Sore itu saya bertemu dengan kawan lama saya di bangku kuliah dulu. Kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing setelah lulus. Apalagi waktu saya bekerja menjadi jurnalis, waktu bertemu menjadi semakin sulit.
Akhirnya kami bertemu di sebuah tempat kopi favorit kami. tempatnya nyaman, tidak berisik, dan yang pasti, harga di sana masuk akal. Kami mengobrol lama sekali. Kami berbagi banyak cerita dan lainnya. Rasanya kami tidak bertemu lama sekali. Seperti 10 tahun saja kami tidak bertemu. Banyak sekali obrolan sore itu.
Yang saya senang sekali adalah, dia punya pola pikir baru. Dan saya pikir itu bagus. Pandangan barunya ini berasal karena ia kini sedang sekolah lagi di sekolah bisnis manajemen di institut ternama di kota saya tinggal. Ia harus diakui mengecap pendidikan di tempat yang sangat bagus. Menghadirkan suasana yang lebih segar dan juga pemikiran dan pandangan baru. Ia menceritakan semuanya. Dan saya pun membawa pandangan baru dari pekerjaan lama saya sebagai jurnalis.
Semua menganggumkan buat saya. Tapi yang paling terbaik adalah sesuatu yang dia dapat soal sistem eliminasi. Sistem tersebut hampir sama dengan kebanyakan strategi bisnis lainnya. Yaitu membaca kekuatan dan juga menyadari kelemahan. Tetapi yang menjadi menarik adalah bagaiman hal tersebut dilakukan dengan detail.
“Jadi waktu bootcamp urang diajarin buat menganalisa SWOT tapi caranya lebih sederhana dan detail. Urang disuruh bikin list kekurangan urang itu apa. Setelah itu kecilkan jadi lima yang paling dirasa kekurangan paling parah. Setelahnya susutkan lagi jadi tiga.setelah tiga susutkan lagi jadi satu diantara semuanya. Perubahan dimulai dari hal yang paling kecil bukan?”
Saya tidak akan menyebutkan apa kekurangan kawan dekat saya ini. Yang pasti tepat setelah kawan saya berbicara seperti demikian. Otak saya langsung bekerja dengan secepat mungkin. Menyusun daftar, dan langsung mengeliminasi apa hal yang jadi kekurangan saya.
Setelahnya, saya pikir ada tiga besar hal yang menjadi kekurangan saya. Dan setelah dieliminasi kembali. Yang paling kacau adalah Arogan .
Saya tidak tahu kategorinya sebagai apa cocky, sombong, takabur atau apa. Tapi saya sangat menyadari kalau itu adalah kekurangan saya yang paling parah. Sifat judgemental saya berasal dari sana. Saya tidak segan menghakimi seseorang ketika saya merasa “dia tidak berada dalam level yang setara dengan saya”. Rasanya banyak sekali orang yang saya “rendahkan” ketika dulu di S1. Meskipun ya, saya tidak menunjukkannya secara langsung. Terlebih ibu saya mengajarkan agar saya akan berusaha seramah dan sesopan mungkin kepada siapapun.
Sering sekali muncul ucapan, “bisa naon sih si eta” “cuman segitu doang orang heboh banget apresiasinya” dan banyak hal lain. Buruknya, sering sekali ada suatu pencapaian, kadang saya langsung merasa berada di puncak dunia. Tapi bagaimana lagi, di lingkungan saya dulu, entah kenapa saya selalu berpikir saya punyak hak untuk menyombongkan diri. Tinggi hati mungkin bisa jadi salah satu term yang tepat terkait sifat yang paling buruk diri saya,
Saya pikir semua semakin kronis ketika saya lulus S1 dan bekerja. Tidak jarang saya berkata (meskipun dalam hati atau hanya pada kawan dekat saya). “Coba cek diantara yang lain, mana coba yang kemudian terjun ke dunia yang mereka sukai, passion mereka. kebanyakan, no offense, abis aja itu karena tekanan di kantornya dengan banyak tuntutan.”
Well, mau bagaimana lagi? saya adalah salah satu dari sekian banyak yang akhirnya produktif dan menghasilkan uang dari sesuatu yang saya sukai. saya ketemu orang yang bahkan kebanyakan orang cuman liat di TV. Bahkan sekarang ucapan lebaran saja saya terima dari banyak sekali pesepakbola. Sering sekali setelah mencapai sesuatu, saya ingin sekali bilang “How About That?”
.
Tapi semua membaik bahkan sebelum kawan saya menceritakan tentang mengeliminasi sifat buruk dalam diri. saya secara perlahan juga sudah mulai berusaha merubah sifat saya. Banyak yang merubah diri saya. Mulai dari kerasnya kehidupan yang mulai terasa dan banyaknya kekecewaan yang muncul disamping banyak hal yang saya gapai. Termasuk kegagalan saya untuk sekolah di Jepang.
Setelahnya juga saya semakin menyadari. Saya berada di posisi sekarang, atau bahkan akan melaju, melesat lebih jauh lagi juga bukan karena pedah aing sorangan. Ada banyak pihak yang membantu saya. Keluarga saya, teman saya. Dan tentu, Sang Penguasa dari segala sesuatu. Yang Maha Berkehendak dan Maha Mencipta. Saya bukan apa-apa dibandingNya.
Karena katanya pun. Hanya diriNya saja yang berhak untuk Angkuh.
.
Ada satu sifat lain. Dan banyak orang itu jadi ciri khas saya. Saya baperan parah. Well, sifat tersebut sudah mulai bekurang. Karena saya sudah ditempa celaan luar biasa terkait tulisan saya. Untuk baper urusan perempuan? saya belum tau.