan, yang membuat suatu benda memiliki gaya tarik yang jauh berbeda dari benda lainnya sehingga benda lainnya tertarik pada benda itu. Adalah cinta, Tuan, bukannya sekedar massa benda ataupun rentang jarak antara dua benda itu" Jawab si Nona.
"Nona sudah gila, ini semakin tidak masuk akal" Jawab si Tuan
"Tahukah Tuan beda seseorang yang tahu dan seseorang yang paham? seseorang yang tahu mendapatkan pengetahuannya dari informasi, seseorang yang paham mendapatkan pengetahuannya dari pengalaman pribadi dan mensintesanya sendiri, hingga ia mendapatkan definisi dan afirmasi dari inti, bukan sekedar mencaplok bahasa intelektual. Dan bagi saya, Tuan, saya pahami gravitasi dari cinta." Jawab si Nona
"Tak sadarkah Tuan tiap dari kita memiliki gravitasinya masing-masing dan sekaligus kita beredar dalam keteraturan hidup masing-masing? Tak semua dari kita "ditarik" kedalam setiap orang -- hanya orang-orang tertentu saja. Tuan bisa saja menemui seribu satu orang dihidup tuan, tapi saya yakin, tak semua yang bisa "menarik" Tuan. Perlahan-lahan, Tuan, ketika kita mulai berjalan dan mencari arti, jarak antara dua benda tak lagi berarti jarak materi-- pada akhirnya kita malah tak berjarak, Tuan. Kita yang sangat dekat sekaligus sangat jauh. Demikianlah tuan, persis seperti planet-planet di tatanan surya kita yang ditarik oleh matahari namun di tempat lain ditarik oleh "matahari" lainnya, atau beberapa bulan hanya berputar di sekitar planetnya saja, Tuan, demikianlah manusia sangat mirip dengan semesta. " Tambah si Nona
"Ya, bisa saja. Tapi itu belum membuktikan bahwa gravitasi bisa kau samakan dengan cinta. Jangan seenaknya!" umpat si Tuan.
"Tak sadarkah engkau, Tuan, tentang siapa yang sedang berbicara ini? Tak sadarkah engkau bahwa ini hanyalah sekedar percakapan di kepalamu saja? Tak sadarkah engkau bahwa ada melankoliamu yang ternodai rasionalitas? Tak beranikah kau akui suara yang hidup di kepalamu ini, tiap rangkaian kata yang engkau hidupkan, yang semakin kau perpanjang, yang kau bangun menjadi jembatan menujuku? Tak sadarkah kau bahwa suara di kepalamu ini, sekalipun kau bicara sesuatu yang paling rasional sekalipun pada akhirnya menyelipkan nona ini? Tak sadarkah engkau bahwa kau tak bisa lari dan aku menghuni pikirmu? Masih tak kau akui kalau cinta serupa gravitasi dan kali ini aku yang menarikmu?" Jawab Sang Nona di kepala.
Si Tuan terdiam, lama, berkepanjangan, semacam berharap ada pesawat luar angkasa tetiba muncul di hadapannya, membawa dirinya pergi dari gaya tarik yang ini-- yang paling kuat yang dirasakannya. Tapi selayaknya gravitasi, sekuat apapun si Tuan melompat atau berlari menjauh, dia selalu kembali.