Surat Cinta Untuk Anak Tersayang
Saya berencana menulis ini pada saat anak ini tepat berusia tiga tahun. Sebagai bentuk hadiah untuk diri sendiri dan bahan mengevaluasi diri. Tapi sayangnya, waktu yang baik jatuh tepat pada saat ini dan bagi saya ini tetap hadiah terbaik. Tiga tahun yang lalu, masih tergambar jelas di koridor sekolah, bersama teman sekelas saya di SMA, kami berbincang hangat tentang apa yang akan kami lakukan setelah 2 semester lamanya berkuliah. Salah satu rekan kami mengusulkan untuk membentuk sebuah komunitas, niatnya hanya satu, agar apa yang kita punya tidak mubazir untuk diri sendiri. Selang beberapa hari, kami mengumpulkan rekan kelas untuk berdiskusi bersama. 25 Januari 2015, obrolan perdana kami terjadi di rumah Ical. Jumlah kami tidak cukup dari 10 orang. Hari itu, kami membentuk penanggung jawab dan garis besar kegiatan, bercanda, dan penuh harap kalau apa yang kami inisiasi ini kelak akan berguna.
Campus Sharing Community menjadi langkah awal pijakan kami bergerak. Dengan menyasar siswa di SMA kami, maka bergeraklah kami untuk membentuk pengklasifikasian pembelajaran sesuai bidang apa yang kami punya. Ada di dibidang komputer, jurnalistik, penulisan dan masih banyak lagi. Kami membuat presentasi untuk menarik minat siswa untuk belajar di luar mata pelajaran yang ada di sekolah. Kami sangat percaya diri kalau kegiatan ini kelak tidak menuai masalah yang berarti, karena pelaksanaannya berada di sekolah kami sendiri. Tapi skrenario lain datang silih berganti. Kami tiba-tiba dilarang karena tidak memiliki izin dari Dinas Pendidikan. Kami berusaha menjelaskan maksud baik kami. Tapi tetap tidak diberi jalan. Meskipun banyak juga guru yang mendukung adanya kegiatan ini.
Jujur saja kami menyerah. Kami tidak mau berdebat persoalan ini saja. Jumlah kami saat itu tersisa 5 orang. Dengan jumlah yang minim, bagi kami tidak boleh membuat kegiatan ini selesai hanya di konsep tanpa terlaksana. Kami memutuskan melakukan gerakan bawah tanah. Kami membuka kelas di pelataran gedung KNPI yang berada di depan sekolah. Jumlah siswa yang ikut kelas hanya 6 orang. Tak ada yang paling bahagia jika melihat sinar mata antusias bersinar di mata anak-anak. Satu harapan kembali menumbuh. Pekan selanjutnya, kami mengajak anak SMA ini ke sekolah rakyat di Pa’baeng-baeng. Kami melibatkan mereka untuk belajar bersama anak-anak yang rumahnya akan digusur. Mereka merasa menemukan realitas yang berbeda setelah mengajar. Saya ingat betul, beranda percakapan facebook saya penuh dengan sapaan mereka.”Kak, kapan lagi ada kelas?”, kabar buruknya adalah kami menghentikan kelas setelah tak cukup dari sebulan. Kami merasa teramat berat. Saya merasa pesimis menjelang pertengahan tahun 2015 untuk komunitas ini. Jumlah kami memang berlima, tapi saya merasa kekuatan hanya bersumber pada tiga orang saja. Sebagian turut hadir jika kegiatan akan dimulai, padahal hal yang paling dibutuhkan adalah partisipasi jauh sebelum kegiatan dimulai.
