Menyelaraskan Akal dan Hati
Menulis jalanku menyelaraskan frekuensi akal dan hati. Akal yang tumbuh dengan ilmu sedang hati yang penuh oleh rasa, cukup sering berlawanan, dapat dikatakan tidak selaras jalannya, jika salah satu mendominasi yang lainnya maka ia akan jelas terpancar dalam tindak perilaku ku. Ketika akal tahu idealnya seperti apa, seharusnya bagaimana, semua teori hebat yang kupelajari sebelumnya bisa tidak muncul dan mengambil fungsi ketika emosi dihati tak terkendali dan mendominasi. Maka menuliskan semua perasaannya, menuangkannya bisa menahan emosinya agar tak meluap dan memberi waktu akal mengambil keputusan dengan mengolah semua data yang ada di otak. Seperti hal yang sehari-hari kuhadapi sebagai ibu anak dua yang lebih sering mengahabiskan waktu bertigaan dengan anak-anak. Terkadang aku jadi tak waras, emosi memenuhi diri, menghambat otak untuk berfikir, entah karena lelah atau akunya yang terlampau lemah. kembali menulis menghadirkan kembali semua idealisme yang pernah kupelajari, bukan hanya mengandalkan spontanitas alam bawah sadar yang terlalu banyak menyimpan luka dan trauma. menjadi orang tua memang tak ada sekolahnya, justru perjalanan hidup itu sendiri yang menjadi sekolahnya, sehingga jika banyak menabung memmory buruk dan luka-luka seringkali itulah yang muncul lebih cepat ketika menghadapi realita sebagai orang tua. Hanya doa yang dapat dipanjatkan agar Allah bantu tiap langkah sebagai orang tua, agar dijadikan amanah dalam menunaikan peran sebagai orang tua, aamiin. sebagaimana Pak Suami selalu mengulang nasehat untukku, "berdo'alah sayang, do'a mu untuk anak-anak adalah senjata terkuatmu sebagai seorang ibu" Semoga terus selaras hati dan akal hingga laku dan tanduk indah dan bijak. aamiin.
Mataram, 7 Agustus 2025