17 Agustus 2015, saya, Ayu, Ainul, dan satu lagi kawan baru di kelas kami yang turut andil adalah Asri, di warkop Batara Ogie kami membentuk membentuk program baru jangka panjang untuk komunitas kecil kami, yaitu One Month One School. Kami membagi tanggung jawab secara merata. Satu persatu dari kami memanggil kawan SMA lain yang belum terlibat untuk ikut dalam program ini. Berbagai cara kami lakukan. Pernah di suatu hari kami sangat bingung, saya dan Ayu tidak tahun menahu tentang desain, sedangkan Ainul ada dasar tapi kami terlalu tidak sabar jika menunggu terlalu lama. Akhirnya kami mengotak-atik aplikasi berbasis online di laptop. Hampir tiap hari pada saat itu kami ke warkop dekat perumahan untuk mendesain versi online, dan tentunya desain kami memiliki watermark. dan hasilnya berhasil *teriak hore*. Ini bagian yang lucu sekali bagi saya. Jika opsi A tidak tertutup, kita masih punya 25 opsi lain yang menunggu untuk dicoba.
20 Agustus 2015, kami melakukan observasi desa yang akan kami jadikan lokasi mengajar. Program ini hanya berlangsung satu kali di setiap sekolah. kami berenam berangkat menuju Dusun Kuri caddi, Maros. Lokasi perdana kami ada di pesisir yang tidak begitu jauh dari Makassar. Jika cuaca sedang baik, kami bisa menempuhnya dengan waktu satu setengah jam saja. Di sinilah langkah awal Kakak Guru 1 dimulai. Kami mengajak 6 orang relawan di luar dari kawan sekelas SMA kami. Kami mengajak mereka dengan cara persuasif, menawarkan berulang kali untuk ikut. Dulu sangat susah mencari relawan untuk ukuran komunitas sekecil ini. Keadaan ini berlangsung hingga kakak guru 3. Agustus-Oktober, saya dan Ayu tetap menggunakan aplikasi online untuk mendesain *ketawa lagi*. Evaluasi 3 kali pemberangkatan, kami memutuskan untuk mengubah jangka pengabdian di desa, dari satu bulan menjadi enam bulan. Hal ini kemudian disusul dengan perubahan nama Campus Sharing Community menjadi Rumah Berbagi Asa. Prosesnya diikuti oleh 4 orang saja. Kami rapat pukul 8 hingga 11 malam, guna merumuskan visi misi dan program kerja yang lebih tertata selama setahun. Bukan tanpa alasan kami mengubah laju program di CSC menjadi RBA. Kami perlahan melihat antusias mahasiswa yang ingin terlibat di berbagai kegiatan sosial.
Mengawali program baru Kakak Guru 4, kami menyebutnya sebagai bentuk kemerdekaan kecil-kecilan, kami menyebar poster di mading kampus, meskipun sesaat setelah kelas berlangsung, poster itu sudah ada di tong sampah. Bukan soal yang begitu besar, setidaknya kami punya usaha menyebarkannya lebih luas lagi. Hasilnya toh banyak yang ikut sharing di program ini. Saat itu, kami diundang di salah satu program tv lokal untuk berbagi cerita tentang komunitas kami. Saya percaya hal ini berkat Ayu yang selalu update perkembangan kegiatan di media sosial kami. Kami memberangkatkan relawan Kakak Guru 4 pada Januari 2016. Hingga sekarang wajah RBA tidak canggung lagi berada di tv lokal. Tepat pertambahan usia setahun anak kami. Di moment spesial ini, saya dan Ayu saling bertatapan, memeluk satu sama lain, kami tidak pernah menyangka ini akan sampai pada usia setahun, dengan melihat jumlah partisipasi yang minim dan dana yang terbatas pada setiap pelaksanaannya. Kami pernah berangkat dari Sudiang ke Losari membawa pakaian bekas kami yang layak pakai untuk dijual. Jika mendapat uang 100 ribu saja kami sangat beruntung. Setiap harapan akan menumbuh dengan usaha yang tak pernah luntur. Di Desa Patanyamang, Maros. Kami memotong tumpeng nasi goreng dengan penuh khidmat dan bahagia. Saya tak berhenti berniat, seraya memanjatkan doa-doa baik keselamatan untuk semua relawan yang ikhlas sampai titik setahun RBA berdiri.
Pada tahun inilah saya menyadari betul, bekerja di desa tidak semudah datang dan pergi membawa relawan. Semakin banyak relawan yang berangkat, semakin banyak hal yang harus diselesaikan sebelum masa pengabdian berakhir. Jika boleh jujur, awalnya saya melihat apa yang saya jalani ini sebagai bentuk kepuasan diri sendiri. Sebagai cara mengisi waktu senggang yang produktif, sebagai bentuk pelarian dari segala masalah yang ada di kota. Tapi, semakin banyak relawan yang berangkat, saya merasa berdosa jika memberangkatkan mereka hanya sekadar untuk berangkat saja, tanpa ada hal yang baru yang bisa mereka lakukan dan implementasikan setelah dari desa. Minimal mereka merasa ada yang harus diubah sepulang dari desa.
Tahun 2016, Kakak Guru 4-7 berangkat untuk masa mengajar di Desa Patanyamang. Semakin banyak relawan, semakin banyak cara untuk belajar menerima karakter masing-masing. Satu hal yang saya syukuri lagi, kami punya relawan yang sudah handal mendesain, jadi saya dan Ayu tidak perlu lagi mendesain online yang memiliki watermark *teriak hore lagi*. Saya tidak pernah merasa takut sendiri mengurus RBA, sepanjang tahun ini. Saya, Ayu, Ainul, dan Asri selalu saling melengkapi menutupi kekurangan masing-masing. Saya akui saya keras kepala terhadap sesuatu, saya cenderung struktural, karena bagi saya semua harus terlaksana dengan baik sesuai dengan apa yang disepakati. Suatu hal tidak mungkin bermasalah jika satu di antaranya tidak salah melangkah. Bersama 5 angkatan di desa ini mengajarkan saya banyak hal. Berkawan dengan bijak, baper yang berkepanjangan, semangat yang tak pernah luntur, ide yang terus berkembang. Di masa tahun pertama RBA, salah seorang rekan saya pernah berkata, “Saya prediksi ini RBA paling lama 2 tahun saja.”. Sepenuh hati saya percaya, RBA akan menemukan jati dirinya sepanjang pertambahan usianya.
Saya, Ayu, Asri, dan Ainul telah berakhir masa kepengurusannya pada November 2016. Saatnya roda komunitas dikendalikan oleh pengurus yang baru. tahun ini kami mengobservasi 3 lokasi, kondisi pada saat itu saya sedang KKN, waktu saya jelas terbatas. Ayu sempat bilang sebelum berangkat, “Bagaimana RBA?”, saya hanya berkata “Semua akan baik sampai kapan pun. Jaga RBA nah. Tahun depan kalau kau KKN, saya yang jaga lagi.” Saya ikut mengobservasi 2 dusun, saya izin KKN dengan berbagai alasan. Di dusun Holiang, saya merasa relawan yang saya temani mengobservasi sangat menyetuh hati kecil saya. Saya tidak pernah takut kehilangan kekasih, daripada saya harus kehilangan relawan yang ikhlas bekerja tanpa pamrih meski tak jarang diserbu dengan banyaknya mau, perintah, arahan dari saya. Saya pernah mencapai titik galau pada tahun ini. Saya perlahan mulai mendengar satu dari banyaknya keluhan mereka terhadap cara kerja saya yang selalu ingin tepat waktu, bekerja berkonsep dan tepat sasaran. Saya sadar betul, tidak semua orang memiliki cara kerja yang sama. Tapi satu yang kuyakini saat itu, “Mereka akan mengerti kalau semua telah mereka alami.” Saya bertahan dengan segala macam cerita . di tahun inilah, kami tidak bisa membendung banyaknya relawan dan segala macam sifat yang dimiliki. Saya tahu mereka mencintai RBA dengan caranya masing-masing. Satu sama lain angkatan mulai berselisih paham, ingin menunjukkan eksistensi kerjanya, ingin beradu pemikiran. Saya tidak pernah merasa menangisi kepergian kekasih sesedih ini, dibanding perpecahan relawan di setiap angkatan.
November 2017, saya pesimis dengan adanya kepengurusan yang baru. kami dari pendiri, sudah menyepakati suara terbanyak untuk memvakumkan RBA sampai waktu yang tidak ditentukan. Di tengah eksistensi yang perlahan dibangun, saat komunitas ini menjadi salah satu komunitas pilihan banyaknya calon relawan. Tapi bagi kami eksistensi tidak perlu jika di dalamnya kreatifitas dan keikhlasan tidak dipupuk dengan baik. Takdir Tuhan berkata lain, kami masih diizinkan berdiri di antara banyaknya gembar-gembor ketakutan yang akan muncul. Hingga pada saat RBA berusia 3 tahun. Sehabis sambutan, saya turun ke rumah warga untuk shalat, berdoa agar semua akan segera baik. Sesegera mungkin.
Bukan hal yang mudah bagi saya dan kawan-kawan yang lain menyusuimu, menemanimu belajar berjalan hingga sekarang. Suka duka telah kami lalui sebelum kau pandai berjalan, jatuh bangun, sedih bahagia, ego dan keterbukaan telah menjadi pelengkap segala cerita. Dengan segala harapan, saya selalu berdoa kita semakin membuka cakrawala berpikir kita, belajar keluar dari zona nyaman, bekerja dengan keras, terbuka menerima ide, belajar mengevaluasi diri. Masing-masing dari kita berhak memiliki cinta. Tapi cinta itu bukan untuk menghacurkan, bukan untuk menunjukkan masaku atau masamu adalah yang terbaik, bukankah itu bentuk keegoisan? bukankah cinta adalah sebaik-baiknya perasaan yang berterima pada apapun?
Saya selalu kukuh dengan pendirian, apa yang kusampaikan terlebih karena saya pernah mengalami, sedikit tahu yang mana yang akan membuatmu salah langkah, saya tidak membatasi cara pikirmu, sempit luasnya pergerakanmu, saya hanya memberikan satu di antara opsi yang pernah sebelumnya dilakukan dan itu terbukti tidak baik. Keberagaman adalah salah satu bentuk menuju perpecahan, tapi yang bisa menggugurkan itu semua adalah keterbukaan kita menerima segala hal. Saya tidak pernah merasa meninggalkan kau sedetikpun, jika boleh saja jujur, sebulan terakhir, saya merasa ada pada titik paling jatuh. Saya merasa gagal pada apapun yang telah kuusahakan pada kau. Saya belajar banyak dari luar, tak kurang untuk membuat kita semakin memiliki banyak cara untuk mengatasi sesuatu. Jika saat ini orang-orang merasa tidak dihargai dalam bekerja, hanya karena tolok ukur evaluasi yang sifatnya keras, bagi saya kita harus kembali ke masa taman kanak-kanak. Saya akan selalu menjadi antagonis selama kau menganggapnya demikian. Sudut pandangmu adalah milikmu, jika ingin terus seperti ini, kita tidak akan pernah mencapai misi kebaikan yang kita pegang bersama.
Kerja-kerja pendidikan sangat berat dan sangat panjang, jika semangat kita putus sampai di sini, tidak usah bergerak lama, kita akan gagal juga. Bagi saya semuanya belajar diprosesnya, belajar datang tepat waktu, membuka pikiran, mendiskusikan banyak kemungkinan, mengupdate cara bekerja kita, banyak hal yang lebih berguna untuk kita obrokan, berusaha baik di setiap kegiatan, membantu warga desa mandiri, memupuk semangat bibit-bibit muda desa. Jika kau menganggap kita hanya ke desa untuk tidur, berkegiatan yang standar, membuat gambar seolah desa ini sangat membutuhkan kita. Maka itu salah besar. Kerja kita berat daripada rindunya DILAN. Kita belajar berproses dengan warga, menemukan realitas, dan membuat semua merasa menjadi bagian. Wujud kecintaan saya adalah dengan menegur. Jika menegur atau bahkan mengevaluasi bagimu adalah hal yang tidak baik. Saya lebih baik meninabobokanmu sekarang.
Panjang umurmu, salam cinta dan kasih.